Disukai
0
Dilihat
8
Petualangan di Terminal
Misteri
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Gilang masih berkutat dengan buku-buku pelajaranya. PR bahasa Inggrisnya yang delapan lembar itu masih di sana, belum disentuh. Ia masih menunggu Fandi, si kamus berjalannya datang.

“Ntu kuntet belum datang juga!” seru Gilang ngedumel sendiri di kamar.

Brak! Pintu terbuka dan tampaklah sosok imut mirip boneka alias si kamus berjalan, Fandi. Ia lantas meletakkan tasnya dan merebahkan diri di atas kasur.

“Woy! Ajarin gue Bahasa Inggris dong!” seru Gilang.

Fandi mendongak, “paling ujung-ujungnya juga nyontek.”

“Gimana sih? Bantuin dong!” pinta Gilang.

Fandi memutar mata dan duduk di pinggir ranjang. Pelajaran bahasa Inggris pun dimulai. Satu per satu soal mulai dibahas dan sampailah pada soal nomor lima.

“Fan, gue bingung sama penjelasan lo.” Ujar Gilang.

“Trus?” tanya Fandi.

Gilang menjawab sambil tersenyum modus, “pasti punya lo udah selesai kan? Ijin nyontek ya?”

Tanpa berkata, Fandi merebahkan diri di kasur lagi. Tangannya menunjuk buku bahasa Inggrisnya di meja. Gilang langsung mengambil dan menyalin jawaban Fandi.

Tak jauh dari kamar mereka, ibu kost. Ia sedang menempelkan ponsel ditelinganya. Ia sedang bicara dengan seseorang. Suaranya seperti meriam yang kencang sekali. Sampai-sampai terdengar ke benua Eropa.

Fandi pun berjalan menuju pintu, ia berkata, “gue mau ambil minum, lo nggak nitip?”

“Nggak.” Jawab Gilang yang masih menyalin.

Fandi pun memegang knop pintu. Tiba-tiba pintu terbuka. Daun pintu langsung menghantam Fandi seketika, Fandi yang belum siap akhirnya terpental ke lantai. Ia meringis sambil memegangi hidungnya yang mimisan.

“Aduuuhhh.. maaf ye.” Ujar ibu kost tiba-tiba.

“Ada apa ya bu?” tanya Gilang.

“Apaan sih bu?” Fandi bangkit dan mencari tisu.

Ibu kost pun menceritakan yang sebenarnya. Keponakan ibu kost akan datang dan menginap selama seminggu di sini. Dan dua sejoli ini akan ditugaskan menjemput keponakannya itu.

“Bisa kan?” tanya ibu kost memastikan.

“Kapan jemputnya?” tanya Fandi.

“Besok.” Jawab ibu kost.

“Cewek apa cowok?” tanya Gilang.

“Banyak tanya! Bisa nggak?!” ibu kost mulai naik darah lalu melanjutkan, “kalo kalian bisa jemput dia kesini tanpa lecet, kalian bebas uang kost selama tiga bulan. Lumayan kan?”

“Bisa bu! Bisa!” seru dua sejoli itu kompak.

“Kalo ngomongin duit aja, kalian nyambung.” Ujar ibu kost, lalu ia berdiri dan berkata, “jangan lupa! Tanpa lecet, bebas tiga bulan!”

Mereka berseru, “siap bos!”

Pagi harinya. Mereka bersiap layaknya ikut audisi artis padahal mau ke terminal. Mereka naik ojek ke terminal Maju Jaya.

“Hoeks! Bau bis!” seru Gilang.

“Kayak cewek aja! Kayak gue dong kuat!” seru Fandi.

“Permisi dekk.. numpang ngamen..”

Dari suaranya itu..

“Banciiiiii....!!!” seru mereka yang langsung lari.

“Ish! Ieke kan Cuma ngamen! Ihh.. sebel akyu!” seru banci itu sok kemayu.

