Demikian Aku Mencintaimu
●●●
“Biru!” Ia berkata dengan nada girangnya.
Aku menyipitkan mata kala itu, melihatnya begitu berbinar, air mukanya dipenuhi kebahagiaan. Dalam hatiku mengucapkan salam untuk kehidupannya. Salam sejahtera untukmu juga sekalian perjalanan hidupmu.
Aku mengaminkan tebakannya kala itu, membuatnya tersenyum girang dan berkata, bahwa, aku mudah sekali ditebak. Katanya, semingguan itu aku memakai baju dengan warna yang sama hampir tiga kali.
Katanya, karena aku selalu menatap langit biru yang membentang di atas sana. Entah dari mana datangnya segala semangat yang ia punya itu. Selalu seperti itu, seakan dunia dan rasa sakit yang tercipta di dalamnya tidak melukai dirinya sama sekali.
Tuhan mungkin menjaganya dari itu, atau mungkin doa Ibunya yang membentang seluas langit sedang menaunginya.
Sejak saat itu, aku menyukai warna biru. Aku menjadi lebih sering menatap langit karena warnanya, bukan lagi karena merindukan mendiang Ibuku dan berharap bisa segera terbang ke atas sana.
Kehidupanku berubah, tujuanku bukan lagi untuk makan sepiring hari ini untuk mengisi tenaga, lalu mati keesokan paginya. Namun, aku akan makan lebih banyak, dan hidup untuk besok lagi.
Perempuan itu memperhatikan terlalu banyak. Aku dibuat tertegun ketika di suatu kesempatan dia berkata senang memperhatikanku. Dia seakan mendapat energi tambahan, apalagi ketika melihatku tertawa.
Lelaki penuh duka sepertiku memang jarang tertawa. Tidak ada yang menarik atensi di dunia ini, sebelum perempuan dengan surai sehalus kapas itu terus membuntutiku dan membuatku jadi terbiasa dengan kehadirannya.
"Kamu jarang sekali tertawa. Padahal, kalau kamu tertawa, kehidupan seperti kembali berjalan. Bunga-bunga mekar dan menebarkan aromanya. Ombak di lautan menari saking bahagianya. Awan berkumpul di atas kepalamu seolah memberikan perlindungan."
Harus aku apakan kalimatnya itu? Menulisnya di ribuan kertas lalu menempelnya di segala sudut di dunia ini? Berkata pada dunia, bahwa, segala kepahitan hidup yang menghantui perjalananku tidak akan sebanding dengan pujian seseorang yang hidup di dalamnya.
Aku memenangkan pertarungan paling sengit yang pernah terjadi. Antara aku dan rasa ingin mati, aku menemukan titik tumpu untuk terus hidup dan bertahan, tak peduli dunia menghantam dari sisi mana saja.
Selama dia masih di bumi, kurasa semuanya akan baik-baik saja. Selama dia masih mau berada di sisiku, semuanya akan jauh lebih indah.
Layaknya diksi-diksi menawan di dalam buku paling romantis di dunia.
Layaknya ucapan metafora dari penyair yang sedang jatuh cinta.
Layaknya lukisan agung dalam pigura paling mahal.
Layaknya pahatan sempurna dari pemahat paling masyhur di segala penjuru bumi.
Terasa seakan aku gila karena cinta. Terlihat seolah dia adalah wujud sempurna dari mahakarya Tuhan yang paling disenanginya. Terlahir ke dunia sebagai air kehidupan yang menyuburkan harapan-harapan tak bertepi.
Sebagai perpanjangan tangan Tuhan untuk manusia putus asa macam aku. Manusia yang berpikir mati lebih baik daripada hidup untuk terluka besok pagi.
Maka untuk kesekian kalinya, aku jatuh begitu dalam kepada mata teduh itu. Kepada manik sekelam jelaga dengan alis tebal seperti deretan semut hitam di atasnya.
Aku suka bagaimana mata itu selalu menatapku dengan penuh penghargaan, seolah-olah cinta tak cukup untuk menjadi sebuah bukti; bahwa dari sekian banyak pilihan, pemilik manik itu memilihku. Memegang erat tanganku, menghapuskan ragu dan memberikan hal-hal terindah yang dulu tak mampu aku idamkan.
Manis stroberi senantiasa menguar dari helai rambut panjangnya, senyumnya selalu manis. Persis kembang gula yang selalu kucicip di pasar malam, atau mungkin lebih dari itu. Aku akan selalu berterima kasih padanya.
Kalau saja kiasan 'seolah Tuhan terlihat dari wajahnya' tidak begitu berlebihan, maka kiasan itu bersanding bersamanya sepanjang usia.
Tidak sulit jatuh hati padanya, gadis periang dengan deret gigi rapi yang ditampilkan ketika dia tertawa. Fakta bahwa, flat yang dihuninya hanya berbeda lantai denganku membuat kami kerap bertemu.
