Disukai
0
Dilihat
5,804
Puasa
Slice of Life

"Bu, Dit, kalian sudah berkemas?" tanya Ayahku.

Hari ini Ayahku pulang agak larut malam karena harus merayakan perpisahan dengan teman-teman dinasnya. Besok kami akan pindah ke Bandung, kembali ke tempat kelahiran Ayah. Setelah 15 tahun kami pindah ke Papua. Waktu itu usiaku masih 4 tahun dan Ayah harus dipindah tugaskan kesana. Alhasil aku dan Ibu juga harus ikut. Tidak terbayang rasanya jika kami tidak pindah, mungkin aku tumbuh besar menjadi orang normal pada umumnya di Kota Metropolitan, Jakarta.

"Tumben Ayah tidak berpesta?" tanyaku, karena terlihat pakaian Ayah yang masih bersih tanpa noda.

"Ayah pesta, kok, Dit. Tapi pesta barbeque sapi. Sesekali dong Ayah juga pengen ngerasain daging mahal," jawab Ayahku sambil tertawa.

"Cepat berkemas Dit!" Ibu memotong percakapan kami.

Tak terasa perjalanan menuju Bandung begitu cepat, mungkin karena aku sudah tidak sabar bagaimana rasanya suasana Bandung dan orang-orang sana yang katanya sopan serta lembut tutur kata. Baru saja sampai, kami benar-benar habiskan untuk berbenah rumah baru ini. Meskipun saat kedatangan kami, terlihat antusias para penghuni perumahan yang penasaran dengan kami, tetangga barunya.

Tak perlu waktu lama, kami sekeluarga sudah lumayan kenal dengan tetangga samping rumah. Keluarga Pak Rohman, mereka sama seperti kami yaitu keluarga kecil yang hanya ada Ayah, Ibu dan satu anak. Bisa dibilang Pak Rohman adalah tetangga kami paling dekat. Karena di perumahan dinas ini masih banyak rumah-rumah yang kosong, rumah yang terisi pun jaraknya berjauhan.

Anak Pak Rohman bernama Akbar, dia seumuran denganku. Ternyata ada kesamaan diantara kami yaitu sama-sama anak jurusan Teknik Kimia dan satu kampus pula. Ya, tahun ini kami akan menjadi mahasiswa baru. Perbedaan yang paling mencolok antara aku dan Akbar hanya pada postur tubuh, Akbar lebih gemuk. Dari kesamaan itu membuat kami jadi lebih mudah akrab. Ditambah Bu Sri, istri Pak Rohman ternyata berasal dari kecamatan yang sama dengan Ayahku. Itu membuat keluarga kita makin akrab.

Ternyata perpindahan Aku dan keluarga bertepatan dengan masuknya bulan Ramadhan. Tepatnya besok. Besok adalah hari pertama Ramadhan. Itu pun kami sadari dari perbincangan Ayah dan Pak Rohman, ternyata Pak Rohman salah satu imam sholat trawih di Masjid Perumahan, jaraknya lumayan jauh kalau dari rumah. Terdengar dari nadanya sih memang suara Pak Rohman itu enak didengar, makanya tak aneh juga bila beliau jadi imam sholat.

Rumah dinas yang kami tempati cukup sederhana, hanya ada dua ruang kamar tidur dan satu kamar mandi. Sisanya dapur, ruang makan, ruang tamu, dan ruang keluarga menyatu dalam satu petak. Tak perlu memakai AC karena siang hari pun masih terasa sejuk. Normal bagi kami yang sebelumnya tinggal di daerah yang panasnya cukup menyengat.

Hari pertama puasa.

Untuk aku, seorang anak remaja di hari pertamanya di Bandung dan tepat dengan jatuhnya bulan Ramadhan bukanlah hal yang sulit. Puasa hari pertama kami sambut dengan menu makanan sate sapi, begitupun Ayah dan Ibu.

Sedikit mengagetkan, saat sedang asyik-asyiknya aku bermain handphone di teras rumah. Entah sejak kapan Bu Sri sudah berdiri tepat di depan rumah kami, sangat baik sekali ternyata Bu Sri mengantarkan semangkuk lauk pauk sesaat sebelum maghrib tiba.

"Bu, ada Bu Sri nih." Aku berteriak kecil.

"Eh, Bu Sri, ada apa Bu?" Ibuku keluar rumah dengan keadaan tubuh bau asap.

"Ini Bu Titin, saya buat sop ikan patin, semoga suka ya." Bu Sri menyodorkan semangkuk sop ikan patin buatannya.