Mereka lari menghindar dari banci itu dan berhenti di warteg. Fandi langsung mengambil tempat duduk. Gilang masih berdiri dan bersendekap.

“Fan?”

“Apa?”

“Kita kan disuruh jemput keponakannya tuh monster.”

Fandi bangkit dan menepok dahinya, “iya, ya lupa. Ayo cari!”

Mereka berputar-putar mencari seseorang yang namanya Hilda. Sampai sekarang masih belum menemukannya. Foto yang diberi juga aneh, masa iya suruh nyari cewek tujuh belas tahun tapi malah dikasih fotonya yang umur tiga tahun?

Sementara di sisi lain terminal. Berdiri gadis cantik dengan tubuh mungil dan membawa koper raksasa di kantin terminal. Wajahnya nampak sebal sekali.

“Kapan sih dijemputnya?” gerutunya sebal.

Fandi pun berhenti di depan toilet, lalu berkata, “gue kebelet.”

“Cepetan!” seru Gilang.

Fandi masuk ke toilet yang bersih itu. Ia masuk dan menuntaskan tugas alamnya. Sayup-sayup ia mendengar orang bicara.

“Kita jual berapa?”

“Yang agak mahal ya, soalnya susah dapetnya.”

“Berapa?”

“Empat ratus ribu per ekor, gimana?”

“Murah, tujuh ratus aja.”

“Deal?”

“Deal.”

Di luar, Gilang nampak seperti orang bodoh. Berdiri sendiri, menatap kosong. Ia mulai tersadar ketika ada orang yang menepoknya dari belakang.

“Kita cari lagi.” Ujar Fandi.

Gilang menurut saja. Mereka kembali berjalan. Sedangkan si gadis yang sangat kesal pun ikut meninggalkan tempatnya. Dari arah timur terdapat dua manusia sinting dan dari arah barat muncullah putri cantik dari negeri dongeng. Oww tak dapat terelakkan lagi...

Bruk! Dan tabrakan pun terjadi.

“Apaan sih? Jalan pake mata!” seru Fandi.

Gadis itu berseru, “heh! Jalan pake kaki!”

“Untung aja gue nggak nabrak.” Ujar Gilang tenang.

Entah kenapa suasana jadi aneh. Fandi yang betul-betul tidak percaya dengan matanya kali ini. Halooo.. ada gadis cantik dengan tinggi semampai dan baru saja mereka berkomunikasi sejenak.

Fandi menampar Gilang, “ohh man! The angel from heaven! I don’t believe it!”

“Ha? Lo jangan pake bahasa Inggris dong! Gue nggak ngerti!” seru Gilang.

“Heh! Gue bilang ada bidadari peak!”

“Gitu aja repot! Pake bahasa nasional napa sih?”

“Gue internasional!”

“Internasional? Woy! Mana rasa cinta tanah air lo ha?!”

Dan bla, bla, bla. Sementara itu si gadis langsung pergi dari tempat pertengkaran mulut dua manusia sinting itu.

“Eh? Mana cewek yang tadi?” tanya Gilang.

“Aduhh!! Ayo kita kejar!” seru Fandi.

Gilang mengingatkan, “eh! Cari dulu si Hilda, baru lo kenalan sama cewek itu!”

“Persetan! Dari tadi kita udah keliling tahu!”

“Capek gue!”

“Pokoknya gue harus kenalan dulu!”

“Heeehhh.. terserah lo.”

Dasar si Fandi kalo liat cewek cantik.

Akhirnya Gilang mengalah. Mereka melupakan tujuan mereka dan mulai mencari gadis itu. Dan ia berada di kantin terminal sambil makan.

“Itu dia!” seru Fandi yang langsung berlari.

Gilang hanya menghembuskan napasnya dan berkata, “giliran nyari tuh cewek langsung ketemu.”

Mereka berhenti di depan gadis itu dan langsung duduk di depannya. Sepertinya ia mulai terganggu dan akan beranjak.

“Jangan pergi dong! Kita Cuma minta maaf!” seru Fandi.

“Gue maafin!” serunya lalu beranjak.

Gilang langsung menggaet tangan gadis itu, “mbak, temen saya ini mau kenalan. Hargain dong!”

“Woy! Malah buka kartu!” seru Fandi.

“Mau kenalan nggak?” tanya Gilang.

Fandi mengangguk.

“Yaudah kenalan.” Ujar Gilang.

“Apaan sih? Nggak ada kerjaan ya?!” gerutu gadis itu.

Gilang berdiri, “ada! Kita mau nyari cewek yang namanya Hilda.”

“Kita udah muter-muter, nggak ketemu, kali aja lo kenal.” Ujar Fandi.

Ia pun melotot, “oh! Jadi kalian yang jemput?! Heh! Denger ya! Gue udah ca..”

Gilang memotong, “Hilda ya?”

“Iya!” serunya.

“Alhamdulillahh..!!!” seru mereka berdua.

“Ayo pulang!” seru Hilda.

Fandi mengeluh, “Capek muter-muter, hausss..”

“Susah ya punya temen kayak lo!” seru Gilang tiba-tiba.

“Kalo susah ngapain temenan?”

“Yang ada Cuma elo.”

Mereka pun membeli minuman dan duduk di bawah pohon.

“Suegeeerrr....”

“Biasa aja Fan.”

Hening sebentar.

Hilda bertanya, “oh ya? Nama kalian siapa?”

“Gilang. Yang kuntet ini Fandi.” Jawab Gilang.

“Fan, kamu itu umurnya berapa sih?” tanya Hilda.

“Delapan belas.” Jawab Fandi.

“Yang paling tua itu dia, gue sih masih tujuh belas.” Sambung Gilang.

Mereka melanjutkan minumnya. Entah kenapa hidung Fandi menjadi gatal seketika. Nggak ada angin nggak ada hujan, Fandi bersin dengan indahnya.

“Tutupin dong! Virus tahu!” seru Hilda.

“Maaf, haaciuuuhh!!”

“Woy! Ini kan belum musim hujan masa lo udah bersin?!” seru Gilang.

“Tau tuh!” lanjut Hilda.

Fandi pun bergeser ke bangku lain. Tapi bersinnya malah tambah parah. Ia pun mendengar sesuatu dari kardus di sampingnya. Ia mulai curiga. Dan ia membukanya.

“Ampuunnnn!!!!!” seru Fandi.

“Apaan Fan?” tanya Hilda.

“Huaacihhh! Huaacihh!!”

“Kenapa Fan?” tanya Gilang.

Fandi menjauh dan menunjuk kardus itu. Dan mereka berdua melihat isinya. Burung-burung endemik Papua, cendrawasih.

“Ini kan cendrawasih!” seru Gilang.

“Jangan-jangan ilegal!” seru Hilda juga.

“Mau cendrawasih kek, mau apa kek! Jauhin! Gue alergi bulu!” seru Fandi yang sudah sepuluh meter dari mereka berdua.

Mereka hanya menganga melihat Fandi yang makin menjauh dan sembunyi di belakang pedangang asongan.

“Gue bilang jauhin!” seru Fandi.

“Ngapain seh? Ganggu aja!” seru pedangang asongan yang marah.

“Maaf bang hehe..”

Fsndi pun membeli masker dan mulai mendekat. Mereka masih bingung dengan penemuan ini. Siapa yang menaruhnya dan apa tujuannya?

“Ini pasti transaksi terputus.” Ujar Fandi tiba-tba.

“Iya juga ya.” Jawab Hilda.

“Kardus ini pasti ditaruh sini biar ada orang yang ngambil, iya kan?” tanya Gilang.

“Iya tuh! Kalo gitu kita sembunyi.” Fandi menimpali, “di sana aja!”

Mereka bersembunyi di gerobak pedagang kaki lima dan berpura-pura menjadi pembeli. Sepuluh menit kemudian ada seseorang yang terlihat linglung di sana.

