Disukai
0
Dilihat
120
Apakah Kamu Takut?
Drama
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Tanggal 18 Februari, 2019. Celah gorden membiarkan sedikit cahaya masuk ke kamar, menyinari tanaman di meja. Tiang infus memantulkan cahayanya, diiringi dengan detikan jam. Seorang perawat kemudian membuka pintu kamar, diikuti oleh seorang wanita dengan kursi roda yang didorong oleh suaminya. Perut wanita itu membulat. Dengan dibantu perawat dan suaminya, ia berbaring di atas kasur, mencari posisi yang nyaman untuk perutnya yang besar. Perawat menggantung kantong infus ke tiang. Ia lalu membuka gorden, cukup lebar untuk membuat Wanita hamil itu menyipitkan matanya.

“Saya pamit, ya.” Perawat itu keluar kamar sembari mendorong kursi roda.

Si wanita mengelus-elus perutnya yang bulat itu, sesekali meringis. Si suami pun membelai kepala istrinya.

"Belum mendingan sakitnya?"

"Belum, mas." Wanita itu menggeleng pelan, masih mengelus perutnya.

Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Pandangannya jatuh pada selimut yang istrinya kenakan. Ia diam, ditemani dengan suara lampu yang mengiringi ringisan istrinya.

"Apa emang karena salah aku, Al?" Ia akhirnya mengeluarkan suara.

Wanita itu berdecak lidah.

"Bukan waktunya mikirin itu, Adli. Tadi dengerkan? Kata dokter itu karena ada permasalahan di rahimnya." Wanita itu memukul pelan tangan suaminya.

"Tapi, Alya... dokter juga bilang kalo-"

"Udah, ah. Inget kata dokter, aku gak boleh stres!" Alya mengacungkan jari telunjuknya ke arah Adli.

Adli menghela napasnya sembari mengangguk.

"Iya... kamu tidur aja, deh."

Alya mengangguk pelan dan memejamkan matanya, lengannya masih digenggam oleh Adli dengan elusan lembutnya. Kepala Adli jatuh ke tumpuan tangan. Ia memijit pangkal hidungnya dan mengusap wajah. Matanya dilengkapi lingkaran hitam. Cairan infus menetes bersamaan dengan detikan jam, menemani Adli dalam sunyinya ruangan.

***

Hari pun berganti, pukul 06:35. Adli tengah menyuapi Alya makanan dari nampan yang baru saja diberikan oleh perawat. Alya memakan makanan itu dengan lahap. Ruangan kini ramai dengan suara televisi yang menyala.

"Udah gak sakit?" Tanya Adli, tangannya masih sibuk menyuapi Alya.

Alya menelan makanan di mulutnya dengan sedikit tergesa-gesa.

"Udah enggak. Jalan keliling kamar juga harusnya bisa." Ia tersenyum ke suaminya itu.

"Alhamdulillah… udah bisa makan sendiri, dong?"

Alya melirik sinis pada Adli dengan dengusan, lalu memutar matanya.

“Iya, iya… aku cuma bercanda, kok!” Adli tertawa pelan, tangannya lanjut menyuapi Alya.

Beberapa menit berlalu, mangkok di nampan itu kini kosong. Suaminya menaruh nampan itu di samping bungkus rokok, sembari memberikan istrinya segelas air.

"Kenyang juga." Alya menepuk pelan perutnya.

"Iya... syukur, deh kamu udah bisa makan banyak, kayak temen kerjaku." Adli mengelus kepala Alya yang membuat senyum istrinya itu makin lebar.

Adli menyandarkan badannya ke kursi, menghela napas lega. Kepalanya mendongak ke atas, melihat ke arah langit-langit kamar. Ia sesekali melirik ke arah bungkus rokok di atas meja sembari mendecakkan lidahnya. Jarinya bergulat di atas pahanya.

Alya melihat gerak-gerik suaminya itu. Ia pun mengalihkan perhatiannya pada bunga yang bermandikan cahaya mentari.

Setelah beberapa lama, Adli akhirnya berdiri.

"Aku keluar dulu, ya?" Ucapnya pada Alya.

Pandangan Alya tertuju pada tangan suaminya yang sudah menggenggam bungkus rokok itu. Mulutnya sedikit terbuka namun ia menutupnya kembali sembari menghela napas.

"Iya... jangan lama-lama, ya?" Alya mengarahkan pandangannya ke arah jendela.

Adli mengangguk dan mulai berjalan pergi keluar kamar. Alya mengusap wajahnya sesaat setelah pintu tertutup.

