Riverton cenderung tidur lebih awal daripada kota-kota lain di sekitarnya. Setelah toko kelontong terakhir menutup pintunya dan lampu-lampu di sepanjang jalan utama diredupkan, hanya sedikit bangunan yang masih menyisakan cahaya. Klinik kecil di ujung jalan termasuk salah satunya. Lampunya tetap menyala bukan karena jadwal praktik yang ketat, melainkan karena kebiasaan lama. Di kota sekecil ini, kadang orang datang bukan karena sakit, tapi karena tidak punya tempat lain yang cukup terang.
Di dalam, udara bercampur antara antiseptik, kertas tua, dan kayu yang menyerap kelembapan musim hujan. Dr. Robert Hale masih duduk di belakang meja, mengenakan jas putih yang lengannya sudah dilipat, membaca ulang laporan yang tak terlalu penting. Tidak ada keadaan darurat malam itu. Di kota seperti ini, orang jarang datang dengan luka tembak atau tikaman. Kalau pun ada yang terluka, biasanya karena kecelakaan kerja, bukan kejahatan.
Ketika pintu diketuk, suara itu terdengar wajar. Robert menunggu sejenak sebelum menjawab, lebih karena refleks profesional daripada kewaspadaan. Ketukan kedua menyusul dengan ritme yang sama.
“Masuk saja,” katanya.
“Klinik masih buka?” tanya pria itu, suaranya serak namun terjaga.
“Jam praktik malam. Masuk,” jawab Robert.
Pria yang masuk itu tidak tampak seperti orang yang sedang sekarat, namun juga jelas bukan orang yang sehat. Tubuhnya tegap, hampir terlalu terkendali, seolah ia menahan dirinya sendiri agar tidak runtuh. Jaket gelapnya basah oleh hujan, rambutnya menempel di dahi, dan wajahnya pucat dengan cara yang membuat Robert merasa tidak nyaman. Itu bukan pucat orang sakit biasa, melainkan pucat seseorang yang telah terlalu lama berjalan tanpa istirahat. Ada sesuatu dalam caranya berdiri, dalam bagaimana ia membagi berat tubuhnya, yang membuat Robert segera berdiri dari kursinya sebelum sempat berpikir panjang.
Ia menunjuk kursi periksa dan mulai bergerak, mengambil sarung tangan, mengamati dengan cepat cara pria itu duduk perlahan, hampir terlalu berhati-hati. Ini bukan sikap orang yang takut disuntik atau dibedah, melainkan kehati-hatian seseorang yang terlalu terbiasa hidup dengan luka dan tahu persis seberapa jauh ia bisa membiarkan dirinya rileks.
Robert memulai pemeriksaan dasar tanpa banyak bicara. Napas pria itu stabil. Tidak terengah. Tidak ada gemetar. Denyut jantung teratur, hampir terlalu konsisten. Tetapi tekanan darah di bawah rata-rata, 80/50. Angka yang seharusnya menyebabkan orang normal pingsan atau mengalami syok hipovolemik.
Namun pria itu tetap duduk tegak.
“Kapan terakhir kali kau makan?” tanya Robert.
Pria itu terdiam sejenak. “Sudah lama,” jawabnya singkat.
Jawaban yang terlalu umum, terlalu datar, dan tidak sepenuhnya menjelaskan kelelahan yang tampak di hadapannya.
Saat jaket itu dibuka sebagian, Robert melihat bekas luka di bawah kain. Ada jaringan yang seharusnya sudah pulih, namun berhenti di tengah proses. Bukan luka segar, bukan infeksi, bukan pula bekas operasi. Ini luka lama yang tidak tahu cara menyelesaikan dirinya sendiri. Robert menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, merasa ada sesuatu yang tidak cocok dengan pengetahuan medis yang ia miliki.
“Sudah berapa lama?” tanyanya, suara rendah.
“Sekitar sebulan,” jawab pria itu, tanpa ragu.
