“DI RANTAU, AKU MASIH AYAHMU”
Karya: Prasetya
Puisi Pembuka :
“Di Antara Dua Nama yang Tak Pernah Padam”
Di kejauhan, angin memetik namamu,
menggugurkan rindu yang kupelihara dalam dada.
Dua nama tumbuh bagai pohon di musim kering—
tetap hijau meski hujan tak kunjung tiba.
Wahai anak-anakku,
kalian adalah dua cahaya yang kusebut dalam sujud,
dua sungai yang mengalirkan hidupku
walau aku kini hanya mata air
yang terpisah lembah dan bukit.
Jika kerinduan punya sayap,
maka ia telah terbang melintasi kota, batas, waktu, dan usia.
Namun jika kerinduan adalah luka—
biarkanlah aku memeluknya selamanya.
Angin yang Membawa Nama
Setiap pagi di kota rantau, sebelum matahari menampakkan wajahnya, Raka Iswara selalu terjaga lebih cepat dari jam weker yang ia setel. B...