Di lereng perbukitan Pasundan, sawah-sawah bertingkat membentang seperti tangga menuju langit. Di kaki bukit berdiri Kampung Cikalong. Di sanalah Cepot menjadi raja—raja yang menghibur. Pagi-pagi ia bangun kesiangan dan menyalahkan ayam. Siang hari ia mencari alasan untuk menghindari pekerjaan. Malamnya ia tidur dengan perut kenyang dan hati ringan.
Wajah Cepot merah menyala seperti cabai. Kata orang kampung, ibunya terlalu banyak makan sambal saat mengandung. Golok kayunya patah di ujung—sisa kejadian minggu lalu, ketika ia berpura-pura menebas Demang Kartam tetapi malah mengenai kepala demang itu sungguhan. Tawa selalu mengiringi hari-harinya.
“Kalau dia tidak jatuh, kampung ini mungkin tidak akan tertawa,” kata Demang Kartam.
Sejak tiga bulan lalu, kursi di beranda rumah panggung itu kosong. Kursi milik Bapak Semar. Kayunya hitam dan biasanya dipoles dengan minyak kelapa setiap minggu. Kini debu menumpuk di sandarannya. Semar pergi ke barat tanpa pamit. Dawala mengurus sawah warisan di desa sebelah, sedangkan Gareng telah merantau lima tahun tanpa kabar.
Cepot kerap menatap kursi kosong itu, lalu berlatih mengayunkan golok kayunya. Ayunannya tetap lambat dan lemah. Kadang-kadang ia bertanya-tanya apakah nama Astrajingga yang pernah disebut Semar memang pantas disandangnya. Semar pernah mengatakan bahwa nama itu bukan gelar bagi orang yang tak pernah jatuh, melainkan pengingat agar Cepot tidak malu pada dirinya sendiri. Cepot belum memahami maksudnya. Ia pun segera mengusir pikiran itu dengan tawa kecil.
Malam itu, Cepot terbangun mendengar ranting patah. Langit gelap. Angin terasa dingin dan lembap, membawa bau tanah terbakar. Di sela dinding, sesosok kecil melompat dari satu pohon ke pohon lain. Mat...