Disukai
0
Dilihat
4
Nanti
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pukul dua dini hari, gaming house Prime Esports masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Rumah dua lantai di sebuah kompleks di Jakarta Selatan itu dari luar terlihat seperti rumah biasa, dengan pagar hitam, carport berisi tiga motor dan satu mobil tim, serta pot-pot tanaman yang dirawat Bang Andra sendiri. Tapi begitu masuk, siapa pun akan langsung tahu rumah ini tidak pernah benar-benar istirahat. Lantai bawah masih terang oleh monitor-monitor di ruang latihan, AC disetel terlalu dingin seperti biasa, dan bau sisa mi instan rasa soto masih menggantung di udara bercampur bau kopi saset yang diseduh terlalu kental.

Di meja makan yang lebih sering jadi meja kerja, Anju duduk bersila di kursi dengan laptop terbuka dan rambut dicepol asal-asalan dengan pulpen. Di satu tab ada spreadsheet jadwal scrim minggu depan yang masih penuh kolom kosong, di tab lain ada makalah kuliah yang baru setengah jadi. Dua-duanya harus dikumpulkan besok, dan Anju sudah berhenti menghitung berapa kali ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengerjakan tugas di menit terakhir lagi. Di sebelah laptopnya ada segelas teh manis yang sudah dingin sejak satu jam lalu dan ponsel yang layarnya terus menyala karena notifikasi grup koordinasi dengan tim-tim lain.

Dari ruang latihan, suara Adam terdengar paling keras, menyalahkan Ren karena memilih drop di tempat yang menurutnya jelas-jelas bunuh diri. Adam tidak ikut main malam itu. Sebagai pemain cadangan, ia lebih sering duduk di belakang kursi Ren sambil memeluk bantal sofa dan mengomentari segala hal, dari pilihan senjata sampai cara Ren duduk. Ren membalas bahwa Adam tidak main jadi sebaiknya diam saja, dan bahwa tadi ia sedang melindungi Fajar dari skuad yang datang dari arah bukit. Adam bertanya melindungi dari mana, karena yang ia lihat Ren malah sibuk looting celana di dalam rumah. Ren membela diri dengan bilang celananya bagus dan warnanya cocok dengan jaketnya. Fajar, yang kebetulan memang mati karena tidak dilindungi siapa-siapa, tidak berkomentar apa-apa dan hanya menghela napas panjang.

Anju tersenyum tanpa mengangkat kepala. Tiga tahun bekerja di Prime, dua tahun di antaranya tinggal di rumah ini, membuatnya hafal pola pertengkaran mereka. Adam dan Ren akan saling menyalahkan sekitar lima menit, Fajar akan pura-pura tidak mendengar, lalu Bayu, kapten mereka yang bicaranya selalu pelan seperti orang yang baru bangun tidur, akan bilang, "Udah. Rewatch aja," dan semuanya diam. Benar saja, tidak lama kemudian kalimat itu terdengar, dan ruang latihan langsung hening, berganti suara rekaman pertandingan yang diputar ulang. Di sofa dekat televisi, Bang Andra duduk dengan kacamata melorot di hidung dan tablet di pangkuan, memutar ulang rekaman pertandingan sore tadi dengan kecepatan dua kali sambil sesekali mencatat di buku kecil bersampul cokelat yang selalu dibawanya ke mana-mana. Kalau ada orang asing yang tiba-tiba masuk, mungkin Bang Andra akan dikira dosen yang salah alamat, bukan pelatih tim esports.

***

Pintu kamar paling ujung terbuka. Anju tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang keluar. Langkah kakinya pelan dan hampir tidak bersuara, dan Anju sudah terlalu sering mendengarnya untuk bisa salah. Bagas berjalan ke dapur dengan headset menggantung di leher dan kaus hitam polos yang sudah pudar di bagian bahu. Rambutnya berantakan dan matanya merah karena terlalu lama menatap layar. Ia membuka kulkas, mengambil sebotol air dingin, menutupnya lagi, lalu berjalan kembali melewati meja makan.

Anju mengangkat wajah dan mengingatkannya bahwa besok latihan tanding dimulai jam satu siang, bukan jam dua seperti biasanya, karena salah satu tim lawan minta dimajukan. Ia juga bilang ada nasi goreng di microwave yang sudah ia pesankan sejak jam sepuluh, jadi Bagas tinggal menghangatkannya sebentar dan makan dulu sebelum tidur. Bagas hanya menggumam pendek tanpa menoleh, gumaman yang bisa berarti iya, bisa berarti tidak, dan bisa juga berarti ia sama sekali tidak mendengar. Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya tertutup lagi.

Anju kembali menatap laptopnya. Kursornya berkedip di tengah kalimat yang sama sejak setengah jam lalu. Besok pagi, ia tahu, nasi goreng itu masih akan ada di dalam microwave, kotaknya belum dibuka, karetnya masih terikat seperti waktu kurir mengantarnya. Ia akan membuangnya sambil berpura-pura tidak kecewa. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Sungguh, ia sudah sangat terbiasa.

***

Umur Anju baru tujuh belas waktu pertama kali datang ke rumah ini. Ia masih kelas sebelas, masih memakai seragam putih abu-abu di balik hoodie kebesaran yang ia pinjam dari kakaknya. Sejak kelas sepuluh, ia sudah mengurus tim esports sekolahnya, dari membuat jadwal latihan, mendaftarkan tim ke turnamen antarsekolah, sampai menagih uang kas dari anggota yang selalu pura-pura lupa membawa dompet. Tim sekolahnya tidak pernah juara apa-apa, tapi mereka selalu datang tepat waktu ke setiap turnamen, dan itu cukup membuat nama Anju dikenal di kalangan panitia.

Entah bagaimana, namanya akhirnya sampai ke telinga Bang Andra. Suatu sore, Bang Andra mengajaknya bertemu di sebuah kedai bakso dekat sekolah, dan setelah menanyakan beberapa hal, ia bilang Prime sedang butuh orang yang rapi, tidak gampang panik, dan bisa menyuruh cowok-cowok di rumah itu makan sayur. Anju menjawab jujur bahwa ia hanya bisa menjamin dua dari tiga, karena ia sendiri juga tidak suka sayur. Bang Andra tertawa keras sampai pengunjung lain menoleh, lalu bilang Anju diterima hari itu juga. Orang tua Anju butuh dua minggu untuk diyakinkan, dan syaratnya hanya satu, nilai sekolah Anju tidak boleh turun. Sampai lulus, nilai Anju memang tidak pernah turun, meskipun ia harus mengerjakan PR di kursi penonton turnamen lebih sering daripada di meja belajarnya sendiri.

Bagas bergabung empat bulan kemudian. Ia delapan belas tahun waktu itu, baru lulus SMA, dan direkrut Bang Andra setelah menjuarai beberapa turnamen online sendirian dengan tim yang ia bentuk bersama teman-teman warnetnya. Waktu Bang Andra memperkenalkannya pada semua orang di ruang tengah, Bagas hanya menyebutkan namanya, satu kata, lalu diam. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan balik. Ren mencoba mencairkan suasana dengan bertanya apa makanan favoritnya, dan Bagas hanya menjawab bahwa ia makan apa saja.

Di luar komunikasi dalam game, Bagas hampir tidak pernah bicara. Adam dan Ren sempat mengira ia sombong dan sempat berencana mengerjainya. Bayu bilang ia cuma pemalu dan butuh waktu. Bang Andra hanya bilang biarkan saja, karena yang penting tangannya. Tangan Bagas memang luar biasa. Ia bisa menjatuhkan lawan dari jarak yang membuat orang lain bahkan belum sadar ada lawan di sana, dan dalam waktu satu bulan, ia sudah menjadi alasan utama tim lain enggan diajak latihan tanding oleh Prime.

Tapi Anju tidak jatuh hati karena itu. Suatu malam, beberapa minggu setelah Bagas bergabung, Anju menginap di gaming house karena besok paginya ada turnamen, dan ia turun ke dapur pukul empat pagi untuk mengambil minum. Lampu ruang latihan masih menyala. Bagas ada di sana sendirian, berlatih menembak sasaran di arena latihan, berulang-ulang, dengan wajah serius seperti sedang mengerjakan ujian akhir. Tidak ada yang menyuruhnya, dan tidak ada yang menonton. Ia hanya terus mencoba, gagal, menghela napas, lalu mencoba lagi. Anju memperhatikannya dari balik pintu dapur cukup lama tanpa Bagas sadari.

Setengah jam kemudian, waktu Anju turun lagi karena tidak bisa tidur, Bagas sudah tertidur dengan kepala di atas meja dan tangan kanan masih memegang mouse. Monitornya masih menyala, menampilkan arena latihan yang kosong. Anju mengambil jaket yang tersampir di kursi sebelah dan menyelimutkannya ke punggung Bagas pelan-pelan, takut membangunkannya. Ia berdiri di sana sedikit lebih lama dari seharusnya, memandangi wajah Bagas yang terlihat jauh lebih tenang saat tidur, tanpa kerutan di dahi yang biasa ada setiap kali ia bermain. Lalu ia mematikan lampu, mengecilkan suhu AC, dan naik ke kamarnya dengan jantung berdebar. Bagas tidak pernah tahu siapa yang menyelimutinya malam itu, dan Anju tidak pernah memberitahunya.

Tiga tahun berlalu sejak malam itu. Anju sekarang dua puluh tahun, kuliah di jurusan manajemen, dan masih menjadi manajer Prime. Setelah lulus SMA, ia pindah tinggal di gaming house karena jaraknya lebih dekat ke kampus dan karena Bang Andra bilang mengurus tim dari jauh itu sama saja dengan mengurus kucing lewat telepon. Perasaannya pada Bagas tidak pernah berubah. Ia tidak pernah menunjukkannya, tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, bahkan pada Bang Andra yang sudah ia anggap kakak sendiri. Alasannya sederhana. Semua orang tahu Bagas punya Nadira.

