Baru tiga bulan Mia ada di sekolah ini, tapi ia sudah memiliki banyak teman. Semua orang suka padanya. Ia selalu tersenyum pada semua orang. Ia adalah gadis berumur enam belas tahun, ia memiliki rambut panjang lurus dan selalu diikat ekor kuda. Ia mengikuti klub sepak bola khusus putri. Dan klub ini memiliki pelatih super tampan yang membuat gadis-gadis meleleh, Kak Randy namanya. Tapi orang ini memiliki karakteristik tipe militer, wajar jika ia sangat disiplin, atau terlalu disiplin.
Setiap hari minggu pagi mereka berlatih di lapangan sekolah. Dan dia selalu datang satu jam lebih awal untuk mempersiapkan latihan mereka. Dan ini adalah alasan mutakhir untuk menghukum mereka karena dianggap terlambat.
“Kalian jalan jongkok dua puluh kali dari sini sampai sana!” perintahnya.
“Siap kak!” seru mereka.
Dan ini seperti suatu siksaan. Napas Mia terengah-engah saking capeknya. Hanya tinggal tiga lagi mereka mencapai dua puluh. Selesai jalan jongkok mereka istirahat lima menit.
“Eh, Mia, Kak Randy ini galak tapi ganteengg bangett!” seru Fina si gadis rambut pemdek sambil agak berbisik.
“Jadi karena ini lo masuk klub?” Tanya Mia.
Fina mengangguk mantap, “ya sih, galak tapi keren, oh ya dia ini masih kuliah, yah masih ada waktu ngejar umur hehe.”
“Aneh, umur kok dikejar, udah ah, disuruh kumpul tuh!”
Mereka melakukan pemanasan. Kemudian lari keliling lapangan satu kali. Lalu dilanjutkan dengan latihan menendang dengan kaki bagian dalam, dan seterusnya. Dua jam kemudian mereka selesai latihan, kemudian diakhiri dengan pendinginan dan doa.
Mia dan Fina pun berhenti di warteg. Wah ada pecel.
“Kita beli nasi yuk.” Ajak Fina.
“Oke!” seru Mia.
Mereka mengambil tempat duduk disebelah jendela. Sambil menunggu mereka mengobrol.
“Fin udah download livenya Little Cupcake belum?” tanya Mia.
“Konser di Surabaya itu kan?”
“Iya.”
“Udah dong.”
“Nanti gue copy ya? Gue nggak nonton, tiketnya habis.”
“Gue juga nggak nonton, jadi gue download aja.”
“Eh udah datang tuh!”
Mereka pun menyantap makanan mereka. Di pojok tempat duduk terlihat seorang pemuda yang tampan, dan itu adalah Kak Randy. Ia sedang memainkan gagdetnya. Wajahnya terlihat serius, jarinya terlihat lincah, dan dari suaranya sudah ditebak jika ia sedang main game.
Tibalah waktu membayar. Uang mereka tidak cukup.
“Kurang duaribu mbak.”
“Aduh gimana nih Fin?” tanya Mia panik.
“Makanan saya tadi berapa?” tanya Kak Randy mengejutkan.
“Lima belas ribu mas.”
“Oh, ini sekalian kurang mereka.”
Ha? Pelatih galak menjadi baik? Mia dan Fina menatap pelatih mereka sambil menganga.
“Gitu aja? Nggak ada rasa terimakasihnya?”
“Makasih kak..” ujar mereka berdua sambil nyengir kuda.
Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Mia masih terheram-heran, masa pelatih segalak itu bisa kek malaikat. Mia tidak mau memikirkan hal ini. Ia pun tidur dan melupakan live Little Cupcakenya pada Fina.
Pagi haripun tiba. Sekolah agaknya cukup membosankan hari ini. Entah kenapa hari senin itu isinya pelajaran sulit semua. Dan IPS juga.
“Saya akan memberi tugas pada kalian semua, catat, buat globe dikumpulkan senin depan.” Ujar Pak Suwardi.
Mia pun mendapat kelompok yang terdiri dari: ia sendiri, Fina, Andrea, dan Maulana. Yah kelompok yang tidak membosankan. Tapi, Andrea itu agak judes orangnya dan Maulana juga agak kikuk.
“Kerjainnya di rumah gue aja.” Ujar Fina.
“Kalo gitu musnahin dulu adek lo, gue nggak mau ada gangguan.” Jawab Andrea.
“Kalo gue?” Tanya Mia.
“Emangnya kita tahu rumah lo dimana?” Andrea bertanya balik.
“Jadi rumah lo Ndre?” Tanya Fina.
“Yaiyalah orang rumah gue deket.”
Mereka pun sepakat ke rumah Andrea. Dan kemana Maulana? Percuma ia sedang sakit. Dan tibalah mereka di rumah Andrea. Wow! Penuh taman bunga! Halamannya bersih, ada kolam ikannya juga.
“Woy! Kalian ngapain? Itu rumah tetangga gue!” seru Andrea.
“Ha? Yaelah Ndre, gue kira yang itu.” Ujar Fina.