Beberapa lama ia diam, menumpukan kepalanya pada telapak tangan, akhirnya Alya berdiri dari kasur. Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki sembari mendorong tiang infusnya. Alya mengelilingi kamar secara perlahan, dia beberapa kali terpaku pada benda-benda yang ada di sekitarnya. Ia kemudian memandang keluar jendela. Suaminya sedang menghisap rokok di bawah pohon.

Alya memperhatikan suaminya dengan serius. Matanya perlahan bergerak ke arah cincin di jari manisnya. Alya menarik napas dalam-dalam, namun terhenti. Cepat-cepat Alya melihat ke arah kakinya. Basah. Betisnya basah, air itu mengalir dari tubuh Alya dan berwarna hijau muda, membasahi lantai. Wajah Alya tampak panik. Dengan terburu-buru ia berjalan untuk menekan tombol perawat yang berada di samping kasur.

***

Pukul 07:15, Adli sudah kembali ke kamar, Alya tengah berbaring di kasur. Dokter berada di samping kasur dengan ekspresi yang serius. Sang dokter menarik napasnya dalam-dalam.

"Begini, bu. Kondisi janin ibu... cukup memprihatinkan. Intinya, risiko ibu dan juga janinnya jadi semakin tinggi, terlebih ketubannya sudah pecah." Ucap si dokter sebelum berhenti sejenak. Adli langsung mengusap wajahnya, Alya pun juga menelan ludahnya.

"Kemungkinan proses persalinan akan kami percepat, tapi untuk saat ini akan kami monitor terlebih dulu." Tambah dokter.

"Tapi usianya baru 7 bulan, dok?!" Alis Alya menukik ke bawah.

"Iya, bu. Tapi kalau dibiarkan terlalu lama, infeksinya-"

"Saya mau pertahanin..." Suara Alya mulai gemetaran.

Adli menghampiri Alya dan memeluknya, mengusap-usap kepala sang istri dengan tangannya yang kasar.

"Tenangin diri kamu, Al... inget, gak boleh stres!"

Alya dengan erat menggenggam baju Adli.

"Tapi kita udah nunggu lama buat punya momongan...."

"Iya, tapi kalau infeksi nanti-"

"Kamu nggak ngerti, mas!" Alya sedikit menjauh dari suaminya.

"kamu nggak ngerti." Ia kemudian melepas pelukannya.

Suara detik jam terasa semakin terdengar jelas. Adli mencoba meraih tubuh istrinya lagi.

“Al…”

Alya menghindar. Ia menengok ke arah Adli dengan mata yang merah dan napas yang berat, membuat bahunya naik-turun.

“Kamu udah janji, mas… katanya mau berhenti.”

"Bu, memang rokok bisa memperparah tapi itu bukan penyebabnya." Dokter mencoba menjadi penengah.

Alya tak menjawab, ia tetap menangis. Adli terdiam melihat istrinya, wajahnya tak karuan dan matanya berkaca-kaca. Dokter mengisyaratkan Adli untuk keluar. Adli menahan langkahnya sedikit, lalu berjalan keluar dari kamar bersama dengan si dokter, meninggalkan istrinya menangis di dalam.

Beberapa menit berlalu, akhirnya air matanya mulai berhenti. Alya bangun, duduk di atas kasur itu kemudian mengusap perutnya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Berhati-hati ia turun dari kasur, berjalan perlahan ke jendela. Dia kini terpaku pada anak kecil yang berlarian dari balik kaca, tangannya memegang erat perut hamil itu.

"Kamu… mau lari-larian kayak gitu juga, kan?” Alya melihat ke arah perutnya lalu membalikkan badan.

“Ibu pastiin kamu bisa. Kamu gak akan punya nasib yang sama kayak dia.”

***

Siang harinya, pukul 12:05. Alya sedikit tertatih berjalan ke kasur. Dia duduk di atas kasur, memijat keningnya. Gorden yang tertutup rapat menghalangi cahaya untuk masuk, membuat kamar menjadi lebih gelap. Tak lama, Adli masuk ke kamar dengan membawa nampan makanan.

"Ayo, makan siang dulu." Ucap Adli sembari duduk di kursi samping kasur.

Alya tak menjawab, masih memejamkan matanya. Ekspresi Adli menjadi khawatir.

"Sakit lagi?"

Alya menggelengkan kepalanya seraya mengambil nampan makanan dengan cepat. Adli membuang sisa napasnya. Kamar itu sunyi, hanya diisi suara lampu dan detik jam. Pandangan Adli menjelajahi seluruh sudut ruangan.

Alya mengambil suapan pertamanya, lalu kedua. Sesaat sebelum mengambil suapan ketiganya, ia muntah. Sempat ditahan namun tak berhasil. Adli sontak mengalihkan pandangannya kepada Alya, menawarkannya tisu.