Nadira adalah brand ambassador tim Zenith. Wajahnya ada di poster turnamen, di unggahan sponsor minuman energi, dan di iklan aplikasi dompet digital yang sering muncul di sela siaran liga. Rambutnya panjang dan bergelombang, senyumnya selalu siap kamera, dan pengikutnya di media sosial ratusan ribu. Dari sekian banyak orang yang mendekatinya, termasuk beberapa pemain paling terkenal di skena, ia memilih Bagas, cowok pendiam yang lebih suka mengurung diri di kamar daripada datang ke acara mana pun.

Hubungan mereka tidak pernah stabil. Putus, nyambung, lalu putus lagi. Beberapa kali beredar kabar Nadira jalan dengan pemain dari tim lain, dan kabar itu biasanya sampai ke gaming house lewat Ren, yang mengikuti semua akun gosip esports. Setiap kali itu terjadi, Bagas akan diam berminggu-minggu. Ia berlatih lebih lama, bicara lebih sedikit, dan makan lebih jarang. Anju ingat satu masa, tahun lalu, waktu Bagas hampir tidak keluar kamar selama dua minggu. Setiap malam, Anju meletakkan sepiring makanan di depan pintu kamarnya, dan setiap pagi, ia menemukan piring itu kadang kosong, kadang masih utuh. Ia tidak pernah mengetuk. Ia hanya terus meletakkannya. Lalu suatu hari Nadira mengirim satu pesan, dan Bagas keluar kamar, mandi, memakai kemeja, dan pergi tanpa bilang apa-apa, seolah dua minggu itu tidak pernah terjadi.

Suatu malam, sambil makan martabak di teras, Ren bilang kalau ia yang jadi Bagas, Nadira sudah ia blokir dari kapan tahu. Adam langsung membalas bahwa kalau Ren yang jadi Bagas, Nadira juga tidak akan mau dari awal. Ren terdiam, lalu mengakui dengan berat hati bahwa itu benar juga, dan mengambil potongan martabak terbesar sebagai bentuk protes. Anju ikut tertawa bersama mereka, tapi martabak di tangannya tiba-tiba terasa hambar. Ia tahu kenapa Bagas selalu kembali. Bagas bukan orang yang bisa menyukai banyak hal sekaligus. Kalau ia sudah memilih sesuatu, ia akan memegangnya erat-erat, dan kalau yang ia pegang pergi, ia akan menunggu sampai kembali. Begitu caranya berlatih sampai tertidur di meja, dan begitu juga caranya mencintai Nadira. Sementara Anju, yang ada di dekatnya hampir setiap hari selama tiga tahun, tidak pernah masuk hitungan.

***

Turnamen offline akhir bulan itu diadakan di sebuah hall besar di Jakarta Utara. Area backstage riuh sejak pagi, dan Anju sedang berjalan cepat membawa setumpuk ID card ketika seseorang menabraknya dari samping hingga semua kertasnya berhamburan. Laki-laki berjersey biru tua dengan logo Velox itu langsung minta maaf dan ikut memunguti kertas. Rambutnya agak ikal, senyumnya lebar, dan waktu melihat salah satu ID card, ia langsung menebak bahwa Anju pasti manajer Prime. Katanya, Anju adalah orang yang setiap scrim mengirim jadwal paling rapi di grup, lengkap dengan emoji dan pengingat minum air, dan anak-anak di timnya sering membandingkannya dengan jadwal dari manajer mereka sendiri yang seperti diketik pakai siku.

"Keanne," katanya sambil mengulurkan tangan. "Semoga lo nggak keberatan gue ngomong gini, tapi lo lebih imut daripada yang gue bayangin dari emoji-emoji lo."

Sebelum Anju sempat menjawab, terdengar teriakan panjang dari ujung lorong. Adam dan Ren berdiri di sana dengan ekspresi seperti baru menyaksikan gol di menit terakhir. Wajah Anju langsung panas, sementara Keanne hanya melambai santai dan kembali ke timnya. Waktu Anju lewat, Ren mengumumkan dengan suara haru yang dibuat-buat bahwa bunda mereka akhirnya laku, lalu berteriak memanggil Bayu untuk mengabarkan bahwa Anju dapat gebetan dari Velox.

Di ujung lorong yang lain, Bagas berdiri bersandar di dinding. Ia melihat semuanya dengan wajah datar, lalu memalingkan muka seolah tidak ada yang menarik untuk dilihat. Anju tidak mengerti kenapa itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua godaan Adam dan Ren.

Prime finis di posisi sembilan hari itu, dan semua orang tahu masalahnya di mana meskipun tidak ada yang mau mengatakannya. Bagas bermain buruk. Ia telat rotasi, meleset di tembakan yang biasanya mudah, dan dua kali mati duluan, membuat Bayu, Ren, dan Fajar harus bertahan bertiga melawan skuad yang masih lengkap. Anju tahu penyebabnya. Sebelum match ketiga, ia melihat Nadira tertawa terlalu dekat dengan salah satu pemain Zenith, tangan laki-laki itu di pinggangnya, dan Nadira tidak menepisnya. Bagas juga melihat. Anju tahu, karena ia melihat Bagas melihat. Begitu pertandingan selesai, Bagas langsung keluar venue tanpa bicara pada siapa pun.

Malam itu, yang lain pergi makan pecel lele di warung langganan dekat kompleks. Itu ritual mereka setiap kali kalah, kata Adam, supaya kesedihan bisa dilampiaskan ke sambal dan lalapan. Anju tidak ikut. Laporan turnamen untuk manajemen harus masuk malam itu juga, lengkap dengan statistik pemain dan rincian pengeluaran, dan ia butuh rumah yang sepi untuk menyelesaikannya. Rumah memang sepi, bahkan terlalu sepi. Satu-satunya suara hanya dengung AC dan bunyi ketikan jarinya sendiri.

Sedikit lewat pukul sebelas, ia mendengar pintu depan terbuka dan tertutup, disusul langkah kaki yang naik ke lantai dua. Anju tidak melihat siapa yang datang, tapi ia tahu itu Bagas. Ia sempat ragu apakah harus naik dan bertanya apakah Bagas sudah makan, tapi akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu. Sepuluh menit kemudian, terdengar suara kaca pecah dari lantai atas, keras dan tiba-tiba. Anju langsung meninggalkan laptopnya dan berlari ke atas.

Pintu kamar mandi lantai dua terbuka setengah. Bagas berdiri di depan wastafel dengan punggung membungkuk dan kedua tangan mencengkeram pinggiran keramik. Cermin di depannya retak dengan bekas pukulan di tengah, dan pecahan-pecahan kecil berjatuhan ke dalam wastafel. Ada darah di kaca, di keramik, dan menetes dari buku-buku jari tangan kanannya ke lantai. Tangan kanan, tangan yang setiap hari ia pakai untuk memegang mouse. Anju memanggil namanya dengan suara yang jauh lebih pelan dari yang ia inginkan, tapi Bagas tidak menoleh.

Anju tidak bertanya apa-apa. Ia turun ke dapur mengambil kotak P3K dari lemari paling atas, lalu kembali dengan napas tersengal. Ia menuntun Bagas duduk di pinggir bathtub, dan Bagas menurut tanpa protes sedikit pun, seperti orang yang sudah tidak punya tenaga untuk melawan. Anju berlutut di depannya, menyalakan lampu lebih terang, dan mulai mengobati lukanya. Ia mencabut serpihan-serpihan kaca kecil dengan pinset satu per satu, membilas luka dengan air bersih, lalu menekannya dengan kasa sampai darahnya berhenti. Waktu ia mengoleskan antiseptik, Bagas meringis, tapi tetap tidak bersuara. Setelah itu Anju membalut buku-buku jarinya dengan perban, pelan dan rapi, lapis demi lapis, seperti caranya menyusun jadwal tim. Tangannya gemetar sepanjang waktu, dan ia berharap Bagas tidak menyadarinya. Keran wastafel menetes pelan, satu-satunya suara di ruangan itu.

"Kenapa lo selalu baik sama gue?"

Anju berhenti. Ujung perban masih ada di antara jarinya. Ia mengangkat wajah dan mendapati Bagas sedang menatapnya, bukan tatapan sekilas yang langsung berpaling seperti biasanya. Mata Bagas merah, wajahnya lelah dan berantakan, dan untuk pertama kalinya ia tidak berusaha menyembunyikan apa pun. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Bagas benar-benar melihatnya.

Anju bisa saja bilang itu tugasnya sebagai manajer. Atau karena tangan Bagas aset tim. Atau karena siapa pun yang ada di posisinya pasti akan melakukan hal yang sama. Semua jawaban itu benar, dan semuanya aman. Tapi malam itu sudah terlalu larut, dan Anju sudah terlalu capek berpura-pura. Ia menyelipkan ujung perban, merapikannya sekali lagi, lalu melepaskan tangan Bagas dengan pelan.

"Karena aku sayang kamu, Gas."

Keran wastafel masih terus menetes.

Untuk waktu yang terasa sangat lama, Bagas tidak mengatakan apa-apa. Ia menunduk menatap perban di tangannya, membolak-balik telapak tangannya seolah sedang memeriksa hasil kerja Anju, sementara Anju mulai menyesali setiap kata yang baru saja ia ucapkan. Ia sudah siap ditolak. Atau yang lebih buruk, tidak mendengar apa-apa sama sekali, lalu besok pagi Bagas bersikap seolah malam ini tidak pernah terjadi, dan Anju harus tinggal di rumah yang sama dengannya sambil menanggung rasa malu itu setiap hari.