Dan tibalah di rumah Andrea. Rumahnya kecil tapi bersih dan asri ada pohon jambu di sana. Mereka pun masuk ke rumah Andrea. Wih! Rapi banget. Cowok super rapi nih.
“Duduk aja. Gue mau ganti baju, oh ya jangan lupa dimakan cemilannya.” Ujar Andrea ramah.
“Sip Ndre!” seru Mia.
Sambil menunggu Andrea mereka mempersiapkan alat mereka. Gunting, lem, kertas, dan yang paling penting adalah bola sepak. Tapi mereka lupa membeli bola sepak.
“Udah siap?” tanya Andrea.
“Kita lupa beli bola nih.” Kata Fina.
“Iya.” Sambung Mia.
Andrea tampak berpikir, lalu ia berseru, “pake bola abang gue aja!”
Fina dan Mia saling berpandangan, dan mereka setuju, “oke bos!”
Mia asyik mengecat bola sepaknya, Fina sedang menggunting potongan kertas bergambar peta, dan Andrea sendiri sibuk membuat kerangka untuk penyangga globenya. Semua sibuk tidak ada yang bicara. Ibu Andrea pun datang membuyarkan mereka, ia membawa sirup dingin dan kue kering untuk mereka.
“Nanti dulu, makan dulu, ntar dilanjuin lagi.” Kata ibunya Andrea ramah.
“Makasih tan.” Jawab Mia.
Mereka menghentikan aktivias mereka sebentar. Mereka ngobrol kesana kemari dan akhirnya mereka tertawa terpingkal-pingkal saking lucunya. Dan Andrea ternyata tidak sedingin dan sejudes yang Fina dan Mia bayangkan, ia ramah dan baik hati ternyata.
“Oke kita lanjut!” seru Andrea.
“Mana bolanya?” Tanya Fina, dan tanpa sengaja ia menyenggol bolanya.
“Ups, eh jangan lari!” seru Mia sambil mengejar bola yang terus masuk kedalam rumah, dan kemudian masuk ke suatu ruangan yang terbuka.
Ia pun kembali ke ruang tamu, “Ndre gimana nih? Bolanya masuk ke kamar.”
“Ambil aja.” Ujar Andrea santai.
“Nggak pa pa?”
“Masuk aja yang punya lagi keluar.”
“Ntar kalo ada yang ilang?”
“Masuk aja! Kalo barangnya ilang biarin, biar dia nangis!”
“Lo kejam banget Ndre.” Ujar Fina.
“Biarin.”
Mia pun memasuki kamar itu. Dan ia mengambil bolanya. Lalu menganga lebar karena hiasan kamar ini. OMG! Ini pernak-pernik Little Cupcake! Ia tak mau lama-lama, kemudian ia pun kembali ke ruang tamu. Mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka. Tugas kelompok ini hampir selesai sepertiganya.
“Kurang dikit lagi, biar Maulana aja yang ngerjain.” Kata Fina.
“Emangnya udah sembuh?” Tanya Andrea.
“Ya kita tengokin aja!” Seru Mia.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah Maulana. Saat melewati halaman, Mia ditubruk seseorang dan seseorang itu adalah Kak Randy. Ia nampak terburu-buru. Saat Kak Randy memasuki pintu ia kembali menengok ke halaman.
“Lho Ndre, katanya jomblo?” tanyanya sambil mengangkat alis.
“Gue emang jomblo bang!” seru Andrea.
“Masa? Tu cewek-cewek bukannya pacar lo?”
Andrea mengangkat sandal jepitnya sambil berkata, “masuk atau gue lempar.”
Kak Randy hanya menjulurkan lidahnya lalu masuk sambil tertawa terbahak-bahak. Fina dan Mia hanya berpandangan. Ternyata Kak Randy itu abangnya Andrea.
“Abang lo?” tanya Mia.
“Baru tahu?”
“Ya, soalnya nggak mirip.” Sambung Fina.
“Gue emang mirip ayah gue, heran deh semuanya mirip mama!” Seru Andrea.
Sambil melanjutkan perjalanan mereka mengobrol sedikit tentang pelajaran sekolah. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Maulana. Rumahnya memiliki pagar warna hitam cantik, dan suara kolam ikan yang gemericik. Mereka pun masuk.
“Assalamualaikum!” seru mereka.
“Waalaikumsalam!” seru seseorang dari dalam.
Pintu pun terbuka. Terlihatlah sesosok manusia gelap, agak kurus, dan tinggi, itulah Maulana.
“Eh kalian? Masuk masuk.” Ujar Maulana ramah.
Mereka duduk di atas sofa panjang yang sederhana. Maulana pun duduk dan bertanya, “ada apa ya?”
“Oh ya, ini Lan, ada tugas bikin globe tinggal dikit, jadi, kamu kan kelompok kita, kamu kerjain sisanya.” Jelas Fina.
“Tinggal tempelin aja kertasnya, udah ada gambarnya kok.” Sambung Mia.
“Gitu ya? Oke-oke.” Jawab Maulana santai.
“Kayaknya lo nggak apa-apa tuh. Emangnya lo sakit dari kapan?” tanya Andrea.
Maulana mendekat, ia membungkukkan badan dan sedikit berbisik, “udah dari sabtu, minggu udah baikan, tapi senin gue males masuk.”