Sebulan. Waktu yang cukup bagi tubuh manusia sehat untuk memperbaiki dirinya, bahkan tanpa perawatan optimal. Namun pria ini duduk di hadapannya dengan bekas luka yang tampak seperti berhenti berkembang, seolah proses penyembuhan itu sendiri tersendat oleh sesuatu yang tidak terlihat. Robert melanjutkan pemeriksaan, semakin sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan kasus yang tidak bisa disederhanakan.
Robert masih menunduk, memperhatikan luka lama yang tidak kunjung menutup itu, ketika pria tersebut akhirnya berbicara lagi.
“Aku tidak butuh jahitan,” katanya. Suaranya rendah, terkontrol. “Dan aku juga tidak butuh transfusi penuh.”
Robert mengangkat kepala. “Kalau begitu, apa yang kau butuhkan?”
Pria itu terdiam lagi. Tatapannya tidak tertuju pada luka, juga tidak pada Robert, melainkan pada lantai putih yang mulai kusam oleh usia.
“Satu kantong darah,” katanya akhirnya.
Robert tidak langsung menjawab. Ia menyandarkan berat tubuhnya sedikit ke meja periksa, menatap pasien di depannya dengan lebih saksama. “Alasan medisnya?” tanyanya, datar.
“Untuk bertahan,” jawab pria itu.
Nada suaranya bukan nada orang yang panik, bukan pula nada permohonan. Ia mengatakannya seperti seseorang menyebut kebutuhan dasar—air, udara, atau tidur. Justru ketenangan itulah yang membuat Robert merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
“Bertahan dari apa?” Robert bertanya lagi.
“Dari kondisi ini.”
“Kondisi apa?” desaknya.
Pria itu akhirnya mengangkat kepala. Robert sudah bersiap mendengar keluhan biasa seperti nyeri lama, infeksi yang tak kunjung sembuh, atau luka yang dibalut asal-asalan karena seseorang terlalu keras kepala untuk datang lebih cepat. Ia bahkan sudah meraih pena, siap mencatat.
Namun, jawabannya datang tanpa drama.
“Kondisi biologis,” kata pria itu datar. “Bahwa vampir tidak bisa beregenerasi atau sembuh tanpa darah manusia.”
Robert membeku. Bukan hanya sepersekian detik, tapi cukup lama hingga suara dengung pendingin ruangan terdengar memekakkan telinga. Ia tidak salah dengar.
Vampir.
Tubuhnya bereaksi segera. Kursi di belakangnya berderit ketika ia sontak berdiri, langkahnya mundur setengah meter ke balik meja. Laci di dekat lemari obat terbuka dengan tarikan kasar, dan senapan yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia gunakan kini sudah berada di genggamannya.
“Apa yang barusan kau katakan?” suara Robert mengeras. Moncong senapan terarah lurus. Laras logamnya terasa seperti es di telapak tangan yang tiba-tiba berkeringat.
Pria itu tidak bereaksi seperti yang diharapkan Robert. Ia tidak meloncat mundur. Tidak mengangkat tangan. Tidak menggeram atau memperlihatkan taring. Ia hanya berdiri di tempatnya, bahu sedikit turun, seolah mengerti bahwa inilah harga dari kejujuran yang baru saja ia pilih.
“Aku vampir,” katanya lagi, tanpa embel-embel. “Dan aku tidak akan sembuh tanpa darah manusia.”
Robert tetap berdiri di tempatnya, jari masih menyentuh pelatuk senapan. Matanya tidak bergerak dari wajah pria itu. Ia tidak ingin percaya. Tapi ia juga tidak bisa menertawakannya. Ia pernah membayangkan momen ini—setiap orang di kota ini pernah membayangkannya, entah dalam bentuk mimpi buruk atau bisik-bisik di bar. Di New York atau Los Angeles, ‘vampir’ hanyalah cerita konyol, mudah hilang di antara jutaan wajah dan berita besar. Tapi ini Riverton. Di sini, setiap wajah dikenal. Setiap rumor adalah setengah kebenaran. Ketakutan akan menyebar lebih cepat daripada api padang rumput; tidak akan ada liputan berita nasional, hanya keheningan ketakutan di setiap rumah. Namun, beberapa tahun terakhir kota ini tenang. Tidak ada kasus yang membuat polisi terpaksa diam-diam memanggil hunter dari luar—jasad yang ditemukan kering, tak berwarna, seperti habis diperas kehidupannya.
