Duar!
Suara benturan keras itu memecah udara sore Madrid. Tanduk seekor banteng hitam raksasa menghantam sisi tubuh sang Matador sebelum lelaki itu sempat menghindar sepenuhnya. Tubuhnya terlempar beberapa langkah dan jatuh di atas pasir arena yang panas. Debu berwarna keemasan membubung ke udara, menutupi sesaat cahaya matahari yang mulai condong ke barat.
Plaza de Toros Madrid mendadak membisu.
Beberapa detik sebelumnya, ribuan orang memenuhi arena dengan sorakan yang mengguncang dinding batu tua. Mereka datang mengenakan pakaian terbaik mereka, membawa kipas renda, topi lebar, dan harapan untuk menyaksikan sebuah pertunjukan yang akan dikenang sepanjang musim. Namun, ketika tubuh sang Matador jatuh di tengah arena, tidak ada lagi suara kegembiraan.
Yang terdengar hanya napas tertahan.
Banteng itu berdiri beberapa meter dari lelaki yang menjadi pusat perhatian seluruh Madrid. Kukunya menggaruk pasir, mengangkat debu kecil ke udara, seolah menantang siapa pun yang berani kembali berdiri di hadapannya.
Sang Matador perlahan membuka matanya.
Wajahnya menahan sakit, tetapi ti...