Gerbang Kebebasan
I. Tujuh Tahun dalam Kepala
Ada dua jenis waktu di dalam penjara. Waktu yang tercatat di kalender, dan waktu yang berjalan di dalam kepala. Bagi Raka, tujuh tahun yang tercatat itu hanya angka administratif—sesuatu yang ditulis petugas lapas di atas kertas pembebasan bersyarat. Tapi tujuh tahun yang berjalan di kepalanya adalah sebuah dunia yang jauh lebih sibuk: ribuan draf narasi, ratusan skenario framing, dan satu dendam yang dirawat pelan-pelan seperti orang merawat bara di bawah abu, supaya tidak padam, tapi juga tidak sampai membakar dirinya sendiri sebelum waktunya.
Dulu, sebelum jeruji, Raka adalah nama yang tidak pernah muncul di berita, tapi selalu ada di balik berita. Ia bukan wartawan, bukan politikus, bukan pula pejabat humas kementerian mana pun. Ia adalah arsitek dari ribuan akun anonim yang, dalam hitungan jam, bisa mengubah sebuah kebijakan kontroversial menjadi "aspirasi rakyat", atau mengubah seorang aktivis lurus menjadi "provokator bayaran asing" hanya dengan tangkapan layar yang disunting rapi. Ia menyebut dirinya "arsitek opini". Orang lain menyebutnya buzzer. Jenderal Wiratama, atasannya yang sesungguhnya selama bertahun-tahun, menyebutnya "aset".
Semua berubah pada malam kerusuhan di ibu kota tujuh tahun lalu. Kerusuhan yang—ia tahu persis, karena ia yang menyalakan sumbunya—direncanakan bukan oleh massa yang marah, melainkan oleh sebuah ruang kecil di lantai bawah gedung kementerian, tempat layar-layar memantau tagar, tempat anggaran bantuan bencana diam-diam mengalir menjadi honor bagi influencer, media abal-abal, dan kelompok-kelompok jalanan yang disewa untuk berteriak di waktu dan tempat yang tepat.
Operasi itu punya nama sandi: Garuda Senja.
Raka tahu setiap detailnya. Dan karena ia tahu terlalu banyak, ketika kerusuhan itu perlu ditutup dengan kambing hitam, namanyalah yang paling mudah dikorbankan. Bukan karena ia paling bersalah. Tapi karena ia paling berguna sebagai simbol: mantan buzzer yang "mengaku khilaf", yang pengadilannya bisa dipakai untuk menunjukkan bahwa negara "serius memberantas hoaks". Dua belas orang lain—mahasiswa, buruh, satu guru honorer—dipenjarakan bersamanya atas tuduhan menyebarkan kerusuhan yang sebenarnya dirancang oleh orang-orang yang membayar gaji mereka semua.
Tujuh tahun. Dan selama tujuh tahun itu, Raka tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya berhenti bicara.
II. Gerbang
Pagi itu kabut belum sepenuhnya hilang ketika pintu besi lapas kelas satu itu berderit terbuka. Suara engselnya panjang, seperti napas yang ditahan lama akhirnya dilepaskan.
Raka melangkah keluar dengan tubuh yang lebih kurus dari foto di berkas pengadilannya tujuh tahun lalu. Ia membawa kantong plastik bening—isinya nyaris menggelikan bila dipikir-pikir: sebuah dompet kulit yang sudah retak di sudutnya, jam tangan yang jarumnya berhenti di pukul dua entah sejak kapan, dan sebuah ponsel lama tanpa kartu SIM, seperti fosil dari kehidupan yang ditinggalkannya di tahun yang salah.
Ia berhenti sejenak di ambang gerbang, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya yang lebih luas dari yang biasa ia lihat lewat jendela sel berjeruji. Di seberang jalan, sebuah sedan hitam mengilap sudah terparkir, mesinnya menyala pelan seperti binatang yang sedang menunggu dengan sabar.
Di samping mobil itu berdiri seorang laki-laki berseragam lengkap, lengkap dengan tanda pangkat yang berkilau meski matahari belum sepenuhnya naik. Jenderal Wiratama tidak datang untuk sebuah upacara. Ia datang karena ia ingin menjadi orang pertama yang bicara dengan Raka sebelum siapa pun—termasuk dunia luar itu sendiri—sempat melakukannya.
Raka berhenti melangkah.
"Saya kira orang pertama yang menyambut saya adalah ibu saya," katanya, suaranya datar, seolah sedang membaca cuaca.
"Ibumu sudah meninggal delapan bulan lalu," jawab Jenderal Wiratama, tanpa basa-basi, tanpa nada penyesalan yang dibuat-buat.