“Dasar!” seru Fina.
“Biarin.”
Mereka pun kembali pulang ke rumah masing-masing. Mia masih memikirkan pernak-pernik Little Cupcake di rumah Andrea. Dan Kak Randy tadi nampak menyembunyikan sesuatu. Ia tak mau memikirkan itu, ia pun mengerjakan pr yang sangat menumpuk.
“Duhh, kapan selesainya nih?” gerutunya.
Hari Jum’at pun tiba. Waktunya matematika, ehem, ulangan matematika. Dan Mia benar-benar seperti kereta uap dalam artian jika otaknya sedang mendidih. Fina apalagi, udah kayak penjelajah tersesat, alias bingung. Sementara Citra di bangku belakang malah semangat sekali, dia itu pakarnya matematika.
“Sepuluh menit lagi!” seru Bu Nina.
Semua bergerak gelisah di tempat duduk masing-masing. Kemudian kelas kembali tenang, tapi masih ada suara berbisik. Biasa, berusaha mencari jawaban. Ada yang tengok kanan tengok kiri, lotre jawaban, “KJ” methods alias Karangan Jawaban, adapun contekan rumus.
Jam matematika pun habis. Ada si cerah dan si muram. Mia pasrah saja jika ia dapat remidi. Ia pun menggandeng tangan Fina dan menuju ke kantin. Kantin nomor empat, langganan duo ini. Dan seperti biasa mereka memesan es teh manis. Kemudian mereka mengobrol ditengah ramainya kantin.
“Pst, Fin.” Ujar Mia memulai percakapan.
“Apa?”
“Gue lihat Little Cupcake di rumahnya Andrea.”
“Masa?”
“Kamar yang waktu itu kemasukan bola.”
“Setahu gue Andrea itu punya kakak dua, satu cewek satu cowok.” Jelas Fina.
“Masuk akal juga ya kalo ada ceweknya, kalo gitu rasa penasaran gue selesai.”
“Kamar aneh itu punya abang gue.” Ujar Andrea tiba-tiba.
“Eh! Andrea, kapan lo nongol?” tanya Fina kaget.
“Sejak...” Andrea berheni sesaat, “..tadi.” Kemudian ia duduk di bangku kosong.
“Yang tadi itu maksudnya Kak Randy?” Tanya Mia.
“Yaiyalah!” serunya.
“Ha?!” seru Mia dan Fina kaget.
Seisi katin pun melihat mereka bertiga. Beuh, seleb kantin nih. Bukan karena teriakan kaget saja yang memancing perhatian penghuni kantin, tetapi karena mereka bersama Andrea, manusia yang paling banyak memiliki fans, dan tentu saja tatapan maut berdatangan dari fansnya Andrea. Dan Andrea membalas tatapan mereka dengan tatapan ‘kalokalianmasihbeginiguebakalmakankalian!’. Selain dapat julukan The Most Handsome ia juga mendapat julukan The Galak Boy.
Bel sekolah pun berbunyi, it’s time to go home! Lautan murid memenuhi parkiran sepeda motor. Ia pun menunggu jemputan, dan tidak menunggu karena ia baru mendapat pesan dari papanya. Mia harus nebeng nih.
Dan Fina pun terlihat bersama kakaknya, yah dia udah dijemput. Dan tinggallah ia sendiri, di gerbang sekolah. Dan ia melihat Andrea menaiki motor bututnya. Daripada sendiri mending ada temennya.
“Andreaa.. gue nebengg!!!” teriak Mia.
Andrea pun berhenti, “apa?”
“Nebeng!”
“Naik.”
“Udah Ndre.”
“Berangkat..” ujarnya seperti Tisnanya TOP.
Mereka duduk agak berjauhan, takut kalo ada gosip yang nggak-nggak. Dan banyak fans Andrea menatap galak Mia. Dan lagi-lagi Andrea lebih galak.
“Ndre?”
“What?”
“Bener ya kalo Kak Randy fans Little Cupcake?”
“Iya.”
“Lo nggak boong?”
“Nggak.”
Dasar Andrea, kalo ngomong dikit, dikiiitt banget, giliran panjang, panjaaaanggg banget kayak pidato kenegaraan.
“Oh ya Mia, rumah lo mana sih?”
“Waduh gue lupa bilang rumah gue di mana. Trus ini di mana?”
Ciiittttt!!
“Turun!”
“Kok gitu sih Ndre?”
“Turun!”
“Lho kok?”
“Gue laper.”
Mia melihat adanya warteg. Pantesan aja. Yah, Mia juga laper sih.
“Lo yang bayar.”
“Kok gue sih Ndre?”
“Lo kira naik motor gue gratis apa?”
“Woy! Itu pemerasan!”
“Masih mau nebeng nggak?”
Mia terdiam sambil manyun. Beberapa orang menatap mereka sambil berbisik. Dan Andrea beraksi dengan tatapan super galak yang membuat mereka memalingkan wajah.
Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan, kali ini mereka lebih memperhatikan arah. Akhirnya Mia pun pulang dengan selamat di rumah.
“Lo nggak masuk Ndre?”
“Gue mau pulang, ada janji.”