"Kamu gak apa-apa? Kamu pucet banget, loh!" Suaranya agak gemetar.

Alya menggelengkan kepalanya, mengambil tisu dari tangan Adli.

"Cuma lagi kumat aja." Jawabnya datar.

"Serius? Aku panggil dokter, ya?"

"Enggak usah." Jawab Alya tegas.

Adli menelan ludahnya, ia membersihkan selimut yang kotor dengan tisu lalu kembali duduk, melihat istrinya yang pucat itu makan.

***

Cahaya sore yang hangat masuk dari celah jendela. Alya tengah berbaring di kasurnya, ditemani sang suami yang duduk di samping. Kepala Adli sesekali terjatuh, matanya hanya terbuka sedikit. Kepalanya sekali lagi terjatuh, kali ini membuat matanya terbuka. Ia mengusap wajahnya lalu berdiri.

"Aku mau cuci muka dulu, ya?" Ucapnya sembari mengusap kepala Alya.

Wajah Adli berubah kaget. Matanya terbelalak dan cepat-cepat meletakkan tangannya ke dahi Alya.

"Astaghfirullah, Alya... badan kamu panas!"

Alya hanya mengeluarkan suara-suara yang tak jelas.

"Kok gak bilang, sih?" Ucap Adli sembari mengambil tombol perawat sebelum terhenti, dihentikan oleh Alya.

"Gak usah, mas." Suara Alya pelan.

"Pusingnya juga udah hilang, kok."

"Alya, badan kamu panas, loh!" Adli menatap Alya dengan ekspresi khawatir.

"Gak perlu, mas. Ini cuma lagi kecapean aja."

"Alya, kalo ternyata kamu lagi kenapa-kenapa gimana? Bayi yang ada di dalam-"

"Mas, udah. Dokter pasti nyuruh aku buat lahirin dia sekarang." Alya memotong Adli yang suaranya sudah meninggi.

"Tapi, Alya..." Adli menggenggam tangan Alya.

"Ini kandungan aku, mas! Aku yang nentuin."

Adli menarik napas panjang lalu menatap mata Alya dengan tajam.

"Dia juga anakku, Alya."

"Kalau dia anakmu, kenapa kamu siksa?!" Dengan cepat Alya membalas perkataan Adli.

Mulut Adli terbuka namun hanya angin yang keluar. Dia menelan ludahnya, pandangannya jatuh ke lantai.

"Aku-" Napas Adli terhenti.

"Maaf." Dia berjalan pergi keluar kamar, meninggalkan pintu setengah terbuka.

Adli duduk di kursi lorong kamar. Ia menumpukan kepalanya di kedua tangan, menutup wajahnya. Perawat sesekali berlalu-lalang, tak menghiraukan Adli. Adli sesekali menggeleng lalu memukul pahanya dengan keras. Sikapnya membuat seorang anak kecil memerhatikannya.

“Om kenapa?” Ucap si anak.

Adli mengangkat kepalanya, mengarahkan pandangannya ke si anak. Wajah anak itu tampak bingung. Adli sedikit menjauh dari si anak lalu diam beberapa saat. Ekspresi Adli tampak kebingungan, orang-orang yang berlalu lalang sekilas memperhatikan mereka berdua. Adli beberapa kali mengedipkan matanya. Bibirnya sedikit terbuka, lantas tertutup. Ia menarik sedikit napasnya.

“Enggak kenapa-kenapa, kok.” Adli tersenyum pada anak itu.

“Rizky!” Suara orang dewasa terdengar dari kejauhan.

Orang tua anak itu menghampiri mereka dengan terburu-buru. Ibunya langsung menggendong si anak dan ayahnya menghampiri Adli.

“Maaf ya, mas… anak saya ganggu.”

“Enggak apa-apa, pak. Namanya juga anak kecil.” Ucapnya dengan senyum ramah.

Keluarga itu lanjut berjalan pergi menyusuri lorong, meninggalkan Adli yang masih duduk di kursi plastik.

Adli menarik napas panjang lalu menggelengkan kepalanya. Ia lalu membenarkan posturnya dan menampar wajahnya dengan keras.

Sementara itu, Alya sendirian di kamar, mencoba berkeliling dengan tubuhnya yang lemas. Ia kembali melihat ke arah jendela kamar, memperhatikan pemandangan sore hari yang cukup menyilaukan. Alya pun menutup gorden jendela, menunjukkan tulisan di baliknya, lantas membaca tulisan itu hingga akhir.