Raka menahan napas sepersekian detik saja—cukup singkat sehingga hanya orang yang sudah menghabiskan puluhan tahun membaca wajah orang lain yang bisa menangkapnya. Jemarinya mengencang di sekitar kantong plastik.
"Saya tahu," katanya akhirnya.
"Bagus. Berarti penjara tidak sepenuhnya memutus hubunganmu dengan dunia luar."
"Di dalam penjara, berita tetap masuk. Hanya kebenaran yang sulit keluar."
Jenderal Wiratama tersenyum tipis, senyum seorang yang menikmati permainan catur meski lawannya baru saja kehilangan seorang ratu.
"Kau masih pandai merangkai kalimat."
"Dulu Bapak membayar saya untuk itu."
"Dulu kau juga cukup pintar untuk mengetahui kalimat mana yang boleh diucapkan."
"Dan kalimat mana yang harus dibuat seolah-olah berasal dari rakyat," sambung Raka.
Untuk sesaat keduanya hanya berdiri, dua orang yang pernah menjadi rekan kerja paling rahasia di republik ini, kini berhadap-hadapan di depan sebuah gerbang yang memisahkan dua dunia yang, sesungguhnya, tidak pernah benar-benar terpisah.
III. Batas-Batas Kebebasan
Jenderal Wiratama memberi isyarat kecil dengan tangannya. Dua pengawal yang berdiri di dekat sedan mundur beberapa langkah, cukup jauh untuk tidak mendengar, cukup dekat untuk tetap waspada.
"Kau bebas lebih cepat tiga tahun," kata Jenderal.
"Karena perilaku baik?"
"Jangan menghina kecerdasan kita berdua."
"Kalau begitu, karena Bapak menginginkannya."
"Aku hanya memastikan negara tidak membuang orang berbakat terlalu lama."
Raka mengalihkan pandangan ke sedan hitam di belakang sang jenderal, ke kaca gelapnya yang memantulkan langit pagi yang masih pucat.
"Negara?" ulangnya. "Atau orang-orang yang merasa dirinya adalah negara?"
Senyum di wajah Jenderal Wiratama lenyap seketika, seperti lampu yang dimatikan dari saklarnya.
"Kau keluar dari sini dengan satu kesempatan, Raka," katanya, suaranya turun satu oktaf, lebih pelan tapi lebih tajam. "Pulanglah. Cari pekerjaan biasa. Menikah. Pelihara burung. Lupakan server, rekening bayangan, dan percakapan-percakapan lama."
"Percakapan tentang apa?"
"Jangan bermain denganku."
"Saya baru keluar penjara," kata Raka, nyaris tersenyum. "Saya harus belajar bermain lagi."
Jenderal melangkah mendekat, cukup dekat sehingga suaranya tak perlu naik untuk terdengar mengancam.
"Tidak ada operasi bernama Garuda Senja. Tidak pernah ada pusat kendali opini di lantai bawah sebuah gedung kementerian. Tidak ada dana bantuan bencana yang dialihkan untuk membayar influencer, media, dan kelompok jalanan."
Raka menatapnya lekat-lekat, mencoba mencari retakan kecil di balik ketenangan seragam itu.
"Bapak menyebut cukup banyak hal yang katanya tidak pernah ada."
"Aku sedang membantumu mengingat apa yang harus kau lupakan."
"Termasuk dua belas orang yang dipenjara karena dituduh menyebarkan kerusuhan yang sebenarnya kita rancang sendiri?"
"Mereka bukan orang tidak bersalah."
"Bukan itu pertanyaannya."
"Dalam politik," kata Jenderal Wiratama, kini nyaris berbisik, "tidak ada orang tidak bersalah. Hanya ada orang yang berguna, dan orang yang dikorbankan."
"Dan saya termasuk yang mana?"
"Hari ini, kau masih berguna."
Raka tertawa kecil, tawa yang lebih menyerupai desahan lelah daripada kegembiraan.
"Itu ancaman paling sopan yang pernah saya dengar."
"Anggap saja nasihat dari seseorang yang telah menjaga keluargamu selama kau dipenjara."
Raka terdiam. Sesuatu di dadanya berubah menjadi dingin.
"Keluarga saya tinggal adik saya."
"Nadia," kata Jenderal Wiratama, seperti sedang membaca dari berkas yang telah dihafalnya. "Dua puluh enam tahun. Mengajar di sekolah swasta. Setiap Selasa dan Kamis pulang pukul enam lewat halte yang sama."
Raka melangkah maju secara refleks, dan dari kejauhan dua pengawal langsung bersiap bergerak, tangan mereka melayang mendekati pinggang.
"Jangan sentuh dia," kata Raka, suaranya untuk pertama kalinya kehilangan ketenangannya.
"Aku tidak menyentuh siapa pun," jawab Jenderal, tenang seperti sedia kala. "Aku hanya ingin kau memahami bahwa kebebasan selalu datang dengan batas."
"Saya sudah menjalani batas itu selama tujuh tahun."
"Penjara yang sebenarnya bukan bangunan di belakangmu." Jenderal menunjuk pelan ke kepala Raka. "Penjara yang sebenarnya adalah pengetahuan yang tidak bisa kau ceritakan kepada siapa pun."
Raka menatapnya lama. Lalu, perlahan, ia mengangkat kantong plastiknya, seakan menimbangnya.
"Ponsel ini rusak. Jam saya mati. Uang saya hanya seratus delapan puluh ribu," katanya. "Bapak takut pada orang seperti saya?"
"Aku tidak takut pada keadaanmu sekarang." Jenderal menatap langsung ke matanya. "Aku takut pada apa yang bisa kau lakukan setelah seseorang memberimu koneksi internet."
Untuk pertama kalinya sejak gerbang itu terbuka, Raka tersenyum—senyum yang sungguhan, bukan senyum yang dipakai sebagai senjata.
"Terlambat," katanya.
IV. Cerita yang Disusun dalam Diam
Jenderal Wiratama menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
"Selama tujuh tahun, Bapak mengira saya diam karena tidak punya akses." Raka melangkah, melewati sang jenderal, cukup dekat sehingga bahunya nyaris bersentuhan dengan bahu berseragam itu. "Padahal saya diam karena sedang menyusun cerita."
"Cerita tidak akan menjatuhkan pemerintahan," kata Jenderal, tapi ada sesuatu di suaranya kini, sesuatu yang mulai retak.
Raka berhenti tanpa menoleh.
"Benar," katanya.
Ia mengeluarkan sehelai kertas kecil dari lapisan dalam jaket lapasnya yang lusuh—kertas yang selama tujuh tahun disembunyikan lewat cara-cara yang tak pernah diketahui petugas mana pun, dititipkan lewat sipir yang dibayar dengan kesabaran, lewat kunjungan pengacara yang tidak seluruhnya membicarakan hukum. Di atas kertas itu tertulis rangkaian karakter terenkripsi, sebuah kunci yang tampak seperti sampah acak bagi siapa pun kecuali orang yang tahu cara membacanya.
"Tetapi bukti yang dikemas menjadi cerita," lanjut Raka, "bisa membuat rakyat percaya sebelum Bapak sempat menyebutnya fitnah."
Jenderal Wiratama mengangkat tangan, isyarat kecil namun tegas. Para pengawal mulai bergerak mendekat, langkah mereka berubah dari waspada menjadi niat yang jelas.
"Masuklah ke mobil," kata Jenderal.
"Saya baru saja bebas."
"Itu bukan permintaan."
Raka memandang sedan hitam itu sejenak, lalu berbalik memandang gerbang penjara di belakangnya—bangunan yang selama tujuh tahun menjadi seluruh dunianya, kini tampak kecil, seolah kekuasaannya atas dirinya telah habis bersama detik terakhir masa tahanannya.
"Dulu saya membuat jutaan orang mempercayai kebohongan Bapak," katanya, lalu berbalik sepenuhnya menghadap sang jenderal, matanya tak lagi menyembunyikan apa pun. "Sekarang saya hanya perlu membuat mereka meragukan satu kebenaran yang Bapak bangun."
"Kau tidak akan sempat."
"Pesannya sudah dijadwalkan."
Untuk sesaat, wajah Jenderal Wiratama—wajah yang selama tiga dekade karier militer dan politiknya nyaris tak pernah menunjukkan keretakan di depan publik—kehilangan ketenangannya.
Dari saku salah seorang pengawal terdengar bunyi notifikasi.
Lalu notifikasi kedua.
Ketiga.
Dalam hitungan detik, ponsel semua orang yang berdiri di depan gerbang penjara itu bergetar hampir bersamaan, seperti serangga yang bangun serentak dari tidur panjangnya.
Raka melirik jam tangannya yang mati, seolah waktu di pergelangan tangannya dan waktu di dunia nyata akhirnya bertemu di satu titik yang sama.
"Tepat waktu," gumamnya.
Jenderal Wiratama membuka ponselnya dengan tangan yang, untuk pertama kalinya pagi itu, tidak sepenuhnya stabil. Di layar muncul sebuah video berjudul:
"SIAPA YANG SEBENARNYA MENCIPTAKAN KERUSUHAN IBU KOTA?"
Jumlah penontonnya naik dengan kecepatan yang hampir tidak masuk akal.
Seribu.
Sepuluh ribu.
Lima puluh ribu.