"Lo tau gue sama Nadira," kata Bagas akhirnya, masih tanpa mengangkat wajah.

Anju tahu. Semua orang tahu. Ia juga tahu bahwa malam ini, untuk kesekian kalinya, Nadira sudah membuat Bagas hancur, dan bahwa besok atau minggu depan Nadira akan mengirim satu pesan dan Bagas akan kembali lagi seperti biasa. Mungkin karena ia baru saja mengatakan hal paling nekat dalam hidupnya dan tidak ada lagi yang bisa membuatnya lebih malu, Anju menanyakan sesuatu yang selama ini hanya berani ia pikirkan sendiri. "Kenapa sih kamu masih mau sama orang yang terus-terusan nyakitin kamu, Gas?"

Bagas mengangkat wajah. Tatapannya tidak marah, tidak juga tersinggung. Hanya kosong dan lelah, seperti orang yang sudah terlalu sering menanyakan hal yang sama pada dirinya sendiri dan tidak pernah menemukan jawabannya. "Terus gue harus sama siapa?" tanyanya pelan. Lalu, setelah jeda yang terlalu panjang, dengan suara yang sama datarnya, ia menambahkan, "Emang lo mau?"

Anju tidak langsung menjawab. Ia tahu itu bukan pertanyaan yang lahir dari perasaan apa pun. Itu pertanyaan dari orang yang sudah tidak terlalu peduli apa yang akan terjadi padanya. Tapi ia juga tahu, kalau ia menggeleng sekarang, kesempatan seperti ini tidak akan pernah datang lagi. "Kalau aku bilang mau?"

Bagas mengangkat bahu sedikit. "Ya udah. Coba aja."

Ia berdiri, melangkahi pecahan kaca di lantai dengan hati-hati, lalu berhenti sebentar di ambang pintu tanpa menoleh. "Makasih udah diobatin," katanya, kemudian masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Anju memunguti pecahan kaca satu per satu dan mengelap darah di wastafel sampai bersih. Ia tahu yang barusan itu bukan cinta. Malam ini Bagas kehilangan sesuatu, dan Anju kebetulan ada di sana untuk mengisi tempat yang kosong itu. Tapi tiga tahun ia menunggu Bagas melihatnya, walaupun cuma sekali. Anju mematikan lampu kamar mandi dan memutuskan bahwa untuk sekarang, itu sudah cukup.

Besoknya, tidak ada yang berubah. Bagas tetap keluar kamar dengan headset di leher, tetap mengambil air dari kulkas, tetap menjawab sapaan Anju dengan gumaman pendek yang nyaris tidak terdengar. Kalau ada orang yang memperhatikan mereka berdua pagi itu, tidak akan ada yang menyangka sesuatu baru saja terjadi di kamar mandi lantai dua. Satu-satunya bukti hanyalah cermin yang retak dan perban putih di tangan kanan Bagas. Waktu Ren menanyakan soal cermin itu, Bagas hanya bilang kepleset. Ren menatapnya lama, menatap perbannya, lalu memutuskan untuk tidak bertanya lagi, sesuatu yang sangat jarang dilakukan Ren.

Bang Andra marah, dengan caranya sendiri. Ia tidak berteriak dan tidak bertanya macam-macam. Ia hanya memandangi tangan Bagas lama sekali, lalu bilang, "Seminggu lo nggak main. Adam masuk," dan setelah itu pergi ke teras untuk merokok dua batang berturut-turut, padahal katanya ia sudah berhenti sejak Lebaran. Adam, yang jarang mendapat jatah main di liga, berusaha keras terlihat prihatin dan gagal total. Sambil memeluk mouse-nya erat-erat, ia bilang ia sedih Bagas cedera, sangat sedih, tapi ia juga ingin berterima kasih dari lubuk hati yang paling dalam. Bagas hanya menatapnya sebentar dan kembali makan. Ren melempar Adam dengan kulit kacang.

Dua hari kemudian, Anju mengantar Bagas ke klinik untuk kontrol. Bagas sempat bilang ia bisa naik ojol sendiri, tapi Anju menjawab bahwa ia sudah mendaftarkannya jam sepuluh dan mereka akan terlambat kalau terus berdebat. Bagas akhirnya naik ke boncengan. Sepanjang jalan, ia tidak berpegangan pada apa pun dan duduk agak ke belakang, dan Anju berusaha tidak memikirkan apa artinya jarak beberapa senti itu.

***

Perubahan pertama datang di hari kesembilan, lewat sebuah pesan saat Anju sedang di kantin kampus. Selama tiga tahun, satu-satunya alasan Bagas mengirim pesan padanya adalah jadwal. Tapi pesan itu hanya berisi dua kata tanpa huruf kapital. udah makan? Anju membacanya tiga kali. Itu pertama kalinya Bagas menanyakan sesuatu tentang dirinya. Ia membalas, dan balasan Bagas datang dua puluh menit kemudian, hanya satu kata. udah. Anju memandangi layar ponselnya sampai layarnya mati sendiri, lalu membeli nasi ayam geprek level dua dan menghabiskannya sampai butir nasi terakhir, padahal tadinya ia sama sekali tidak lapar. Teman sekelasnya, Sasa, yang duduk di seberang meja, bertanya kenapa Anju senyum-senyum sendiri sambil makan sambal sepedas itu. Anju bilang sambalnya enak.

Perubahan kedua lebih susah dijelaskan. Suatu sore di pertengahan bulan, hujan turun deras tepat saat Anju keluar dari kelas terakhirnya. Motornya ia tinggal di gaming house karena pagi tadi menumpang mobil Sasa, dan aplikasi ojol di ponselnya menunjukkan waktu tunggu empat puluh lima menit. Ia sedang berdiri di lobi gedung fakultas dengan tas didekap di dada, menimbang apakah lebih baik menunggu atau nekat jalan ke halte, ketika ia melihat Bagas berdiri di parkiran motor. Jaket hitamnya basah di bagian bahu, helm di tangan, dan ia tidak melambai. Ia hanya berdiri di sana, menunggu sampai Anju menyadari keberadaannya.

Anju berlari menembus hujan dan bertanya Bagas sedang apa di kampusnya. Bagas bilang Bang Andra yang menyuruhnya menjemput. Waktu Anju menanyakan tangannya, Bagas mengangkat tangan kanannya yang sekarang hanya dibalut plester tipis dan bilang sudah bisa dipakai. Ia menyodorkan helm cadangan dan jas hujan plastik yang jelas baru dibeli di minimarket depan kampus, karena label harganya masih menempel. Kali ini, di boncengan, Anju yang duduk di belakang. Ia ragu sebentar sebelum memegang ujung jaket Bagas. Bagas tidak bilang apa-apa, tapi di lampu merah pertama, ia meraih tangan Anju dan memindahkannya ke pinggangnya, lalu kembali memegang setang seolah tidak terjadi apa-apa.

Malam itu, Anju menceritakan kejadian tadi sambil lalu di meja makan, sekadar berterima kasih. Bang Andra mengangkat alis dengan bingung dan bertanya sejak kapan ia menyuruh Bagas menjemput siapa-siapa. Anju langsung diam. Ren, yang duduk di sebelahnya, pelan-pelan meletakkan sendok, menatap Anju, lalu menatap pintu kamar Bagas di ujung lorong, lalu menatap Anju lagi dengan mata menyipit. Anju buru-buru berdiri dan mencuci piring yang sebenarnya sudah bersih.

Rahasia itu bertahan tiga minggu, dan yang membongkarnya adalah kemenangan pertama Bagas setelah cedera. Prime menang di week tiga liga, finis pertama di klasemen mingguan setelah Bagas mencetak sembilan kill di match terakhir. Bayu memeluknya, Fajar menepuk punggungnya keras-keras, dan Adam berteriak paling kencang di antara mereka semua, padahal ia hanya menonton dari kursi cadangan. Perjalanan pulang dari venue memakan waktu hampir dua jam karena macet. Bang Andra menyetir, Bayu duduk di depan, dan sisanya berdesakan di belakang. Anju duduk di samping Bagas di baris tengah dengan jaket tim terlipat di pangkuannya, sementara lampu jalan tol bergantian masuk lewat jendela.

Di tengah perjalanan, Anju merasakan sesuatu di bawah jaket itu. Jari-jari Bagas menyentuh punggung tangannya sebentar, ragu-ragu, seolah sedang memastikan sesuatu, lalu perlahan menggenggam tangannya. Anju tidak berani menoleh, dan Bagas juga tidak. Mereka berdua menatap lurus ke depan, ke deretan lampu merah mobil di jalan tol, dan tidak mengatakan apa-apa sampai mobil keluar di Pondok Indah. Yang tidak mereka sadari adalah Ren duduk tepat di belakang mereka, dan Ren sama sekali tidak sedang tidur.

Besok paginya, rumah itu kacau balau. Ren berdiri di atas sofa sambil menunjuk Bagas, lalu Anju, lalu Bagas lagi, berteriak bahwa ia tidak salah lihat, bahwa ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tangan mereka di bawah jaket, di tol, dan bahwa ia menuntut penjelasan sekarang juga. Bang Andra menyuruhnya turun dari sofa tanpa mengangkat kepala dari tablet. Adam menatap Anju dengan wajah seperti orang yang baru dikhianati sahabat sendiri. "Gue kira kita deket, Ju," katanya dengan nada terluka. "Gue cerita soal mantan gue yang sekarang jualan seblak, dan lo nyimpen beginian dari gue?" Waktu Anju mencoba menjelaskan, Adam hanya mengulang kata seblak dengan suara semakin tinggi, seolah itu argumen yang tidak bisa dibantah.