Beberapa tahun lalu, Robert pernah dimintai bantuan sebagai koroner. Seorang wanita muda ditemukan tak bernyawa di kamar mandi flat-nya. Ada luka sayatan di pergelangan tangan kiri, cukup dalam untuk menyentuh arteri. Kalau itu benar penyebab kematian, seharusnya ada genangan darah. Arteri radial menyemburkan darah dengan tekanan tinggi, dan luka seperti itu biasanya membuat lantai kamar mandi berubah jadi kolam. Tapi lantainya bersih. Terlalu bersih. Luminol hanya menangkap beberapa percikan kecil di sisi wastafel dan pinggir bathtub. Tidak ada jejak aliran. Tidak ada tanda darah sempat dibersihkan. Bahkan saluran pembuangan tidak mengandung sisa biologis apa pun. Seolah tubuh itu kehilangan darah… tanpa pernah menumpahkannya. Seolah kematian itu bukan berlangsung di sini, tapi dipindahkan ke tempat lain.
Tapi penyelidikan nihil. Kamar mandi itu satu-satunya Tempat Kejadian Perkara.
Robert pernah menangani kematian. Ia tahu rupa tubuh yang kehabisan darah karena sebab lain. Tapi yang satu ini membuatnya bergidik. Ke mana darahnya?
“Kau sadar,” ujar Robert perlahan, “berapa banyak orang di kota ini mati karena ‘yang sepertimu’?”
Pria itu mengangguk kecil. Bukan penyesalan. Bukan penghindaran. “Aku tahu.”
“Kau tahu,” Robert mengulang, jari telunjuknya mengencang di pelatuk. Ia tidak menurunkan senapan. “Dan kau tetap masuk lewat pintu depan. Datang ke klinik. Sendirian.”
“Kalau aku berniat menyerang,” jawab pria itu. Ketenangannya yang mulai goyah, “aku tidak akan berdiri di sini sekarang.”
Kalimat itu—itulah yang mengganggu Robert. Tidak defensif. Tidak menantang. Seperti seseorang yang menyadari bahwa logika tidak akan membantunya, tapi tetap mengatakannya karena itulah satu-satunya yang ia punya.
“Banyak vampir datang ke kota kecil dengan cara yang sama,” kata Robert. “Mengetuk pintu. Berpura-pura butuh bantuan.”
“Dan banyak dari mereka memangsa siapa saja yang mereka temui,” balas pria itu. “Aku tidak.”
“Kau minta aku percaya begitu saja?”
“Tidak.” Pria itu menggeleng. Gerakannya kecil, hati-hati. “Aku minta kau melihat.”
“Melihat apa?”
“Bahwa aku masih berdiri. Bahwa aku belum menyerang siapapun sejak masuk ke sini.”
Robert tidak mengendurkan genggaman pada senapan. Ia mencatat jeda itu, cara pria di depannya menelan ludah, cara bahunya sedikit turun tidak seperti seseorang yang siap menerkam, melainkan seperti seseorang yang lelah mengulang cerita yang sama terlalu sering. Namun kelelahan tidak menghapus fakta. Robert telah melihat apa yang bisa dilakukan vampir terhadap sebuah kota kecil.
Ia kembali ingat kematian yang lain. Malam ketika keluarga Hargreave ditemukan di rumah mereka. Sang suami tewas dengan tubuh kosong di kamar tidur—persis seperti kasus wanita di kamar mandi rumah susun. Sedangkan sang istri tewas di dapur, berlumuran darah seperti dibantai. Luka ini kasar. Terbuka. Bukan hasil pisau yang terarah, tapi semacam gigitan atau sayatan tergesa. Robert sempat berpikir pembunuhnya ceroboh. Tapi pembunuhan pertama terlalu rapi, lalu berubah hanya karena sesuatu yang tak direncanakan. Mungkin sang istri terbangun, lalu lari keluar kamar dan dikejar sampai dapur. Anak-anak tidak disentuh. Para pemburu menyebutnya “aturan.” Robert hanya tahu, tiga orang dewasa mati tanpa suara, dan kota kecil ini berhenti tidur selama berbulan-bulan.
Pemburu itu, dua pria asing yang mampir ke kliniknya, mengaku sedang “melacak pola kematian di wilayah Midwest.” Luka-luka yang disamarkan seolah bunuh diri, atau OD, atau kecelakaan. Ada yang tubuhnya dibuang di hutan. Ada pula yang dikamuflasekan dengan canggung, seolah pelakunya sedang belajar menyamar. Setiap kematian meninggalkan pola berbeda, tapi semua berujung pada satu hal: tubuh yang kehilangan darah, tanpa bekas darah. Tidak ada tuduhan. Hanya kalimat pelan, “Beberapa kematian tidak masuk akal kecuali Anda mulai bertanya… makhluk macam apa yang masih haus darah di abad ke-21?”
Mereka mengatakan itu bukan perbuatan satu vampir. Setiap pasangan pemburu punya targetnya masing-masing.
“Lalu kenapa aku harus percaya bahwa kau berbeda?” tanya Robert. “Semua vampir mengaku punya alasan. Semua merasa punya pembenaran.”
“Karena aku datang ke sini dalam keadaan seperti ini,” jawab pria itu. Ia menggeser sedikit jaketnya, cukup untuk memperlihatkan noda gelap di kain. “Dan karena kalau aku ingin mengambil, aku tidak akan bicara.”
Robert menahan diri untuk tidak melirik jam di dinding. Waktu terasa mengental.
“Kalau begitu kita luruskan,” kata Robert, nada suaranya kini lebih dingin. “Kau bilang kau terluka sejak sebulan lalu.”
“Ya.”
“Dan menurutmu,” Robert menekankan kata itu, “luka itu tidak sembuh karena… darah.”
“Tanpa darah manusia,” koreksi pria itu, pelan tapi tegas. “Kami tidak beregenerasi. Tidak sepenuhnya.”
Ketegangan Robert tidak turun. Dari semua cerita yang pernah ia dengar—dari pemburu, dari pamflet gereja, dari omongan warung kopi—vampir digambarkan sebagai makhluk yang hampir tak bisa mati. Ditembak, pulih. Ditusuk, bangkit. Terbakar matahari, lenyap. Tidak ada ruang abu-abu di sana. Yang dihadapinya kini justru menawarkan celah biologis, bukan mitos. Itu membuat Robert lebih tidak nyaman daripada dongeng mana pun.
“Jadi kau ingin aku percaya,” katanya perlahan, “bahwa tubuhmu bekerja seperti… pasien dengan gangguan darah?”
Pria itu tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. “Kurang lebih.”
Jawaban itu terlalu sederhana. Terlalu masuk akal. Robert tidak menyukainya.
“Gangguan darah itu,” lanjut Robert, suaranya kini kembali ke nada dokter, bukan warga kota yang waspada, “biasanya bawaan. Hemofilia, thalasemia. Pasien bisa hidup, tapi ada harga yang harus dibayar. Perawatan rutin, pantangan, risiko.”
“Ya,” kata pria itu. Ada pengakuan dalam caranya mengucapkan kata itu. “Kami dibesarkan dengan harga itu. Tapi bukan dengan penjelasannya.”
Robert menyipitkan mata. Ia menangkap jeda di antara kalimat itu. “Maksudmu?”
“Kami dibesarkan dengan satu doktrin,” lanjut pria itu. “Kami puncak. Manusia adalah mangsa. Tidak ada yang ditinggalkan hidup.” Ia tersenyum kecil, tanpa humor. “Aku baru tahu itu bohong setelah hampir mati.”
