“Serangan! Awas, semua! Cari tempat berlindung!”
Mendengar teriakan di luar, Hilal dengan cekatan menarik adiknya yang masih tertidur. Ia tidak sempat menyambar barang-barang yang lain. Lebih tepatnya, Hilal tidak peduli saat itu. Seakan terlatih, kakinya berlari kencang keluar dari tenda pengungsian. Kekuatan kakinya seakan dapat mengalahkan atlet lari internasional. Ia terus berlari tanpa berani melihat ke belakang. Ketika ia berlari, adiknya—Pasha—terbangun. Berbeda dengan anak kecil lainnya yang menangis, Pasha diam. Ia seakan sudah terbiasa dengan situasi ini.
Dengan tenang, Pasha bertanya kepada Hilal, “Kita mau ke mana, Kak?”
“Tidak tahu,” Hilal tersengal-sengal. Tetapi ia tidak berhenti berlari. Ia mencoba menundukkan kepala adiknya agar tidak melihat ke arah belakang. “Lihat ke depan saja, Pasha. Kakak akan membawamu ke tempat aman—”
Bum!
Hilal tersentak. Tubuhnya terlempar sebagai efek inersia. Ia sontak melindungi kepala adiknya seraya tubuhnya berguling-guling di tanah. Ia terbangun dengan cekatan dan mengecek kondisi adiknya.
“Kamu tidak apa-apa, Pasha?”
Pasha menggelengkan kepala. “Tidak,” jawabnya singkat dan lirih. Ia melihat lengan Pasha sedikit lecet. Sepertinya tadi sempat bergesekan dengan batu tanpa ia sadari. Tetapi Pasha tidak mengeluhkan sakit sedikit pun.
Hilal tidak ambil pusing sementara waktu. Ia segera berdiri. Ia harus membawa Pasha ke tempat aman. Ia ingat mereka masih memiliki kawasan aman yang lain. Di sana seharusnya ada rumah sakit dan posko pengungsian yang lain.
Belum sempat ia berlari, kakinya terhenti. Hilal mendengar suara tangis anak kecil. Anak itu menangis kencang. Hati Hilal bergetar. Ia merasa tak tega. Tetapi dibandingkan dengan nyawa adiknya, tentu tidak seberapa….Dengan cepat Hilal memutuskan untuk berlari. Namun, belum jauh ia berlari, Hilal mengerem mendadak. Alih-alih melanjutkan berlari, ia berbalik badan sambil menggendong adiknya. Ujungnya, ia kembali mengunjungi anak kecil yang menangis tersebut.
“Di mana orang tua atau keluargamu?”
Anak kecil itu menujuk kearah sebuah reruntuhan. Hilal menengok. Ia tertegun melihat seorang wanita muda yang tertiban reruntuhan. Kepala wanita itu terlihat berdarah cukup banyak. Hilal menipiskan bibir. Tidak mungkin wanita itu masih hidup, pikir Hilal. Ia kembali memperhatikan anak kecil itu.
“Namamu?”
Anak kecil itu masih sesenggukan. Tetapi sepertinya ia sudah sedikit lebih tenang. Mungkin ia merasa sedikit lebih aman karena Hilal mengajaknya bicara. “Rafa. Kakak bisa menyelamatkan ibuku?”
“Ibumu sudah mati,” jawab Hilal dingin.
Sementara di sisi lain, Pasha mengerutkan kening mendengar jawaban kakaknya. Tentu, Hilal tidak melihat ini. Tapi kalaupun ia melihat, Hilal akan tetap mengatakannya. Pertama, kemungkinan besar itu benar. Kedua, kalaupun tidak, ia tidak bisa menolong. Lagipula, semua orang sibuk menyelamatkan diri masing-masing saat ini. Lihatlah, Rafa sudah menangis lama. Adakah yang mendatanginya selain Hilal?
“Ibu … ibu tidak mungkin …”
Rafa menggelengkan kepalanya kuat. Tangisannya yang sudah mereda sekarang menjadi kencang kembali. Jika ini di belahan bumi lain, anak kecil belum tentu mengetahui arti kematian. Tapi bagi anak kecil yang lahir dan tumbuh di tanah ini, kematian adalah hal lumrah dan mereka sudah paham itu sejak dini.
“Diam!”
Rafa terkejut dan diam setelah mendengar bentakan Hilal. Kini ia menatap ragu Hilal.