“Jangan-jangan dia!” seru Hilda pelan.

“Bisa jadi sih.” Jawab Fandi, “Yuk! Kita ikutin dia!”

Mereka mengaikuti orang aneh itu. Lalu ia berhenti di depan warung dan membeli minuman segar. Lalu ia duduk di bangku panjang dan terlihat memegangi kepalanya.

“Kita sergap!” seru Fandi.

“Jangan, nanti kalo salah orang gimana?” Gilang mencegah.

Mereka pun ikut duduk di warung itu. Lagi-lagi mereka berakting layaknya pembeli yang tidak bersalah. Mereka dan orang itu berjarak satu bangku agar lebih leluasa mengawasi dan orang tersebut tidak curiga. Lama sekali mereka mengamati. Tiba-tiba orang itu mendekat ke bangku mereka.

“Maaf ya, adek-adek saya mau tanya sebentar boleh?” tanya orang itu.

Mereka mengangguk.

“Adek tadi lewat bagian sana kan? Yang bangkunya banyak itu?”’

Mereka mengangguk dan mulai berspekulasi.

“Nah, kalian liat koper hijau kecil yang saya taruh di sana nggak? Isinya Cuma baju kok, lihat nggak?”

“Haa??!!” mereka bertiga berdiri dan menampakkan ekspresi marah, jadi percuma dong ngikutin ini orang?

“Waduh dek! Saya nggak nuduh kalian ngambil, saya Cuma tanya kok..”

“Kalo kardus ini punya siapa dong?” tanya Hilda resah.

Orang itu mendekat dan melihat kardus itu sekilas.

“Oh ini pasti punya orang yang tadi duduk sama saya, mirip banget kardusnya, lha adek-adek tadi nemunya di mana?”

“Ya di tempat bapak tadi, yang banyak bangkunya.” Jawab Fandi.

“Yaudah dek, kembaliin, kali aja ada yang nyari.”

Mereka sepakat kembali ke tempat tadi dan menaruh barang itu. Ajaibnya tas bapak-bapak itu kembali di sana, sontak ia lalu bersorak kegirangan. Namun, mereka masih ingin tahu tentang nasib kardus itu, jadi mereka menonton dari warung yang tadi digunakan untuk mengintai bapak-bapak tersebut.

“Lama banget nggak ada yang datang.” Keluh Gilang

“Panas, banyak debu.” Hilda menyeka keringat.

Sementara Fandi masih setia melotot pada tempat itu. Dan Gilang mulai memesan makanan, masa iya dari tadi di warung tapi nggak pesen? Jujur aja, dari tadi ibu-ibu yang punya warung melotot karena mereka hanya duduk tapi tidak memesan sedangkan banyak pembeli mengantre.

Seorang perempuan yang nampak kebingungan berjalan di sekitar area tersebut dan menemukan kardus itu. Mereka masih setia melotot. Akhirnya perempuan itu membawa pergi kardus itu dengan tenang.

“Ikutin dia!” seru Hilda.

“Eittssss!! Bayar dulu!”

Setelah membayar, mereka pun mengikutiya. Fandi pun melepas maskernya.

“Fan, pinjem alergi lo.” Ucap Gilang.

“Ha?!”

Belum sempat mengelak, Fandi akhirnya terperangkap tangan Gilang dan menjadi radar utama.

“Lo kira gue anjing pelacak apa?”

“Ho.oh, udah jalan!” seru Gilang.

Dengan Fandi yang bersin, mereka bisa tahu letak kardus itu.

“Huacihh!!”

Mereka berjalan ke arah parkiran. Salah duga. Ternyata itu hanya seorang anak kecil yang memakai jaket dengan aksen bulu berwarna pink.

“Jalan lagi!” seru Hilda.

Fandi merasa ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Di kekang dan diperlakukan seperti anjing pelacak. Tapi tak apalah, asal bebas biaya tiga bulan saja itu sudah membuatnya bahagia.