"Waduh jadi ngerepotin, terimakasih ya Bu Sri, ini kebetulan kami sedang buat sate sapi di belakang. Tunggu sebentar ya, Bu," ucap Ibuku, meninggalkan Aku dan Bu Sri.

"Nak Radit gak bantuin Ibu?" tanya Bu Sri.

"Sudah Bu Sri, tadi Radit kebagian motong-motong dagingnya, biasanya kami memang selalu berbagi tugas gitu," jelasku singkat.

Bu Sri hanya mengangguk.

"Ini Bu Sri, semoga cukup ya." Ibuku memberikan beberapa tusuk sate.

"Wah makasih Bu Sri, ini mah kebanyakan padahal kami kan cuma bertiga."

"Gapapa Bu, biar Akbar makin berisi," ucap Ibuku dengan canda.

Bu Sri pun kembali ke rumahnya, sedangkan Ibu kembali ke aktifitasnya membuat sate. Jangan tanya Ayah dimana, beliau masih sibuk dengan pekerjaannya.

Hari kedua puasa.

Sore ini Akbar bermain ke rumahku, ia bercerita bahwa sate buatan Ibuku sangat enak.

"Dit, sate buatan Ibumu pake resep khusus apa? Sumpah rasanya beda banget sama sate-sate yang biasa aku beli," tanya Akbar keheranan.

"Kapan-kapan deh ya aku kasih tahu rahasianya," jelasku singkat.

"Hari ini Ibumu gak buat sate sapi lagi?"

"Nggak, hari ini kami buat sop."

"Buat sop ikan patin?"

"Iya." Aku iyakan saja dari pada Akbar makin banyak bertanya.

"Nanti trawih kita sholat di Masjid Perum yu! Kebetulan Ayahku kebagian jadwal malam ini," ajak Akbar.

"Aku sih pengen-pengen aja, Bar, cuma malam ini aku harus ikut Ayah dan Ibu berkunjung ke rumah saudara, nanti abis makan kami berangkat. Besok aja gimana?" tanyaku.

"Wah kalo malam besok Ayah kebagian sholat di masjid lain, lumayan jauh sih dari sini, tapi kalo kamu mau ikut sholat disana aku juga ikut," jelasnya.

"Emang tadinya kamu gak ikut?"

"Tadinya nggak ah males, disana banyak bocah kecil, jadi berisik," jelasnya lagi.

"Oh, bagus deh."

Langit mulai gelap, Akbar pun kembali ke rumahnya hendak bersiap untuk berbuka puasa.

Hari ketiga puasa.

Suasana perumahan masih sama seperti biasanya, hening, suara ranting pohon yang jatuh tertiup angin bahkan terdengar jelas. Rumah kami yang berada di pojokan menambah suasana seram jika di lihat dari angle kamera. Ditambah beberapa rumah kosong yang mulai rusak dimakan waktu.

Rumah yang kami tempati sebelumnya dihuni oleh keluarga Bu Heni. Namun semenjak suaminya meninggal, Bu Heni dan kedua anaknya pindah, baru sebulan yang lalu. Hal ini aku ketahui dari Akbar yang sekarang sedang duduk bersamaku di teras rumah sambil bercerita tentang perkuliahan dan menunggu waktu berbuka.

"Dit, kayanya nanti aku jadi ikut Ayahku trawih," ucap Akbar ganti pembicaraan.

"Wah, sayang banget, Bar, padahal tadinya aku mau ajak kamu buka puasa bareng di sini. Kebetulan Ayahku sedang libur dan kami buat sate sapi lagi," jelasku membujuknya.

"Kalo ada sate sapi mah, mending aku buka puasa bareng di sini, Dit," ucap Akbar sangat antusias.

"Ayahmu gimana?"

"Gampang, masalah itu biar nanti aku yang urus."

Terlihat Pak Rohman dan Bu Sri berangkat berboncengan menggunakan motor hendak pergi trawih. Batang hidung Akbar tak terlihat sama sekali, entah di mana dia saat orang tuanya hendak pergi.

Tak terlalu dipikirkan, aku pun kembali bermain handphone di teras sembari menunggu sate buatan Ayahku. Kali ini Ibu bertugas mencincang daging, dan aku hanya sebagai penikmat.

Hanya berselang beberapa menit, Akbar tiba-tiba datang menghampiriku.

"Dari mana mana kamu Bar?" tanyaku.

"Biasa, mencari alasan agar tak ikut trawih bersama Ayah," pungkasnya.

"Ya udah masuk, yuk! Sebentar lagi satenya siap," ajakku.

Aku dan Akbar langsung duduk di meja makan sembari menunggu Ayahku menyiapkan sate nya.

