Hawa dingin merayap di sudut kamar yang senyap, hanya menyisakan gema tawa lemah yang terdengar menyedihkan. Di pojokan kamar, dekat jendela yang tertutup rapat, seorang laki-laki meringkuk. Bau tajam alkohol menyeruak dari nafasnya yang pendek, menjadi saksi atas beberapa botol yang kini tergeletak kosong di lantai. Ia menatap kosong ke seisi ruangan yang gelap gulita; dunianya terasa berputar, terdistorsi oleh cairan pahit yang baru saja ia tenggak habis untuk membunuh ingatannya. Pandangannya buram dan berkunang-kunang, membuat setiap bayangan di dinding tampak seperti monster yang siap menerkam.
Laki-laki itu tampak kehilangan kemanusiaannya. Ia hanya diam, layaknya makhluk yang sudah lama melupakan cara hidup normal. Bola matanya yang merah dan sayu perlahan melirik ke arah kasur. Di sana, ia melihat sebuah siluet wanita yang sangat ia kenali, duduk diam membeku di tengah kekacauan tersebut.
“Kenapa kau masih di sini?” ucap sang lelaki dengan suara serak yang menyeret, seolah setiap kata yang keluar adalah beban berat.
“Aku akan menemanimu Martin.”
“Untuk apa? Tinggalkan saja aku sendiri,” balasnya pedih.
“Aku ingin membantumu untuk tetap hidup.”
“Aku tidak menginginkan bantuanmu. Kembali saja!” Ia mengusir dengan nada lemas, mencoba memutus ikatan yang sudah terjalin.
“Aku tak akan meninggalkanmu. Aku perlu memastikan semuanya baik-baik saja.”
“Jangan terus membantahku. Kau sangat menyebalkan!” Suaranya terdengar terganggu, seolah ada tekanan mental yang sangat besar menghimpit batinnya.
...