Kabut tipis menyelimuti ruang tamu yang pengap oleh aroma kayu tua dan harapan yang membusuk. Di ujung meja jati yang kokoh dan angkuh, sebuah monumen kesombongan yang diwariskan turun-temurun, Ibu duduk dengan punggung tegak, seolah tulang belakangnya terbuat dari besi yang tak kenal kompromi. Pagi ini, udara terasa lebih berat bagi Sekar. Setiap kali tagihan utang atau bayang-bayang masa depan yang suram mengetuk pintu kepalanya, dia mendengar suara itu lagi: suara kunyah yang halus, ritmis, dan menjijikkan di balik kulitnya sendiri.
Dia mulai menyadari bahwa kecemasan bukan sekadar debar jantung yang memburu; dia adalah ribuan mandibel kecil yang sedang berpesta di dalam sumsum tulangnya. Sekar menatap cermin di lorong sebelum menuju meja makan. Dia tak lagi melihat pori-pori wajahnya yang halus; dia melihat lubang-lubang kecil tempat satu per satu serangga berwarna pucat itu merayap keluar, membawa pergi serpihan ingatannya seperti kepingan kayu lapuk yang harus segera dibawa ke sarang.
“Duduk, Sekar.” Suara Ibu membelah keheningan, setajam gesekan ampelas pada kayu mentah. “Jangan cuma berdiri di situ kayak patung rayap yang nunggu roboh.”
Sekar menarik kursi kayu, suaranya mengerit ngilu di atas lantai porselen. Ibu adalah seorang kurator kegagalan yang teliti. Dia punya bakat luar biasa dalam membedah setiap pencapaian orang lain, terutama Sekar, untuk kemudian dibandingkan dengan kesuksesan kakaknya yang tinggal di ibu kota.
“Lihat ini!” Ibu menyodorkan ponselnya dengan gerakan elegan yang angkuh. “Kakakmu baru aja ngirim foto mobil barunya. Mewah. Mengkilap. Enggak kayak motor bututmu yang selalu merengek minta ganti oli.”
Sekar menatap layar itu tanpa minat. “Bagus buat Kakak, Bu.”
“Bagus? Cuma itu?” Ibu tertawa sinis, sebuah suara yang membuat telinga Sekar terasa gatal. “Kapan kamu mau berhenti membuang waktu buat coretan-coretan tak berguna itu, Sekar? Kamu menggambar setiap hari, tapi enggak ada satu pun yang ngasilin duit. Lihat dirimu, kamu kayak rayap yang cuma tahu caranya ngabisin ruang.”
Sekar terdiam. Di dalam rongga dadanya, dia merasakan hatinya mengeras, mengerut, lalu berubah menjadi serat-serat kayu yang kering. Itulah transformasi pertamanya. Hatinya telah mati sebelum jasadnya. Rasa benci yang dipendam selama puluhan tahun, dipupuk oleh kata-kata yang lebih tajam dari pisau dapur, telah mengubah organ vital itu menjadi sumber nutrisi bagi koloni rayap yang lahir dari trauma.
Ketika Sekar memejamkan matanya, ingatan itu muncul seperti retakan pada kayu jati—tua, dalam, dan tajam. Sekar teringat saat dia berusia tujuh tahun. Sore itu, ruang tengah dipenuhi aroma pengharum ruangan yang mahal dan suara tawa Ibu yang terdengar asing di telinga Sekar. Ibu sedang memamerkan buku rapor Kakak yang penuh dengan angka merah jambu dan pujian guru.
“Liat kakakmu, Sekar,” ujar Ibu sambil membelai rambut Kakak dengan penuh kebanggaan yang meluap-luap. “Dia itu emas di rumah ini. Dia alasan Ibu masih mau bertahan di bangunan tua ini.”
Sekar kecil berdiri di ambang pintu, meremas pinggiran buku gambarnya yang lusuh. Dia telah menghabiskan waktu berminggu-minggu untuk menggambar wajah Ibu, sebuah sketsa sederhana yang dia buat dengan seluruh kejujuran seorang anak. Dia melangkah maju dengan jantung yang berdebar, berharap setidaknya ada sisa remah perhatian untuknya.
“Ibu … aku juga punya sesuatu,” bisik Sekar kecil, suaranya nyaris tenggelam oleh deru kipas angin.
Ibu menoleh, tetapi tatapannya mendadak mendingin, seolah-olah dia baru saja melihat noda di atas taplak meja bersih. Dia mengambil buku gambar itu dengan ujung jari, memandangnya sekilas, lalu meletakkannya begitu saja di atas meja yang berdebu.
