Ketika pertama kali mengenalnya, awalnya biasa saja. Hanya dua orang asing yang saling mengomentari tulisan satu sama lain, lalu perlahan bertukar pesan tentang buku, kopi, dan lagu-lagu melankolis yang terlalu sedih jika diputar apalagi saat sepi. Namanya Aluna.
Perempuan itu cantik, menurutku terlalu cantik malah. Tapi anehnya, justru itu yang tidak menjadi alasanku langsung jatuh hati padanya. Aku pernah bertemu banyak perempuan cantik sebelumnya, dan semuanya terasa sama. Mungkin karena aku merasa terlalu rendah diri jika harus berharap apalagi memilih. Tapi yang membuat Aluna berbeda adalah cara dia memahami kalimat-kalimatku yang bahkan tak bisa kupahami sendiri, karena ketika kukatakan ada ragu dan takut di dalamnya.
Ia pintar, hangat, jangan berprasangka dulu karena menurutku entah bagaimana, ia sangat pandai membuat seseorang merasa didengar, dan itu sangat menghangatkan hati.
“Kadang aku capek pura-pura baik-baik aja,” katanya suatu malam.
Sejak ia mengatakan kejujurannya itu, kami mulai saling bercerita tentang hidup, luka, keluarga, bahkan masa lalu yang tidak selalu ramah dan kami simpan rapat.Tentang bagaimana hidup sudah terlalu sering menghancurkan.
Aku mulai terbiasa menunggu pesannya, mencari-cari namanya di antara notifikasi. Aku mulai terbiasa tertawa hanya karena membaca caranya mengeja kata “iyaaa” dengan terlalu banyak huruf a.
Semua terasa mengalir begitu saja, hingga suatu malam ia berkata,
“Aku sayang sama kamu.”
Kalian tau kan apa konsekuensi ketika kalimat itu diucapkan oleh seseorang yang sedang kamu harapkan jadi bagian dari hatimu. Rasanya seperti ledakan, aku kira bom atom kalah dentumannya. Kalian tau setelahnya karena dunia di dadaku berubah berisik.
Aku diam lama sebelum membalas, karena sejujurnya aku juga mulai mencintainya.
Namun ada seseorang yang belum benar-benar pergi dari hidupku, namanya Kala, dia cinta pertamaku. Perempuan yang pernah membuatku percaya kalau rumah bisa hadir dalam bentuk manusia, dan aku mengenalnya jauh sebelum Aluna.
Kala adalah perempuan yang rapuh dengan cara yang bahkan sulit dijelaskan. Masa lalunya jauh lebih buruk dari siapa pun yang pernah kutemui. Ia tumbuh bersama luka-luka yang membuatnya membenci dirinya sendiri. Aku menghabiskan bertahun-tahun meyakinkannya bahwa ia pantas dicintai, bahwa ia tidak seburuk yang ia pikirkan. Namun Kala selalu merasa dirinya terlalu rusak untukku.
Terlalu gelap, hancur. Aku ingat malam saat ia menelepon sambil menangis.
“Aku capek hidup.”
Suara itu masih tersimpan jelas di kepalaku sampai sekarang, dan aku, yang ketakutan kehilangan dia, hanya bisa terus bertahan di sampingnya, berharap bisa menjadi tempat ia pulang. Menjadi seseorang yang mendengarkan semua ketakutannya.
Sampai suatu hari, justru dia yang meninggalkanku, tanpa penjelasan, apalagi pertengkaran. Hanya sebuah pesan pendek.
“Aku gak bisa terus nyakitin kamu.”
Lalu ia pergi.
Aku hancur setelah itu. Hari-hariku berubah kosong, dan aku berhenti menulis selama berbulan-bulan. Semua lagu terdengar menyakitkan, semua tempat terasa sepi.
Lalu di tengah kehancuran itulah, Aluna datang.
Awalnya aku hanya merasa nyaman, tenang, lalu merasa dibutuhkan. Tanpa sadar, aku mulai hidup lagi, karena Aluna tidak pernah memaksaku melupakan masa lalu. Ia hanya hadir perlahan, seperti gerimis setelah kemarau panjang.
“Aku gak minta jadi orang paling penting di hidup kamu,” katanya suatu malam. “Aku cuma pengin nemenin.”
Kata-kata itu membuat dadaku sesak, karena diam-diam, aku mulai ingin memilikinya. Aku mulai membayangkan masa depan bersamanya, membayangkan bagaimana rasanya bertemu langsung dengannya, bisa menggenggam tangannya dan hidup dengan seseorang yang memahami luka-lukaku.
Sejak Kala pergi aku kembali merasa bahagia. Tapi kalian tau, hidup memang suka bercanda terlalu kejam.
Suatu malam, nama Kala muncul lagi di layar ponselku, aku membeku, hanya sebuah pesan pendek.
“Aku kangen rumahku.”
Tanganku gemetar membacanya, aku tidak langsung membalas, tapi setelah itu, tak lama pesan-pesan lain datang. Tentang hidupnya yang berantakan, dan bagaimana selama ini ia merasa kehilangan satu-satunya orang yang selalu membuatnya bertahan. Ia sadar bahwa aku adalah orang yang paling tulus mencintainya.
“Aku mau balik kalau kamu masih mau.”
