Peternakan Nenek

Aku selalu enggan jika Ibu menyuruhku untuk membantu nenek mengurus peternakannya.

Jelas saja. Aku tak suka kotor. Aku tak suka hewan. Aku tak suka nenek.

Yang paling penting, aku tak suka peternakannya.

Nenek punya lima ayam, dua sapi, dan tiga kambing dan dua babi. Keduabelas hewan ternaknya membenciku--tak masalah, siapa juga yang suka dengan lima ayam bau yang susah menghasilkan telur, juga dua sapi yang tak pernah mengeluarkan susu, atau tiga kambing yang hanya terus-terusan meminta makan, dan dua babi yang kerjaannya hanya tidur, makan, dan bermain.

Apalagi saat malam hari. Mereka semua kerap mengeluarkan suara bising. Si babi menguik, Ayam berkokok dan berkotek, Sapinya melenguh, dan para kambing mengembik ganas macam tau saja kalau aku tidur tepat di sebelah rumah mereka.

Peternakan nenek menjadi semakin aneh pada malam saat nenek mati.

Tak ada kebisingan di sana.

Kemudian pagi harinya, aku menemukan ayam-ayam nenek bermata delapan, sapinya menjadi satu--menyatu, muncul enam tanduk tambahan di masing-masing kambing, lalu... para babi memiliki kaki dan tangan yang terlihat seperti manusia.

Dan parahnya... mereka mulai mengejarku.

4 disukai 3 komentar 4K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
absurd. dan bagi saya terlalu tiba-tiba.
Absurd tapi serem.
Singkat dan seram. Ada makna lain kah dari hewan hewan ternak nenek?
Saran Flash Fiction