Disukai
0
Dilihat
6
Dari Jiwa Yang Kesepian
Romantis
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Suara klakson mobil memenuhi jalanan, memecah malam yang seharusnya hening. Gumpalan halus putih perlahan turun dari langit. Tahun ini adalah perwujudan dari pemikiran manusia yang sudah lama melupakan sihir dan juga dunia fantasi sejak ribuan tahun dahulu. Kemajuan pemikiran telah mengantarkan dunia ini ke era baru. Namun, di tengah kemajuan itu,.masih ada satu buktia sejarah manusia di masa sihir dan fantasi yang kelam.

Malam ini, seorang gadis berparas layaknya mutiara dengan rambut hitam panjang, berumur an sekitar tujuh belas tahun,. menatap ke arah kemacetan lalu lintas dari atas jembatan penyeberangan khusus pejalan kaki. Di tangan kanannya memegang kopi kalengan, sambil menatap pemandangan itu, dia meminum kopi kalengannya, "Wah, malam yang indah. Salju dan keheningan malam ini, meskipun sedikit berbeda suasana malamnya, tapi ini mengingatkanku padamu, Jun." Gadis itu mulai bergumam lalu menatap ke arah langit yang meskipun sedikit mendung serta turun salju, indahnya bulan masih bisa sedikit terlihat.

"Di malam yang sama seperti sekarang, aku masih tidak bisa melupakannya, di sinilah kita pertama kali bertemu.... " Gadis berambut panjang itu bernama Sora. Layaknya proyektor, ingatan Sora memainkan ingatan indah yang ia ingat. "Saat aku dalam keputusasaan, di saat aku tidak tahu jalan mana yang harus aku tempuh, tanpa ragu kamu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang mustahil padaku. "Sekejam apapun dunia ini, sesulit apapun rintangannya, aku akan membuatnya kembali menjadi manusia normal... Maka dari itu...... Tolonglah menjadi pasanganku!" Suara Jun bergema di ingatan Sora. Perlahan sorot mata Sora mulai berkaca-kaca.

"Dahulu kala, ada seseorang yang ingin menciptakan kemustahilan paling mustahil... Membuat manusia bisa jadi abadi. Mereka yang terobsesi oleh itu hingga melakukan eksperimen gila dengan sihir-sihir terlarang di anggap ancaman kemudian di bunuh oleh pihak kerajaan. Namun ada pasangan yang berhasil kabur dan berhasil mewujudkan itu...." Tangan Sora mengepal kuat-kuat, "Mereka adalah orang tuaku." Angin berhembus melewati anak rambut Sora. "Ambisi bodoh!" Arus lalu lintas mulai kembali normal, kini jalanan begitu lenggang di buatnya. "Setelah itu, kedua orang tuaku meninggal, dan anaknya di paksa untuk hidup sendiri selama ribuan tahun lamanya." Sora menatap kosong ke arah jalanan,

"Waktu umurku tujuh belas, di saat sakit parah, di sanalah orang tuaku menjadikanku abadi dengan meminum ramuan ciptaan mereka." Suhu semakin dingin, Gadis itu melilitkan syalnya lebih padat untuk membuatnya tetap hangat. Sora mulai kelelahan berdiri, terutama setelah harus mengingat kejadian kelam itu lagi.Gadis itu sekarang teruduk dengan posisi bersandar di pagar jembatan.

"Keputusasaan menyelimutiku. Ingin bunuh diri pun rasanya sia-sia. Kucoba ribuan kali, regenerasiku sudah seperti makhluk lain saja." Ingatan Sora bekerja kembali, kali ini dia melihat gambarannya secara langsung. Dirinya dan Jun tepat berada di depannya.

Dahulu jembatan penyeberangan dan jalanannya adalah hutan lebat yang menyeramkan. Tapi, dalam mencekamnya suasa itu, sebuah janji di buat, sebuah ikatan tercipta. "Saat itu kau sangat keras kepala, ya? Sekalipun aku memberitahumu tentang siapa sebenarnya diriku, kau tetap ngotot dan hanya karena alasan bodoh menganggap diriku adalah takdirmu meskipun kamu hanya berpapasan denganku waktu itu." Sora tidak sanggup lagi menahan bendungan air matanya, "Aku tidak ingin kamu pergi... Aku ingin tetap bersamamu, meskipun hanya beberapa menit saja..... Aku ingin bisa mengobrol denganmu lagi." Suara tangis itu layaknya di bungkam, tidak ada satupun orang yang mendengarnya saat itu.

"Kau melakukan apa saja demi diriku dan berusaha menepati janjimu untuk membuatku menjadi manusia normal kembali........ Tapi.... Tapi.... " Tangis Sora semakin menjadi-jadi, "Tapi takdir berkata lain..... Aku selamanya abadi dan hidup kesepian kembali...... Tanpa dirimu di sisiku.... Aku.... Aku sangat kesepian."