“Berhenti! Tuh liat!” seru Gilang.

Ternyata perempuan tadi.

“Kejar!” teriak Fandi.

Mereka pun berlari menuju kedalam bis yang di masuki perempuan itu. Setelah masuk, mereka memeriksa satu per satu bangku bis, tidak ada. Gress.. bis mulai berjalan.

“Pak! Pak! Kita mau turun!”

“Tadi aja naik!”

Setelah itu mereka turun, dan bis itu pun melaju meninggalkan terminal. Sepertinya perempuan itu tahu jika dia diikuti.

“Kita berpencar yuk.” Usul Hilda.

“Oke!”

Akhirnya mereka berpencar. Fandi pun pergi ke toilet, tempat di mana ia mendengar transaksi yang sepertinya berhubungan erat dengan peristiwa ini. Ia lalu memasuki bilik keempat dan mendengar seseorang masuk. Ia hanya bisa melihat kakinya. Tanpa ia duga, ternyata orang itulah yang berperan penting dalam peristiwa ini, sungguh suatu keberuntungan.

“Kamu ada di mana?”

“Sepertinya ada yang mengejar saya bos!”

“Ya sudah! Lari sekencang mungkin, kalau bisa beli masker dulu, kita bertemu di tempat biasa!”

Blam! Suara pintu toilet terdengar jelas di telinga Fandi. Lalu ia keluar dan mengumpat.

“Sialan! Kalo aja gue liat wajah orang tadi! Untung aja gue liat kakinya!”

To Santett:

Bro, cari orang yang tadi, lo inget kardusnya kan? Sekarang tuh orang pake masker, hati”, nanti tu orang bakalan ketemu sama orang yang pake celana jins panjang sama sepatu merk Apick.

Gilang sedikit heran dengan sms Fandi.

To Kuntett:

Kok lo bisa tahu?

From Kuntett:

Udahlah cari aja

Sementara di tempat lain, Hilda melemparkan pandangannya ke sekitar untuk mencari orang itu. Bruk!

“Aduh maaf ya mbak..”

“Nggak apa-apa kok mbak.” Jawab Hilda sambil tersenyum.

Lalu perempuan itu menjauh. Hilda lalu berjalan lagi dan bertubrukan dengan Gilang.

“Lo udah nemu Lang?”

“Gue dapet sms dari Fandi, katanya tuh orang pake masker, juga bawa kardus yang tadi.”

Hilda mengerutkan dahinya dan memejamkan mata, mengingat-ingat.

“Gawat! Gue baru aja tabrakan ama dia sebelum tabrakan sama lo!”

“Kampret! Terus kemana larinya?”

“Kesana!”

Mereka pun berlari ke arah perempuan tadi. Sementara itu Fandi sibuk mencari dan sekalian cuci mata.

“Hai mbak cantikk..”

Cewek itu menoleh dan ternyata dia cewek jadi-jadian.

“Oh my god!”

“Ihhhh.. cowok gantenggg.. temen-temen ada cowok gantengg..”

“Cowok ganteng? Mana?”

“Mampus gue!”

“Kejaaarrr!!!”

“Aaaaaa!!!”

Dalam sekejap terjadilah kejar-kejaran yang menghebohkan seisi terminal. Fandi berlari secepat mungkin dan akhirnya ia mendapat tempat persembunyian yang bagus, gudang.

“Selamaatt..”

Lalu dalam sunyi yang lama itu, ia merasa ada yang aneh dengan hidungnya. Kemudian ia langsung memakai maskernya.

Terdengar suara langkah ringan mengendap-endap. Fandi mengintip dari sela-sela kardus.

“Mana si bos ya?”

Buak!

Tiba-tiba saja Fandi berdiri di belakang perempuan itu sambil membawa kayu.

“Gue harus sembunyi nih.” Gumam Fandi.

Lalu Fandi bersembunyi lagi di balik kardus. Tak lama kemudian, datanglah dua orang ke tempat itu. Mereka terkejut melihat perempuan tadi pingsan.

