Disukai
1
Dilihat
34
Rumah dan Kenangannya
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Aku tidak pernah tahu kapan tepatnya sebuah bangunan mulai bisa disebut rumah. Apakah ketika tiang-tiangku pertama kali ditegakkan? Saat semen di tubuhku mengering? Atau ketika sepasang suami istri melangkah masuk sambil saling menggenggam tangan bangga karena akhirnya memiliki tempat untuk pulang?

Aku tidak tahu. Yang kuingat, sejak hari itu aku tak lagi hanya terdiri atas dinding, atap, dan lantai. Aku mulai mengenal suara tawa, aroma masakan, langkah kaki, juga tangis yang datang lalu reda dengan sendirinya.

Seorang wanita memanggil suaminya itu, "Bapak."

Suaminya itu memanggilnya, "Ibu."

Lama-kelamaan, aku ikut memanggil mereka begitu dalam diamku, Bapak dan Ibu.

Mereka menanam pohon mangga di halaman depan pada suatu sore. Bapak menggali tanah, sementara Ibu membawa bibit kecil yang dibeli dari pasar.

"Kalau nanti anak-anak besar, mereka bisa makan mangga dari pohon ini," kata Bapak.

Aku belum mengerti waktu itu. Aku baru memahami beberapa tahun kemudian, ketika suara tangis bayi memenuhiku. Lalu datang suara bayi kedua, dan bayi ketiga.

Tiga anak tumbuh di dalam tubuhku. Mereka belajar merangkak di lantai. Mereka belajar berjalan sambil berpegangan pada kursi kayu yang hingga kini masih berdiri di dekat jendela. Mereka berebut kamar mandi setiap pagi, bermain petak umpet di balik p...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp1.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)