Bayu, yang sedang menuang kopi di dapur, hanya bilang, "Oh. Akhirnya," dengan nada orang yang sudah lama menunggu kabar cuaca. Fajar, tanpa melepas pandangan dari ponselnya, menambahkan dengan santai bahwa ia sudah tahu sejak bulan lalu, karena Bagas pernah bertanya padanya di mana kampus Anju dan jam berapa biasanya kelas terakhir selesai. Semua kepala langsung menoleh ke meja makan. Bagas, yang sejak tadi duduk diam menghabiskan rotinya, akhirnya mengangkat wajah. Telinganya merah. Ia berdiri, membawa piringnya ke wastafel, lalu naik ke kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ren akhirnya turun dari sofa dan berbisik dengan takjub bahwa Bagas ternyata bisa malu, dan bahwa itu pasti tanda-tanda dunia mau kiamat. Anju menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tertawa sampai perutnya sakit.

Malam itu, Bang Andra memanggilnya ke teras. Ia tidak merokok kali ini. Ia hanya duduk di kursi plastik dengan secangkir kopi yang sudah dingin, menatap jalan kompleks yang sepi. Setelah beberapa saat, ia bertanya apakah Anju yakin. Pertanyaannya pendek, tapi Anju tidak pura-pura tidak mengerti maksudnya. Ia menjawab jujur bahwa ia tidak tahu. Bang Andra mengingatkannya pelan-pelan bahwa Bagas baru saja putus, lagi, dan bahwa Anju juga tahu polanya. Nadira pergi, Bagas diam. Nadira kembali, Bagas kembali. "Gue kenal lo dari umur tujuh belas, Ju," katanya. "Gue nggak mau ngatur hidup lo. Tapi gue juga nggak mau lo cuma jadi tempat dia berhenti sebentar sebelum balik lagi ke tempat yang lama."

Anju menatap tangannya sendiri. Di jalan depan rumah, seekor kucing menyeberang pelan dan menghilang di balik pagar tetangga. Ia bilang ia tahu, tapi ia mau mencoba sekali saja. Kalau ternyata tidak bisa, ya sudah. Setidaknya nanti ia tidak menyesal karena tidak pernah mencoba. Bang Andra tidak membalas. Ia hanya menepuk kepala Anju dua kali, persis seperti dulu waktu Anju masih memakai seragam SMA dan menangis di ruang tengah karena salah memasukkan jadwal turnamen pertamanya.

***

Kekalahan terberat musim itu datang di week lima. Prime turun dari peringkat dua ke peringkat tujuh hanya dalam satu hari. Semua yang bisa salah, salah. Rotasi berantakan, komunikasi kacau, dan Bagas, yang sedang berada di performa terbaiknya, tertembak dari belakang di match terakhir karena salah membaca arah zona. Tidak ada yang marah, dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat. Mereka pulang dalam diam, makan dalam diam, dan masuk ke kamar masing-masing dalam diam.

Pukul satu malam, Anju naik ke rooftop membawa dua kaleng minuman dingin dan menemukan Bagas di sana, duduk di lantai semen dengan punggung bersandar ke tembok pembatas. Anju duduk di sebelahnya dan menyodorkan satu kaleng. Bagas menerimanya tapi tidak membukanya. Di bawah mereka, lampu-lampu kota menyala sampai jauh, dan suara klakson dari jalan besar terdengar samar-samar.

"Gue jelek banget hari ini," kata Bagas setelah lama diam.

Anju bilang Bagas hanya capek. Waktu Bagas membalas bahwa capek bukan alasan, Anju setuju bahwa itu memang bukan alasan, tapi itu kenyataan. Ia bilang ia tahu Bagas latihan sampai jam empat pagi hampir setiap malam minggu ini, karena ia melihat lampu ruang latihan masih menyala setiap kali ia turun mengambil minum. Bagas menoleh dan bertanya apakah Anju sengaja mengecek. Anju hanya menjawab bahwa ia manajernya.

Bagas tidak berkata apa-apa lagi. Lalu, pelan-pelan, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Anju. Anju menahan napas. Ia tidak bergerak dan tidak bicara, takut kalau ia bergeser sedikit saja, Bagas akan sadar apa yang sedang ia lakukan dan menarik diri. Tapi Bagas tidak menarik diri. Ia tetap di sana cukup lama, sampai kaleng di tangan Anju tidak dingin lagi. Kemudian ia mengangkat kepala, menatap Anju dari jarak yang sangat dekat, dan menciumnya.

Ciuman itu singkat dan canggung, dan sedikit terasa seperti soda. Bagas menarik diri lebih dulu dan kembali menatap lampu-lampu kota, seolah yang barusan tidak pernah terjadi. Anju juga menatap ke depan, dengan jantung berdebar begitu keras sampai ia yakin Bagas bisa mendengarnya. Di antara debaran itu, ada satu pertanyaan yang tidak bisa ia singkirkan, dan ia membenci dirinya sendiri karena memikirkannya. Barusan, apakah Bagas sedang memikirkan dirinya? Atau Bagas sedang memikirkan orang lain, dan Anju hanya kebetulan ada di sebelahnya? Ia tidak bertanya. Ia terlalu takut dengan jawabannya.

***

Keanne tidak menghilang setelah turnamen itu. Ia tidak agresif, dan tidak juga menyebalkan. Ia hanya ada. Sesekali ia mengirim pesan setelah week liga, menyemangati Anju dengan panggilan Manager Emoji atau bertanya siapa yang mengatur rotasi Prime di match keempat karena menurutnya rotasi itu gila. Anju membalasnya dengan sopan dan kadang dengan emoji, karena memang begitu caranya membalas semua orang. Bagas melihat notifikasi itu sekali, waktu ponsel Anju tergeletak di meja makan. Ia tidak berkomentar apa-apa. Tapi malam itu ia tidak membalas pesan selamat tidur dari Anju, padahal biasanya ia selalu membalas, walaupun hanya dengan satu kata.

Di week enam, saat liga kembali diadakan offline, Keanne mendatangi area tim Prime dengan dua gelas kopi susu gula aren di tangan. Ia menyodorkan satu gelas pada Anju dan bilang ia melihat Anju tidak berhenti mondar-mandir sejak pagi, jadi sebaiknya Anju minum dulu sebelum dehidrasi. Anju menerimanya karena menolak terasa tidak sopan. Ia baru saja akan berterima kasih ketika suara Bagas terdengar dari belakangnya, memanggil namanya dengan nada datar, dan bilang Bang Andra sedang mencarinya.

Anju menoleh ke arah Bang Andra, yang sedang duduk santai di kursi pinggir panggung sambil makan gorengan dan jelas tidak sedang mencari siapa-siapa. Ia tersenyum pada Keanne, berterima kasih untuk kopinya, dan pamit. Keanne melirik Bagas sebentar, lalu tersenyum lebar ke arah Anju, seperti baru mengerti sesuatu yang belum dimengerti orang lain, dan bilang santai saja.

Begitu mereka cukup jauh, Anju bertanya pelan apa Bagas baik-baik saja, karena Bang Andra jelas tidak sedang mencarinya. Bagas bilang ia tidak apa-apa. Lalu, tanpa penjelasan, ia mengambil gelas kopi dari tangan Anju, meminumnya setengah, mengembalikannya, dan berjalan ke kursinya. Ren, yang menyaksikan semuanya dari jarak dua meter, membungkuk ke arah Adam dan berbisik dengan suara yang sama sekali tidak pelan bahwa Bagas sedang cemburu. Bagas menyuruhnya diam tanpa menoleh. Ren langsung diam, tapi ia tersenyum lebar sepanjang sisa hari itu, dan setiap kali Keanne lewat di dekat area mereka, Ren berdeham keras-keras.

Malam itu, Bagas berbaring di kasurnya dengan lampu mati dan mata terbuka. Ia tidak mengerti kenapa ia kesal tadi siang. Keanne tidak melakukan apa pun yang salah, Anju juga tidak. Itu cuma segelas kopi. Selama tiga tahun, Anju hanya bagian dari tim ini baginya. Orang yang mengirim jadwal, memesankan makanan, mengingatkan semua orang untuk tidur. Anju selalu ada, dan karena selalu ada, Bagas tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Sekarang ia memperhatikan. Cara Anju menyelipkan rambut ke belakang telinga setiap kali sedang fokus di depan laptop. Cara Anju tertawa sampai matanya menyipit kalau Ren mulai bercanda. Cara Anju selalu menyisihkan roti rasa cokelat untuk Ren meskipun pura-pura lupa. Cara tangan Anju gemetar malam itu di kamar mandi, waktu Anju mengira Bagas tidak menyadarinya. Bagas tidak tahu apa nama perasaan ini. Ia hanya tahu ia tidak suka melihat orang lain membuat Anju tersenyum seperti tadi siang.

Di meja samping kasurnya, ponselnya menyala. Satu pesan dari nama yang sudah dua bulan tidak pernah muncul di layar itu. Gas, aku kangen. Bisa ketemu?

Bagas menatap pesan dari Nadira itu lama sekali. Ia tidak membalasnya. Ia juga tidak menghapusnya. Ia hanya membalik ponselnya sampai layarnya menghadap meja, lalu memejamkan mata dan tidak tidur sampai pagi.

***

Nadira kembali di week delapan, tepat dua minggu sebelum musim berakhir.

Hari itu Prime bermain cukup baik. Mereka finis di posisi tiga klasemen mingguan, cukup untuk menjaga peluang masuk empat besar di akhir musim, dan Bang Andra bahkan tersenyum waktu melihat papan skor, sesuatu yang jarang terjadi di tengah musim. Setelah sesi foto dan wawancara singkat, semua orang berkumpul di area tim untuk membereskan perlengkapan. Adam sibuk menggulung kabel sambil menyanyikan lagu dangdut dengan lirik yang salah semua, Ren sibuk merekam Adam untuk dijadikan bahan ejekan, dan Fajar sibuk pura-pura tidak kenal mereka berdua. Anju baru sadar charger laptopnya tertinggal di mobil, jadi ia pamit sebentar ke parkiran basement sambil membawa kunci yang ia pinjam dari Bang Andra.

Basement itu remang-remang dan berbau knalpot. Lampu neon di beberapa sudut berkedip-kedip, dan suara langkah kaki Anju bergema di antara pilar-pilar beton. Ia sedang berjalan di antara deretan mobil, mencari mobil tim yang diparkir di dekat pilar bernomor C7, ketika ia mendengar suara seorang perempuan menangis. Ia berhenti dan menoleh. Di sela-sela dua mobil SUV, sekitar sepuluh meter darinya, ia melihat mereka.

Nadira berdiri sangat dekat dengan Bagas, kedua tangannya melingkar di pinggang Bagas, wajahnya terbenam di dada Bagas. Bahunya naik turun. Rambut panjangnya yang biasanya tertata rapi di setiap foto terlihat berantakan. Anju tidak bisa mendengar apa yang Nadira katakan, hanya potongan-potongan suara yang tertelan isak tangis dan dengung mesin mobil yang lewat. Ia hanya bisa melihat Bagas yang berdiri diam dengan kedua tangan tergantung di samping tubuhnya. Bagas tidak memeluk Nadira balik. Tapi ia juga tidak mendorongnya pergi.

Anju berdiri di sana lebih lama dari yang seharusnya. Ia menunggu Bagas melangkah mundur, menunggu Bagas melepaskan tangan Nadira dari pinggangnya, menunggu apa saja yang bisa membuatnya yakin bahwa ia tidak perlu takut. Tapi Bagas tetap berdiri di tempat yang sama, dengan wajah yang tidak bisa Anju baca dari jarak sejauh itu, dan Nadira tetap memeluknya. Beberapa detik itu terasa sangat panjang. Seorang petugas parkir lewat dengan motor dan melirik ke arah mereka, dan Anju tersadar bahwa ia sedang berdiri seperti orang bodoh di tengah jalur mobil.

Akhirnya Anju berbalik, berjalan kembali ke lift tanpa mengambil charger-nya, dan naik ke atas dengan wajah yang ia usahakan tetap biasa saja. Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya di dinding besi dan menarik napas dalam-dalam tiga kali. Waktu Ren bertanya kenapa ia lama sekali dan mana charger-nya, Anju bilang ternyata charger itu ada di tas, ia saja yang lupa. Ren mengangguk tanpa curiga dan kembali memutar rekaman Adam bernyanyi dengan volume penuh. Semua orang tertawa. Anju juga tertawa.

Bagas kembali ke area tim lima belas menit kemudian. Ia tidak mengatakan apa-apa, dan Anju tidak bertanya. Di mobil dalam perjalanan pulang, mereka duduk bersebelahan seperti biasa, tapi kali ini tidak ada tangan yang mencari tangan lain di bawah jaket. Bagas menatap ke luar jendela sepanjang jalan, dan Anju menatap ponselnya, membaca percakapan grup yang sama berulang-ulang tanpa benar-benar membacanya.

***

Hari-hari setelahnya, Anju menunggu. Ia tidak tahu persis apa yang ia tunggu. Mungkin penjelasan. Mungkin Bagas yang tiba-tiba mengetuk pintu kamarnya dan bilang bahwa apa yang terjadi di basement itu tidak berarti apa-apa. Mungkin sekadar satu kalimat yang bisa membuatnya bernapas lega. Tapi Bagas tidak mengatakan apa pun. Ia justru menjadi lebih pendiam dari biasanya. Ia lebih sering mengurung diri di kamar, lebih sering menatap ponselnya lama lalu membaliknya menghadap meja, dan lebih sering melamun di tengah latihan sampai Bayu harus memanggil namanya dua kali.

Pesan-pesan kecil yang dulu membuat Anju tersenyum di kantin kampus juga berkurang. Bagas masih menanyakan apakah Anju sudah makan, tapi tidak setiap hari lagi, dan balasannya jadi lebih lama. Waktu Anju mengirim pesan selamat tidur, kadang Bagas membalas, kadang tidak. Anju mencoba meyakinkan dirinya bahwa Bagas hanya sedang fokus menjelang akhir musim, bahwa semua pemain memang jadi lebih tegang di minggu-minggu seperti ini. Tapi setiap kali ia melihat Bagas menatap layar ponsel dengan wajah serius, mengetik sesuatu, menghapusnya, lalu mengetik lagi, ia teringat dua tangan yang melingkar di pinggang Bagas, dan dua tangan Bagas yang tidak menolak.

Ren yang pertama kali menyadari ada yang salah. Suatu malam, waktu mereka berdua sedang mencuci piring setelah makan malam, Ren bertanya dengan suara yang tidak seperti biasanya, tanpa nada bercanda sama sekali, apakah Anju baik-baik saja. Katanya Anju belakangan ini jarang tertawa, bahkan waktu Adam terjatuh dari kursi kemarin, kejadian yang menurut Ren layak masuk sejarah. Anju bilang ia hanya capek karena tugas kuliah menumpuk. Ren menatapnya sebentar, seperti ingin bertanya lebih jauh, lalu memutuskan untuk tidak melakukannya. Sebelum kembali ke ruang latihan, ia hanya bilang bahwa kalau Anju butuh teman cerita, ia ada, meskipun ia tahu ia bukan pendengar yang baik karena terlalu sering memotong pembicaraan orang.

Suatu sore, Anju dan Bagas berpapasan di dapur. Tidak ada orang lain di sana. Bagas sedang menuang air ke gelas, dan Anju baru saja pulang dari kampus dengan tas masih tersampir di bahu. Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Bagas meletakkan gelasnya dan membuka mulut, seperti akan mengatakan sesuatu yang penting. Tapi tepat saat itu, Adam masuk ke dapur sambil berteriak mencari charger ponselnya yang katanya dicuri Ren, dan momen itu hilang begitu saja. Bagas mengambil gelasnya lagi dan kembali ke kamar. Anju berdiri di dapur sambil mendengarkan Adam mengomel, dan merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia pegang.

Suatu malam, sekitar pukul dua belas, Anju menemukan Bagas di rooftop lagi. Kali ini ia tidak membawa minuman. Ia hanya berdiri di dekat pintu dan bertanya apakah Bagas mau mengatakan sesuatu padanya. Bagas menoleh, menatapnya cukup lama, dan untuk sesaat Anju yakin Bagas akan bicara. Ada sesuatu di wajah Bagas yang terlihat seperti sedang berusaha keras mencari kata-kata, seperti orang yang tahu jawabannya tapi tidak tahu cara menuliskannya.

Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Nanti, Ju. Gue lagi... nanti aja."

Anju mengangguk. Ia bilang tidak apa-apa, bilang Bagas sebaiknya cepat tidur karena besok mereka harus latihan jam satu, lalu turun ke kamarnya dan duduk di tepi kasur dalam gelap selama hampir satu jam.

Malam itu ia akhirnya mengerti sesuatu yang sebenarnya sudah ia tahu sejak awal. Ia sudah tahu polanya. Bang Andra sudah mengingatkannya di teras berminggu-minggu lalu. Nadira pergi, Bagas diam. Nadira kembali, Bagas kembali. Anju hanya tidak pernah menyangka bahwa ia akan berada di tengah-tengah pola itu, dan bahwa rasanya akan sesakit ini. Ia tidak mau menunggu sampai Bagas akhirnya menemukan kata-kata yang tepat untuk bilang bahwa ia memilih kembali pada Nadira. Ia tidak sanggup mendengar kalimat itu dari mulut Bagas sendiri, di rooftop yang sama tempat mereka berciuman. Kalau memang harus berakhir, Anju lebih memilih pergi duluan, sebelum ia benar-benar ditinggalkan.

Besok paginya, sebelum yang lain bangun, Anju menemui Bang Andra di teras.

Bang Andra sedang menyiram tanaman di pot-pot kecil yang ia rawat sendiri dan selalu diejek Ren sebagai kebun kakek-kakek. Ia menoleh waktu Anju duduk di kursi plastik, lalu mematikan keran selang tanpa diminta, seolah sudah tahu dari wajah Anju bahwa ini bukan obrolan biasa. Ia duduk di kursi sebelah Anju dan menunggu.

Anju bilang kontraknya habis bersamaan dengan berakhirnya musim, dua minggu lagi. Ia bilang ia akan menyelesaikan semua tugasnya sampai hari terakhir dengan baik, tapi ia tidak mau memperpanjangnya. Ia bilang ia mau fokus kuliah karena tahun depan sudah mulai skripsi, dan ia juga ingin mencoba pengalaman kerja di bidang lain sebelum lulus. Semua alasan itu benar, dan Anju sudah melatihnya di kepala sejak semalam supaya suaranya tidak bergetar waktu mengatakannya.

