Disukai
0
Dilihat
18
Dia yang tak kukenal
Slice of Life
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Rasa muak akan hidupku terus kurasakan. Semua impian indahku untuk masa depan ibu dan adikku serasa tak akan pernah terjadi karena ulah adikku. Padahal masa depannyalah yang menjadi alasan kenapa aku bekerja keras merantau di kota orang, supaya masa depannya bisa terjamin seperti yang adikku idam-idamkan. Namun semua itu sekarang seakan tidak ada gunanya, semua kerja kerasku terasa tak ada artinya. Impiannya yang aku perjuangkan malah ia hancurkan sendiri dengan pergaulan bebas yang ia lakukan. Rasa muak akan semua hal yang terjadi inilah yang mendorongku pergi, untuk menenangkan diriku, Yogyakarta lah yang muncul dikepalaku pertama kali ketika aku memikirkan bagaimana caraku bisa melupakan masalah yang terjadi dihidupku ini. Kota yang dipenuhi dengan kenangan indah dan bahagia semasaku berkuliah dulu, aku harap bisa menenangkanku dari semua hal yang terjadi walau hanya sementara.

Sebentar lagi kereta akan tiba di stasiun tujuan, dan demikian pula dengan perjalananku untuk mencari ketenangan akan segera dimulai juga. Entah sejak kapan, tapi karena semua beban pikiran yang ada, akhir-akhir ini aku kurang memperhatikan sekitarku dan sama halnya seperti saat ini, aku tidak ingat sejak kapan perempuan berambut pendek mengenakan cardigan berwarna kuning ini, yang tadinya duduk didepanku kini telah berada dibangku sebelahku sembari terus menatap kearahku. Aku yang kini menyadari situasi ini hanya bisa bertingkah canggung akibat matanya yang terus menerus menatapku.

“Ada apa ya mba?” tanyaku dengan agak tergagap karena canggung kepada perempuan itu.

“Gakpapa kok mas, masnya mau ke Jojga ngapain? Kuliah? Kerja? Atau masnya asal dari Jojga?” ucap perempuan itu tanpa mengalihkan tatapannya dariku.

“Engga mba, saya cuma mau liburan aja di Jojga” Jawabku sembari berusaha bertingkah normal.

“Wahhh kebetulan dong, aku juga lagi liburan di Jojga, liburan bareng aja yuk?”

“Hah? Maksudnya mba?” Tanyaku yang terkejut mendengar ajaknya.

“Mas nya sendirikan?”

“I... iya” jawabku dengan perasaan yang sebenarnya ragu untuk menjawab dengan jujur.

“Nah aku juga sendirian, dari pada sendiri-sendiri mending kita liburan bareng aja gak sih?” Ucapnya yang diiringi dengan mengubah posisi badannya yang kini semakin condong mendekat kearahku.

“E... a... aduhh gimana ya mba” Ditengah kebingunganku, kereta yang kami naiki telah sampai ke tujuan. Terlihat para penumpang yang lainnya sudah mulai sibuk mempersiapkan diri untuk turun dari kereta.

“Fix ya, malam ini gak ada rencana apa-apakan? Nanti malam kita ke Malioboro aja yuk, kita ketemuan diapasih itu sebutannya? Yang ada plang Jalan Malioboro nya? Yang deket rel kereta api, kita ketemuan disitu jam 7 malam oke” ucap perempuan itu sembari tersenyum dan merebut buku novel yang ku pegang sedari tadi. Buku novel yang sudah ku keluarkan sejak awal perjalanan ini dengan maksud untukku baca, namun tak kunjung jadi karena aku yang keburu hanyut dalam masalah dipikiranku.

Aku yang meminta buku itu dikembalikan sembari merusaha merebutnya kembali namun tak berhasil. Perempuan itu berkata ia akan mengembalikan buku itu nanti malam ketika kami bertemu di Malioboro, sembari tersenyum perempuan itu perjalan pergi meninggalkanku. Ia yang menyadari aku berusaha mengejarnya, berlari keluar dari kereta dan ikut masuk berbaur didalam kerumunan para penumpang yang lain, dengan tubuh mungilnya ia sukses menghilang dari pandangan ku dengan cepat. Aku yang terdiam kebingungan mencari kemana ia pergi, hanya bisa mengucapkan kata sumpah serapah, kenapa diperjalanan yang kumaksudkan untuk mencari ketenangan ini, justru mengalami hal aneh semacam ini. Yang membuatku pusing adalah buku yang ia bawa itu merupakan buku yang dipinjamkan oleh teman dekatku dikantor, dengan maksud untukku baca sebagai perlarian dari masalah yang jadi beban pikiranku, dan seingatku ia pernah bercerita bahwa buku itu merupakan hadiah perayaan anniversary hubungan dia dengan pacarnya. Bukannya membantuku justru buku itu kini menjadi beban pikiranku yang baru, aku tidak enak kepada temanku jika harus mengakatan buku miliknya itu hilang diambil orang. Aku sempat kepikiran untuk menggantinya dengan buku yang baru saja, namun aku tidak tahu mencari buku yang sama persis seperti itu dimana, dan mengingat backstory buku itu aku akan tetap merasa tidak enak walaupun telah menggantinya dengan buku yang baru. Mau tidak mau, mengikuti permintaan perempuan itu adalah satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan ini.

 

*


Malamnya aku terpaksa mengikuti ucapan perempuan itu dan merubah rencana awalku yang hanya ingin bermalas-malasan dipenginapan. Jujur saja aku begitu gugup dan bingung ketika tiba ditempat yang diminta perempuan itu, aku tidak begitu ingat wajah perempuan ini, karena aku tidak begitu memperhatikan wajahnya sebab aku yang begitu canggung terus menerus ditatapnya, yang ku ingat hanyalah ia berambut pendek dan mengenakan cardigan berwarna kuning. Aku yang diam ditempat sembari menatap orang-orang disekitarku berusaha mencari dimana perempuan tersebut, cukup lama aku menoleh kesana kemari mencarinya, hingga terasa sebuah tepukan dibahuku.

“Dari tadi celingak-celinguk, nyariin apasih?” Ucap seseorang yang menepuk bahuku. Aku langsung mengenali orang ini adalah perempuan yang ku cari-cari. Rambut pendeknya dan cardigan kuning yang ia gunakan menyakinkanku bahwa ia adalah perempuan dikereta tadi

“Kembaliin buku saya” Ucapku langsung menuntut janjinya.

“Iya nanti bakalan aku balikin kok, kita jalan-jalan aja dulu, kalo aku balikin sekarang nanti kamu langsung pulang lagi” Ucap perempuan itu sembari menatap sekitar dengan tatapan excited.

“Balikin sekarang” Ucapku sedikit meninggikan nada suara, ia hanya melirik ke arahku sebentar lalu kembali menatap sekitar.

“Kita coba jalan ke sana yuk” Ucapnya sembari menunjuk kearah yang ia maksud, tanpa menunggu jawaban dari ku, ia mulai berjalan meninggalkanku yang masih kesal dengan tingkahnya ini.

“Mba saya mau buku saya dibalikan sekarang” Ucapku sembari mengimbangi langkahnya.

“Iya nanti, kita jalan-jalan di sini dulu” Mendengar jawaban itu aku yang melihat tas miliknya mencoba mengambil tas tersebut.

“Eeehh mau ngapain? Mau aku teriakin copet? Aku teriakin copet nih. Aku teriak ya” Ucap perempuan itu sembari memeluk erat tas miliknya.

“Mba, tolong, saya cuma mau buku saya dibalikan, udah itu aja”

“Mas, tolong, dari tadi aku udah bilang pasti bakalan aku balikin. Tapi temenin aku jalan-jalan disini dulu ya, itu doang kok, please mau ya, setelah itu janji langsung aku balikin” ucap perempuan itu sambil berhenti berjalan dan mengarahkan jari kelingkingnya kepadaku.

Aku yang sudah terlalu kesal hanya diam pasrah menatap sinis perempuan ini, tanpa menggubris jari kelingking yang ia arahkan kepadaku, aku langsung balik badan dan melanjutkan langkahku yang sebenarnya tak tahu mau menuju kemana. Perempuan itu langsung mengikutiku dan tampaknya ia tak terganggu dengan perlakuanku barusan, tatapan excited miliknya kembali menatap sekitar.

“Kamu pernah kesini?” Tanyanya, yang tak kurespon sama sekali.

“Kalo aku dulu udah pernah ke sini, tapi itu udah lama banget. Kamu tahu gak tempat yang menarik di sini dimana?” Aku hanya diam sembari terus berjalan. Ia sempat terdiam setelah aku tidak mejawab pertanyaannya sama sekali, aku yang menyadari ia tak mengikuti langkahku lagi berbalik menatap kearahnya. Kulihat ia diam menunduk sembari tangannya sedikit meremas pelan tas yang ia bawa.

“Kenapa diam? Merasa bersalah?” Tanyaku ketus, ia terlihat cukup terkejut, entah karena ucapanku barusan atau hal lain. Ia menggelengkan kepalanya sambil mencoba tersenyum seperti sebelumnya.

“Coba naik itu yuk” Ucapnya menunjuk sebuah andong yang tak jauh dari posisi kami. Aku hanya diam menatap andong tersebut tanpa menjawab ajakan perempuan itu.

“Tenang, aku yang bayar kok” Ucap perempuan itu sembari menarik tanganku menuju kearah andong tersebut. Setelah ia berdiskusi terkait tujuan dan biaya dengan sang pemilik andong, perempuan itu langsung naik keatas andong dan duduk manis diatas sana. Kembali kulihat tatapan excited miliknya yang tadi sempat hilang, ia yang juga melihat ke arahku mengayunkan tangannya memintaku ikut menaiki andong tersebut. Melihatku yang hanya diam membatu ditempat, perempuan itu kembali turun menghampiriku dan menarik tanganku untuk ikut naik bersamanya, aku hanya pasrah mengikutinya dan duduk dibangku yang ada dihadapan perempuan ini. Selama perjalanan itu aku hanya diam tanpa berbicara apa-apa, hanya si perempuan ini dan mas kusir saja yang mengobrol basa-basi, yang mana semua pertanyaan yang ditanyakan oleh mas kusir dijawab dengan bohong oleh perempuan ini. Seperti mas kusir bertanya apakah kami sepasang kekasih, yang dijawab perempuan ini sambil menatap jail kepadaku bahwa kami belum berpacaran tapi masih dalam proses. Aku hanya terus diam malas meanggapi perempuan aneh ini, aku yang sudah sangat muak dengan permasalahan yang menimpa hidupku, makin merasa muak dibuat oleh perempuan ini, diam menjadi usaha terakhirku agar semua emosi yang ku pendam ini tidak meledak.

“Kok diam aja sih? Bosen ya? Atau lagi nahan mabuk?” Ucap perempuan itu sembari tersenyum lebar menahan tawa dari lawakan yang ia ucap sendiri.

“Kamu harus nikmatin momen ini, soalnya gak ada yang taukan kapan kamu bisa naik andong ini lagi? Atau bahkan bisa aja ini jadi andong terakhir yang kamu naiki” Ucap permpuan itu sambil terus tersenyum, aku hanya membalasnya dengan sebuah tatapan dan wajah datar kearahnya.

“Aku gak tahu apa yang pernah terjadi dengan kamu, tapi waktu ngeliat kamu dikereta aku ngerasa kita punya tatapan mata yang sama. Tatapan mata yang kosong, namun entah kenapa terasa seolah ada pikiran berat yang ada dibelakangnya” Perempuan itu kini mengalihkan pandangannya dariku, memandang permandangan indah malam hari yang disajikan sepanjang jalan Malioboro. Aku sedikit terkejut mendengar perkataan perempuan ini, apakah aku terlalu memikirkan masalah yang menimpaku sampai orang-orang sekitar bisa sadar kalau aku lagi ada masalah.

Kami turun begitu sampai ditempat tujuan perempuan ini. ia diam memandang andong yang perlahan pergi menjauh meninggalkan kami, wajahnya terus menunjukkan senyuman tapi entah kenapa aku merasa seolah ada kesedihan dibalik senyumannya itu.

“Hayoo, apa lihat-lihat? Mulai nyadar kalo aku cantik?” Tanya perempuan itu menyadariku menatap wajahnya.

“Andongnya udah pergi tuh, sedih gak sih? Kita gak tau kapan bisa ketemu sama andong itu lagi, atau mungkin, bisa jadi ini pertemuan terakhir kita sama andong itu” Mata perempuan itu terus menatap andong yang semakin menghilang dari pandangan kami.

“Kita mau kemana lagi?” Tanyaku sembari membuang muka dari perempuan itu. mendengar aku yang bertanya ia terlihat bergitu kegirangan, senyumnya semakin lebar dibuatnya dan matanya terlihat begitu gembira.

“kamu barusan nanya sama aku? E... kita makan yuk? Belum makan kan? Kita nyobain angkringan sama kopi joss yuk” Ucap perempuan itu dengan semangat dan diiringi langkah mencari tempat yang ia maksud.

Ia duduk di sebelahku begitu kami menemukan angkringan yang menarik bagi perempuan itu. setelah memesan, ia terus mengoceh berbagai macam hal seperti, ia yang menceritakan pengalaman pertamanya datang ke malioboro bersama kakaknya, pertama kalinya ia datang ke angkringan seperti ini dengan mantan pacarnya dan pengalaman pribadinya yang lain. Aku hanya diam dan mendengarkan ceritanya, sembari sesekali memberikan respon seadanya untuk cerita yang ia ceritakan. Ia terlihat begitu senang begitu pesanan tiba. Ia berkata aku harus menikmati semua ini dengan sungguh-sungguh, sebab tidak ada yang tau kapan kami berdua akan makan bersama seperti ini lagi dan bisa jadi ini adalah makan bersama kami untuk terakhir kalinya, atau kemungkinan ini bisa jadi benar-benar menjadi makanan terakhirku didunia. Aku sempat bingung dengan maksud ucapannya, tapi ya sudahlah, lagi pula memang itu tujuan utamaku untuk segera pergi dan tak pernah bertemu lagi dengan perempuan aneh ini.

Perempuan ini terlihat begitu menikmati makanan yang ia santap, selayaknya perempuan lain pada umumnya yang ku tahu, setiap ada makanan yang masuk kedalam mulutnya ia akan menggoyang-goyangan kepalanya sambil tersenyum lebar. Begitu pula ketika kopi joss pesanannya masuk ke tenggorokannya, ia akan langsung menunjukkan ekspresi begitu puas setelahnya. Melihat semua itu ada sedikit rasa iri yang kurasakan, bagaimana ia bisa menikmati sebegitunya, menikmati semua makanan dan minuman yang masuk kemulutnya, menikmati makan bersama orang yang tidak ia kenal disebelahnya, menikmati semua hal yang terjadi seolah ia tak punya masalah hidup sama sekali.

“Udah mulai suka ya sama aku?” Tanyanya menyadari aku yang sedang menatap kearahnya.

“Ya kali. Saya cuma penasaran, kok bisa kamu nikmati makanan sebegitunya?” Ucapku, ia kembali tersenyum lebar mendengarnya.

“Seneng deh, akhirnya kamu mau ngobrol sama aku, mau aku kasih tau gak caranya?” Aku buang pandanganku darinya sembari meneguk kopi milikku.

