Bagiku, rumah bukan lagi sebuah dermaga untuk melabuhkan jiwaku yang retak, melainkan medan perang yang dipenuhi ranjau yang amat menyakitkan. Setiap kali bom amarah mulai meledak dari ruang tengah, aku akan meringkuk di sudut ranjang, memeluk lutut seolah-olah tubuhku sendiri adalah satu-satunya benteng pertahanan yang tersisa.
Suara piring dan gelas yang beradu dengan lantai dan pekikan yang melengking tinggi bukan sekadar bunyi, itu bentuk disonansi yang berhasil menyayat indera pendengaranku. Kalimat-kalimat tajam yang mereka lontarkan ibarat belati tajam yang beterbangan di udara, yang sangat siap mencari celah untuk melukai apa pun yang dilewatinya.
Malam ini, langit-langit kamarku pun seolah turun merendah, menghimpit udara hingga yang tersisa hanyalah pengap. Di luar sana, di balik pintu kayu yang warnanya sudah pudar, prahara itu kembali dimulai. Ya, mereka berseteru. Seperti malam-malam sebelumnya, mereka berseteru lagi. Aku bahkan tidak perlu melihat untuk tahu bahwa ayahku sedang berdiri dengan urat leher yang menegang, atau ibuku yang sedang mengenggam tas kerjanya dengan buku-buku jari yang memutih.
Ayah memang tidak pernah suka ibu menjadi wanita karir dan ibu tidak suka ayah melarangnya bekerja. Setiap kali ibu pulang larut dengan wajah lelah, Ayah merasa cemburu. Bukan cemburu pada pria lain, melainkan pada dunia luar yang telah mencuri perhatian ibu. Bagi ayah, karier ibu merupakan bentuk penyerangan yang merusak struktur kenyamanan yang sudah ayah bangun selama bertahun-tahun di rumah kami.
Tidak hanya itu, melihat ibu bersiap dengan setelan kerja yang rapi setiap pagi, ayah merasa harga dirinya semakin tergerus. Dalam benak ayah, ia adalah seorang kepala keluarga yang bertugas sebagai pemimpin dan melindungi keluarganya. Ayah merasa perannya sebagai pemimpin sedang diruntuhkan oleh gengsi dan ambisi ibu. Terlebih ketika ibu meremehkan ayah soal penghasilannya. Ya, ayahku hanyalah seorang buruh pabrik yang gajinya hanya besaran UMR di kota kami, sedangkan ibuku bekerja sebagai pegawai tetap di bank ternama dengan jabatan mentereng yang gajinya bisa dua kali lipat dari gaji ayah.
Lagi dan lagi, suara tinggi mereka berhasil membuat gendang telingaku berdenyut hebat hingga diriku memilih bersembunyi di balik selimut merah yang mulai kusam dan mencengkeramnya erat-erat. Aku meringkung, melipat tubuhku sekecil mungkin seraya berdoa. Berdoa agar ibu tidak ke kamarku. Karena setelah berseteru dengan ayah, ibu pasti akan datang mencariku. Bukan untuk mengasihiku, tapi untuk menjadikanku samsak atas nestapanya.
Entah apa salahku. Mengapa aku yang harus menjadi pelampiasan atas rasa sakit ibu? Sebenarnya, ada apa dengan ibu? Mengapa ibu seperti itu? Bukannya aku ini putri kandungnya?
Angin malam perlahan menyelinap dari celah-celah lubang ventilasi kamarku. Rasanya dingin, hingga menusuk tulang. Di dalam kegelapan di balik selimut, samar-samar kudengar suara derap langkah berat menuju kamarku, menyeret amarah yang tidak puas dilampiaskan pada lawan bicaranya tadi. Aku mulai menggigiti kuku-kuku jemariku saat kudengar langkah berat itu semakin dekat. Bahkan jantungku berdebar seratus kali lebih cepat, badanku gemetaran, keringat dingin pun menyembul di kulit wajahku.
"Tolong ... jangan sekarang. Setidaknya jangan malam ini" pintaku pada sunyi.
Suara gagang pintu yang berderit pelan seperti ledakan guntur di kepalaku. Mendadak punggungku terasa dingin, mengantisipasi rasa perih yang sebentar lagi akan mendarat di permukaannya. Akhirnya, selimut tempatku berlindung pun ditarik kasar oleh wanita yang kupanggil ibu itu. Saat aku menoleh, kudapati wajah yang tidak bersahabat menatapku tajam. Alisnya saling bertaut, napasnya memburu, rahangnya mengerat. Tanpa ampun, ibu menarik rambutku dengan kasar hingga aku terjatuh dari ranjang. Aku hanya bisa pasrah ketika tangan yang dulu menimangku kini justru menyakiti fisikku.
"Kenapa kau harus lahir ke dunia dengan fisik seperti ini? Kenapa? Kenapa harus kau yang seperti ini?" pekik ibu tajam seraya memukuliku dengan membabi buta.
"Pukul saja, Bu," bisikku dalam hati, "jika dengan menyakitiku, beban di hati ibu berkurang, maka jadikanlah aku pelampiasan sesuka hati ibu."