“Apa ini? Coretan hitam yang berantakan?” tanya Ibu, suaranya setajam gesekan ampelas. “Kenapa kamu enggak bisa belajar matematika kayak kakakmu? Kenapa kamu cuma bisa buang-buang kertas dan waktu? Kamu tahu, Sekar, di dunia ini ada orang yang membangun rumah, dan ada orang yang cuma jadi rayap yang menggerogotinya dari dalam. Jangan sampai kamu jadi yang kedua.”
Sekar kecil terdiam. Dia melihat buku gambarnya perlahan terdorong ke tepi meja oleh tangan Ibu yang sedang asyik membetulkan letak piagam Kakak. Saat buku itu jatuh ke lantai, Sekar tidak menangis. Namun, di saat itulah dia merasakan gatal yang pertama kali muncul di balik sumsum tulangnya.
Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang mulai mengunyah harga dirinya, mengubah rasa sakit itu menjadi serat-serat kayu yang kering. Di sudut ruangan yang gelap, dia melihat seekor rayap merayap di kaki meja jati, dan untuk pertama kalinya, Sekar merasa memiliki kawan.
“Kenapa kamu diem aja?” tuntut Ibu. Membangunkan Sekar dari ingatannya. “Apa kamu enggak malu? Kakakmu ngirim uang belanja tiap bulan, sementara kamu? Kamu bahkan enggak sanggup beli taplak meja baru buat rumah ini.”
“Aku sedang berusaha, Bu. Seni butuh waktu—”
“Seni!” Ibu memotong dengan kasar. “Seni enggak akan ngisi perutmu! Seni enggak bakalan bisa bayar utang-utang yang udah kamu tumpuk! Kenapa kamu enggak bisa dikit aja ngebanggain Ibu? Apa susahnya niru jejak kakakmu? Dia manajer, Sekar. Dia dihormati. Sedangkan kamu? Kamu cuma bayangan yang mengotori rumah ini.”
Sekar hendak membalas. Dia ingin meneriakkan betapa lelahnya dia menjadi bayangan di rumahnya sendiri, betapa sakitnya setiap kali keberadaannya dianulir oleh kesuksesan orang lain. Dia ingin mengatakan bahwa setiap coretannya adalah teriakan minta tolong yang tak pernah didengar. Namun, saat dia membuka mulut, lidahnya terasa kelu dan berpasir. Dia tidak bisa lagi merasakan tekstur nasi di mulutnya.
“Sekar! Kamu denger enggak?! Jawab Ibu!” Teriakan Ibu menggelegar, tetapi bagi Sekar, suara itu terdengar jauh, seperti gema dari dasar sumur yang kering.
Sekar mencoba membuka mulut untuk memberikan pembelaan terakhir, tetapi lidahnya tak lagi patuh. Rasa gatal yang semula hanya bisikan di sumsum tulang kini meledak menjadi hiruk-pikuk aktivitas di dalam rongga mulutnya. Saat dia menganga, lidahnya yang merah dan lembut telah tanggal, luruh menjadi ribuan serangga putih yang saling tumpang tindih, menggeliat dalam liang mulut yang lembap.
Bukannya kata-kata, yang meluncur dari celah bibirnya adalah rontokan sayap-sayap laron yang rapuh, diikuti oleh banjir rayap yang meluap keluar, jatuh ke atas meja jati seperti butiran beras yang hidup.
Ibu terkesiap, tangannya menutup mulut karena ngeri. Namun, transformasi itu tidak berhenti. Sekar merasakan tekanan hebat di balik pangkal hidungnya. Detik berikutnya, jutaan mandibel kecil menjebol dinding lubang hidungnya. Aliran serangga pucat itu mengucur deras, menuruni dagunya, menciptakan suara gemerisik yang mengerikan.
Pandangan Sekar mulai menggelap, bukan karena dia pingsan, melainkan karena dari sudut-sudut matanya, koloni itu mulai merayap keluar. Rayap-rayap itu mendorong bola matanya hingga keluar dari rongganya, menggantikannya dengan lubang hitam yang berdenyut oleh aktivitas jutaan kaki renik. Air mata terakhirnya adalah cairan keruh sisa penghancuran jaringan tubuhnya sendiri.
Di tengah gemuruh mandibel yang mulai menghancurkan fondasi rumah, sebuah ingatan melintas di benak Sekar seperti selembar daun yang jatuh di atas permukaan air yang tenang. Dia teringat Ayah.