Mia kembali ke motor butut Andrea, ia berkata, “janji ama siapa? Cewek lo ya?”
“Gue jomblo!”
Mia menyikut Andrea, “jangan boong, kita kan temenan, kasih tau dong, janji ama siapa?”
“Assalamualaikum!” Seru Andrea sambil manyun terus pergi.
“Waalaikumsalam!!” jawab Mia, kemudian ia tertawa.
Mia pun memasuki rumahnya. Dan saat ia melewati ruang tv ia diinterogasi oleh kakaknya.
“Sama siapa?”
“Temen kak.”
“Cowok?”
“I..iya.”
Kak Agus pun meletakkan majalahnya. Ia menatap adiknya, kemudian berkata, “kalo papa liat ini, papa bisa marah.”
“Kan kakak bisa jemput Mia!”
“Gue baru pulang.”
Hari sabtu. Hari ini tanggal merah, libur. Mia asyik bersih-bersih di kamar. Dan sambil menyelam minum air, ia juga menyetel lagu-lagu Little Cupcake. Sambil minum air mencari ikan, ia juga berjingkrakan seperti orgil yang selalu di bawah pohon beringin di taman Pancawarna.
“Oh beibeeehhhh...kita kan slaluu bersaamaaa..uwooooo...” nyanyi Mia dengan suara MerDu (Merusak Dunia).
Kak Agus di kamar sebelah menutup telinganya dengan kedua tangannya. Skripsi yang memusingkan semakin membuat sakit kepala.
“Kalo gue bisa musnahin ntu kutu kupret, gue bakal musnahin sekarang! Gue janji!” Gerutunya.
Hari Minggu pagi, waktunya latihan. Fina datang menjemput. Mereka pun berangkat bersama. Sepanjang jalan mereka bersenandung dengan suara MerDu. Dan tak lama kemudian mereka pun sampai di lapangan.
“Jalan jongkok dua puluh kali!” Perintah Kak Randy.
Kak Randy tidak ada bedanya dengan Andrea, sama-sama galak. Dan latihan pun berjalan normal. Waktu pun terus berjalan, dan tak terasa waktunya pulang. Mia pun melihat sesuatu di bangku pelatih, gagdet! Dan gagdet siapa itu?
“Punya siapa nih?” Tanya Fina.
“Nggak tahu.”
“Buka aja.”
“Nggak sopan Fin.”
“Kita nggak tahu punya siapa, jadi buka dulu biar tahu punya siapa.”
Mia pun mencoba membukanya. Gagal. Password melindungi. Ia mencoba berbagai macam kata, secara ia kan paling jago soal kode.
“IQ gue nggak nembus passwordnya.” Ujar Mia.
“Kalo gue liat posisinya nemunya, gue tahu itu punya siapa.”
“Siapa?”
“Kak Randy.”
“Coba deh, Little Cupcake, ewwghh ga bisa!”
“Sini!”
Dan passwordnya benar.
“Kok bisa Fin?”
“Gue coba tanggal ultah Qiqi LC, eh beneran lo Kak Randy fans Little Cupcake!”
Ada satu cara memastikan, ke rumah Andrea. Dan mereka ke parkiran untuk mengambil motor. Selama perjalanan mereka mengumandangkan suara MerDu yang membuat hari ini semakin sinting. Tak lama kemudian mereka pun sampai di rumah Andrea.
“Darah muda darahnya para remajaa... asoy tarik mang..”
Andrea sedang menyanyi. Dan ia hanya memakai kaos oblong warna biru serta sarung yang kayaknya udah bulukan. Baru pertama kali mereka melihat Andrea yang menggoyangkan tubuhnya sambil mencuci, apalagi ditambah bersiul-siul aneh. Dan Andrea sama sekali tidak menyadari kalau sedari tadi Fina merekam aksinya.
“Terus Ndre, yak begitu, pas.” Ujar Mia.
“Oke!” seru Andrea masih belum sadar.
Andrea semakin “mengganas” goyangannya. Kak Randy keluar sambil membawa kopi, dan menganga saat melihat Andrea yang begitu.
“Ndre? Andrea!” seru Kak Randy.
“What?”
“Dilihatin tuh.”
Andrea berbalik badan. Dan wajahnya memucat saat melihat Mia dan Fina.
“Eh sejak kapan?” tanya Andrea takut.
Mia dan Fina serempak menjawab, “sejak tadi.”
Andrea melihat kamera di tangan Fina, “lo ngerekam?”
Fina memasukkan kameranya, “iya.”
Andrea semakin down.
“Ada apa kesini?” Tanya Kak Randy.
“Ini kak, bener ini punya kakak?” tanya Mia.
Kak Randy menerimanya, “iya!”
“Biasa aja kak!” seru Fina.
“Makasih ya! Dari tadi gue cari-cari.”
Mia menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya, “kakak fans Little Cupcake?”
Kak Randy menjawab ragu, “ng..nggak.”
“Jujur?”
Kak Randy menggigit bibirnya, “kalian berdua sini.”
“Kenapa kak?” tanya Fina.
“Ikutin kakak.”