"Ini sop ikan patin masih utuh, kalian masak banyak?" tanya Akbar sambil menunjuk semangkuk sop ikan patin yang padahal bikinan ibunya sendiri.

Seperti biasa aku hanya meng-iya-kan.

Maklum, kami sekeluarga tidak suka makan ikan.

"Interior rumah kamu keren juga ya, nuansa nya seram-seram gimana gitu," ucap Akbar.

Memang rumah kami berkonsep minim pencahayaan, hanya lilin hias yang menerangi tiap sudut ruang. Mungkin itu yang membuat suasana menjadi seram. Padahal bagi kami itu biasa saja.

"Kulkas segede gitu isi nya apa Dit? Aku aja masuk kayanya," tanya Akbar dengan sedikit tawa.

"Bener, Bar, kulkas itu memang kami beli untuk kamu. Lebih tepatnya untuk persediaan kami makan," jelasku.

"Oh, jadi isi nya daging sapi."

Untung saja Ayahku datang dengan membawa sate yang siap santap.

"Ini Akbar sate yang kamu suka, habiskan ya!" ucap Ayahku sambil menaruh senampan sate di atas meja.

Ayah dan Ibuku pun ikut bergabung bersama di meja makan.

"Eh, Dit, kita langsung makan nih gak sholat dulu ke masjid?" bisik Akbar.

"Udah kamu makan aja dulu beberapa tusuk."

Akbar pun mulai menyantap sate sapi dengan lahap. Sesekali ia memandangi kami dengan tatapan penuh tanya.

"Kalian kenapa gak ikut makan?"

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Akbar. Kami hanya menatapnya tanpa perlu memberikan jawaban, karena dalam hitungan detik Akbar sudah tersungkur lemas tak berdaya. Namun ia masih sedikit sadar, hanya matanya saja yang masih berfungsi normal.

Kali ini aku mendapat tugas bagian mencincang, sedikit dibantu Ayahku karena daging kali ini cukup komplet mulai dari kepala sampai kaki, dibanding beberapa hari kebelakang yang hanya daging sapi beberapa potong saja, itupun kami beli di supermarket. Biasanya kami beli dengan alibi pergi ke rumah saudara.

"Sebaiknya kita mulai dari mana, Yah?" tanyaku.

"Kamu gorok dulu leher, jangan lupa tampung darah segar nya," jelas Ayahku.

Sementara Ibu bersantai di teras rumah sambil berjaga.

"Gimana kalau kita mulai dari tangan? Setidaknya Akbar bisa menikmati rasa sakitnya," tanyaku.

Tentu Ayahku membolehkan.

Semalam suntuk aku dan Ayahku mengurusi tubuh Akbar. Agak kesulitan memang karena tubuh Akbar yang lumayan besar. Tapi tidak ada satu bagian tubuh manapun yang kami lewatkan. Semua sudah tertata rapi di dalam kulkas. Karena sudah terlalu lelah, kamipun beristirahat.

Hari berbuka puasa.

Pagi ini seperti biasa aku bermain handphone di teras rumah. Tiba-tiba Pak Rohman dan Bu Sri menghampiriku.

"Dit, semalam kamu lihat Akbar?" tanya Pak Rohman kebingungan.

"Gak lihat Pak, kebetulan kemarin malam kami juga pergi ke rumah saudara. Sesaat setelah Pak Rohman dan Bu Sri pergi," jelasku meyakinkan mereka.

"Ke mana ya Pak? Motornya ada tapi Akbarnya gak tahu ke mana," gumam Bu Sri.

"Emang Akbar kenapa gak ikut Pak Rohman trawih?" tanyaku.

"Akbar bilang mau trawih di masjid kota sama teman-temannya,” jelas Pak Rohman.

"Yaudah Pak kita coba hubungi teman-teman Akbar," ajak Bu Sri sambil kembali ke rumahnya.

Ibuku menghampiriku dan memberi kode bahwa sate yang ia buat sudah siap untuk disantap.

Aku, Ibu dan Ayahku akhirnya bisa berbuka puasa setelah 3 hari tidak makan daging. Ya, daging yang kami inginkan. Sepertinya persediaan daging lumayan cukup untuk beberapa bulan kedepan. Ternyata hidup kami di Bandung tak sesulit seperti di Papua yang harus menunggu turis asing datang. Di sini asalkan kita bisa bersosialisasi baik dengan orang sekitar, maka kita bisa bertahan hidup. Selain sopan dan baik tutur katanya, ternyata daging mereka juga lembut saat dimakan.


Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Slice of Life
Rekomendasi