Senyumnya khas, membawa cahaya mentari setelah kelam malam. Matanya menyorot penuh kebahagiaan, seolah bertudung tangan Tuhan. Aku mungkin akan terus jatuh cinta dibuatnya. Gadis mungil yang dengan berani merampas paksa gelas seloki di genggamanku kala itu, menenggaknya dengan rakus.
"Muti!" Aku memekikkan namanya dengan lantang, dia memejamkan mata setelah merasakan efek panas di tenggorokannya. "Kamu ngapain minum ini?"
"Kamu yang ngapain minum ini lagi?!" Mutiara menaikkan satu oktaf nada bicaranya. Matanya membola.
"Cuma tequila, Mut. Tidak akan bikin aku hangover."
"Cuma? Cuma kamu bilang?" Gadis di depanku itu memicingkan mata, "mabuk tidak bikin masalah selesai, Juan. Kamu harusnya cerita kamu kenapa." Nadanya pelan.
"Kamu tidak akan mengerti."
"Bagian mananya?" Matanya menatapku tepat di manik, "bagian mananya yang tidak aku mengerti?" Imbuhnya.
Mutiara Putri—hiduplah lebih lama di bumi. Sebagai bunga paling indah yang pernah mekar. Sebagai air laut yang tak pernah surut. Sebagai langit yang menaungi alam semesta.
Sebagai perantara Tuhan; untuk manusia macam aku; yang hidupnya mungkin tidak berarti apa-apa. Yang hilangnya mungkin tidak dicari, yang marahnya mungkin tidak dipeduli, yang pedulinya mungkin tidak dihargai.
"Muti,"
"Iya?"
"Hidup terus, ya, Muti. Hidup terus."
Muti tertawa nyaring di depanku, membuat matanya tersisa segaris. Dia cantik sekali. Aku berani bersumpah.
Pada denting jarum jam lewat tengah malam itu, kami berandai-andai—bagaimana jika begini, bagaimana jika begitu, harus ini? harus itu? sampai pada, "Bagaimana jika dunia hancur dan yang tersisa hanya sepetak tanah kosong?" Muti mengajukan tanya, melirik ke arahku.
Keningku berkerut, "Aku bisa berkelahi. Asal kamu tidak pergi, tanah itu kuusahakan milik kita."
"Memangnya aku bisa pergi ke mana?” Muti menatap lamat. Lama. Hening membungkus malam itu, menyelimuti segala resah yang kami tanggalkan sore tadi—bersama secangkir teh dan kopi di cangkir lainnya.
"Kalau begitu jangan pergi." Kataku.
"Tapi bagaimana jika ternyata Tuhan menakdirkan hal lain?" Muti tampak melamun, menerawang menatap langit-langit kamar.
Aku membuka suara, menginterupsi lamunan, terdengar serak dan teredam, "Tapi Tuhan juga menghadiahkan doa kepada manusia sebagai senjata paling ampuh." Netranya berpendar, menyapu seluruh ruangan lalu mata kita bersinggungan.
"Aku berdoa semoga Tuhan senantiasa sudi menyatukan kita. Di mana pun, dalam keadaan apa pun, dalam bentuk apa pun. Entah manusia, atau sekadar jadi kumbang dan kamu bunganya. Bunga yang akan selalu indah, mekar dan harum di tengah kegersangan di penjuru bumi." Imbuhku.
"Kalau begitu, mari selamanya." Muti menimpali. Wajahnya penuh gurat bahagia.
"Kamu cantik sekali," pujiku. Terlihat jelas kedua pipi Mutiara yang perlahan bersemu, persis kepiting rebus yang memerah. Lucu sekali jika sedang tersipu malu.
"Aku tahu kamu bosan mendengarnya." Muti hanya menggeleng mendengarnya kala itu.
Tapi, Muti, selama kamu masih di bumi, aku akan terus merapal pujian untukmu. Pujian yang memang pantas tersemat di belakang namamu. Mengiringi tiap peluh perjalanan hidupmu.
Di tiap embusan angin yang menerpa keningmu—memainkan anak rambut yang memperindah wajahmu; sungguh, aku selalu bersedia menyelami tiap inci segala keindahan yang Tuhan perwujudkan dalam dirimu.
"Kamu harus sering bercermin." Saranku.
Keningnya bertaut, "kenapa?"
"Tatap netra sedalam samudera itu," Muti mendengar khidmat, "aku berdoa, semoga kebahagiaan menyertaimu sepanjang usiamu."
Semoga Tuhan selalu baik kepadamu, Mutiara. Kepada hidupmu; kepada takdirmu.
Demikian aku mencintaimu—dengan seluruh hidup yang dulu ingin kuakhiri.
■■■