Jenderal mengangkat wajah, dan untuk sesaat, dua orang yang pernah menjadi rekan paling rahasia di republik ini saling menatap sebagai dua musuh yang setara.
"Apa yang sudah kau lakukan?" tanya Jenderal Wiratama, suaranya nyaris tak terdengar.
Raka mulai berjalan menuju jalan raya, punggungnya menghadap sang jenderal, tak berniat menoleh lagi.
"Pekerjaan lama saya, Jenderal," katanya.
Ia berhenti sesaat, seolah ingin memberi waktu bagi kalimat terakhirnya untuk benar-benar meresap.
"Mengendalikan percakapan."
V. Jalan Raya
Raka berjalan menyusuri bahu jalan yang basah oleh embun pagi, melewati warung yang baru buka, melewati tukang ojek yang menguap sambil menunggu penumpang pertama. Tak ada yang mengenalinya. Itulah yang paling ia syukuri dari tujuh tahun di balik jeruji—wajahnya telah dilupakan publik, meski namanya masih tersimpan di dokumen-dokumen pengadilan.
Di kantongnya yang lain, tersembunyi di lapisan jaket yang sama, ada sebuah kartu SIM baru yang sudah ia siapkan lewat perantara yang telah bertahun-tahun ia bangun kepercayaannya—seorang mantan narapidana lain yang kini bekerja sebagai kurir, seorang admin warnet kecil di pinggiran kota yang tidak tahu-menahu isi video yang diunggahnya, dan seorang wartawan independen yang menerima berkas terenkripsi itu tanpa pernah bertemu langsung dengan pengirimnya.
Video itu bukan sekadar tuduhan kosong. Di dalamnya ada tangkapan layar percakapan internal, ada nomor rekening yang dulu digunakan untuk mencairkan dana "bantuan bencana", ada rekaman suara singkat dari rapat yang tak pernah tercatat resmi, semua dikumpulkan Raka diam-diam selama bertahun-tahun sebelum penangkapannya—disimpan di tempat yang tak pernah terpikirkan oleh siapa pun untuk digeledah, dititipkan kepada orang-orang yang tak tahu apa yang mereka simpan, menunggu hari ketika satu sinyal kecil akan mempersatukan semuanya menjadi satu cerita utuh.
Ia tahu videonya tidak akan langsung menjatuhkan siapa pun. Kekuasaan tidak runtuh dalam semalam hanya karena satu unggahan viral. Tapi ia juga tahu satu hal yang telah dipelajarinya selama bertahun-tahun sebagai arsitek opini: kebenaran tidak perlu menang telak pada hari pertama. Ia hanya perlu cukup kuat untuk membuat orang mulai bertanya. Dan begitu orang mulai bertanya, mesin propaganda yang paling canggih sekalipun akan kewalahan mengejar rasa penasaran yang sudah telanjur menyebar.
Di ujung jalan, sebuah angkot berhenti. Raka naik, duduk di kursi paling belakang, memandang keluar jendela yang berdebu. Di ponsel bekas yang baru saja diisi kartu SIM barunya, notifikasi terus berdatangan—komentar, tangkapan layar, cuitan yang dibagikan ulang ribuan kali, tagar yang mulai naik ke posisi tren nasional dalam hitungan jam.
Ia tidak tersenyum lagi. Ia hanya menutup mata sejenak, membiarkan angkot bergoyang mengikuti jalan yang berlubang, dan untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia membiarkan dirinya memikirkan sesuatu selain rencana: wajah adiknya, Nadia, yang mungkin sedang bersiap mengajar pagi ini, tidak tahu bahwa dunia sedang mulai bergetar karena satu video yang baru saja diunggah abangnya.
Ia harus menemuinya sebelum orang lain melakukannya lebih dulu.
Di kejauhan, sedan hitam Jenderal Wiratama masih terparkir di depan gerbang penjara, mesinnya menyala, tapi tak satu pun penumpangnya bergerak. Di dalam mobil, Jenderal menatap layar ponselnya yang terus menyala dengan notifikasi baru, wajahnya kini menyimpan sesuatu yang belum pernah ditunjukkannya di depan siapa pun selama karier panjangnya: ketidakpastian tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali cerita, sekarang, di pagi yang seharusnya menjadi rutinitas belaka.
Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai—bukan di jalanan, bukan di ruang sidang, melainkan di ruang yang selama ini paling dikuasai Jenderal Wiratama sendiri: ruang percakapan publik, tempat kebenaran dan kebohongan diperdagangkan setiap detik, dan tempat, pagi itu, seorang mantan buzzer yang baru saja bebas telah mengambil alih kendali untuk pertama kalinya dalam hidupnya sendiri, bukan demi orang lain.
(Bersambung )