Disukai
0
Dilihat
10
Ego di Puncak Bala
Thriller
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Udara di pelosok Jawa Tengah pagi itu terasa sangat menyegarkan. Di hadapan mereka, Gunung Bala berdiri kokoh berselimut kabut tipis. Tidak ada pos pendakian, tidak ada jalur setapak yang jelas, hanya deretan pohon raksasa yang saling tumpang tindih dengan semak berduri dan suara gemuruh rendah yang entah berasal dari perut bumi atau hanya sekadar imajinasi mereka.

Guntur meletakkan carrier-nya di tanah yang lembab. Ia menatap enam sahabatnya satu persatu—Galang, Bima, Tejo, Sarah, Dina, dan Maya. Wajah-wajah itu tampak sangat bersemangat, dan siap menaklukan gunung di depan mereka.

"Gue ulangi sekali lagi," suara Guntur memecah kesunyian, lebih serius dari biasanya. "Gunung ini nggak seperti gunung yang pernah kita daki sebelumnya, gunung ini nggak ada di peta pendakian populer. Nggak ada Ranger, nggak ada sinyal, dan kalau sesuatu terjadi, nggak akan ada yang tahu kita di sini. Kita bakal buka jalur sendiri lewat hutan itu."

Ia menjeda, matanya tertuju pada Galang yang sedang sibuk mengecek botol sampel di tasnya.

"Siapa pun yang mau mundur, mending sekarang. Nggak ada yang bakal anggap kalian pengecut. Tapi kalau kita sudah masuk ke dalam sana," Guntur menunjuk ke arah barisan pohon raksasa yang gelap, "kita harus satu komando. Kesampingkan ego kalian. Gunung ini bukan tempat buat pamer kekuatan."

Galang malah nyengir, tangannya nepuk bahu Guntur. "Elah, Tur, santai kali. Kita udah sering nanjak bareng juga. Lagian sayang banget kalo balik nggak bawa apa-apa, skripsi kita taruhannya nih."

Tejo mendengus, sementara Bima hanya mengencangkan tali sepatunya sambil melirik Maya yang tampak ragu. Namun, tidak ada yang beranjak. Harga diri mereka jauh lebih besar daripada rasa takut pada gunung yang namanya bahkan tidak dikenal orang kota itu.

"Oke," Gunt...

Baca cerita ini lebih lanjut?
Rp5.000
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi