Disukai
1
Dilihat
8
Lelaki Kehilangan
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Pagi itu, langit menggantung seperti selembar kain abu-abu yang lupa dijemur matahari. Tidak ada hujan, tetapi udara tetap menyimpan aroma tanah basah, seolah semalam bumi diam-diam menangis tanpa suara.

Aku berdiri di depan cermin yang mulai kusam dimakan usia. Retakan kecil menjalar dari sudut kiri bawah menuju tengah permukaan kaca, membelah pantulan wajahku menjadi dua bagian yang tak pernah benar-benar menyatu.

Sudah lama aku memiliki kebiasaan aneh. Setiap pagi, sebelum dunia mengingatkanku bahwa aku masih hidup, aku lebih dulu bertanya kepada lelaki di dalam cermin.

"Siapa sebenarnya yang sedang kau tangisi?"

Pantulan itu tak pernah menjawab. Ia hanya memandangiku dengan mata yang sama lelahnya. Mata yang dipenuhi lingkar hitam, seakan semalaman digunakan untuk menjaga kenangan agar tidak kabur dari ingatan. Kadang aku berpikir, mungkin yang berdiri di balik kaca bukanlah bayanganku. Mungkin ia adalah lelaki yang dahulu pernah hidup di dalam tubuh ini, tetapi memilih tinggal di sana ketika perempuan itu pergi. Sedangkan aku … hanyalah sisa-sisa dirinya yang dipaksa meneruskan hidup.

Aku tersenyum kecil. Senyum yang bahkan gagal meyakinkan diriku sendiri.

Apartemen ini terlalu sunyi untuk dihuni seorang manusia. Dinding-dindingnya menyimpan gema langkah kaki yang tak lagi terdengar. Rak buku masih dipenuhi novel-novel yang dulu kami beli berdua setiap akhir bulan. Sebagian bahkan masih menyimpan pembatas buku buatannya, potongan kertas kecil bertuliskan kalimat-kalimat sederhana yang dahulu terasa begitu abadi.

"Kalau nanti kita tua, jangan pernah berhenti membaca bersamaku."

Aku memejamkan mata.

Lucu. Kalimat sesederhana itu ternyata mampu bertahan lebih lama daripada janji-janji besar yang pernah kami ucapkan.

Aku berjalan menuju dapur. Ketel tua mulai mendesis ketika air mendidih. Aroma kopi memenuhi ruangan, tetapi tak lagi menghadirkan rasa hangat. Menyeruput kopi kini hanya kebiasaan. Sama seperti bernapas. Kulakukan bukan karena menikmatinya, tapi karena tubuhku belum menemukan cara lain untuk tetap hidup.

Di meja makan masih ada dua kursi. Entah mengapa aku tak pernah memindahkan salah satunya. Mungkin karena jauh di dasar hati yang paling bodoh, aku masih berharap suatu hari akan ada seseorang yang menarik kursi itu, duduk sambil mengeluh karena kopiku terlalu pahit, lalu tersenyum seperti dulu. Harapan memang makhluk yang keras kepala. Ia tetap tinggal bahkan ketika logika sudah mengusirnya berkali-kali.

Aku membawa cangkir ke balkon. Dari lantai dua belas, kota tampak seperti kumpulan manusia yang sedang berlomba melupakan sesuatu. Mobil-mobil bergerak tergesa. Orang-orang menundukkan kepala, mengejar jam kerja, mengejar mimpi, atau mungkin mengejar dirinya sendiri yang lebih dulu hilang. Aku iri kepada mereka. Barangkali mereka masih memiliki tujuan. Sedangkan aku hanya memiliki rutinitas. Dulu, perempuan itu pernah berkata bahwa setiap kota memiliki cara sendiri untuk menyembuhkan hati manusia.

"Waktu akan membuatmu lupa," katanya sambil menyandarkan kepala di pundakku.

Aku tertawa saat itu. Aku pikir lupa adalah pekerjaan paling mudah di dunia. Kini aku tahu bahwa ternyata aku keliru. Waktu tidak menghapus apa pun. Ia hanya mengajari kenangan cara bersembunyi. Kenangan itu hidup di aroma kopi, di kursi kosong, di lagu yang tiba-tiba diputar minimarket, di hujan pertama bulan Oktober, bahkan pada warna langit yang kebetulan sama seperti hari ketika ia memutuskan pergi.

Aku tidak pernah benar-benar kehilangan dirinya dalam satu hari. Aku kehilangannya sedikit demi sedikit. Di setiap pagi yang tak lagi diawali pesan singkat. Di setiap malam yang tak lagi diakhiri percakapan panjang. Di setiap akhir pekan yang berubah menjadi ruang kosong. Dan tanpa kusadari, bersamaan dengan hilangnya perempuan itu, ada sesuatu di dalam diriku yang ikut tercabut. Semula kukira itu hanya kebahagiaan. Belakangan aku sadar, yang hilang jauh lebih besar daripada itu.

Aku kehilangan diriku sendiri.

 

Sudah hampir setahun aku bekerja sebagai editor di sebuah penerbit kecil. Ironisnya, setiap hari aku memperbaiki cerita orang lain sementara hidupku sendiri terasa seperti naskah yang kehilangan halaman terakhir. Di meja kerjaku selalu ada tumpukan manuskrip. Novel cinta. Memoar. Puisi. Cerita perjalanan. Anehnya, semua tokoh dalam buku-buku itu selalu berhasil menemukan sesuatu pada akhir kisah mereka. Mereka menemukan cinta, pengampunan, keluarga, atau setidaknya alasan untuk terus berjalan.

Sedangkan aku, setiap pulang kerja, aku tetap kembali menjadi lelaki yang berdiri di depan cermin dan bertanya pada diri sendiri mengapa rasa kehilangan bisa bertahan lebih lama daripada rasa memiliki.

Siang itu seorang penulis muda mengirimkan kumpulan puisi. Aku membaca halaman pertamanya tanpa minat. Namun mataku berhenti pada satu kalimat.

"Yang paling sulit dilupakan bukan orangnya, tapi versi diri kita saat masih ia cinta."

Tanganku gemetar. Aku menutup naskah itu perlahan. Kalimat tersebut seperti seseorang yang diam-diam membuka pintu ruang paling gelap dalam dadaku. Selama ini aku selalu mengira aku merindukan perempuan itu. Ternyata tidak sepenuhnya. Yang paling kurindukan justru lelaki yang pernah hidup ketika ia masih ada. Lelaki yang tertawa tanpa alasan. Yang percaya bahwa dunia selalu menyediakan tempat pulang. Yang menulis puisi tentang bunga-bunga yang bermekaran, bukan tentang ranting-ranting yang patah. Lelaki yang tak pernah takut mencintai karena belum mengenal rasa ditinggalkan.

Aku menatap layar komputer yang mulai kabur oleh air mata. Kini, aku menyadari satu kenyataan yang jauh lebih menakutkan daripada perpisahan. Barangkali, perempuan itu memang telah pergi. Namun lelaki yang dulu mencintainya mungkin juga telah mati pada hari yang sama.

 

Langit sore memantulkan warna jingga yang pucat di balik jendela kantor saat aku memutuskan pulang lebih awal. Kalimat dalam manuskrip itu terus mengikutiku seperti gema yang menolak padam.

"Yang paling sulit dilupakan bukan orangnya, tapi versi diri kita saat masih ia cinta."

Sepanjang perjalanan, kota terasa begitu asing. Lampu-lampu kendaraan mulai menyala satu demi satu, membentuk garis-garis cahaya yang memanjang di atas aspal basah. Orang-orang bergegas pulang menuju rumah yang mungkin telah menunggu mereka dengan secangkir teh hangat, suara televisi, atau pelukan seseorang.

Sementara aku hanya pulang menuju sepi.

Ada kalanya kesunyian terdengar lebih bising daripada keramaian. Sebab ada suara-suara yang tidak pernah didengar orang lain. Suara jam dinding yang berdetak terlalu keras. Dengung kulkas yang tiba-tiba terdengar seperti rintihan. Derit pintu yang menyerupai seseorang sedang mengucapkan namaku dari ruangan kosong. Malam selalu menjadi waktu paling jujur. Siang masih mampu menyamarkan luka dengan pekerjaan. Orang-orang menyebutnya kesibukan. Padahal sering kali, itu hanyalah cara paling sopan untuk melarikan diri dari diri sendiri.

Sesampainya di apartemen, aku tidak langsung menyalakan lampu. Aku membiarkan ruangan tetap remang. Cahaya senja yang masuk melalui jendela cukup untuk memperlihatkan bentuk-bentuk perabot yang telah kukenal luar kepala. Sofa abu-abu di sudut ruangan. Rak buku yang mulai penuh. Tanaman monstera yang perlahan mengering karena lupa kusiram selama berminggu-minggu.

Dulu, ia selalu marah jika aku lupa menyiram tanaman.

"Tanaman itu hidup," katanya suatu pagi sambil mencubit lenganku dengan pelan. "Dia juga butuh diperhatikan."

Waktu itu aku hanya tertawa. "Lalu kalau aku lupa menyiram kamu?"

Ia menggeleng kecil. "Aku bukan tanaman."

"Kamu apa?"

Ia memandangku lama. Tatapannya begitu tenang hingga aku bisa melihat langit memantul di kedua matanya.

"Aku rumah."

Aku tidak langsung memahami maksudnya saat itu. Kupikir rumah hanyalah tempat yang punya atap, dinding, dan alamat. Baru setelah ia pergi, aku mengerti bahwa rumah ternyata adalah seseorang yang membuatmu berhenti merasa asing di dunia. Dan sejak kehilangan rumah itu, ke mana pun aku pergi, rasanya seperti menjadi pengembara yang lupa jalan pulang.

 

Aku membuka laci meja kerja di kamar. Sudah lama aku tidak menyentuh isinya. Di sana tersimpan sebuah kotak kayu kecil berwarna cokelat tua. Sudut-sudutnya mulai kusam, engselnya sedikit berkarat. Kotak itu tidak pernah kubuang, meski berkali-kali aku berjanji pada diri sendiri untuk melakukannya. Konon, manusia hanya memerlukan keberanian beberapa detik untuk membuang kenangan. Masalahnya, aku tak pernah benar-benar berhasil memiliki beberapa detik itu.

Aku membuka kotak tersebut perlahan. Di dalamnya masih tersimpan tiket bioskop pertama kami. Struk pembelian kopi yang tintanya hampir hilang. Foto polaroid dengan warna yang mulai memudar. Surat kecil dengan tulisan tangannya yang selalu sedikit miring ke kanan.

"Kalau suatu hari kita bertengkar, jangan buru-buru menyerah. Tidak semua luka harus berakhir jadi perpisahan."

Aku membaca kalimat itu berkali-kali. Ada ironi yang begitu kejam di dalamnya. Kami tidak pernah berpisah karena satu pertengkaran besar. Kami berpisah karena ribuan hal kecil yang dibiarkan tumbuh menjadi jurang. Kesibukan, ego, diam yang terlalu panjang, maaf yang terlambat, dan keyakinan bodoh bahwa cinta akan selalu menunggu tanpa perlu dirawat.

Aku teringat malam ketika semuanya mulai berubah. Saat itu hujan turun begitu deras. Jalanan macet total. Ia menungguku hampir dua jam di sebuah kafe kecil dekat stasiun. Aku datang dengan tubuh basah dan wajah lelah.

"Aku minta maaf." Hanya itu yang keluar dari mulutku.

Ia tersenyum. Namun senyum itu berbeda. Tidak lagi sehangat biasanya.

"Capek, ya?"

Aku mengangguk. Ia menatapku beberapa detik, lalu mengaduk kopi yang sebenarnya sudah dingin.

"Aku juga."

Aku kira yang ia maksud adalah lelah menunggu sore itu. Padahal ternyata, ia sedang lelah memperjuangkan hubungan yang perlahan kehilangan arah. Sering kali, kehancuran tidak datang seperti badai. Ia datang seperti rayap yang diam, tak terdengar, lalu menggerogoti sedikit demi sedikit hingga suatu hari seluruh bangunan runtuh hanya karena sentuhan kecil. Dan aku terlalu sibuk memperbaiki hal-hal besar, sampai tidak sadar ada ribuan lubang kecil yang sedang menghabisi kami.

 

Aku mengambil sebuah foto yang diambil lima tahun lalu. Kami berdiri di tepi pantai menjelang matahari tenggelam. Rambutnya diterbangkan angin. Aku tertawa karena ombak tiba-tiba membasahi celanaku. Ia tidak menatap kamera, tetapi menatapku. Aku baru menyadarinya sekarang. Barangkali seseorang memang hanya benar-benar melihatmu ketika ia mencintaimu. Sedangkan kamera hanya mengabadikan tubuh. Cinta mengabadikan cara seseorang memandangmu.

Aku menyentuh permukaan foto itu dengan ujung jari. Warna-warnanya mulai memudar. Anehnya, justru kenangannya semakin jelas. Aku masih ingat suara tawanya. Cara ia menggenggam jemariku saat menyeberang jalan, padahal sebenarnya akulah yang lebih takut kehilangan dirinya daripada ia takut ditabrak kendaraan. Cara ia selalu memesan makanan lebih banyak, lalu menghabiskan makananku juga. Cara ia tertidur ketika membaca novel, sementara buku itu tetap terbuka di dadanya.

Kenangan memang makhluk yang aneh. Ia tidak pernah menua. Yang menua hanyalah orang yang dipaksa mengingat.

 

Malam semakin larut. Aku kembali berdiri di balkon. Angin membawa aroma hujan dari kejauhan. Di bawah sana, kota masih sibuk. Gedung-gedung menjulang dengan ribuan jendela yang menyala seperti bintang-bintang buatan manusia. Aku membayangkan, di balik salah satu jendela itu, mungkin ada seseorang yang sedang memeluk kekasihnya. Di jendela lain, ada pasangan yang bertengkar lalu saling meminta maaf. Di tempat lain lagi, ada seseorang yang baru saja jatuh cinta. Dunia tidak pernah berhenti melahirkan kisah baru. Hanya aku yang terus tinggal pada kisah lama. Lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul begitu saja.

Bagaimana jika selama ini aku memang tidak pernah berusaha keluar? Bagaimana jika aku diam-diam menikmati kesedihan ini? Sebab selama aku masih bersedih, aku masih merasa memiliki alasan untuk terus mengingatnya. Jika aku benar-benar sembuh, bukankah itu berarti aku harus mengakui bahwa ia telah menjadi masa lalu?

Dadaku mendadak sesak. Aku baru menyadari bahwa mungkin aku tidak sedang mempertahankan cinta, tapi justru mempertahankan luka. Karena luka adalah satu-satunya bukti yang masih tersisa bahwa ia pernah begitu nyata dalam hidupku. Tanpa luka itu, aku takut seluruh kisah kami akan berubah menjadi mimpi yang perlahan dilupakan pagi.

Angin malam berembus lebih dingin. Di balik kaca pintu balkon, bayanganku kembali terlihat samar. Aku memandang lelaki itu lama. Kali ini aku tidak bertanya siapa yang sedang ia tangisi. Aku justru bertanya sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

"Kalau suatu hari nanti aku benar-benar sembuh, apakah masih ada bagian diriku yang tersisa untuk mengenangnya?"

 

Pagi datang tanpa banyak suara. Matahari menyelinap melalui celah gorden, memantulkan cahaya pucat ke lantai kayu yang dingin. Setelah sekian lama, aku tidak berdiri di depan cermin. Bukan karena lelaki di dalam sana telah pergi. Namun karena aku mulai lelah menginterogasi seseorang yang sebenarnya sama bingungnya denganku.

Aku menyeduh kopi seperti biasa. Masih pahit. Masih tanpa gula. Namun pagi itu ada sesuatu yang terasa berbeda. Aku memindahkan kursi yang selama bertahun-tahun sengaja kubiarkan kosong. Perlahan. Nyaris tanpa suara. Kursi itu kugeser ke sudut ruangan. Dadaku terasa seperti seseorang yang baru saja mencabut paku yang telah lama menancap di dalamnya. Sakit, tetapi sekaligus melegakan.

Aku tersenyum kecil. Mungkin beginilah rasanya menerima. Menata ulang tempat kenangan agar ia tidak lagi menghalangi jalan pulang.

 

Hari-hari berikutnya berlalu seperti air yang akhirnya menemukan hilir. Aku masih bekerja di penerbit yang sama. Masih membaca manuskrip. Masih memperbaiki kalimat-kalimat yang tersandung. Namun ada sesuatu yang mulai berubah. Setiap kali menemukan tokoh yang kehilangan seseorang, aku tidak lagi buru-buru berharap mereka bersatu kembali. Aku justru mencari bagaimana mereka bertahan. Bagaimana mereka tetap hidup setelah dunia mengambil sesuatu yang paling mereka cintai. Barangkali karena aku mulai memahami bahwa keberanian terbesar bukanlah memperjuangkan cinta, tapi tetap mencintai hidup setelah cinta itu selesai.

Suatu sore, seorang penulis datang ke kantor. Usianya mungkin belum genap dua puluh lima tahun. Ia tampak gugup ketika menyerahkan naskahnya.

"Mas."

Aku mendongak.

"Kalau menurut Mas, orang bisa benar-benar melupakan seseorang?"

Aku terdiam cukup lama. Pertanyaan itu seperti mengembalikan ingatanku kepada lelaki yang dahulu setiap pagi berdiri di depan cermin.

Aku menggeleng pelan. "Kurasa tidak."

Wajahnya sedikit muram. "Lalu bagaimana caranya supaya tidak sakit lagi?"

Aku memandang jendela. Langit tampak sedang biru. Awan bergerak perlahan. Burung-burung melintas tanpa pernah membawa masa lalu mereka.

"Mungkin," kataku pelan, "bukan sakitnya yang hilang."

"Lalu?"

"Kita saja yang tumbuh lebih besar daripada rasa sakit itu."

Ia diam. Begitu pun aku. Kadang jawaban terbaik memang lahir dari luka yang telah cukup lama tinggal.

 

Malam itu, aku membuka kembali laptop yang berisi kumpulan puisi lamaku. Puluhan berkas memenuhi layar. Semuanya ditulis ketika aku masih percaya bahwa cinta adalah tujuan akhir kehidupan.

Aku membaca satu per satu. Beberapa membuatku tertawa. Sebagian lagi membuatku malu sendiri. Ternyata aku pernah sebegitu naif. Aku pernah menulis bahwa cinta mampu mengalahkan segala hal. Kini aku tahu, cinta tidak selalu menang. Kadang ia kalah oleh waktu. Kadang oleh jarak. Kadang oleh dua manusia yang sama-sama saling mencintai, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara mempertahankan satu sama lain. Dan itu tidak membuat cinta menjadi palsu. Justru karena nyata, ia bisa terluka.

Aku membuat sebuah dokumen baru. Jari-jariku menggantung lama di atas papan ketik. Entah sejak kapan aku berhenti menulis. Mungkin sejak semua kata hanya berani menyebut namanya. Kini aku ingin mencoba menulis tanpa menjadikannya tujuan setiap kalimat. Kuketik sebuah judul: Lelaki Kehilangan.

Tak lama, aku berhenti dengan tersenyum. Betapa anehnya manusia. Kadang ia baru mampu menceritakan sebuah luka ketika darahnya telah berubah menjadi tinta.

 

Musim terus berganti. Hujan datang dan pergi. Pohon-pohon di taman depan apartemen kembali menghijau setelah sekian lama meranggas. Suatu akhir pekan, aku memutuskan berjalan kaki tanpa tujuan. Aku melewati toko buku yang dulu sering kami datangi. Kafe kecil tempat kami pernah menghabiskan sore. Halte tempat ia selalu melambaikan tangan sebelum bus datang. Namun, tidak ada lagi rasa sesak yang biasa menyergap. Yang datang hanyalah keheningan yang tenang. Seperti danau yang akhirnya berhenti berperang dengan angin.

Aku sadar bahwa kenangan ternyata tidak pernah berubah. Yang berubah hanyalah cara kita memeluknya. Dulu aku menggenggamnya terlalu erat hingga jemariku sendiri terluka. Kini aku membiarkannya duduk di sampingku tanpa memaksanya pergi, dan tanpa memintanya kembali.

 

Menjelang senja, langkahku berhenti di sebuah jembatan kecil. Air sungai mengalir tenang di bawahnya. Aku mengeluarkan dompet. Di sela-selanya masih tersimpan foto polaroid itu. Foto yang selama ini selalu kubawa ke mana pun.

Aku memandangnya cukup lama. Wajah kami masih sama. Masih muda. Masih penuh keyakinan bahwa dunia akan selalu berpihak kepada cinta. Aku tidak membuang foto itu. Aku hanya memasukkannya kembali ke dalam dompet.

Beberapa kenangan memang tidak diciptakan untuk disingkirkan. Ia hanya perlu berhenti menjadi tempat kita tinggal. Karena rumah yang terlalu lama dihuni masa lalu, perlahan akan kehilangan pintu menuju masa depan.

Aku mengangkat wajah. Langit sore membentang begitu luas. Tiba-tiba aku teringat kalimatnya bertahun-tahun lalu.

"Aku rumah."

Aku menghela napas panjang.

"Kalau begitu, maafkan aku," bisikku kepada angin. "Selama ini aku terus mencari rumah di dalam dirimu, padahal aku lupa membangunnya kembali di dalam diriku sendiri."

Air mataku jatuh. Namun kali ini berbeda. Rasanya tidak seperti hujan yang merobohkan. Ia lebih menyerupai embun yang perlahan membersihkan kaca. Aku akhirnya mengerti. Kehilangan bukanlah hukuman karena pernah mencintai. Ia adalah cara hidup yang mengajarkan bahwa setiap pertemuan selalu membawa kemungkinan untuk berpisah. Dan mencintai, sejak awal, memang berarti bersedia menerima keduanya.

Aku tidak lagi ingin menjadi lelaki yang hidup di reruntuhan. Aku ingin menjadi lelaki yang mengenang rumahnya tanpa terus menetap di sana. Sebab rumah itu memang telah runtuh. Tetapi dari puing-puingnyalah aku belajar membangun diriku kembali. Mungkin aku tidak akan pernah menjadi lelaki yang sama seperti dulu. Dan mungkin memang tidak seharusnya. Sebab manusia tidak diciptakan untuk kembali menjadi dirinya yang lama. Ia diciptakan untuk berjalan. Membawa luka sebagai bekas perjalanan, bukan sebagai alamat tujuan.

Aku tersenyum kepada langit, lalu melangkah pelan tanpa terburu-buru. Kali ini, aku tidak merasa sedang meninggalkan seseorang. Aku hanya sedang kembali pulang kepada diriku sendiri.

 

-II-

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi