"Kamu membayangkan punya anak?"
Pertanyaan itu muncul lima menit setelah kopi kami datang.
Aku menatap perempuan di depanku beberapa detik sebelum tertawa kecil. Biasanya orang memulai pertemuan pertama dengan menanyakan pekerjaan, makanan favorit, atau tempat liburan impian. Namun, ia justru langsung melompat ke sesuatu yang biasanya baru dibicarakan setelah hubungan berjalan bertahun-tahun.
"Langsung ke topik berat?" tanyaku, lalu menyesap espresoku yang masih mengepul.
Ia mengangkat bahu santai, lalu menopang dagu dengan satu tangan. "Kita sudah bukan umur untuk bertanya warna favorit."
Aku tidak bisa membantahnya. Kalimat itu telak.
Di luar jendela kafe, matahari sore mulai turun perlahan. Cahaya keemasan menembus kaca, menyentuh meja kayu tempat dua cangkir kopi kami berdiri berdampingan. Suasana kafe cukup tenang. Musik jaz instrumental mengalun samar di latar belakang, memberikan ruang yang pas untuk percakapan yang ti...