Disukai
2
Dilihat
2,728
ANGLE
Thriller

​“Kau tahu, kan, hanya aku yang berada di sisimu? Dan kau tahu ini nyata. Ajak aku bicara.”

​Suara itu menggema di dalam kepala seorang perempuan yang sedang melangkah. Bayangan hitam tertangkap oleh ekor matanya, berdiri tepat di sampingnya. Meski dentum musik dari headphone di telinganya diatur ke volume maksimal, bisikan itu tetap menerobos masuk, tajam dan tak terhindarkan. Ia tahu makhluk itu ada, namun ia memilih untuk melangkah, menghiraukan eksistensi yang tak kasat mata bagi orang lain.

​Perempuan itu menjalani harinya dengan kehampaan yang nyata. Di stasiun kereta, di tengah himpitan tubuh manusia, ia menatap lurus ke depan tanpa celah. Ia tidak membiarkan bola matanya melirik sedikit pun pada keanehan yang merayap di sudut pandangannya. Baginya, semua orang di sekitarnya tampak tak hidup. Hatinya sendiri pun tak lagi mampu merespons; perasaannya telah redup, terkubur di bawah trauma yang mendalam.

​“Jangan terus menghindar. Cukup jawab 'YA', maka aku akan membuatnya tampak indah.”

​Sosok itu terus berbisik, menawarkan janji-janji manis di tengah keputusasaan. Si perempuan terdiam dalam batin, bertanya-tanya apakah ia harus menyetujuinya agar semua penderitaan ini berakhir.

​•••

​Ia memasuki gerbong kereta. Kegelapan seolah merayap mengikuti langkahnya, hampir menyelimuti seluruh ruangan. Tak peduli seberapa besar tekanan mental yang ia rasakan, emosinya sudah kosong, ia hanyalah sebuah cangkang yang dipaksa untuk terus bernapas.

​“Aku sudah melahap mereka. Apa tidak ada hadiah untukku?” sosok itu bertanya lagi.

​Perempuan itu sedikit mendongak, bibirnya bergerak pelan tanpa suara yang terdengar orang lain.

 “Terima kasih.”

​“Hanya itu saja?”

​Ia kembali terdiam.

​“Yaa... aku akan menunggumu.”

​Kegelapan di gerbong itu seolah tunduk padanya. Mereka tahu hierarki; mereka tahu siapa entitas yang sedang berbicara di hadapan perempuan itu.Gerbong kereta membuka pintunya, ia melanjutkan langkahnya menuju tempat kerja.

​•••

​Di tempat kerja, ia dikenal sebagai karyawan terbaik tanpa celah. Julukan yang ironis bagi seseorang yang merasa dirinya adalah sampah buangan. Ia bekerja dalam diam, menghasilkan uang hanya untuk bertahan hidup.

​“Aku bisa memberimu uang tanpa perjanjian, tapi aku yakin kau tidak menginginkannya. Kau pasti teringat orang tuamu, kan?” bisikan itu kembali datang, memprovokasi.

​“Jangan sok tahu. Kau tidak mengetahui isi hatiku,” balasnya dengan nada terganggu.

​“Ya, sekarang aku sulit membacanya karena kau telah mengosongkannya.”

​Meski menyebalkan, bisikan itu secara aneh memberikan ketenangan padanya. Sebelum sosok itu datang, dunianya jauh lebih menyiksa. Ketika alarm ponsel berbunyi, ia pulang tepat waktu. Ia berjalan menembus sorot mata rekan kerja yang mencibirnya tanpa sedikit pun merasa terganggu.

​“Kau tidak penasaran dengan pandangan mereka yang mencibirmu?”

​“Hiraukan saja. Mereka tidak pantas mendapatkan perhatianku.”

​Sosok gelap itu terkekeh. “Haha, kau semakin menarik di mataku.”

​Sesampainya di rumah, ia selalu ragu sejenak sebelum memutar kunci. Rumahnya kosong dan dingin. Ia lekas membersihkan tubuh di bawah kucuran air hangat, sebuah ritual yang terasa seperti sedang menyiram jiwanya yang layu. Setelahnya, dengan sisa tenaga yang ada, ia membanting tubuh ke atas kasur.

​“Ingat, aku akan selalu bersamamu,” bisik suara itu sebelum ia terlelap.

​•••

​Mimpinya selalu sama: sebuah kilas balik yang menghancurkan. Dahulu, keluarganya memiliki kekayaan yang berlimpah. Namun, orang tuanya menjadi sombong dan melupakan tenggat waktu perjanjian yang mereka buat dengan kegelapan. Sesuai kontrak, nyawa yang paling disayangi harus dikorbankan, atau nyawa mereka sendiri yang diambil.