“Lalu bagaimana kau bertahan selama ini?” tanya Robert.
Pria itu menarik napas. “Dengan cara yang salah. Dan dengan cara yang… lebih salah. Satu manusia utuh, itu bisa membuat kami bertahan hampir dua tahun.”
Robert menghitung. Satu orang mati per dua tahun. Berapa jumlah populasi mereka? Robert tidak tahu, dan ketidaktahuan itulah yang mencekik. Itu adalah horor yang terukur, yang jauh lebih dingin daripada sekadar pembantaian liar akibat kegilaan haus darah yang tak terkendali, karena hal itu menyiratkan sebuah mesin kematian yang bergerak lambat.
“Sampai akhirnya aku bertemu dengannya,” lanjut vampir itu. “Dan dia memberi secara sukarela.”
“Dia?” tanya Robert.
“Kekasihku,” jawab pria itu. “Yang mengajariku bahwa bertahan hidup tidak harus berarti membunuh. Dia pernah bilang… bayangkan pasien diabetes, yang harus disuntik insulin itu,” lanjutnya, seolah ragu apakah analogi itu masuk akal. “Bukan karena mereka lemah. Tapi karena tubuh mereka tidak memproduksi sesuatu yang seharusnya ada.”
Dada Robert terasa mengencang. “Dia memberi darah seperti apa?”
“Dalam jumlah yang diukur,” kata pria itu. “Seperti donor. Tapi… itu juga ritual.”
Robert mengangkat alis.
“Dia selalu bawa peralatan P3K lengkap, lalu dia akan membersihkan lehernya dengan antiseptik dan alkohol, memastikan tidak ada infeksi. Kami melakukannya setiap tiga atau empat bulan. Dia juga rajin konsumsi suplemen penambah darah, zat besi.” Vampir itu tersenyum tipis, setengah tersipu. “Kadang dia bercanda, ‘Bagaimana rasa darahku kali ini? Sudah lulus medical check-up vampir?’ Aku bilang, dia sangat sehat, darahnya tidak penuh lemak.”
Robert memproses detail itu. Keintiman yang terhitung. Ketakutan yang dibalut profesionalisme medis. Ia menghitung cepat. Dalam delapan hingga dua belas persen, tubuh manusia bisa pulih. Ia pernah menjelaskan ini pada ratusan peserta donor darah.
“Dan kau tidak… mengambil lebih?” tanya sang dokter.
“Tidak,” jawabnya. “Karena kalau aku mengambil lebih, dia bisa mati. Dan kalau aku tidak mengambil sama sekali, aku yang mati.”
Robert terdiam. Ia memikirkan kota ini. Ia menyadari betapa rumitnya ketakutan publik. Keabadian yang digembar-gemborkan, yang menjadi narasi utama para Hunter dan yang ia lihat dari foto-foto lama orang yang tak pernah menua, hanyalah ilusi yang dilembagakan. Kenyataannya, keabadian itu terikat pada batas waktu pemulihan sel darah manusia—tiga atau empat bulan sekali, atau mereka mati. Itu bukan keabadian, itu penjara biologis.
Sebagai dokter, ia tahu mutasi radikal seperti ini tidak terjadi dalam semalam. Ia memikirkan bagaimana penyakit genetik diwariskan, bagaimana sebuah kondisi bisa menjadi spesies hanya karena bertahan cukup lama. Mungkin pernah ada sebuah outbreak purba yang terkubur ribuan tahun lalu, jauh sebelum manusia mengenal kata "virus", dan hanya bisa menyebutnya sebagai "kutukan".
“Kalau begitu,” kata Robert akhirnya, “kenapa kau di sini?”
“Serangan Hunter,” jawab pria itu jujur. “Dan karena aku tidak ingin merampok apa pun. Pemberian darah itu… harus dengan consent, bukan?”
