Flash Fiction
Disukai
0
Dilihat
7
Suara Hati Pohon Kampus
Komedi
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

"Kamu mau jadi pacarku, Ra?" tanya Rio pada Raya dengan lirih.

Siang ini, kudengar Rio meminta gadis berkacamata itu untuk menjadi pacarnya. Gila memang, padahal aku melihat si playboy itu menyatakan cinta kepada Arini tepat di depanku juga kemarin. Tidak hanya itu, dua hari yang lalu ia juga menyatakan cinta kepada Kirika. Wah, manusia ini benar-benar langka pikirku. Mentang-mentang anak wakil rektor, ia lantas berbuat sesuka hatinya.

Dengan tersipu-sipu dan wajah merona, Raya menjawab pertanyaan Rio, "Iya, aku mau jadi pacar kamu, Yo."

"Yes!" Rio melompat kegirangan. Ia lalu membuka suara, "Eh! Tapi, kamu jangan bilang siapa-siapa, ya, kalau kita udah jadian. Pokoknya kamu harus merahasiakan ini semua."

Raya yang memang sudah terhipnotis dengan ketampanan wajah Rio pun membalas dengan anggukan pelan.

Senyum Rio mengembang. Cowok playboy itu lantas meraih jemari Raya dan mengecupnya hangat hingga semburat merah menghiasi pipi tirus Raya.

Lebih dari 20 tahun aku tumbuh dan berdiri kokoh di halaman belakang kampus ini. Namun, baru kali ini kusaksikan tingkah ajaib salah seorang mahasiswa di sini: menyatakan cinta kepada mahasiswi yang berbeda setiap harinya.

***

"Kirika, aku mau kita putus," ucap Rio datar.

Pagi-pagi sekali aku sudah mendengar suara cowok playboy ini lagi. Huh, sungguh memuakkan. Kalau kemarin aku menyaksikan Rio mengobral cinta, tapi hari ini aku melihatnya memutuskan cinta.

Rio dan Kirika duduk di kursi beton yang melingkariku. Kulihat Kirika menahan tangis seraya menyandarkan tubuhnya padaku.

"Kenapa secepat itu?" tanya Kirika pelan. "Kita bahkan baru jadian tiga hari, Yo!" Matanya mulai berkaca-kaca.

"Iya, aku memang nggak pernah pacaran lebih dari tiga hari. Jadi, sekarang waktunya kita putus!" Rio berseringai. "Kamu bahkan bukan satu-satunya gadis yang kukencani, Kirika!

Mendengar ucapan Rio, emosi Kirika tersulut. Jemarinya mengepal. Rahangnya mengerat. Ia berdiri dan menampar pipi Rio.

"Dasar cowok berengsek!" pekik Kirika. Gadis itu lalu mengayunkan langkahnya menjauh dariku dan Rio.

Aku puas. Aku sangat puas melihat Kirika menampar cowok playboy itu. Kulihat Rio meringis menahan sakit.

"Sialan! Sakit juga tamparan tuh cewek," gerutu Rio seraya mengelus pipinya yang berubah merah akibat tamparan Kirika.

Cowok itu lalu merapatkan tubuhnya denganku. Ia bersantai sejenak sambil menikmati angin yang berembus pelan dari daunku. Kulihat Rio mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

Lima belas menit telah berlalu. Seorang cewek berwajah oriental datang dan menghampiri Rio.

"Kak Rio. Kamu mau ngomong apa?"

"Eh, Tiffany. Sebenarnya, ada yang mau aku omongi serius," balas Rio penuh semangat.

"Ehm ... apa itu?" tanya Tiffany dengan raut wajah penasaran.

Tanpa permisi, Rio meraih jemari Tiffany dan menggenggamnya erat.

Benar-benar playboy cap badak makhluk di depanku ini. Belum jadian, tapi sudah berani seenaknya menyentuh tangan anak gadis orang. Kalau aku punya tangan, mungkin akan aku hantamkan satu per satu rantingku ini ke kepalanya.

"Tiffany, aku mau jadi pacarmu. Jadi, apa aku ada kesempatan memiliki hatimu?"

Tiffany tertegun mendengar penuturan Rio. Semburat merah terbit di wajah cantiknya. Jantungnya berdetak sepuluh kali lebih cepat.

"Kak Rio serius? Kak Rio beneran naksir Tiffany?" tanya Tiffany ragu-ragu.

"Tentu saja, Tiff," balas Rio penuh penekanan. Ia lalu melanjutkan ucapannya, "Lihat pohon ini! Pohon inilah saksi bisu atas cintaku padamu, Tiff."

Apa? Aku dijadikan saksi bisu atas cintanya? Wah, aku nggak terima. Aku nggak sudi jadi saksi bisu cinta palsunya itu.

"Jadi gimana, Tiff? Kamu nerima aku, kan?" Rio menatap wajah cantik Tiffany lekat-lekat.

Helaan napas keluar dari mulut Tiffany. Ia menarik pelan jemarinya yang digenggam Rio.

"Maaf, Kak. Aku nggak bisa nerima kamu."

"Kenapa, Tiff? Apa kamu sudah punya pacar?

"Bukan, Kak. Bukan karena itu."

"Lalu kenapa? Kenapa kamu ragu-ragu?"

"Itu karena ... Eeehhm itu karena ... Eee ... masak sih cewek secantik aku mau sama cowo yang suka obral cinta kayak kamu. Nggak level kali. Udah, ya. Bye!" Tiffany melangkah pergi dengan santai tanpa memedulikan perasaan dan ekspresi Rio.

Rio terperangah mendengar ucapan Tiffany. Matanya membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar.

Sama dengan Rio. Aku juga terkejut melihat sikap Tiffany yang tanpa kuduga menolak pernyataan cinta Rio. Tapi, sejujurnya aku sangat bahagia. Aku bahagia melihat cowok playboy itu ditolak mentah-mentah oleh seorang gadis. Huh, baru tahu rasa dia.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)