“Kau mau ikut denganku atau tidak? Kami mencoba mencapai kawasan aman selanjutnya. Tempat ini sudah menjadi jangkauan musuh. Terserah kau percaya padaku atau tidak. Tapi kalau kau berdiam diri di sini, jelas kau akan menyusul ibumu. Ibumu susah payah menyelamatkanmu, kau yakin ingin menyia-nyiakan usahanya?”
Hilal tanpa tendeng aling-aling menyatakan dengan gamblang situasi yang terjadi. Kenyataan pahit memang harus ditelan, terutama jika ingin hidup lebih lama meski barang satu hari di tempat keji seperti ini.
…….
Hilal berlari dengan sekuat tenaga. Tangan kanannya masih menggendong Pasha, sementara tangan kirinya setengah menyeret Rafa yang berlari sekencang mungkin berusaha untuk mengimbangi Hilal. Hilal tidak berani berhenti walaupun hanya sebentar, meskipun ia bisa merasakan Rafa tersengal-sengal di sampingnya. Ia sendiri mulai merasa napasnya semakin pendek.
“Kak, lepaskan aku saja,” kata Pasha lirih. Ia menengok ke belakang dan menatap nanar para tentara musuh yang siap membawa senjata dan bergerak cepat ke arah mereka.
“Diam!”
Pasha mengatupkan bibirnya ketika Hilal membentaknya. Belum sempat ia berpikir hal lain, matanya membesar melihat musuh yang hendak menembak. Sontak Pasha menepuk-nepuk bahu Hilal.
Dor! Dor! Dor!
Tiga peluru kembali ditembakkan. Warga sipil lainnya yang ikut berlari bersama semakin kocar-kacir. Hilal berhasil menghindari berkat Pasha yang mengingatkannya. Meski begitu, sudah ada dua luka tergores di bahu kiri dan lengannya akibat kakinya yang kurang lincah menghindari peluru yang melesat.
Tetapi ia tidak menghiraukan rasa sakitnya. Padahal darah sudah merembes membasahi lengan panjangnya. Hilal juga merasa semakin pusing. Ia bisa membayangkan seberapa pucatnya wajahnya. Kakinya tetap bergerak dengan cepat. Ia sama sekali tidak berani berhenti. Kalau berhenti, tamatlah riwayat mereka. Ia hanya bisa menyemangati dirinya bahwa mereka sudah dekat dengan area militer selanjutnya. Hanya dengan perlindungan militer dan posko keamanan, mereka bisa bernapas lega.
Hilal memacu kakinya lebih kencang.
Dor!
Kali ini bukan dari lawan, Hilal akhirnya melihat pasukan dari sisi mereka yang menyerang balik dengan senjata menembaki musuh yang sebelumnya mengejar dan menembaki mereka dari belakang. Hilal tidak ragu lagi. Ia berlari semakin kencang, kali ini ia tidak segan benar-benar menyeret Rafa. Para warga sipil yang lain sepertinya juga berpikir hal yang sama dengannya.
Hilal benar-benar berpikir nyawanya akan berakhir hari itu juga. Tetapi takdir ternyata masih berbaik hati padanya. Tangisannya berderai kala ia mencapai rumah sakit di kawasan aman tersebut. Ia memaksa dokter untuk melihat kondisi Rafa dan Pasha terlebih dahulu. Mereka berdua baik-baik saja. Ia yang justru tidak baik-baik saja. Hilal berpikir ia masih dapat hidup lebih lama lagi.
“Kamu hebat bisa bertahan dengan kondisi seperti ini.”
Hilal tertawa renyah mendengar ucapan dokter yang tengah merawat lukanya. Ia justru merasa bersyukur bahwa kondisinya bukan apa-apa. Ia sudah berpengalaman. Bukan satu atau dua hari kondisi negeri mereka begini. Sudah banyak ia melihat saudara sebangsa dan setanah airnya mengalami kondisi yang lebih berat darinya.
Hilal memperhatikan wajah sang dokter. Dokter itu memiliki rambut hitam yang sedikit ikal dan dipangkas pendek dengan rapi. Kulit dokter itu berwarna sedikit berbeda dengan warna kulit putihnya. Hilal pernah bertemu dengan orang-orang berkulit warna yang sama. Apa kata mereka sebelumnya? Ah, iya, warna kuning langsat. Kata mereka, itu warna kulit yang cukup khas dari negara mereka, walaupun sebenarnya negara mereka memiliki warna kulit yang beragam karena banyaknya campur aduk ras. Hilal memperhatikan hidung dokter tersebut yang tidak tinggi seperti hidung orang-orang yang sebangsa dengannya.