Mereka mengikuti Kak Randy. Andrea mengikuti di barisan paling belakang. Kak Randy pun membuka kamar itu. Dan wow! Terbentanglah segala macam Little Cupcake bernuansa merah muda dan ungu muda. Andrea seakan melilit melihatnya, sedangkan mereka berdua takjub melihatnya.
“Sebenernya waktu di warteg kemarin gue denger kalian ngomongin LC, jadi pengen ngobrolin juga sih, t..tapi jangan kira gue maho kalo ngefans LC, gue masih normal kok.” Ujar Kak Randy beruntun.
“Wahh, Qiqi limited edition!” seru Mia.
“Itu yang biasa, nih, ini baru limited edition.”
Kak Randy pun membuka lemari, dan terbentanglah action figur personil Little Cupcake lainnya.
“OMG!” seru Fina.
“Kakak juga koleksi versi video gamenya loh.”
“Game? Emang ada?” tanya Mia.
“Ada, saking ngtrennya LC dijadiin versi video game, keren kan? Album pertama sampe yang baru kakak koleksi, poster langka ada, juga kaos yang ada tanda tangannya.”
“Uwoooww!!” seru Fina dan Mia.
Sementara mereka ngobrol tentang Little Cupcake, Andrea sedang memijat kepalanya. Ia betul-betul tidak suka Little Cupcake, terlalu feminim. Ia pun menuju dapur untuk mengambil air minum. Saat melewati kamar kakak perempuannya, ia mendengar lagu-lagu Avenged Sevenfold diputar. Dan ia sedang menyanyi dengan MerDunya.
“Apa kakak-kakak gue jiwanya tertukar ya?”
Dan sementara di kamar Kak Randy..
“Oh ya, ini rahasia, jangan kasih tahu anak-anak diklub atau siapa aja, cukup kita bertiga, oke?”
“Tapi, kakak harus baik hati, jangan marah, jangan ngehukum lagi.” Ujar Fina.
“Oke, janji!” seru Kak Randy.
Senin pagi. Mia harus datang lebih awal untuk tugas piket. Dan di pojok kelas ia sedang melihat Andrea memainkan laptopnya. Matanya begitu serius.
“Woy!” seru Mia mengagetkan.
“Ayam.. eh..ayam..ayam!” seru Andrea latah.
“Hahaha! Lo latah ternyata.”
“Apaan sih? Gue lagi download game tahu!”
“Jadi lo cuma numpang download aja?”
“Alah! Udah nyapu aja sana! Ganggu aja.”
“Gue mau nyapu, angkat kaki masbro.” Ujar Mia sambil menyapu kaki Andrea.
“Lo ngusir gue?!”
“Iya!”
Andrea pun pindah ke kursi guru. Secara, kan lebih cepet internetnya.
“Ndre?”
“Apaan sih?”
“Kalo lo hobi marah-marah, siap-siap video lo nyebar.”
Andrea mengangkat alis, “yang mana?”
“Pake nanya lagi. Itu loh yang joget-joget kemarin.”
“Yang mana?”
“Pikun lo! Itu yang direkam Fina.”
Andrea ingat. Rekaman itu. Joget-jogetnya. Dan Mia akan menyebarkannya? Oh, no! Bisa turun reputasinya dimata cewek-cewek. Andrea berlari dan langsung memeluk kaki Mia.
“Plis jangan dong.” Ujar Andrea setengah mewek.
“Woy! Ngapain pegang-pegang kaki gue?! Sana minggir!” seru Mia.
“Plis..”
“Minggir!”
Sekarang mereka berdua tampak seperti Malin Kundang dan ibunya, hanya saja Mia yang menjadi Malin. Dan tak ada yang menyadari bahwa di luar sana ada yang mengawasi.
Tibalah waktunya untuk pulang. Mia pun pulang bersama Fina. Dan ada seseorang yang mengikuti mereka dari belakang.
“Eh, bensin gue hampir habis nih, beli dulu deh.” Ujar Fina.
“Oke Fin.” Jawab Mia.
Dan mereka berhenti untuk membeli bensin. Si penguntit pun turun dari motornya. Ia pun menghampiri mereka.
“Beli bensin?”
Mereka menoleh. Itu Bagas. Kakak kelas mereka.
“Iya kak.” Jawab Fina.
Bagas mengangguk, ia berkata, “oh ya, gue butuh temen buat lomba English Presentation, oh ya nama lo Mia kan?”
“Iya kak.” Jawab Mia.
“Gue denger lo jago bahasa Inggris, lo mau jadi partner gue?” tanya Bagas.
“Partner? Kapan kak?”
“Gue tunggu besok kamis, di perpustakaan, di sana ada temen-temen gue juga.”
“Istirahat atau pulang sekolah?”
“Pulang sekolah, jangan lupa.”
“Iya kak.”
Bagas pun menaiki motornya, “gue duluan ya.”
“Iya kak!” seru Mia.
“Hati-hati kak!” seru Fina.
Bagas mengangguk dan kemudian ia pergi.
“Mia?”
“Apa?”
“Lo tahu itu siapa?”
“Nggak.”
Fina membelalakkan matanya, “lo nggak tahu?”
“Iya.”