“Nih anak pake pingsan segala lagi.”

“Tau tuh! Jangan-jangan dia gak kebiasa sama bau bis lagi.”

“Sotoy lo! Nih anak mantan pengamen di bis tahu!”

Sementara Gilang dan Hilda malah bingung sendiri.

“Lo salah kali Hil!”

“Gimana sih? Tadi larinya kesini kok!”

To Santett:

Gue ada di gudang, udah ketemu.

“Akhirnya nih anak bisa diandalin juga.”

“Apaan Lang?”

“Ke gudang!”

Lalu mereka berlari menembus keramaian terminal menuju gudang terminal. Begitu sampai, mereka bingung lagi. Ada empat gudang besar.

To Kuntett:

Lo ada di gudang mana?

Teng Toeng! Ringtone yang alay. Fandi lupa menghilangkan suaranya.

“Mampuss..!!”

“Suara apa itu?”

Lalu Fandi melompat dari balik kardus sambil berteriak, “GUE ADA DISINIII!!”

Seketika itu terjadilah pergulatan seru yang membuat suara berisik. Gilang dan Hilda langsung membuka gudang tersebut.

“Lo lari Hil! Panggil polisi!” seru Gilang.

“Terus kalian?”

“Panggil polisi dulu!”

“I..iya deh.” Lalu Hilda lari ke pos polisi.

“Lang bantuin gue!” seru Fandi.

“Jangan coba-coba!”

Dengan segenap tenaga mereka melawan kedua penjahat itu. Dengan satu lemparan kayu, Gilang berhasil melumpuhkan penjahat bercelana jeans itu, ia terpental ketembok dan tertimpa benda dari atasnya. Sementara Fandi sedang asyik dengan penjahat satunya. Untuk menghindari hal buruk, Gilang mengikat kedua tangan perempuan itu dan mengikat juga penjahat yang berhasil diumpukannya.

“Capek juga gue!” seru Fandi yang berhasil melumpuhkan penjahat itu.

Plok! Mereka tos dengan rasa senang. Fandi lalu merunduk dengan cepat. Hup! Bruk! Seorang komplotan mereka terlempar dan pingsan.

“Kok lo bisa tahu Fan?”

“Gue denger suara kaki, ya gue banting.”

“Bahaya lo, kalo itu Hilda gimana? Gak bisa gratis tiga bulan!”

“Duit aja lo pikirin! Gue tahu itu bukan Hilda”

“Eh, gimana lo bisa tahu itu bukan Hilda?”

“Pertama, dia Cuma sendirian.”

“Kedua?”

“Hilda kan panggil polisi, kalo dia dateng pasti bareng polisi kan? Rame-rame.”

Gilang manggut-manggut.

“Kalian nggak apa-apa?”

“Ehh Hilda, gue baik-baik aja kokk..” Fandi mulai lagi.

Setelah itu polisi meringkus keempat penjahat itu. Mereka hanya senyum begitu ditanya tentang ‘bagaimana kalian bisa tahu semua ini?’. Kemudian mereka kembali ke kost.

“Hildaaa..”

“Tantee..”

Drama. Dan sesuai janji, mereka bebas biaya tiga bulan.

Dua hari setelah insiden di terminal itu..

Gilang duduk sambil mencari sambungan wifi tetangga di balkon lantai tiga. Sekalipun fakta sesungguhnya bahwa wifi tersebut sedang dimatikan dan Gilang sama sekali tidak tahu menahu soal itu. Bodoh.

“Lang?”

“Eh, Hilda.”

“Gue boleh duduk di sini gak?”

“Duduk aja, kan tempat umum.”

“Lo lagi ngapain sih? Sibuk aja.”

“Gue nggak lagi paketan, pulsa abis, lagi nyari sambungan nih sialan banget nggak nyambung-nyambung lagi!”

Diam. Semua diam.

Tamat.

(koleksi 2017, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Rekomendasi