“Anggap, semua yang kamu lakukan saat ini adalah terakhir kalinya kamu merasakan momen ini atau anggap malam ini adalah malam terakhir kamu hidup dunia, sebab walaupun besok aku atau kamu datang ke sini lagi makan makanan yang sama, rasanya pasti ada yang berbeda, gak sama persis seperti malam ini. Makanya aku selalu pengen nikmati momen yang aku rasain, seolah besok aku bakalan meninggal” Aku hanya mengangguk-ngangguk mendengar jawabannya.

Setelah selesai makan dan mendengar berbagai macam perkataan perempuan ini, aku mulai merasa pererempuan aneh ini tidak seburuk pikiranku, satu hal yang aku pelajari darinya adalah ia terlihat sangat hebat dalam menikmati momen-momen yang terjadi kepadanya, namun gelar aneh yang kusematkan kepadanya akan tetap ada mengingat apa yang ia lakukan kepadaku. Aku hanya mengikuti perempuan ini berjalan hingga kami kembali ketempat kami pertama bertemu, dibawah plang penanda jalan malioboro didekat jalur rel kereta api.

“Sesuai janji, nih” Ucapnya sembari menyerahkan buku yang ia ambil dari ku.

“Udahan?” Entah kenapa pertanyaan itu spontan keluar dari mulutku, lagi-lagi ia tersenyum lebar namun aku kembali bisa merasa ada rasa dipaksakan dari senyumanya tersebut. Ia hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban pertanyaanku.

“Aku bakalan satu minggu di Jojga, kalau kamu mau, kita bisa jalan bareng lagi nanti” Ada sedikit perasaan bersalah muncul dariku, mengingat semua perlakuan yang aku lakukan kepadanya.

“Engga, semua selesai disini. Hari ini akan berakhir disini, dan besok adalah hari yang berbeda dengan hari ini. Begitu juga denganku, aku akan berakhir malam ini, dan tidak ada aku dihari esok” Lagi-lagi aku terdiam bingung mendengar ucapannya tersebut.

“Makasih ya udah mau nemenin aku jalan-jalan walaupun akunya maksa banget. Aku seneng dan bahagia deh dimalam yang bisa jadi merupakan malam terakhirku, aku gak sendirian. Aku punya orang lain yakni kamu”

Terdengar semua sirine yang menandakan kereta akan lewat, orang-orang yang masih berada ditengah rel segera mempercepat langkahnya untuk menyeberangi rel tersebut.

“Sekali lagi makasih ya, udah nemenin aku malam ini” Perempuan itu langsung berbalik dan pergi meninggalkan ku. Lagi-lagi aku hanya terdiam dibuatnya, aku baru saja bertemu dan tak mengenalnya sama sekali, namun entah apakah aku sudah terlalu tersugesti dengan semua ucapannya tentang menikmati momen, tapi ada perasaan tidak ingin berpisah dan ingin terus menikmati momen-momen random lainnya bersama perempuan aneh ini.

“Nama kamu siapa?” Tanyaku sembari sedikit berteriak agar ia yang sudah ada ditengah lintasan rel bisa mendengarku. Ia menghentikan langkahnya dan terdiam sejenak, lalu kemudian berbalik kearahanku dan tersenyum lebar seperti sebelumnya. Tanpa menjawab pertanyaanku ia kembali berbalik dan lanjut berjalan pergi. Aku terus memperhatikan punggungnya, berpikir apakah aku bisa bertemu lagi dengannya atau ini akan benar-benar menjadi perpisahan dimana aku tidak akan bertemu lagi dengannya. Suara sirine terus mengiringi kepergiannya, hingga sebuah kereta melintas didepanku yang menghalangi pandangangan ku memandang punggungnya yang terus menjauh pergi dari ku. Dan ketika gerbong terakhir kereta lewat, sosoknya sudah benar-benar tak ku temukan lagi.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)