“Dia itu ketua klub bahasa paling keren! Dan kita barusan ngomong sama dia? Gue hampir nggak percaya kita ngomong sama dia!” seru Fina sambil melonjak-lonjak.
“Biasa aja Fin.”
Kamis. Hari ini Mia ada janji dengan Bagas pulang sekolah. Mia hari ini banyak tersenyum, senyum-senyum sendiri.
“Hiyyy, dasar orgil, senyum-senyum sendiri.” Komentar Andrea.
“Biarin! Emang lo yang joget-joget sinting?”
Andrea membekap mulut Mia, “pssstt, iya deh, gue kalah, jangan ngomong itu dong..”
“Uhuk..uhuk..uhuk.., lo mau bunuh gue? Ha?!” seru Mia.
Fina berseru, “cieeee.. yang pedekate ciee..”
Mia dan Andrea pun menjauh teratur. Andrea menatap Mia ngeri, dan sebaliknya Mia juga.
“Nggak usah akting begitu, yuk, udah ditunggu Kak Bagas tuh.” Ujar Fina.
“Oh iya ya.” Jawab Mia.
“Bagas? Si playboy curut itu?” tanya Andrea.
Dan pertanyaan Andrea seolah ditiup angin, tidak digubris sama sekali. Tak lama kemudian mereka sampai di perpustakaan. Dan di sana telah berjejer anak-anak dari klub bahasa.
“Ini nih yang namanya Mia?” tanya salah seorang dari mereka.
“Iya kak.” Jawab Mia.
“Siapa nih si Dora? Temen lo ya?” tanya mereka lagi.
Semua tertawa kecuali Fina.
“Nama gue Fina! Bukan Dora!” seru Fina.
Sekali lagi mereka tertawa. Dan Dani, salah seorang dari mereka tertawa paling keras. Fina naik pitam dan ia langsung mengeluarkan ilmu silatnya.
Bruk!
“Masih mau ketawa? Atau ngerasain jurus yang lain?” tanya Fina sambil senyum setan.
“Nggak..nggak, kita cuma mau latihan kok, hehehe..” ujar Dani takut.
“Duluan ya!” seru Fina sambil menjauh.
Mereka segera masuk kedalam perpustakaan. Dani masuk terlebih dulu dan langsung duduk di kursi. Bagas pun memasuki perpustakaan.
“Kok diem? Kayak abis ngeliat setan.” Ujar Bagas memulai.
“Bisa kita mulai aja?”
Mereka pun memulai kegiatan mereka. Dan tibalah waktu Mia dan Bagas latihan. Semua bertepuk tangan karena presentasi mereka bagus sekali.
“Kayaknya kalian bakal menang deh!”
“Setuju! Kalian aja yang jadi kandidat.”
“Iya! Betul itu!”
Tak lama kemudian mereka semua selesai.
“Dijemput?” tanya Bagas.
“Nggak kak.” Jawab Mia.
“Mau bareng?”
Mia duduk agak berjauhan. Wangi parfum Bagas mulai memasuki rongga hidung Mia. Wangi yang khas dan sangat menenangkan.
“Mia, gue minta nomor lo dong.”
“Tapi ini kan di atas motor, kakak mau ngetik sambil nyetir?”
“Udah jangan kawatir.”
Mia memberikan nomornya sambil merinding. Bayangkan jika ada orang main hape di atas motor yang kecepatanya delapan puluh kilometer perjam.
“Oke, Mia. Udah gue simpen.” Ujar Bagas tenang.
“I..iya.” jawab Mia sambil gemetar.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Bagas.
“Takut, soalnya yang tadi itu ekstrim banget.”
“Sori.”
“Iya.”
Mia pun sampai di rumah. Sesampainya di kamar, ia berlonjakan ria. Senang sekali rasanya. Duh, dibonceng kakak kelas super keren? Bayangin, banyak cewek yang ngeliatin mereka, mereka pasti iri.
Dan ada suara sms dari ponselnya.
“Pasti Kak Bagas.”
Dan ternyata..
“kartu anda akan memasuki masa tenggang....”
Mia ngedumel di atas kasur. Dan kemudian masuklah sms kedua.
“Hai, ini aku Bagas.”
Senang dan sedih. Senang karena sms dari Bagas. Sedih karena tidak punya pulsa untuk membalas. Dan terdengarlah bunyi panggilan dari nomor yang sama.
“Halo?”
“Kok tadi nggak dibales?”
“Sori kak, nggak punya pulsa.”
“Mau aku beliin?”
“Nggak usah repot kak, aku bisa kok beli sendiri.”
“Waduh gimana ya? Kakak ada di konter nih, nggak sekalian?”
“Emm, yaudah deh tapi nanti aku ganti di sekolah.”
“Oke pake uang kakak dulu, oh ya ,manggilnya jangan kak, Bagas aja oke?”
“Oke kak”
“Ehem”
“Maksud aku Bagas hehe.”
“Oke bye.”
“Bye.”
Mia serasa terbang dari bumi ke mars, naik asteroid, gelayutan di ekor komet, nyasar di pluto, ketemu Neil Amstrong, makan malam bareng alien, dan pulang dijemput pesawat Apollo. Oh inikah cinta? Oh inikah cinta? Terasa bahagia saat jumpa dengan dirinya uwoooo. Lagu jadul muncul.
