Lumajang, Jawa timur
Hari ini tepat nya subuh hari Senin 25 mei 2026, ada chat masuk ke beranda FB ku. Seorang sahabat lama sebut saja beliau Rosa. Rosa seorang ibu tunggal dari kedua putri kecil yang lucu-lucu. Takdir kurang baik berpihak kepada mereka, mereka terlahir dari bapak yang tidak bertanggung jawab dan pernikahan beliau hanya pernikahan agama semata( tidak perlu kita hakimi ini hanya takdir illahi yang hukumnya di perbolehkan dalam Islam). Yang kini takdir mereka di tinggal suami dan ayah secara sepihak. Dan harus berjuang sebagai seorang ibu tunggal.
Singkat cerita, ternyata sahabatku masih dalam keadaan nifas. Awal pertama dapat kabar tentu kabar bahagia melihat foto sahabat lamaku dan putrinya yang sangat cantik ada di beranda FB ku.
Ya Jumat kemarin beliau baru saja berjuang nyawa untuk melahirkan sang buah hati putri kecil no 2 yang sampai saat ini kami blm ada nama untuknya. Sebelum persalinan, Beliau harus menggadaikan satu-satunya kendaraan yang beliau miliki untuk proses persalinan. Karena tidak memiliki BPJS dan penghasilan lebih sebagai seorang singlle parent.
Kodralurallah, persalinan berjalan lancar, bayi lahir sempurna cantik tanpa cacat. Dengan perjuangan hampir dua hari ibu Rosa yang mengalami pendarahan yang sangat hebat. Sehingga ibu dan bayi di rawat beberapa hari di sebuah klinik bersalin. Biaya persalinan yang seharusnya normal sedikit membengkak dari persiapan.
Siang ini hari Sabtu datang lah keluarga ibu Rosa kerumah sakit, beliau bahagia dengan harapan beliau dan bayinya di terima keluarga besar dan dapat perlindungan tepat nya kakak-kalak beliau. Beliau datang tidak sendiri tetapi di temani oleh bidan, ada team gizi ( kemungkinan dari klinik tersebut) beserta seorang pengacara yang kebetulan suami dari ahli gizi ini. Semua sudah mulai aneh dan janggal bagi ibu Rosa.
Kemungkinan setelah sekarang beliau sadar 100 persen, mereka di belakang ibu Rosa sudah saling bermusyawarah untuk melakukan adopsi secara sepihak ( dengan alasan ibu Rosa sebagai singlle parent yang tidak bekerja tidak akan mampu membesarkan anak tersebut), rencana anak ini akan di adopsi oleh pasangan suami istri yg lama belum punya anak selama 11 th di Jakarta/ Bekasi. Mereka sudah siap membawa berkas adopsi yang harus di tanda tangani oleh ibu Rosa. Hal tersebut ibu Rosa dengar dari bidan dan ahli gizi yang menjelaskan.
Dalam keadaan yang masih belum sehat, belum sadar, belum stabil secara fisik dan mental ibu Rosa di minta / lebih tepatnya di paksa/ di intimidasi untuk menandatangani perjanjian adopsi ini.
Ibu Rosa yang saat ini merasa tidak ada power, tidak ada kekuatan baik diri atau financial terpaksa menurut kepada mereka yang mencaci maki di depan umum ( klinik) saat sebelum tanda tangan beliau meminta waktu untuk mempelajari berkas tersebut, hanya saja sang pengacara tidak mengizinkan beliau mempelajari dan membaca dengan tenang. Walau ibu Rosa sudah beranikan diri meminta dan berdebat.
Alhasil, karena tekanan dari semua pihak ibu Rosa menandatangi ini perjanjian. Anak di ambil, di perlihatkan untuk pertama kali, di gendong dalam buatan ibu Rosa ( mungkin hanya di beri waktu 5 Menit saja) kemudian sejak itu ibu Rosa tidak pernah melihat putri kecilnya kembali. Di sini dana lahiran ibu Rosa yang kurang sekitar 1,1 juta ke klinik secara sepihak di lunasi oleh pihak perencana adopsi.
Minggu, ibu Rosa terpaksa pulih, menguatkan diri ingin melihat dan memeluk putrinya. Tapi apa daya ternyata putrinya sudah di amankan oleh pihak ke dua yang akan adopsi tersebut. Ibu Rosa tinggal di kota A sedang anaknya beliau sudah di bawa ke kota B. Jarak kita tidak terlalu jauh.
