Kisah Rafan Nashif & Fariha Nasiha
---
## Bab 1: Galaksi yang Menolak Tenang
*Pintu Gerbang Masa Lalu dan Tarian Partikel Debu*
> "Mereka seperti perasaan yang kupendam. Kalau tidak disentuh, mereka diam. Tapi sekali diusik, mereka beterbangan memenuhi seluruh rongga dada, memaksa untuk diakui."
Rafan Nashif berdiri di ambang pintu rumah tua milik mendiang kakeknya. Masker kain yang ia kenakan hampir tak mampu menahan bau apek dan partikel halus yang langsung menyerbu pernapasannya. Di dalam ruangan, berkas cahaya matahari sore menembus celah-celah genting yang bocor, menerangi jutaan debu yang beterbangan bebas di udara—seperti galaksi kecil yang menolak untuk tenang. Rumah berpilar kayu jati ini telah berdiri kokoh selama lebih dari tujuh dasawarsa di sudut tenang kawasan lereng bukit, namun semenjak kepergian Kakek Danu tiga pekan silam, bangunan itu seolah kehilangan denyut nadi kehidupannya. Lantai tegel abu-abu bermotif kembang klasik kini tertutup lapisan kusam yang tebal, mencatat setiap jejak sepatu yang melintas sebagai saksi bisu kesunyian yang mencekam.
"Rafan, cepat bawa kardus ini ke pekarangan!" suara Fariha Nasiha memecah keheningan dari sudut ruang tengah.
Fariha, gadis yang selama ini mengisi posisi khusus di hati Rafan sebagai sahabat sekaligus wanita yang diam-diam ia cintai sejak masa remaja, tampak jauh lebih siap menghadapi kekacauan ini. Fariha mengenakan celemek kain berwarna krem pudar dengan motif garis tipis, rambut hitam legamnya diikat tinggi membentuk cepol sederhana yang menampilkan leher jenjangnya yang putih. Ia sedang sibuk memilah tumpukan buku-buku tua berjilid tebal peninggalan sang kakek. Sebagian besar buku itu adalah risalah sastra kuno, kamus Jawa-Belanda, serta kumpulan catatan botani yang halamannya telah menguning rapuh termakan kelembapan udara pegunungan.
Rafan terbatuk kecil, melangkah mendekat dengan langkah ragu-ragu agar tidak menimbulkan pusaran debu yang lebih pekat. "Fariha, apa tidak sebaiknya kita sewa jasa pembersih saja? Debu di sini sudah seperti peninggalan purbakala. Setiap kali aku melangkah, mereka beterbangan membuat mataku perih."
Fariha menghentikan gerakannya. Ia menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju, meninggalkan coretan abu-abu tipis di kulit pipinya yang justru membuat wajahnya terlihat manis di mata Rafan. "Kita tidak punya waktu untuk menunggu orang lain, Rafan. Lagipula, mengemas barang-barang ini sendirian... rasanya terlalu sepi."
Kalimat terakhir Fariha diucapkan dengan nada lirih, nyaris teredam oleh desau angin yang menyelinap lewat kisi-kisi jendela nako yang berderit. Rafan merasakan getaran aneh di dadanya. Fariha baru saja kehilangan satu-satunya tempat bersandar setelah Kakek Danu tiada. Ayah dan ibu Fariha telah tiada dalam sebuah kecelakaan saat usianya baru sepuluh tahun, dan semenjak itu sang kakeklah yang merengkuh Fariha dengan kasih sayang penuh kelapangan. Bagi Rafan sendiri, Kakek Danu adalah figur pelindung yang mengajarkannya arti keberanian dan kejujuran. Melihat bahu Fariha yang sedikit gemetar di balik celemeknya, Rafan berjanji dalam hati untuk selalu ada di samping gadis itu, apa pun yang harus ia korbankan.
Rafan meraih sebuah kemoceng tua bertangkai bambu yang tergeletak di atas meja kayu trembesi. Dengan sekali kibasan pelan pada tumpukan map karton, kumpulan debu tebal langsung membubung tinggi, berputar-putar di udara di antara jarak wajah mereka yang kini hanya terpaut beberapa puluh sentimeter. Butiran debu itu berpendar keemasan ditimpa sinar matahari yang condong ke barat.
"Lihat itu," ujar Rafan, suaranya mendadak melembut sembari menunjuk debu-debu yang melayang di bawah berkas sinar matahari. "Mereka seperti perasaan yang kupendam. Kalau tidak disentuh, mereka diam. Tapi sekali diusik, mereka beterbangan memenuhi seluruh rongga dada, memaksa untuk diakui."
Fariha terpaku. Sepasang mata indahnya yang bening menatap Rafan, mencari arti di balik kalimat yang meluncur tanpa aba-aba itu. Jantungnya berdesir hebat, menciptakan degup cepat yang mengalahkan heningnya sekeliling. Untuk sesaat, debu yang menari di antara mereka seolah menjelma menjadi latar belakang film romantis yang lambat, menangguhkan hukum gravitasi dan waktu. Sejak dulu Rafan adalah sosok yang pendiam, lebih sering menyembunyikan perhatiannya dalam tindakan-tindakan kecil tanpa banyak kata. Mendengar kalimat puitis yang begitu telanjang dari bibir Rafan membuat Fariha kehilangan kata-kata.
Merasa gugup oleh keterdiaman yang ...