Aku duduk termangu pada satu-satunya kursi yang ada di dalam ruangan. Mataku menatap bosan lantai putih dan dinding tanpa cela di sekitarku. Melihat pemandangan yang sama tiap harinya membuatku merasa semakin jenuh. Pikiranku pun melalang buana. Saat itulah, aku mulai mengingat banyak hal.
Arrgh!
Erangan meluncur dari bibirku dan memantul dalam ruangan sepi itu. Tanganku spontan mencengkram satu sisi kepalaku. Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit saat berpikir.
Tapi aku keukuh. Aku berusaha menahan sosok bayangan yang ada dalam pikiranku. Aku rasa aku tidak boleh melupakannya.
Namun, usahaku nihil. Aku tidak berhasil mengingat wajah gadis itu. Tapi jelas sekali kalau gadis itu muncul dalam banyak kejadian pada ingatanku. Siapa gadis yang suka mengenakan gaun biru selutut itu?
Aku menggeleng lemah. Aku tidak tahu. Aku yakin masih banyak ingatan lain yang dilupakan. Ingatan yang mengabur menjadikanku selayaknya orang linglung. Kadang aku mengingatnya seakan hal itu terjadi kemarin. Tetapi di saat yang lain, aku tidak mampu mengingatnya seberapa pun kuatnya aku berusaha untuk mengingat.
Aku masih memegangi kepalaku. Rasanya kepalaku seperti sedang terhantam palu. Pandanganku mulai sedikit memudar. Diam-diam aku mulai merasa kalau lebih baik semua ini berakhir dengan segera.
Kriet!
Mendengar suara itu, seketika aku tersentak. Bagaikan diguyur air dingin, saat itu juga aku tersadar. Tubuhku bergerak cukup cepat sampai menyebabkan kursi yang kududuki berbunyi nyaring. Mataku mengerjap dan pandanganku kembali pada semula. Aku pun tertegun sejenak.
Setelah beberapa saat menatap hampa dinding yang terlihat, barulah aku menolehkan kepalaku kearah pintu. Pikiranku masih berkecamuk. Bagaikan ruang diskusi, suara-suara yang berdebat muncul di kepalaku.
Apakah gadis itu mengunjungiku lagi?
Begitu aku berpikir demikian, mataku berbinar. Seluruh pikiranku yang lain meluruh tidak tersisa. Aku hanya dapat mengakomodasi satu pikiran itu.
Lalu, layaknya anak kecil yang hendak mendapatkan hadiah, antusiasme mulai membuncah dalam diriku. Bibirku menyungging senyum yang lebar. Aku ingin menyambut gadis muda yang ada dalam ingatanku dengan baik.
Sayangnya, harapanku pupus. Ketika aku mengerjapkan mata lagi, aku memandang jelas pintu yang terbuka. Aku sudah hendak memanggilnya. Aku kira itu dia. Tetapi ternyata bukan. Sosok yang muncul dari balik pintu hanyalah sosok lain yang cukup familiar.
Aku kenal dengan sosok ini. Ia adalah seorang wanita muda berseragam kerja yang ramah padaku. Lucunya, sama seperti gadis yang ada dalam ingatanku, aku tidak pernah bisa menangkap wajah wanita ini. Tapi aku dapat mengenali suaranya.
Aku melihat ia membawa nampan seperti biasanya. Ia masuk dalam ruangan dan meletakkan gelas berisi air putih pada meja di hadapanku. Aku juga melihat ia menyodorkan sebuah piring dengan dua tablet putih kecil di atasnya padaku
"Selamat siang, Pak Harits. Waktunya minum obat, ya."
Harits? Pak Harits? Siapa itu?
Aku bertanya-tanya dalam diam. Kepalaku berputar cepat. Oh, aku baru ingat. Perkenalkan, namaku Harits.