Ayah adalah satu-satunya manusia yang tidak pernah memandangnya sebagai sebuah kegagalan. Sekar ingat, bertahun-tahun lalu, di bengkel kayu kecil di belakang rumah, Ayah sering membiarkannya duduk di atas tumpukan serutan kayu yang harum.
“Kayu ini punya rahasia, Sekar,” ujar Ayah suatu sore, tangannya yang kasar dan penuh kapalan mengusap permukaan kayu mahoni yang masih mentah. “Banyak orang cuma ngeliat bagian luarnya yang keras, tapi Ayah tahu, di dalamnya ada serat yang indah. Sama kayak kamu.”
Sekar kecil tersenyum, merasakan kehangatan yang tidak pernah dia dapatkan dari meja makan Ibu. Ayah tidak pernah menanyakan nilai matematikanya atau membandingkannya dengan Kakak. Ayah hanya akan memberinya potongan kayu kecil dan sebuah pahat tumpul, membiarkannya mengukir apa saja yang ada di imajinasinya.
“Jangan biarkan dunia membuatmu merasa kecil,” bisik Ayah saat itu, sambil mengecup puncak kepala Sekar. “Kamu bukan rayap yang merusak, Sekar. Kamu itu pengukir. Ingat itu.”
Namun, setelah Ayah meninggal, kehangatan itu ikut terkubur. Ibu segera menjual semua alat pertukangan Ayah dan mengubah bengkel itu menjadi gudang yang dingin. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang melihat “serat indah” di dalam diri Sekar. Yang tersisa hanyalah tatapan menghina Ibu dan tuntutan yang tak ada habisnya.
Kini, saat Sekar perlahan-lahan runtuh menjadi jutaan serangga, dia merindukan tangan kasar Ayah. Dia membayangkan jika saja Ayah masih ada, mungkin koloni di dalam tubuhnya ini tidak akan pernah lahir. Namun, ingatan tentang kecupan Ayah di kepalanya kini telah tertutup oleh gatal yang teramat sangat.
Pahat yang dulu diberikan Ayah telah berubah menjadi jutaan mandibel yang siap merobohkan dunia yang telah menyakitinya. Dalam keheningan transformasinya, Sekar membisikkan nama Ayah untuk terakhir kalinya, sebelum suaranya sepenuhnya digantikan oleh gemerisik sayap serangga yang lapar.
“Apa … apa kamu ini?!” Ibu menjerit histeris, mencoba bangkit dan menjauh.
Sekar berdiri dengan sisa kekuatannya, tetapi tulang-tulangnya telah menjadi bubuk gergaji yang halus. Pakaiannya mendadak longgar, menggantung pada kerangka yang kini sepenuhnya terdiri dari gumpalan serangga yang saling mengunci. Tiba-tiba, tubuh Sekar meledak. Tidak ada darah, tidak ada daging. Yang ada hanyalah ledakan jutaan rayap yang tumpah ruah seperti air bah, menelan lantai porselen dalam sekejap.
Gelombang pucat itu bergerak searah dengan presisi yang mematikan. Mereka merayap naik ke kaki kursi Ibu, menyergap daster bunganya yang berwarna cerah. Ibu menjerit saat jutaan mandibel itu mulai menyesap sisa-sisa keangkuhan dari kulitnya yang mulai keriput. Rayap-rayap itu tidak hanya memakan kulitnya; mereka memakan sejarah penindasan yang Ibu lakukan.
Setelah melumat habis sang kurator kegagalan, koloni itu berpaling pada perabotan rumah. Meja jati yang angkuh, lemari kaca tempat piagam Kakak dipajang, hingga foto-foto keluarga yang penuh kepalsuan—semuanya digerogoti dalam hitungan detik. Suara kunyah mereka menjadi simfoni penghancuran yang merdu.
Rumah itu mulai berderak, merintih di bawah serangan jutaan mulut yang lapar. Tiang-tiang penyangga plafon yang kokoh menyerah, berubah menjadi bubuk kayu dalam sekejap. Genting-genting jatuh berhamburan, tetapi suaranya diredam oleh gumpalan serangga yang kini telah menyelimuti seluruh bangunan.
Kebencian Sekar telah menemukan cara untuk menyatukan dia, ibunya, dan seluruh kenangan pahit mereka dalam satu perjamuan sunyi yang merobohkan segalanya. Saat atap rumah itu akhirnya runtuh menimpa tanah, tidak ada lagi yang tersisa selain debu kayu yang beterbangan dan koloni yang terus bergerak, melumat habis setiap jengkal ego manusia hingga hanya menyisakan tanah yang bisu dan malam yang lapar.