Robert mendesah panjang. Ia menatap senapan yang masih tergantung di tangannya, lalu membiarkan keheningan itu meresap. Pilihan vampir di depannya, lari dari para Hunter dan datang ke klinik, adalah pengakuan putus asa yang paling jujur yang bisa ia dengar.
“Nama,” katanya singkat. “Aku tidak memberi apapun pada seseorang tanpa nama.”
Pria itu mengangkat pandangannya perlahan, seolah menarik diri dari dasar kolam. “Zack.”
“Robert,” balasnya.
Ia lalu mundur dan membuka pintu lemari pendingin di sudut ruangan. Udara dingin menyentuh pergelangan tangannya, membuatnya menggigil tipis. Robert memindai rak di dalamnya dan memeriksa labelnya. Hanya ada empat kantong tersisa. Dua kantong O. Satu kantong B. Dan satu kantong AB. Tanggal masih aman. Segel utuh.
“Kau butuh golongan darah tertentu?” tanya Robert, suaranya kini kembali ke nada dokter, datar dan profesional.
Zack mengangkat pandangannya. “Bagi kami, semuanya sama saja. Yang kami butuhkan hanyalah nutrisi manusia itu.”
“Oke,” Robert mengangguk. Ia meraih tiga kantong dari empat—kantong AB ditinggalkan karena itu langka—lalu meletakkannya di atas meja logam.
Robert mundur satu langkah. Saat itulah ia menangkap perubahan itu.
Pria di depannya justru membeku. Bahunya yang sejak tadi tegang tiba-tiba mengeras, seperti seseorang yang menahan diri untuk tidak maju setengah langkah. Napasnya berubah. Tidak terengah, tidak kasar, tapi terkontrol. Warna iris matanya berubah merah, taring memanjang dari balik bibirnya. Namun mata itu begitu tertambat pada kantong darah dengan fokus yang hampir menyakitkan untuk disaksikan.
Robert mengenali tatapan itu.
Ia pernah melihatnya pada pasien yang kekurangan cairan berat, yaitu kondisi ketika tubuh sudah melewati ambang rasional dan hanya bertahan lewat kemauan. Tatapan orang yang melihat air bukan sebagai minuman, tetapi sebagai keselamatan. Zack mendekat ke meja satu langkah. Hanya satu. Ia mengambil kantong darah itu dengan dua tangan, hati-hati, nyaris berlebihan. Robert tidak melihatnya seperti pemangsa, melainkan seperti seseorang yang menemukan oasis di tengah gurun. Seperti orang yang tenggelam melihat udara.
Robert memperhatikan bagaimana napas Zack sedikit goyah begitu jari-jarinya menyentuh plastik dingin itu. Tangan kirinya masih menggenggam senapan waspada. Ia tahu, saat nutrisi darah itu masuk ke sistem Zack, proses regenerasi yang mati selama sebulan akan kembali dihidupkan. Dan Zack tidak akan lagi selemah ini.
Zack menatap kantong-kantong itu, lalu menatap Robert. “Tiga kantong. Apakah tidak apa-apa? Kau memberikan hampir semuanya,” tanyanya, nada suaranya kini bercampur antara rasa terima kasih dan kebingungan.
Robert menahan tatapannya. “Tidak apa-apa,” jawabnya, singkat. “Darah ini punya masa kadaluarsa, dan besok, kalau butuh, aku bisa minta lagi. Orang-orang Riverton, mereka selalu mau berbagi.”
“Terima kasih, dok,” kata Zack pelan.
Ia berbalik dan berjalan ke pintu. Langkahnya tetap tenang. Tidak terburu-buru. Tidak liar.
Pintu tertutup pelan.
Robert pun terduduk dan menghela napas panjang.
Malam di luar tetap sunyi. Senapannya benar-benar tergantung mati di tangan. Ia memandangi rak-rak lemari pendingin yang kini hampir kosong itu, tempat tiga kantong darah tadi berada. Hanya satu kantong AB yang tersisa. Dalam keheningan Riverton, Robert tidak memikirkan monster. Ia hanya memikirkan pasien.