Aku bahkan tak punya nyali melontarkan semua kalimat itu. Napasku tercekat dan lidahku terasa kelu. Sementara batinku sudah hancur hingga air mataku jatuh tanpa isak.
Kalau begini terus, bukan batinku saja yang hancur, mungkin ragaku juga. Rasanya aku ingin mati saja. Ya, pada akhirnya aku ingin menyerah pada Tuhan. Beruntung sekali kakakku. Ayah mengirimnya ke sekolah asrama hingga dirinya tak pernah merasakan sakit disiksa ibu.
Ibu tetap tidak peduli walau airmata sudah membasahi seluruh wajahku, ia terus memukuliku tanpa ampun. Sampai pada akhirnya, sang penyelamatku datang. Dia adalah ayahku.
"Apa yang kaulakukan pada anakmu sendiri? Kau gila! Sadarlah!" Ayah membentak dan mengguncangkan bahu ibu agar sadar atas perbuatannya yang keji itu.
Ibu masih tidak peduli, bahkan ibu menepis kasar tangan ayah.
Ayah sepertinya sudah tidak tahan lagi. Ia meraih tangan ibu, mencengkeramnya erat dan menatap tajam ibu. Suara ayah justru turun beberapa oktaf, menjadi bisikan yang cukup menusuk.
"Kau menggunakan tubuh kecilnya untuk membuang sampah atas sisa-sisa emosimu? Kau merasa lebih besar setelah mengecilkan jiwanya? Apa kau merasa puas setelah menyiksa tubuhnya? Ibu macam apa kau ini? Kalau kau tidak mau lagi menjadi istri yang baik, setidak jadilah ibu yang baik untuk anakmu."
Ibu pun tersentak. Ucapan yang dilontarkan ayah berhasil menembus benteng keangkuhan hati ibu. Ia menangis sejadi-jadinya dan menarik diriku ke dalam pelukannya. Dengan derai air mata, wanita yang kupanggil ibu itu menciumi wajah dan kepalaku. Ibu meminta maaf dan memeriksa bagian tubuhku yang memar akibat pukulannya. Ibu lalu memelukku lagi, menangis, dan meminta maaf. Entah mengapa ibu selalu berbuat seperti itu kepadaku, menyiksaku, menyesal kemudian, menangis, lalu meminta maaf.
Entahlah.
Ayah masih sangat murka karena ibu selalu melakukan hal itu kepadaku. Raut wajahnya yang putih berubah menjadi merah padam. Rahangnya yang tajam seketika mengerat. Matanya yang bulat kembali menatap tajam ibu. Ayah pun memaki-maki ibu dengan kata-kata kasar.
"Kau memang tidak becus menjadi istri dan ibu yang baik!" Perkataan kasar dari ayah membuat emosi ibu memuncak.
"Sialan! Justru kau yang tidak becus menjadi suami dan seorang ayah yang baik. Lihat saja! Gajimu saja lebih rendah dariku! Dan mulai malam ini, kau tidak usah lagi memancing pertengkaran denganku! Dasar suami tak berguna!"
Seperti biasa, perseteruan ayah dan ibu berakhir dengan tamparan yang mendarat di pipi ibu. Ibu pun beranjak dari kamarku dengan derai air mata.
Setelah ibu pergi dari kamarku, ayah menghampiriku. Tatapannya yang sendu menatapku iba. Ia memberikanku pelukan yang tidak menyesakkan, sebuah pelukan kasih sayang yang memberiku ruang untuk bernapas kembali. Rasanya benar-benar hangat.
***
Malam ini, lampu gantung di ruang tengah berpendar redup, memantulkan bayangan dua orang yang kini merasa seperti orang asing yang terjebak dalam satu lingkaran. Di atas meja, lembaran kertas legal dengan kop surat firma hukum berserakan. Setelah 15 tahun menjalani bahtera rumah tangga, ayah dan ibu sepakat untuk mengakhirinya. Mereka resmi berpisah secara agama dan dalam proses persidangan. Namun, lagi-lagi ayah dan ibu berseteru. Mereka berseteru karena aku dan kakakku. Mereka berseteru memperebutkan hak asuh.
"Pokoknya Yasmine ikut aku dan Rose ikut kau!" Suara ibu memecah keheningan malam.
"Tidak bisa! Yasmine seharusnya yang ikut aku! Kau bukan ibu yang baik untuknya. Sedangkan Rose, dia lebih membutuhkanmu!" Ayah membalas ucapan ibu dengan nada tinggi, seolah tak mau kalah.
Aku yang berada di kamar menutup rapat-rapat telingaku. Kedua kakiku seolah kehilangan penyangganya dan perlahan lunglai ke lantai kamar. Tangisku pun pecah tatkala mendengar ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut mereka. Hatiku benar-benar hancur lebur bagai dihantam ribuan palu. Ayah yang kuanggap sebagai malaikatku selama ini, ternyata sama jahatnya dengan ibu. Ayah dan ibuku, tak seorang pun dari mereka yang menginginkanku. Tak seorang pun dari mereka yang mau merawatku, Rose si penyandang Achondroplasia.