Alya terdiam. Berlarut-larut ia memandangi tulisan itu. Tangannya dengan erat memegang perut, pandangannya perlahan tertuju ke arah bungkus rokok yang berada di meja lalu pindah ke perutnya lagi.

"Apa... kamu takut?" Bisiknya.

“Kali ini aku pasti lindungin.”

Tiba-tiba ia menyandarkan badannya ke tiang infus, tangannya meremas perut dengan kencang. Cepat-cepat ia berjalan ke kasur, menekan tombol perawat dan duduk di atas kasur. Tangannya menggenggam selimut kasur dengan erat.

Adli masuk kembali ke kamar, matanya langsung tertuju ke arah istrinya yang meringis di atas kasur. Dia bergegas menuju ke Alya.

"Alya, Kamu kenapa?!" Ia memegang wajah Alya.

"Kamu panas banget, Alya!"

Alya memeluk Adli, memendam wajahnya pada dada sang suami sebelum menangis sejadi-jadinya. Adli mengelus kepala Alya dengan lembut sembari menekan tombol perawat.

Beberapa menit setelah dokter memeriksa kondisi Alya.

"Infeksi. Dan sudah cukup parah." Ucap dokter.

"Persalinan paling lambat malam ini." Tambahnya.

"Enggak bisa... di pertahanin sedikit lagi... dok?" Tanya Alya dengan suaranya yang kecil.

Dokter menggelengkan kepalanya. Alya menghela napas dan meremas tangan Adli dengan kuat.

"Gak apa-apa, Al. Ada aku." Adli mengelus tangan Alya.

"Saya persiapkan dulu." Dokter membalikkan badan, berjalan keluar dari kamar.

Alya makin menempelkan badannya pada Adli. Pandangannya kini mengarah pada suaminya itu.

"Aku... aku gak mau anak kita hidupnya keganggu karena ini..." ucap Alya pelan.

"Aku mau kasih dia kesempatan terbaik... mas."

Adli tersenyum pada Alya.

"Iya... sama, aku juga." Ia mencium tangan istrinya.

"Maafin aku, ya? Aku gak bisa nepatin janji aku setengah tahun yang lalu."

"Tubuh aku yang gak mampu, mas." Jawab Alya.

"Padahal... kita udah nunggu bertahun-tahun..." Suaranya gemetar, matanya berkaca-kaca.

Adli mencium kepala Alya.

"kalau bukan kamu… dia gak bakal ada, Al." Dia mengelus pelan perut Alya yang kian mengecil.

"Sekarang... kita jalanin bareng. Kita takut bareng."

"Inget! kita. Bukan kamu, bukan aku." Jari telunjuknya mengacung ke langit-langit.

Alya tersenyum lemas kepada Adli yang tengah menghapus air matanya.

***

Cahaya bulan masuk samar-samar dari celah gorden jendela. Alya sudah dibawa ke ruang tindakan dan Adli ikut dengannya. Kamar begitu sunyi, ditambah suasana gelap di tengah malam. Jam yang berdetak terdengar jauh lebih keras dari biasanya, tas Adli masih berada di samping kasur dan bungkus camilan berserakan di meja.

Tak lama Adli masuk ke kamar. Ia berhenti sejenak di depan pintu, memandangi kasur yang sudah kosong itu. Ruangan terasa lebih luas, ditambah dengan bunyi lampu neon di atas kepalanya. Ia beranjak ke kasur, merapikan barang-barang mereka, membuang bungkus makanan kosong, sekaligus sedikit merapikan kasurnya.

Perhatiannya beralih ke bungkus rokok kosong di atas meja. Tangannya mengambil bungkus itu, ia meremas bungkus itu hingga tak berbentuk dan melemparnya ke tempat sampah. Ia menggendong tasnya yang terisi penuh dan menghampiri tembok.

Adli membaca tulisan di tembok itu. Dia diam sejenak lalu membuka laci-laci meja. Adli mengambil pulpen dari laci itu, ia mengocok pulpen itu dan mulai menulis. Tangannya mengelus pelan baris terakhir kalimat. Beberapa huruf sudah mulai memudar, namun senyum Adli tidak. Ia tetap tersenyum, meski matanya berkaca-kaca. Adli membalikkan badannya, berjalan keluar dari kamar. Kamar kembali kosong. Jendela terbuka lebar namun kamar tetap redup. Rembulan menyinari tanaman di meja dan tiang infus memantulkan cahayanya, diiringi detik jam. semua sama seperti kemarin, kecuali tulisan di tembok itu. Tulisan

'Gak usah takut!

Kalau takut, kamu enggak sendiri.

Apa pun bentuknya, aku ada di sini.

Kita akan selalu bareng.’

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)