Bang Andra tidak langsung menjawab. Ia menatap jalan kompleks yang masih sepi, tempat seorang tukang sayur baru saja lewat dengan gerobaknya. Lalu ia bertanya pelan apakah ini karena Bagas. Anju diam cukup lama sebelum menjawab bahwa itu sebagian alasannya. Ia tidak bercerita soal basement, tidak bercerita soal malam di rooftop, tidak bercerita soal pesan-pesan yang semakin jarang. Tapi Bang Andra sudah mengenalnya sejak umur tujuh belas, dan Anju tahu ia tidak perlu menjelaskan semuanya.

"Lo udah ngomong sama dia?" tanya Bang Andra.

Anju menggeleng. Ia bilang ia sudah mencoba, dan Bagas bilang nanti. Ia bilang ia tidak mau menunggu nanti itu datang. Lalu ia meminta satu hal pada Bang Andra, yaitu supaya tidak ada yang tahu soal ini dulu, termasuk anak-anak, sampai musim selesai. Ia tidak mau tim kehilangan fokus di dua minggu terakhir yang menentukan, dan ia mau memberitahu mereka sendiri di hari terakhir.

Bang Andra menghela napas panjang. Ia bilang ia tidak setuju dengan cara Anju menghindar seperti ini, karena menurutnya masalah yang tidak dibicarakan biasanya hanya pindah tempat, tidak benar-benar selesai. Tapi ia akan menghormati keputusan itu, karena Anju sudah cukup dewasa untuk menentukan hidupnya sendiri. Lalu, dengan suara yang lebih pelan, ia bilang bahwa rumah ini tidak akan sama lagi tanpa Anju, dan bahwa ia tidak tahu siapa lagi yang bisa menyuruh mereka semua makan sayur. Anju tertawa, tapi matanya basah, dan ia buru-buru mengusapnya dengan lengan hoodie sebelum ada yang melihat.

***

Dua minggu terakhir itu berjalan dengan cepat dan lambat sekaligus.

Anju bekerja seperti biasa. Ia tetap mengirim jadwal latihan dengan emoji dan pengingat minum air, tetap memesankan makanan, tetap mengurus semua dokumen akhir musim untuk manajemen. Diam-diam, di malam hari setelah semua orang tidur, ia juga membuat panduan lengkap untuk manajer berikutnya. Isinya kebiasaan setiap pemain, makanan yang tidak boleh dipesan untuk Fajar karena alergi udang, jam berapa Ren biasanya harus dibangunkan dua kali karena alarm pertamanya tidak pernah berhasil, bahwa Bayu tidak akan pernah mengeluh meskipun sedang sakit jadi harus diperhatikan dari wajahnya, dan bahwa Adam akan selalu bilang ia baik-baik saja meskipun sebenarnya sedih kalau tidak dimainkan. Untuk Bang Andra, ia menulis bahwa beliau sudah berhenti merokok dan harus terus diingatkan. Untuk Bagas, ia hanya menulis satu kalimat. Ia mengetiknya, menghapusnya, mengetiknya lagi, lalu akhirnya membiarkannya tetap di sana. Suka latihan sampai pagi, tolong ingatkan makan.

Ia juga mulai menjaga jarak tanpa membuatnya terlalu terlihat. Ia lebih sering menginap di kos Sasa di dekat kampus dengan alasan tugas kelompok. Ia lebih sering sudah berangkat waktu Bagas bangun, dan sudah masuk kamar waktu Bagas selesai berlatih. Kalau mereka berpapasan, Anju tetap tersenyum dan menyapa, tapi tidak pernah berhenti cukup lama untuk memberi Bagas kesempatan bicara. Bagas sepertinya menyadari itu. Beberapa kali ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi selalu ada orang lain di sekitar mereka, atau Anju selalu punya alasan untuk pergi lebih dulu. Suatu malam, Bagas mengirim pesan yang hanya berisi namanya, ju, tanpa kalimat lain. Anju menatapnya lama, lalu membalas bahwa ia sudah mau tidur karena besok kelas pagi. Bagas tidak membalas lagi.

Musim berakhir di hari Sabtu. Prime finis di posisi keempat, hasil terbaik mereka dalam dua tahun terakhir. Mereka merayakannya di rumah dengan pizza, ayam goreng, dan es teh manis dalam galon. Adam berpidato soal betapa pentingnya peran pemain cadangan dalam sejarah olahraga dunia sampai Ren melemparinya dengan bantal sofa. Fajar, yang biasanya paling pendiam setelah Bagas, ikut tertawa sampai tersedak. Bayu tersenyum sepanjang malam, yang bagi Bayu sama dengan menari di atas meja. Bang Andra mengangkat gelas es tehnya dan bilang ia bangga pada mereka semua, lalu melirik Anju sebentar dengan tatapan yang hanya mereka berdua pahami. Bagas duduk di pojok sofa dan sesekali melirik Anju di seberang ruangan. Anju pura-pura tidak menyadarinya, dan menghabiskan malam itu dengan tertawa lebih keras dari biasanya.

Anju memberitahu mereka di hari Minggu pagi.

Bagas sudah keluar rumah sejak pukul tujuh. Waktu Anju turun, Bayu bilang Bagas pergi tanpa bilang mau ke mana, hanya membawa jaket dan kunci motor. Anju tidak bertanya lebih jauh. Semalam, waktu semua orang sudah masuk kamar, ia sempat melihat layar ponsel Bagas menyala di meja ruang tengah dengan nama Nadira di atasnya, dan ia tidak perlu bertanya untuk menebak ke mana Bagas pergi pagi-pagi begini.

Ia mengumpulkan yang lain di ruang tengah dan bilang bahwa hari ini adalah hari terakhirnya di Prime. Ia bilang kontraknya tidak diperpanjang, bahwa ia mau fokus kuliah, dan bahwa manajer baru akan datang minggu depan dengan panduan lengkap darinya. Ia mengatakan semuanya dengan cepat, seperti membaca pengumuman, karena ia tahu kalau ia berhenti di tengah jalan, ia tidak akan sanggup menyelesaikannya.

Selama beberapa detik, tidak ada yang bicara. Lalu Ren berdiri, berjalan ke arah Anju, dan memeluknya erat sekali sambil bilang bahwa ini tidak lucu dan bahwa Anju jahat karena tidak bilang dari awal. Adam ikut memeluk dari samping dan bertanya siapa yang akan mendengarkan ceritanya soal mantannya yang jualan seblak kalau Anju pergi. Fajar tidak memeluk, tapi ia berdiri di dekat mereka dan bilang dengan suara pelan bahwa rumah ini akan jadi berantakan. Bayu hanya menepuk kepala Anju dan bilang terima kasih untuk tiga tahunnya, dan entah kenapa, kalimat pendek dari Bayu itulah yang akhirnya membuat Anju menangis.

Mereka tidak sempat menyiapkan apa-apa, jadi kenang-kenangannya serba dadakan. Fajar memberikan mousepad cadangannya yang ditandatangani keempat pemain inti dan Adam, dengan tanda tangan Adam yang ukurannya paling besar dan memakan hampir setengah permukaan. Ren dan Adam mencetak tangkapan layar jadwal scrim paling kacau yang pernah Anju kirim, yang ia ketik jam tiga pagi sambil setengah tidur dengan salah ketik di setiap baris, lalu memasukkannya ke bingkai foto bekas dari ruang tengah. Mereka bilang itu untuk mengingatkan Anju bahwa ia juga manusia. Bang Andra memberikan buku catatan kecil bersampul cokelat yang selalu dibawanya ke mana-mana, buku yang berisi catatan pertandingan selama tiga tahun terakhir, dan bilang bahwa sebagian besar isinya juga hasil kerja Anju, jadi buku itu lebih pantas ada di tangan Anju.

Anju memasukkan semua barangnya ke dua koper dan satu kardus. Ternyata dua tahun hidupnya di rumah ini hanya muat sebanyak itu. Sebelum pergi, ia masuk ke ruang latihan yang kosong dan berdiri di depan meja Bagas. Monitor mati, headset tergeletak di samping keyboard, dan di sudut meja ada botol air setengah kosong yang belum dibuang. Ia mengambil satu kertas tempel kuning dari laci, menulis sesuatu, menempelkannya di sudut monitor, lalu keluar sebelum ia berubah pikiran.

Taksi online yang ia pesan datang pukul sebelas. Semua orang mengantarnya sampai pagar. Ren masih menangis dan pura-pura tidak menangis, mengusap matanya dengan ujung kaus sambil bilang ada debu. Adam berjanji akan mengirim kabar setiap kali ia dimainkan di liga, yang menurut Ren berarti Anju tidak akan menerima kabar apa pun. Anju tertawa, memeluk mereka satu per satu, lalu melambai dari jendela mobil dan tidak menoleh lagi sampai mobil keluar dari kompleks.

Bagas tidak ada di sana.

Bagas pulang pukul dua belas lewat sedikit. Ia memarkir motornya di carport dengan terburu-buru dan masuk ke rumah dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya, seperti orang yang baru saja memutuskan sesuatu dan takut keberaniannya hilang kalau ia menunda lebih lama lagi. Ia tidak menyapa siapa pun di ruang tengah. Ia langsung naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar Anju.

Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, lalu memanggil nama Anju. Tetap tidak ada jawaban. Waktu ia membuka pintu, kamar itu sudah kosong. Kasur tanpa seprai, lemari terbuka tanpa isi, meja belajar bersih tanpa satu kertas pun. Poster jadwal liga yang biasanya ditempel Anju di dinding sudah dilepas, meninggalkan bekas selotip di empat sudutnya. Hanya tersisa satu gantungan baju plastik yang tergeletak di lantai dan bau samar parfum vanila yang biasa dipakai Anju.