“Anda dokter baru disini?”
“Ya, saya dokter baru di sini. Saya mengikuti rombongan relawan yang baru.”
Hilal tersenyum. “Anda dan teman-teman Anda sangat baik. Semoga kebaikan kalian terbalaskan. Boleh saya tanya nama anda?”
“Halim. Maksudmu teman-teman saya?”
“Aku pernah bertemu dengan orang-orang yang berasal dari negeri seberang nan jauh sepertimu. Mereka juga relawan. Kami sangat berterima kasih kepada kalian. Dulu aku juga pernah mengalami kecelakaan yang lebih hebat dan diselamatkan oleh salah seorang dokter dari negeri yang sama denganmu. Sayang sekali aku tidak ingat namanya.”
“Benarkah? Bagus kalau begitu. Lukamu sudah selesai. Aku harus mengurus pasien yang lain,” ucap dokter Halim dengan senyum. Ia hendak beranjak sambil membawa tas obat-obatannya. Tetapi Hilal mencegatnya. Halim menoleh dan menatap lamat-lamat jemari Hilal yang mencengkeram jas putihnya.
“Bagaimana aku bisa jadi sepertimu?”
Halim kali ini menatap mata remaja lelaki tanggung di hadapannya. Sebuah mata yang membara seakan-akan melahap orang-orang yang menatap matanya. Tidak pernah sebelumnya Halim melihat semangat yang demikian, bahkan dengan pengalamannya sebagai dokter selama ini. Sepanjang kariernya, ia telah menangani banyak orang sakit, menemukan banyak kisah pilu dan melihat banyak harapan yang pusus. Namun, ia tidak pernah melihat semangat dan amarah yang begitu kuat.
“Belajar,” jawab Halim singkat dengan mengulum senyum. “Kau mau kuajarkan? Hanya tindakan pertolongan pertama. Selebihnya kamu harus belajar secara formal.”
“Belajar formal….maksudmu universitas?”
“Ya. Kalian juga punya, kan, di sini?”
Hilal mengangguk perlahan dengan ragu. “Setahuku, ya. Tapi yang sekarang dapat bertahan ada di luar kota ini. Jauh sekali dari sini.”
“Itu lebih baik. Kalau tidak, kau mengambil beasiswa keluar saja. Beberapa negara menerima mahasiswa internasional sepertimu. Jadi, kau mau menontonku melakukan tindakan? Masih bisa berdiri?”
Hilal bukanlah anak cengeng. Begitu ia mendapatkan kesempatan, tidak mungkin ia menolaknya. Ia turun dari kasur dan segera mengekori Halim untuk menangani pasien korban konflik yang lainnya. Hilal mengamati dengan khidmat segala gerak-gerik Halim. Ia bahkan terkadang membantu sampai-sampai para perawat yang ada di sana menatapnya dengan heran. Tetapi Hilal tidak menggubris hal tersebut. Baginya, hari itu adalah pelajaran yang berguna untuknya.
Hilal bertekad untuk menjadi seperti Halim. Hilal memang bukan orang yang lemah. Tetapi ia bukan pula orang yang kuat. Ia ingin berkontribusi. Tetapi siapalah ia? Bukan seorang keturunan pejabat, bukan pula keturunan saudagar kaya, dan bukan pula keturunan keluarga terdidik. Ia hanyalah seorang anak yatim piatu yang harus terlunta-lunta di negerinya sendiri sambil menjaga adiknya. Malahan sekarang ia harus menjaga satu anak kecil lainnya.
Tetapi Hilal yakin dimana ada kemauan, disitu terbuka pintu keluar. Jika ia berusaha, pasti akan selalu ada jalan yang terbuka untuknya. Di dunia yang besar ini, Hilal bukan siapa-siapa. Ia hanyalah bidak prajurit yang dapat digerakkan, dipengaruhi dan dimanfaatkan oleh para pemangku urusan yang memiliki visi tinggi. Tetapi bukan berarti ia tidak memiliki idealismenya sendiri, bukan pula ia tidak memiliki ego dan perasaan. Bahkan bidak prajurit pun dapat bermakna kala ia berhasil menembus gempuran musuh hingga masuk jauh ke dalam kawasan kekuasaan musuh. Ia pun ingin seperti itu. Ia yakin ada kalanya ia akan melepas statusnya sebagai bidak prajurit dan dapat memukau seluruh orang yang melihatnya.