Flash Fiction
Disukai
2
Dilihat
14
Dua Potong Kue Bulan
Drama
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Hujan deras sudah mengguyur sejak satu jam yang lalu. Angin yang dibawanya benar-benar dingin. Aku merapatkan jaket dengan tangan kiri, memeluk diri sendiri. Tangan kananku memegang payung yang sebenarnya sudah bocor di sisi belakang—membuat rambutku sedikit basah.

 

Aroma tanah basah yang menguar masuk ke hidung. Aku menghirupnya dalam-dalam. Berharap bisa mencuci otakku yang penuh sekali. Sampai-sampai dengung lebah sudah tidak punya ruang untuk menetap di sana.

 

Satu dua kendaraan berlalu dengan kecepatan rata-rata. Ada banyak genangan air di jalan, aku berjalan di bagian tepi. Tapi tetap kena cipratan air. Ya sudahlah, mau bagaimana lagi.

 

Kalau bukan karena sabun cuci piring yang sudah habis di rumah, aku mungkin lebih memilih meringkuk di dalam kamar, memakai selimut dan menonton film dengan genre romantis. Atau sekadar makan mie instan dengan kuah pedas, ditemani secangkir teh melati hangat dan satu potong kue bulan. Oh, indahnya.

 

Syukurnya warung Bu Ramlah tetap terbuka di tengah hujan begini. Jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumahku. Lumayan juga sih kalau sedang malas ke mana-mana.

 

Aku membeli sabun cuci piring yang harganya lima ribu rupiah, pikirku besok bisa beli yang besar di pasar. Yang ini cukuplah untuk cucian piring yang menumpuk di rumah. Di sisi kanan meja kasir, ada setoples kue bulan. Aku mengambil dua potong. Lalu membayar semua belanjaanku.

 

Dari halaman rumah, aku sudah bisa mendengar suara barang-barang yang seperti dilempar ke sembarang arah. Suara sapu ijuk yang terkena rak piring, tembok, kulkas dan yang lainnya. Sebelum memutar gagang pintu, aku menghela napas berat. Aku harus siap mendengar ceramah panjang lagi.

 

“Punya anak perempuan nggak ada gunanya sama sekali! Kerjaan rumah nggak ada yang beres!”

 

Demikianlah. Hampir setiap hari ucapan itu kudengar. Aku baru pulang kerja dua puluh menit lalu, aku bahkan belum sempat untuk mandi. Melihat piring kotor menumpuk dan sabun cuci piring habis, aku langsung ke warung.

 

“Sok-sokan kerja di dua tempat, sampai nggak punya waktu buat kerjaan rumah.”

 

Kamarku bersebelahan dengan kamar kakak laki-lakiku. Dia ada kok di kamarnya, tapi yang dicari tetap saja aku.

 

“Goblok!!! Siapa sih yang masukin flowerflower? Mainnya nggak becus! Beban tim anjiirr.”

 

Kakakku sedang asyik bermain gim. Menurutku suaranya mengganggu, tapi entah kenapa orang tuaku tidak ada yang protes atau sekadar merasa terganggu dengan itu.

 

Aku tidak punya gim favorit. Karena sebelum aku berniat untuk main, aku sudah punya daftar tugas yang harus kukerjakan di rumah.

 

“Aku saja, Bu.” Kataku pada Ibu yang sedang mendekat ke Kitchen Sink. Ibu mendengus jengkel, ekor matanya melirik tajam ke arahku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.

 

Sebelum meraih piring kotor pertama, aku memasang headset terlebih dahulu, dan memutar lagu Places We Won’t Walk dari Bruno Major. Untuk menutupi kebisingan lain yang hanya akan membuatku murung.

 

Setidaknya aku tidak perlu mendengar Ibu yang merapikan rumah sambil marah-marah, kakak laki-lakiku yang teriak frustasi di kamarnya karena kalah main gim, atau suara Ayah yang menegur kalau Ibu sudah membahas semua kesalahan penghuni rumah.

 

Aku ikut bernyanyi lirih mengikuti lirik lagu. Pelan dan tenang. Aku suka perpaduan yang seperti ini.

 

Untuk sejenak merasa tenang dan memikirkan diri sendiri. Hanya aku, dan isi pikiranku.

 

Aku tahu Ayah dan Ibu sudah bertengkar di ruang tengah, dan kakakku yang mondar-mandir dengan bau kecutnya karena belum mandi sama sekali.

 

Setidaknya, dengan mendengar lagu dan bernyanyi pelan, aku bisa menikmati waktuku sendiri.

 

We will smile to end each day...

In places we won’t walk...

 

Aku cuma bisa menghela napas pilu ketika melihat kue bulan yang kubeli tadi sudah hilang. Aku ingat sekali menaruhnya di atas piring porselen kecil karena buru-buru ingin cuci piring sebelum Ibu semakin marah.

 

Bahkan dua potong kue pun tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

 

Kalau ternyata cita-citaku adalah pergi jauh dari tempat ini, apakah aku egois?

 

Aku boleh memikirkan diriku sendiri, ‘kan?

 

Di suatu hari, di suatu waktu, aku ingin bangun pagi di apartemen sendiri yang letaknya di pusat kota suatu negara maju.

 

Aku ingin di sana saja—tempat di mana aku tidak perlu meminta izin untuk menjadi diriku sendiri.

 

●●●

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Rekomendasi