Ren muncul di belakangnya, matanya masih sembab. Dengan suara yang tidak seperti biasanya, tanpa bercanda sama sekali, Ren memberitahunya bahwa kontrak Anju sudah habis, bahwa Anju sudah pergi satu jam yang lalu, dan bahwa semua orang di rumah ini baru tahu pagi tadi. Lalu Ren bertanya apakah Bagas benar-benar tidak tahu apa-apa.

Bagas tidak menjawab. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Anju. Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum berubah menjadi suara operator. Ia mencoba sekali lagi, dan sekali lagi, sampai Ren menyentuh bahunya dan bilang pelan bahwa mungkin Anju sedang di jalan. Bagas menurunkan ponselnya. Ia masuk ke kamar kosong itu dan duduk di tepi kasur tanpa seprai, menatap dinding dengan bekas selotip di empat sudutnya. Ren berdiri di ambang pintu, dan untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus berkata apa. Setelah beberapa saat, Ren pergi dan menutup pintu pelan-pelan.

Sore itu, waktu Bagas akhirnya masuk ke ruang latihan, ia melihat kertas tempel kuning di sudut monitornya. Tulisannya kecil dan rapi, tulisan yang selama tiga tahun ia lihat di setiap jadwal yang ditempel di pintu kulkas tanpa pernah benar-benar ia perhatikan.

Jangan lupa makan, Gas. Jangan latihan sampai pagi terus.

Bagas duduk di kursinya dan menatap kertas itu sampai langit di luar jendela berubah gelap. Malam itu, ia tidak menyalakan monitornya.

***

Empat bulan kemudian, Jakarta sudah masuk musim hujan.

Anju sekarang semester enam. Ia menyewa kamar kos kecil di gang sempit dekat kampus, dengan jendela menghadap tembok tetangga, dispenser air yang harus dipukul dua kali sebelum keluar air panas, dan kipas angin yang berbunyi setiap kali diputar ke angka tiga. Ibu kosnya baik dan selalu menyisihkan kue setiap ada arisan, dan anak-anak kos lain kebanyakan mahasiswa yang lebih muda, yang memanggilnya Kak Anju dan sering meminjam setrikanya. Kamarnya rapi, seperti semua hal yang pernah ia urus. Di rak buku kecil di samping kasurnya, bingkai berisi jadwal scrim penuh salah ketik itu berdiri di sebelah buku catatan bersampul cokelat dari Bang Andra.

Selain kuliah, ia bekerja paruh waktu di sebuah agensi pemasaran di Kemang, mengurus jadwal acara dan membalas email klien yang selalu mengirim revisi di jam-jam yang tidak masuk akal. Pekerjaannya rapi, atasannya menyukainya, dan rekan kerjanya sering bercanda bahwa Anju bisa mengatur jadwal rapat lima divisi tanpa satu pun yang bentrok, seolah itu keajaiban. Anju hanya tersenyum. Mengatur lima divisi jauh lebih mudah daripada membangunkan Ren. Tidak ada satu pun hal di kantornya yang berhubungan dengan game, dan Anju sengaja memilih tempat itu karena alasan yang terakhir.

Ia sudah mematikan notifikasi grup Prime sejak minggu pertama. Ia tidak keluar dari grup itu, karena keluar terasa terlalu kejam untuk Ren dan Adam, tapi ia juga tidak pernah membukanya lagi. Sesekali Ren mengirim pesan pribadi, foto makanan yang menurutnya tidak sehat dan tidak ada yang melarang, atau keluhan panjang bahwa manajer baru mengirim jadwal tanpa emoji sama sekali sehingga terasa seperti surat tagihan. Adam menepati janjinya dan mengabari setiap kali ia dimainkan, yang ternyata cukup sering, dan setiap kabarnya selalu diakhiri dengan pertanyaan apakah Anju bangga padanya. Anju membalas semuanya dengan hangat dan selalu bilang iya. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut nama Bagas, dan Anju curiga itu karena Bang Andra sudah memperingatkan mereka.

Yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun adalah bahwa setiap minggu, saat Prime bertanding, ia tetap menonton siaran liga dari laptopnya, dengan suara dimatikan. Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa ia hanya ingin tahu mereka baik-baik saja. Ia senang melihat Adam lebih sering dimainkan, senang melihat Bayu tetap tenang seperti biasa, senang melihat Ren masih berteriak di setiap kemenangan. Tapi setiap kali kamera menyorot wajah Bagas di kursi pemain, ia tidak pernah sanggup memalingkan muka. Bagas terlihat lebih kurus di bulan pertama, lalu perlahan terlihat lebih sehat. Rambutnya sudah dipotong. Ia masih tidak banyak bicara di wawancara setelah pertandingan, hanya menjawab seperlunya, tapi permainannya semakin bagus dari minggu ke minggu.

Bulan lalu, Keanne mengajaknya minum kopi, dan Anju akhirnya mengiyakan karena ia sudah kehabisan alasan untuk menolak. Mereka bertemu di kedai kopi kecil di Tebet yang menurut Keanne punya kue pisang terbaik di Jakarta. Ternyata kuenya memang enak. Mereka mengobrol hampir dua jam soal kuliah, soal pekerjaan, soal kucing Keanne yang menurutnya punya masalah kepribadian karena hanya mau tidur di atas keyboard. Keanne menyenangkan. Ia banyak tertawa, banyak bercerita, dan tidak pernah membuat Anju merasa harus menebak-nebak apa yang sedang ia pikirkan. Untuk pertama kalinya dalam empat bulan, Anju merasa ringan.

Tapi di akhir pertemuan, waktu mereka berdiri di depan kedai menunggu ojol masing-masing, Keanne tersenyum dan bilang bahwa ia senang bisa ngopi bareng, tapi ia tahu Anju belum selesai dengan seseorang. Katanya, ia bisa melihatnya dari cara Anju diam setiap kali ia menyebut liga. Ia bilang ia tidak keberatan menunggu di antrean, asal Anju tahu ia ada di sana, dan asal Anju tidak memaksakan diri hanya karena merasa tidak enak. Anju tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya berterima kasih. Keanne bilang itu sudah cukup untuk sekarang, lalu naik ke motor ojolnya sambil melambai dan berteriak bahwa lain kali Anju yang traktir.

Bayu menghubunginya di hari Kamis, lewat pesan singkat yang bertanya apakah Anju punya waktu sebentar untuk ketemu. Anju sempat mengira ada masalah dengan tim, karena Bayu bukan tipe orang yang mengajak ketemu tanpa alasan. Dalam tiga tahun, Bayu hanya pernah mengirim pesan pribadi padanya untuk dua hal, yaitu izin pulang kampung dan ucapan selamat ulang tahun. Mereka bertemu sore itu di warung kopi dekat kampus Anju. Bayu datang sendirian dengan jaket tim yang sudah lusuh dan langsung memesan es kopi susu tanpa melihat menu.

Mereka mengobrol soal hal-hal biasa dulu. Soal posisi Prime di klasemen musim baru yang sedang bagus-bagusnya, soal manajer baru yang ternyata cukup baik meskipun tidak bisa menyuruh Ren bangun pagi, soal Bang Andra yang sekarang menanam cabai di pot-pot kecilnya dan membuat Ren semakin rajin mengejek, terutama setelah cabainya berbuah dan Bang Andra memaksa semua orang mencicipinya. Bayu bicara pelan seperti biasa, dan Anju sadar betapa ia merindukan suara itu, dan suara semua orang di rumah itu.

Lalu, setelah es kopinya tinggal setengah, Bayu meletakkan gelasnya dan bilang ada sesuatu yang menurutnya harus Anju dengar. Ia bilang Bagas tidak tahu ia datang ke sini, dan kalau Bagas tahu, mungkin Bagas akan marah, atau lebih buruk lagi, diam saja selama seminggu. Tapi ia tidak tahan melihat dua orang yang ia sayangi saling salah paham begitu lama.

Bayu bercerita bahwa hari Minggu itu, hari terakhir Anju di rumah, Bagas pergi pagi-pagi untuk menemui Nadira. Bukan untuk kembali padanya. Bagas pergi untuk mengakhiri semuanya, secara langsung, karena menurut Bagas itu satu-satunya cara supaya Nadira berhenti menghubunginya. Ia bilang pada Nadira bahwa ia sudah bersama orang lain, dan bahwa kali ini ia tidak akan kembali. Setelah itu ia memblokir semua akun Nadira di depan Nadira sendiri. Bayu tahu karena Bagas menceritakannya beberapa minggu kemudian, di rooftop, jam tiga pagi, satu-satunya malam selama empat bulan ini Bagas bicara lebih dari dua kalimat.

Soal kejadian di basement, Bayu juga tahu. Bagas bilang waktu itu ia membeku. Nadira tiba-tiba datang, menangis, memeluknya, bilang menyesal dan mau kembali, dan Bagas tidak bisa berpikir sama sekali. Ia tidak membalas pelukan itu, tapi ia juga tidak bisa mengatakan apa pun. Selama dua minggu setelahnya, ia sibuk mencari cara mengatakan pada Anju apa yang sebenarnya ia rasakan, karena ia sendiri baru sadar perasaannya sudah berubah. Bagas bukan orang yang pandai bicara, kata Bayu. Ia butuh waktu terlalu lama untuk menemukan kata-kata. Dan waktu akhirnya ia pulang hari Minggu itu untuk bicara, Anju sudah tidak ada.

Anju tidak menyentuh minumannya sama sekali selama Bayu bercerita. Tangannya dingin, padahal warung itu panas dan pengap. Di meja sebelah, sekelompok mahasiswa tertawa keras soal sesuatu, dan suara itu terdengar sangat jauh.