Ibu Rosa minta bantuan keluarga baik bapak kandung atau kakak kandung hanya jawaban mereka tetap sama. Anak itu tidak boleh masuk ke dalam keluarga kita, jika kamu ingin anak itu tebus dan pergilah dari sini.
Dalam kasus ini kita tidak akan menghakimi si ayah jahat atau si ibu yang kurang beruntung nasibnya. Tapi kali ini saya menulis karena si ibu Rosa ingin tetap bersama putri-putrinya ( dari hati beliau tidak iklas jika anak tersebut di adopsi oleh orang lain) tapi apa daya persiapan mereka seperti jebakan, baik secara hukum maupun secara finansial.
Ibu Rosa terus mencari bantuan dan cara agar putri itu bisa kembali. Baik minta tolong keluarga yang selalu mengabaikan atau minta tolong sahabat-sahabat terdekat termasuk saya sang penulis.
Saya yang menang secara langsung di minta bantuan baik masukan, baik dukungan oleh beliau sudah beragam cara meminta bantuan kepada teman dekat, teman jauh untuk membantu ibu Rosa.
Malam tadi saya pun menelepon beliau, menghibur dan menggali lebih dalam info, dalam keadaan nangis, dalam keadaan yang pasti defresi dan tidak stabil emosional kehilangan dan rindu anaknya.
"Rosa bagaimana ayah anakmu?"
"Dia dan keluarganya sudah tidak peduli."
"Rosa apa yang kamu inginkan apa kamu iklas anak kamu di adopsi?"
"Nggak mba,.....( Menangis) tersedu2 menjelaskan semua sampai terperinci."
"Apakah ayah kandung dan kakak Rosa tidak berpihak dengan keputusan mu untuk membesarkan anak ini."
"Tidak mba, hanya keluar kata ambilah, rebuslah tapi kamu dan anak2 mu tidak boleh di sini lagi."
Aku hanya termenung, hatiku tercabik-cabik sebagai seorang ibu yang mengerti sulit dan susahnya hamil dan melahirkan. Bagaimana ingin anak selalu dalam dekapan saat lahir apa kita dalam keadaan kaya ataupun miskin, dalam keadaan sehat ataupun sakit. Bahkan saat mereka mengangispun naluri dan badan kami akan tersambung secara otomatis.
Aku yang sebagai seorang sahabat, terkenang saat kami dahulu, ceria di kantor yang sama, berbagi kisah impian cinta yang mungkin seindah kisah novel, dengan siang malam kami sama2 berdoa untuk mendapatkan sosok pasangan hidup yang dapat di andalkan dunia dan akhirat kami sampai terjadi kisah nyata yang mungkin tak pernah manis seperti madu, mungkin tidak pernah lancar seperti jalan tol. ( Detik ini aku menangis, meraung dan kecewa) memikirkan 1000 cara untuk membantu sahabatku yg jauh di sana.
Mohon kiranya kepada saudara- saudariku sekalian, jika kalian ahli dalam bidang hukum, ahli dalam bidang Lembaga Perlindungan Anak dan Wanita dapat membantu ibu Rosa agar anak beliau dapat kembali ke pangkuan ibunya. Karena baik ibunya atau saya sebagai penulis sangat kesulitan atau tepatnya belum mendapatkan jalan untuk proses tersebut.
Jika tulisan ini sampai ke beranda kalian, dan hati kalian terketuk boleh DM saya sebagai penulis.
Salam hormat, salam sayang buat kita semuanya. peluk jauh dan dukungan penuh untuk Ibu Rosa, semoga segera dapat memeluk sang putri tercinta kembali.
Bekasi, 26 Mei 2026. Pukul 06.35 WIB
Silvi Budiyanti
Foto ini mungkin bisa jadi foto pertama bidadari kecil ini dalam pelukan sahabatku, ataupun mungkin foto terakhir yang entah kapan bisa dapat kembali.
Tulisan ini adalah kisah nyata ibumu, dan tulisan asli dari aku seorang sahabat yang selama 24 jam menemani ibumu dari jauh. Kami terus berjuang, dan akan terus berjuang demi kamu. Apapun nanti hasilnya, kami ingin kamu balik dalam pelukan kami "bayi kecil."
Semoga Allah kirimkan penolongyang baik bagi kami....