Duniaku kembali berisik, aku tidak tidur semalaman karena aku tahu sebagian diriku masih mencintainya. Cinta pertama memang kejam, kadang bahkan setelah semua luka yang diberikannya, kita masih berharap ia kembali dan hari-hari setelah itu terasa menyiksa.
Aku berbicara dengan Kala diam-diam, sementara di sisi lain, Aluna masih mengirimiku cerita-ceritanya setiap malam.
Setiap kali membaca pesannya, rasa bersalahku tumbuh semakin besar, aku mulai sadar bahwa aku sedang berdiri di antara dua hati. Satu adalah masa laluku, dan satu lagi adalah seseorang yang perlahan menjadi masa depanku. Namun hidup tidak selalu memberi ruang untuk memiliki keduanya.
Pada akhirnya, aku memilih kembali kepada Kala, bukan karena Aluna kurang baik atau karena cintaku kepadanya palsu, tapi karena sebagian hatiku ternyata masih tertinggal pada seseorang yang sejak dulu selalu ingin kuperjuangkan.
Aku tau keputusan itu menghancurkanku, terutama saat harus mengatakan semuanya kepada Aluna. Aku berkali-kali mengetik pesan lalu menghapusnya lagi.
Bagaimana mungkin aku menjelaskan bahwa aku mencintainya tapi tidak cukup berani meninggalkan cinta pertamaku?
Bagaimana mungkin aku mengatakan bahwa semua rasa ini nyata tapi aku tetap memilih orang lain?
Aku takut ia merasa dipermainkan, lalu ia membenci dirinya sendiri, dan berpikir bahwa semua perhatian dan rasa sayangku hanyalah pelarian. Padahal tidak, tidak pernah begitu.
Malam itu akhirnya aku meneleponnya. Suara Aluna terdengar cerah seperti biasa.
“Kamu lagi nulis?”
Aku memejam mata.
“Luna…”
“Hm?”
“Aku mau jujur sama kamu.”
Sunyi beberapa detik, entah kenapa jantungku terasa sakit sekali.
“Ada seseorang sebelum kamu,” kataku pelan. “Dan dia kembali.”
Tak ada jawaban, tapi aku merasa bisa mendengar napasnya yang mulai berat.
“Aku udah coba ngelawan perasaan ini,” lanjutku. “Aku juga sayang sama kamu. Sangat sayang. Tapi aku gak bisa bohong jika sebagian hati aku masih ada di dia.”
Masih sunyi, lalu suara kecil itu terdengar.
“Jadi… kamu milih dia?”
Pertanyaan itu menghancurkanku, aku menggigit bibir menahan sesak.
“Iya.”
Di ujung sana, Aluna tertawa kecil, tapi suaranya terdengar patah.
“Aku sempat berharap banyak ya, tapi ternyata.”
“Luna…”
“Gapapa.”
Kalian tau orang yang mengatakan “gapapa” dengan suara bergetar biasanya justru paling terluka.
“Aku cuma takut kamu nganggep aku main-main,” kataku lirih. “Padahal semua rasa aku ke kamu itu nyata.”
“Aku tahu.”
“Maaf.”
Ia diam cukup lama sebelum akhirnya berkata,
“Dia pasti orang yang sangat kamu cintai.”
Aku menunduk.
“Iya.”
“Kalau gitu pulanglah.”
Dadaku runtuh mendengar kalimat itu.
“Aku gak mau jadi alasan seseorang kehilangan rumahnya.”
Aku tidak sanggup menjawab, sejak aku mengenalnya, aku kini menangis di depan seseorang.
“Aku jahat ya?” tanyaku pelan.
“Enggak,” jawabnya lirih. “Cinta kadang cuma datang di waktu yang salah.”
Jawaban itu terasa menyakitkan. Aku ingin meminta maaf ribuan kali, tapi tidak ada kata yang benar-benar bisa memperbaiki hati seseorang yang telah kita lukai.
“Aku harap kamu bahagia,” katanya lagi.
“Dan aku harap suatu hari nanti… ada seseorang yang memilih aku sepenuhnya.”
Panggilan itu berakhir setelahnya, dan malam itu, aku duduk sendirian di kamar sambil menangis dalam diam karena ternyata memilih satu hati berarti harus menghancurkan hati lainnya.
***
Beberapa bulan kemudian, aku benar-benar kembali bersama Kala, mencoba memulai lagi tapi berusaha lebih dewasa dan berhati-hati, sambil berharap perempuan itu belajar mencintai dirinya sendiri.
Suatu malam ia bertanya padaku.
“Kamu pernah hampir pergi ya?”
Aku tersenyum.
“Pernah.”
“Kenapa gak jadi?”
Aku memandang langit cukup lama sebelum menjawab.
“Karena sejauh apa pun aku berjalan sebagian diriku selalu pulang ke kamu.”
Kala memelukku setelah itu, namun jauh di dalam hatiku, masih ada satu nama yang sesekali muncul bersama rasa bersalah.
Aluna, perempuan yang datang saat aku hancur, yang mengajarkanku bahwa dicintai dengan tulus adalah hal paling menenangkan di dunia, dan ia perempuan yang harus kulepaskan, justru ketika aku mulai mencintainya sepenuh hati.