​Tragedi itu dikemas dalam sebuah kecelakaan mobil. Sang anak ( perempuan itu ) yang mendengar kabar tersebut tidak mampu menahan kesadarannya. Terbangun di atas rumput saat rumahnya hangus dilalap api. Di setiap sudut reruntuhan, ia melihat makhluk-makhluk mengerikan yang tak pernah dibayangkan manusia normal. Penderitaan itu datang bertubi-tubi, tak memberinya ruang untuk bernapas.

​Dalam mimpi itu, ia memohon, “Percepat. Aku tak ingin melihat ini lebih lama.”

​Ia terlempar ke masa-masa sulitnya saat berjuang melawan maut setiap hari. Orang tuanya selalu menghampiri meminta ia untuk ikut mati bersama mereka. Penglihatannya yang terkutuk membuatnya ingin mati berkali-kali. Ia pernah melompat dari apartemen, namun hanya patah tulang. Ia pernah menyayat nadinya, namun tetangga datang tepat waktu. Ia pernah menusuk perutnya, namun ia terpeleset lalu mengenai rak piring dan terjatuh, suara keras itu membuat orang lain masuk memeriksa. Seolah-olah maut menolak untuk menjemputnya.

“ini bagian kesukaanku” ucap sosok tersebut.

​Hingga suatu hari, ia berdiri di tepi tebing, memaki Tuhan dan meminta siapapun yang kuat untuk mengakhiri kutukan ini. Saat perempuan itu melompat dari ketinggian itulah sang iblis meliriknya. Makhluk itu terpesona pada jiwa yang putus asa namun diselimuti cahaya .

​“Aku akan menghentikannya. Apa kau mau?” tanya sosok itu di tepi sungai yang deras.

​“Ya,” jawabnya singkat. Itulah awal mula kematian semunya.

Ia tersadar di tepi sungai, bangkit dari kematian semu yang baru saja menjemputnya. Di sana, ia melihat sesosok makhluk yang memikat mata. Tampak terlalu indah untuk disebut kegelapan, namun terasa terlalu penuh gairah untuk dikategorikan sebagai makhluk hidup.

​“Siapa kau?” tanya perempuan itu pelan.

​“Apapun,” jawab sosok itu singkat.

​“Apa maksudnya?”

​“Aku bisa menjadi apapun yang kau mau.”

​Perempuan itu menatap tajam sosok di hadapannya. “Mau kau apakan mereka?” tanyanya sambil menunjuk arwah kedua orang tuanya yang kini sedang dicekik oleh tangan-tangan sosok tersebut.

​“Apa yang kau mau?” sosok itu balik bertanya.

​“Musnahkan. Aku sudah muak,” ucapnya dingin.

​“Oke.” Sosok itu tersenyum puas, tampak sangat tertarik pada kepribadian yang dimiliki perempuan di depannya itu.

Saat itu juga ​ia terbangun dari mimpi yang datang berkali-kali, sebuah memori yang selalu berhasil membuatnya merasa semakin hancur.

​•••

​Kini, ia terbangun kembali dari mimpi buruk yang berulang.

​“Apa kau sudah memutuskan?” tanya sang kegelapan dengan senyum memikat.

​“Entahlah.”

​Perempuan itu melangkah ke teras, duduk menatap langit sambil menyesap kopi. Semuanya terasa semu baginya. Kehidupan ini sudah cukup.

​“Sepertinya aku sudah memutuskannya.”

​“Kapan?”

​“Ayo kita ke pantai. Aku ingin melihatnya.”

​Ia mempersiapkan segalanya. Dengan sebuah kotak di tangannya, ia menempuh perjalanan menuju pantai, menyewa kapal dengan identitas palsu, dan menyeberang menuju sebuah pulau tak berpenghuni di tengah laut lepas.

​Hanya ada dia, sang kegelapan, dan suara ombak.

​“Kenapa kau begitu tertarik denganku?” tanyanya pada kekosongan di sampingnya.

​“Kau adalah makhluk yang diberkahi cahaya.”

​“Fucking bullshit,” umpatnya getir.

​“Apa aku bisa memiliki tempat yang indah?”

​“Akan kupastikan itu terjadi,” janji sang kegelapan.

​Perempuan itu membuka kotak yang dibawanya. Sebuah pistol yang ia peroleh dari pasar gelap kini berkilau tertimpa cahaya matahari. Ia berdiri menghadap laut luas, perlahan meletakkan moncong senjata itu di kepalanya.

​Di detik-detik terakhir, pikirannya memutar sebuah gambaran dari sang Iblis: sebuah taman penuh bunga yang indah, di mana ia duduk tenang di sebuah ayunan kayu, di bawah pohon besar. Sebuah kedamaian yang tak pernah ia temukan di dunia nyata.

​“Terima kasih,” ucapnya dengan senyum tulus yang pertama dan terakhir.

​“Terima kasih kembali, Angel,” balas Sang Iblis sambil memberikan penghormatan terakhir saat pelatuknya ditarik.

Door!...

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Thriller
Rekomendasi