Suara terakhirnya lenyap ditelan deru mobil yang mulai bergerak lagi. Jalanan yang tadinya macet, kini mengalir, meninggalkannya sendirian di atas jembatan yang terasa semakin tinggi, semakin terpisah dari denyut kehidupan di bawahnya.

Tahun, dekade, abad berlalu. Tapi malam itu, malam di mana Jun tersenyum terakhir kali sebelum tubuhnya dimakan penyakit yang tak tersembuhkan—penyakit yang tak pernah bisa menyentuh Sora—selalu terasa seperti baru kemarin. Keabadian bukanlah kilauan emas atau kekuatan dahsyat. Ia adalah penjara yang dindingnya terbuat dari waktu. Setiap orang yang ia sayangi, setiap tawa yang pernah menghangatkannya, berubah menjadi debu. Hanya dia yang tetap, terjebak dalam kenangan yang semakin pudar, seperti foto lama yang lapuk.

Matanya yang telah menangis sampai kering kini hanya bisa memandang kosong ke jalanan yang basah oleh salju yang mencair. Ada seorang ibu muda dengan kereta dorong berjalan cepat, seorang lelaki tua berjalan tertatih dengan tongkat, sekelompok remaja tertawa riang dengan cahaya ponsel mereka. Mereka semua punya batas waktu. Mereka semua berlari menuju sebuah akhir. Dan di situlah letak keindahan mereka, keunikan mereka. Setiap detik berharga karena jumlahnya terbatas.

Sementara Sora... Sora memiliki lautan detik yang tak bertepi. Sebuah lautan yang diam, membeku, dan sunyi. "Apa gunanya semua ini, Jun?" gumamnya pada angin, suaranya hampir tak terdengar. "Apa gunanya aku menyaksikan matahari terbit dan terbenan ribuah kali, jika tak ada lagi yang bisa kuajak berbagi tentang keindahannya? Apa artinya musim berganti, jika tak ada lagi yang kuingat untuk kuceritakan tentang musim semi di mana kita pertama kali bertemu?"

Ia merasakan sesuatu yang lebih dalam dari kesepian: kehilangan makna. Keabadian telah mengikis segalanya hingga menjadi datar, monoton, dan hampa. Cinta Jun adalah percikan api terang yang pernah menghangatkan dan menerangi penjaranya yang beku. Tapi setelah api itu padam, kegelapan yang tersisa terasa lebih pekat, lebih menusuk, daripada kegelapan sebelum api itu ada.

Ia membayangkan Jun, di detik-detik terakhirnya. Mata Jun yang lemah tapi penuh ketenangan menatapnya. Bibirnya yang pucat berbisik, "Maafkan aku, Sora. Aku tak bisa menepati janjiku. Tapi tolong... jangan berhenti hidup. Carilah alasan lain. Meski aku tak di sana, carilah alasan untuk tetap memandang langit."

Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat sepasang anak muda naik ke jembatan penyeberangan di seberang. Mereka tertawa, berdebat soal sesuatu yang remeh, lalu si pemuda dengan canggung mencoba memegang tangan si gadis. Si gadis memalingkan muka, tapi senyum kecil mengembang di bibirnya.

Pemandangan itu seperti pukulan telak di dada Sora. Itu adalah mereka, ratusan tahun yang lalu. Jun yang ceroboh dan nekat, dan dirinya yang keras kepala tapi akhirnya luluh. Itu adalah awal segalanya. Dan akhir segalanya.

Air mata tidak lagi datang. Yang ada hanyalah sebuah kehampaan yang luas, datar, dan tak berujung. Ia tidak akan pernah menjadi manusia normal. Janji Jun tinggal janji. Cinta Jun tinggal kenangan. Dan dia... dia akan tetap menjadi Sora. Gadis berparas mutiara berumur tujuh belas tahun, dengan rambut hitam panjang, yang akan terus berdiri di jembatan-jembatan yang berbeda, di kota-kota yang berbeda, di era-era yang berbeda, menyaksikan orang-orang jatuh cinta, berpisah, hidup, dan mati.

Satu-satunya yang tak pernah berubah adalah kesepiannya. Itulah satu-satunya kekasih abadinya.

Dia membalikkan badan, meninggalkan pagar pembatas. Langkahnya perlahan, pasti, tapi tidak menuju ke mana pun. Dia hanya berjalan. Menyusuri trotoar yang tak berujung, di bawah bulan yang diam-diam menyaksikan.

Malam masih panjang. Dan baginya, semua malam akan selalu terasa panjang.

Namun, di kedalaman jiwa yang beku itu, tersimpan sebuah permata kenangan tentang seorang pemuda yang pernah memberanikan diri mencintai yang tak kekal. Itu tidak menghangatkannya. Tidak juga mengisi kesendiriannya. Tapi itu adalah satu-satunya bukti bahwa di samudera waktunya yang tak bertepi, pernah ada satu pulau yang nyata.

Dan untuk yang abadi, terkadang, satu bukti itu sudah lebih dari cukup—dan sekaligus lebih pedih dari segalanya.

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Rekomendasi