Disukai
1
Dilihat
17
Lulun Samak
Horor
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Banjarnegara siang itu terasa membara. Panasnya menyengat, membuat aspal di pinggiran desa tampak bergelombang karena biasnya. Di telinga bocah-bocah Desa Mandiraja, suara gemericik Sungai Serayu yang mengalir di balik rimbunnya rumpun bambu merupakan godaan yang tak tertahankan. Bagi mereka, tak ada yang lebih menyenangkan daripada ciblon—bermain air, melompat dari tebing cadas, dan membiarkan kulit mereka yang legam jatuh ke dalam kedung (lubuk sungai yang dalam) dengan airnya yang segar.

Di antara gerombolan bocah-bocah itu, Rian adalah sang "Raja Kedung". Tubuhnya kecil tapi sangat lincah, dengan paru-paru yang sudah seperti insang. Ia bisa menyelam dari satu sisi lubuk ke sisi lainnya tanpa sekali pun muncul ke permukaan. 

Tapi di sana, ada satu tempat yang selalu diwanti-wanti oleh para sesepuh agar jangan pernah didekati yaitu Kedung Mayit.

Sebuah ceruk sungai yang airnya sangat tenang, nyaris tidak bergerak di permukaan, namun menyimpan pusaran bawah yang mampu menghisap batang pohon kelapa sekalipun. Di sanalah, legenda tentang Lulun Samak—sang hantu tikar—hidup subur dalam bisik-bisik ketakutan warga.

"Rian! Lihat itu! Ada rejeki nomplok!" teriak Anto, salah satu temannya, sambil menunjuk ke tengah-tengah Kedung Mayit yang ten...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp5.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)