Bayu bilang sejak Anju pergi, Bagas bermain buruk sekali selama sebulan, sampai Bang Andra sempat mempertimbangkan untuk mengistirahatkannya. Lalu tiba-tiba ia membaik, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak lagi latihan sampai pagi. Ia tidur jam dua belas, bangun jam sembilan, dan makan tepat waktu, karena ia memasang alarm di ponselnya dengan label yang Bayu tidak sengaja lihat suatu hari, hanya satu kata, makan. Dan kertas tempel kuning yang Anju tinggalkan masih ada di sudut monitornya sampai sekarang. Manajer baru pernah mencoba mencabutnya waktu membersihkan meja, dan itu satu-satunya saat dalam tiga tahun Bayu mendengar Bagas meninggikan suara.

Anju akhirnya bicara, dan suaranya lebih pelan dari yang ia mau. Ia bilang terima kasih karena Bayu sudah mau cerita. Tapi ia juga bilang semuanya sudah terlambat. Bayu tidak membantah. Ia hanya mengangguk, menghabiskan es kopinya, lalu bilang bahwa itu keputusan Anju, dan ia cuma tidak mau Anju memutuskan sesuatu tanpa tahu cerita yang sebenarnya. Sebelum pergi, ia menepuk kepala Anju sekali, persis seperti yang ia lakukan di hari terakhir Anju di rumah.

Malam itu, Anju tidak bisa tidur. Ia berbaring menatap langit-langit kamar kos dan memutar ulang semuanya di kepalanya. Basement. Rooftop. Kata nanti. Pagi hari Minggu itu. Ia mencoba membayangkan apa yang akan terjadi kalau ia menunggu satu jam lagi saja sebelum memesan taksi. Lalu ia berhenti membayangkannya, karena itu hanya membuat dadanya semakin sesak.

***

Bagas datang seminggu kemudian.

Hari itu hujan turun deras tepat saat Anju keluar dari kelas terakhirnya. Ia berdiri di lobi gedung fakultas dengan tas didekap di dada, membuka aplikasi ojol, dan melihat estimasi waktu tunggu yang tidak masuk akal. Lalu ia mengangkat wajah, dan di parkiran motor, di tempat yang sama persis seperti berbulan-bulan lalu, ia melihat Bagas berdiri dengan jaket hitam yang basah di bagian bahu dan helm di tangan.

Kali ini Bagas tidak bilang Bang Andra yang menyuruhnya. Ia berjalan sendiri menembus hujan ke arah lobi, berhenti di depan Anju, dan bilang dengan suara yang sedikit serak bahwa ia ingin bicara. Lima belas menit saja. Setelah itu, kalau Anju mau ia pergi, ia akan pergi dan tidak akan datang lagi.

Mereka duduk di bangku panjang di bawah kanopi kantin fakultas yang sudah tutup. Hujan turun di depan mereka seperti tirai, dan suara air yang menghantam atap seng membuat dunia di sekitar mereka terasa jauh. Bagas duduk dengan siku bertumpu di lutut dan kedua tangan saling menggenggam. Anju melihat bekas luka samar di buku-buku jari tangan kanannya, bekas malam itu di kamar mandi, dan harus memalingkan muka.

Bagas bicara lebih banyak sore itu daripada yang pernah Anju dengar selama tiga tahun. Kalimatnya patah-patah, sering berhenti di tengah jalan, dan beberapa kali ia harus mengulang dari awal karena menurutnya salah menjelaskan. Ia mengaku bahwa malam itu, waktu ia bilang coba aja, ia tidak sedang memikirkan Anju sama sekali. Ia sedang marah, lelah, dan tidak peduli lagi apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengaku bahwa ia memperlakukan Anju dengan buruk selama tiga tahun, bukan karena benci, tapi karena ia tidak pernah benar-benar melihat Anju, dan itu menurutnya lebih buruk lagi. Ia bilang ia baru tahu dari Ren minggu lalu bahwa selama dua minggu tahun lalu, waktu ia mengurung diri di kamar, yang setiap malam meletakkan makanan di depan pintunya adalah Anju. Ia selalu mengira itu Bang Andra.

Tapi kemudian semuanya berubah, kata Bagas, pelan-pelan tanpa ia sadari. Ia mulai menunggu pesan dari Anju. Ia mulai hafal jam kelas Anju. Ia mulai kesal melihat orang lain membuat Anju tertawa, dan butuh waktu lama untuk mengerti kenapa. Waktu Nadira memeluknya, ia membeku karena untuk pertama kalinya, ia tidak merasakan apa-apa pada Nadira, dan itu membuatnya takut. Ia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semua itu, jadi ia diam. Ia bilang nanti. Dan nanti itu ternyata terlalu lama.

"Gue sayang sama lo, Ju," katanya akhirnya, menatap Anju untuk pertama kalinya sejak mereka duduk. "Gue tau gue telat. Gue tau gue nggak pantes minta apa-apa. Tapi gue nggak mau lo pergi tanpa tau itu."

Anju mendengarkan semuanya tanpa menyela. Ada bagian dari dirinya yang ingin langsung memeluk Bagas, bagian yang selama tiga tahun menunggu mendengar kalimat itu, bagian yang dulu menyelimutinya dengan jaket di ruang latihan jam empat pagi. Tapi ada bagian lain yang lebih besar dan lebih lelah, dan bagian itu yang akhirnya bicara.

Ia bilang ia percaya pada semua yang Bagas katakan barusan. Ia percaya Bagas sudah mengakhiri semuanya dengan Nadira, percaya Bagas tidak bohong soal perasaannya. Tapi ia juga bilang bahwa ia takut. Ia takut bahwa ia hanya pernah jadi orang yang kebetulan ada di dekat Bagas waktu Bagas sedang hancur. Ia takut suatu hari nanti, kalau ada orang lain yang datang dan menangis di depan Bagas, Bagas akan membeku lagi, diam lagi, dan bilang nanti lagi. Dan Anju tidak yakin ia sanggup menunggu nanti itu untuk kedua kalinya.

"Aku nggak bisa, Gas," katanya, suaranya bergetar meskipun ia sudah berusaha keras. "Bukan karena aku udah nggak sayang. Tapi karena aku belum bisa percaya kalau aku nggak bakal ditinggal lagi."

Bagas diam lama. Hujan masih turun di depan mereka. Lalu ia mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu sejak awal.

"Ya udah," katanya. "Gue tunggu."

Anju menyuruhnya jangan. Ia bilang Bagas tidak perlu menunggu, karena ia sendiri tidak tahu kapan, atau apakah, ia akan siap. Ia bilang Bagas berhak bahagia tanpa harus menunggu siapa-siapa.

Bagas tersenyum, senyum kecil dan sedikit miring yang hampir tidak pernah Anju lihat. "Gue cuma bisa itu, Ju. Lo juga tau."

Anju memang tahu. Bagas hanya tahu satu cara mencintai seseorang. Memegangnya erat-erat, dan kalau yang dipegang pergi, menunggu sampai kembali. Dulu cara itu yang membuat Anju patah hati, karena orang yang Bagas tunggu bukan dirinya. Sekarang, untuk pertama kalinya, orang yang ditunggu adalah dirinya sendiri, dan entah kenapa itu justru terasa lebih menyakitkan.

Hujan mulai reda sedikit. Bagas berdiri, memakai helmnya, dan bertanya apakah Anju mau diantar pulang. Anju menggeleng dan bilang ia akan naik ojol. Bagas tidak memaksa. Ia mengeluarkan jas hujan plastik dari kantong jaketnya, jas hujan yang sama dari minimarket depan kampus, dan meletakkannya di bangku di sebelah Anju. Ia hanya bilang supaya Anju hati-hati, lalu berjalan ke parkiran tanpa menoleh lagi.

Anju duduk di bangku itu sampai hujan benar-benar berhenti dan lampu-lampu jalan mulai menyala. Jas hujan itu masih terlipat di sebelahnya. Ia tidak memakainya, tapi ia membawanya pulang.

Sejak hari itu, setiap malam, ada satu pesan dari Bagas di ponselnya.

Selalu pesan yang sama, dua kata tanpa huruf kapital dan tanpa tanda baca yang benar. udah makan? Bagas tidak pernah menambahkan apa-apa lagi. Tidak pernah menanyakan kapan Anju siap, tidak pernah mengirim pesan panjang, tidak pernah meminta Anju membalas. Ia hanya mengirimnya setiap malam, kadang pukul delapan, kadang pukul sebelas, dan sekali pukul tiga pagi setelah pertandingan besar yang Anju tonton dengan suara dimatikan dari kamar kosnya, pertandingan di mana Prime menang dan Bagas mencetak sebelas kill.

Anju tidak pernah membalas. Tapi ia juga tidak pernah menghapus satu pesan pun.

***

Suatu malam di akhir bulan, Ren mengirim foto tanpa keterangan apa-apa. Foto ruang latihan di gaming house, diambil dari belakang kursi. Monitor Bagas menyala, dan di sudut kanan bawahnya, kertas tempel kuning itu masih menempel di sana. Warnanya sudah sedikit pudar, ujungnya mulai melengkung, dan ada selotip bening yang ditambahkan di atasnya supaya tidak jatuh. Tapi tulisannya masih bisa dibaca dengan jelas.

Anju memandangi foto itu lama sekali. Lalu ponselnya bergetar, dan pesan dari Bagas masuk seperti biasa.

udah makan?

Ia mengetik satu kata. udah. Jarinya berhenti di atas tombol kirim selama hampir satu menit. Lalu ia menghapusnya pelan-pelan, huruf demi huruf, meletakkan ponselnya di samping bantal dengan layar menghadap ke atas, dan memejamkan mata.

Malam itu ia tidak membalas. Tapi ia juga tidak bisa tidur sampai pagi.

Selesai

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)