Seminggu kemudian. Mereka harus latihan lagi. Ini adalah hari paling bahagia dalam seminggu menurut Mia. Dan untuk Andrea, ia merasa bahwa Mia sudah gila.
“Seminggu kemarin gue liat lo senyum-senyum sendiri, jangan-jangan lo gila ya?” tanya Andrea asal.
“Gila?! Lo yang gila!” seru Mia.
“Eh, senyum itu sama orang bukan sama tembok.”
“Kok lo tahu? Lo ngintai gue?”
“Lo kan duduknya depan gue, jelas gue liat, masa gue buta?”
“Ahh, susah kalo ngomong ama lo!” Mia langsung menjauh.
“Apa? Barusan lo lancar ngomongnya, apanya yang susah?”
Lagi-lagi, pertanyaannya selalu menggantung. Mia pun berada di depan perpustakaan. Jantungnya berdebar saat melihat Bagas. Ia berjanji akan memanggil Bagas jika hanya berdua.
“Mia udah dateng, kita mulai yuk.”
“Oke!”
Mereka pun latihan seperti kemarin. Dan hasilnya lebih bagus dari kemarin.
“Wah, kalo latihan dua kali aja udah bagus, apalagi lomba, pasti menang.”
“Makasih.” Ujar Mia sambil tersenyum.
Akhirnya mereka selesai latihan. Hanya tinggal Mia dan Bagas di sana.
“Mia?”
“Kenapa kak?”
“Ehem.”
“Kenapa Gas?”
“Ha? Gas? Kayaknya malu-maluin deh, gimana kalo Katon aja, soalnya nama gue Katon Bagaskara.”
“Jadi gue manggilnya Ton? Gitu? Kekerenan, Gas aja.”
Bagas menjadi gemas, saking gemasnya ia mencubit pipi Mia. Mia langsung manyun lima senti. Dalam perjalanan pulang ia diantar Bagas.
“Mia, gue mau ngomong sesuatu.”
“Apaan Gas? Eh, Ton.”
Bagas berhenti di sebuah taman. Ia memarkirkan motornya kemudian mengajak Mia di pinggir danau.
Bagas memulai percakapan, ia menggigit bibirmya kemudian berkata, “selama seminggu kita kenal, gue ngerasa aneh. Ada sesuatu, gue ngerasa gue suka sama lo.”
Mia menganga seolah tak percaya. Bagas menatap Mia seolah meminta kepastian.
“Lo mau jadi pacar gue?” tanya Bagas.
“Emm, itu, itu..”
“Nggak apa-apa, gue tunggu, gue pengen tahu Sabtu besok.”
Mia tidak bisa berkata apa-apa sampai di rumahnya. Ia terdiam memikirkan kata-kata Bagas tadi. Pacar? Pacar? Apa kata papanya nanti?
Sabtu. Inilah hari perlombaannya. Ia berdebar selama menunggu giliran. Bagas memandanginya dari kejauhan. Ia menerima atau tidak. Tapi, apa yang dikatakan Andrea dua minggu lalu benar? Bagas itu playboy.
Satu per satu kelompok sudah presentasi. Sebelum naik, Bagas menatapnya, menagih janjinya kemarin. Hatinya semakin bimbang. Mereka pun presentasi dengan bagusnya. Dan mereka mendapat tepuk tangan.
Hasil penjuriannya akan diumumkan senin depan. Semua peserta menjadi penasaran, apakah Mia dan Bagas pemenangnya?
Mia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia pergi duluan sebelum sempat bertemu Bagas. Suara dering ponselnya menyakiti telinganya. Dari Bagas.
“Iya?’
“Gimana?”
“Nggak tahu.”
“Ini malming, temuin gue di taman.”
“Iya.”
“Gue tunggu jawaban lo.”
Sekarang ia ada di taman. Mia nampak lebih cantik. Rambutnya terurai sebahu lebih. Ia memakai dress pendek lengan panjang warna biru. Tas kecil merah menambah kemanisannya. Make up tipis melapisi wajahnya. Dan sentuhan terakhir ia memakai bando senada dengan hitam rambutnya.
Bagas merasa takjub, “gue nggak nyangka lo jago dandan. Lo cantik.”
“Makasih Ton.” Jawab Mia.
“Gimana?”
“Gue nggak bisa.”
Jawaban mengejutkan datang dari bibir Mia. Bagas merasa tidak enak, baru seminggu kenal udah nembak.
“Gue minta maaf.” Ujar Bagas.
“Harusnya gue. Gue udah nyakitin perasaan lo.” Jawab Mia.
Bagas menggengam tangan Mia. Kemudian menyisihkan rambut Mia ke belakang telinganya.
“Lo gak bakalan jadian sama cowok lain.” Ujar Bagas.
Bagas mendekat, wajahnya ia dekatkan, “gue suka sama lo, dan lo gak bakal sama yang lain.”
“Ton! Apaan sih?!”
“Gue nggak bakalan ngelepasin lo!”
“Udah!”
