Rama dan Alinea sudah menikah selama lima bulan. Dan selama itu pun, Rama sudah melihat Alinea menonton serial film yang sama berkali-kali.
Bukan hanya sekali dalam sehari. Melainkan di setiap kesempatan yang berhasil dicurinya—saat memasak, saat melipat dan menyusun pakaian ke lemari, bahkan di saat mereka baru saja selesai menghabiskan malam panjang dan hanya bergelung dalam selimut berdua.
Rama bukannya tidak suka, ia juga suka film yang diadaptasi dari anime itu. Apalagi berkisah tentang pendekar pedang—yang dalam imajinasi liar Rama, tokoh utamanya adalah dirinya sendiri. Tapi untuk menonton film yang sama berulang kali dalam sehari, tidak dulu.
Masalahnya, Rama sudah hafal dialog-dialog penting dalam film itu, bahkan tanpa benar-benar fokus menontonnya. Sebentar lagi mungkin ia akan hafal koreografi pedangnya. Ya, mungkin saja. Tunggu sampai Alinea memintanya untuk menemani istrinya itu menonton di malam hari.
“Takeru Satoh cocok sekali berperan sebagai Himura Kenshin—”
“—seperti keluar dari animenya langsung.” Rama buru-buru menimpali kalimat Alinea. Ya, bahkan ia sudah hafal komentar istrinya tiap kali melihat scene Kenshin muncul.
“Kamu tidak mau menonton film lain?” Tawar Rama tanpa menoleh ke arah Alinea, ia sibuk memotong tempe di talenan.
Alinea menggeleng cepat. “Tidak, sampai aku bosan melihat Himura Kenshin.” Mata Alinea sibuk berpindah-pindah. Dari layar, ke cucian beras, lalu ke layar lagi—sibuk menonton.
Rama hanya mengembuskan napas pendek. Mau bagaimana lagi, mereka sudah berjanji di depan Pendeta lima bulan lalu untuk selalu setia satu sama lain. Untuk selalu ada dan tidak saling meninggalkan apa pun yang terjadi.
Meski Rama mulai sadar, istrinya itu cinta mati kepada Himura Kenshin.
Dan ia cukup waras untuk tidak bertanya, pilih dia atau karakter fiksi kepada istrinya.
Karena Rama tahu jawabannya—dan ia tidak siap kalah dari seorang pendekar pedang.
○○○●●●○○○●●●○○○●●●○○○