Jebrot! Seluruh badan Bagas tertutup bubur kacang hijau. Bagas menoleh, itu Andrea.
“Apaan sih lo?!” seru Bagas marah.
“Lo tuh, main sosor aja.” Jawab Andrea santai.
“Ngajak berantem?”
“Iya.”
Terjadilah perkelahian sengit antara Andrea dan Bagas. Bagas menyerang membabi buta. Sedangkan Andrea tentu dengan karatenya.
Mia yang tidak tahan lagi akhirnya mengambil kelapa kecil yang ada di sampingnya. Dengan ilmu dari Kak Randy, ia melayangkan tendangan mautnya, dan tepat mengenai punggung Bagas.
“Mia? Kenapa? Semua cewek suka sama gue, lo juga suka sama gue!” seru Bagas.
“Gue nggak akan nerima kak!” seru Mia.
“Kenapa?”
“Kita baru kenal, dan..” Mia tidak sanggup meneruskan.
“Gue nggak bisa biarin lo jatuh ke cowok lain!”
Andrea yang sedari tadi diam kemudian angkat bicara, “playboy curut! Lo jangan nyakitin perasaan sahabat gue! Berapa cewek lo? Berapa cewek yang udah lo sakitin?”
Bagas berbalik, “apa? Curut lo bilang?”
“Lo nggak denger rut?”
“Berani lo ya?!”
“Lo marah gara-gara gue beberin rahasia lo? Rahasia apaan? Rahasia umum? Dia ini anak baru, masih polos.”
Bagas sekali lagi naik pitam. Ia melemparkan bogem mentahnya. Tapi Andrea berhaasil menghindar. Bagas melakukannya lagi dengan lebih keras. Andrea membalasnya dengan sebungkus kacang hijau panas ditangannya.
“Aww panass!!” seru Bagas.
“Sukurin lo! Pergi lo playboy curut!” seru Mia.
Bagas pergi menaiki motornya. Mia dan Andrea bersorak bak suporter sepak bola.
“Kan udah gue bilang, dia ini playboy.”
“Gimana lo bisa tahu?”
Andrea menghela napas, ia bercerita, “dia itu satu smp sama gue, udah banyak teman gue yang diboongin.”
“Kenapa lo kasih tau gue?”
“Lo sahabat gue.”
“Kita baru kenal tiga bulan.”
“Kita..” Andrea berhenti, “udah kayak sahabat lama sih.”
“Aneh.”
“Ya sih aneh.”
“Makassih Ndre.”
“Ya, sama-sama.”
Mereka terdiam. Dan terdengar teriakan dari jauh. Kak Randy!
“Andreaaaa!!!” serunya.
Ciittt!
“Apaan sih bang?”
“Tuker motor, gue mau ngedate sama cewek gue.”
“Ha? Cewek?!” seru Andrea.
“Yaiyalah! Mana mau gue pake ini. Udah cepet tuker!”
Andrea masih bingung. Ia pun menyerahkan motornya. Kak Randy pun langsung meluncur dengan motornya. Mia masih menganga.
“Itu bener abang lo?” tanya Mia.
Andrrea mengangguk, ia menjawab, “siapa ceweknya, ya?”
Mia melihat Kak Randy berhenti di sisi lain taman. Mereka berdua mengamati gerak-gerik Kak Randy. Seseorang berbaju pink mendatanginya.
“Ha?! Fina?!” seru mereka.
“Mata gue nggak salah nih?” tanya Andrea.
“Kita nggak salah, itu Fina!” seru Mia.
“Waduh.. gue kira siapa.”
“Tapi, itu Fina trus sama abang lo, nggak mungkin!”
Mereka diam.
Mia memulai, “Fina udah, gue sama siapa ya?”
“Sama gue aja!”
“Maksud lo?”
“Lo nggak mau nebeng? Jalan kaki aja?”
Motor butut Andrea melaju dengan kecepatan sedang. Dan mereka berhenti di warteg. Dan mereka mengambil tempat duduk. Kebetulan beberapa fans Andrea ada di sana dengan tatapan tajam. Seperti deja vu, Andrea lebih galak.
“Ini warteg yang dulu kita datengin kan?” tanya Mia.
“He.em.” jawab Andrea.
“Gue lagi yang bayar?”
“Masa iya cewek gue suruh bayar?”
“Ha?”
“Udahlah kalo lo nggak ngerti.”
“Beneran?”
“Makan aja!”
“Lo beneran Ndre? Gue Ndre?”
Andrea meraih sendok dan memasukkan makanannya.
“Ndre?”
Andrea tidak menggubris.
“Yaudah gue makan aja.”
Mereka makan di warteg tanpa mengetahui penderitaan Kak Agus yang menunggu Mia di taman.
“Katanya jemput jam sembilan, mana tuh anak? Mana nggak diangkat lagi.” Agus ngedumel sendirian, maklum jomblo.
Malam ini adalah malam yang aneh, sinting, dan penuh lika-liku. Mia merasa lebih bahagia, dan Andrea tidak jadi manusia pemarah. Dan semua memiliki akhir bahagia semanis cupcake.
Tamat
(koleksi 2016, no edit, edisi menolak malu terhadap tulisan lama)