Setiap tanggal gajian, Erza selalu melakukan hal yang sama. Ia menunggu notifikasi masuk, membuka aplikasi bank, mengambil laptop, lalu duduk di ujung tempat tidur dengan punggung bersandar pada dinding bersama dengan bantal pijit andalan. Ditemani lagu Arash Buana, Ia meminta izin kepada dunia untuk menunggu.
Di hadapannya ada sebuah laptop terbuka dengan tampilan dashboard dari manajemen keuangan yang ia beli dari Instagram. Di halaman pertama tertulis beberapa angka: pendapatan, pengeluaran, tabungan, dana darurat, dan dua tanggal yang ia tulis paling besar: 18 Maret 2029 dan 9 September 2029.
Erza menatap kedua tanggal itu beberapa detik, membuka kalkulator dari ponselnya. Ia menghitung, mengurangi, menambahkan, membagi, kemudian memindahkan sejumlah uang ke rekening yang berbeda. Kebutuhan, keluarga, dana darurat, tabungan pernikahan. Sisanya dibiarkan sebagai uang jaga-jaga.
Bagi Erza, uang yang tidak diberi tujuan akan menemukan tujuannya sendiri. Karena itu ia membuat amplop, amplop-amplop sungguhan yang disimpan di dalam lemari pakaiannya. Ada beberapa amplop putih dengan tulisan tangan yang berbeda-beda: DARURAT, KELUARGA, dan KEBUTUHAN.
Ada satu amplop yang selalu ia letakkan paling depan. Tidak besar, tidak istimewa, hanya amplop putih biasa. Di depannya tertulis 09-09-2029, tanggal rencana pernikahannya dengan Tayana.
Erza belum tahu apakah jumlah uang di dalamnya nanti akan cukup. Sebenarnya, ia tahu jawabannya: belum, Masih jauh. Namun setiap kali memasukkan uang ke dalam amplop itu, Erza merasa seperti sedang memindahkan sedikit bagian dari masa depannya ke tempat yang lebih aman.
Malam itu ia memasukkan lima ratus ribu ke dalam amplop tersebut, lalu merapikan ujungnya yang sedikit terlipat.
“Pelan-pelan, pasti bisa” gumamnya.
Ia menutup lemari pakaiannya. Besok pagi ia akan bekerja seperti biasa, dan hidup akan terus berjalan seperti biasa.
Setidaknya, begitu yang ia kira.
Masalah pertama datang dua minggu kemudian. Ayahnya mengetuk pintu kamar menjelang tidur ketika Erza sedang membaca.
“Za.”
Erza menoleh. “Ya?”
“Ayah mau ngomong.”
Nada suara itu membuat Erza langsung meletakkan bukunya. Ayah duduk di sofa ruang tamu dekat kamar Erza. Ada kebutuhan yang harus dibayar. Tidak besar, tetapi cukup besar untuk membuat Erza membuka aplikasi bank dan melihat saldo dana daruratnya.
Masih aman.
Ia mentransfer uang.
“Ini, Yah.”
Ayah mengangguk. “Terima kasih.”
“Aman.”
Ayah kembali ke kamarnya. Erza melihat layar ponselnya, saldo dana darurat berkurang, tetapi ia tidak terlalu memikirkannya. Bukankah dana darurat memang dibuat untuk keadaan seperti itu?
Ia menutup aplikasi dan kembali membaca. Masalah selesai. Setidaknya malam itu.
Sebulan kemudian, adiknya membutuhkan uang untuk kuliah. Kali ini Erza menghela napas lebih panjang ketika melihat angka yang dikirimkan melalui WhatsApp.
“Berapa?” tanyanya.
“Segini.”
Erza diam. Angkanya tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk membuat perhitungannya berubah. Kalau ia membantu sekarang, tabungan pernikahan bulan itu harus dikurangi.
Beberapa saat kemudian, pesan lain masuk.
Kalau belum bisa nggak apa-apa, Kak.
Erza menatap kalimat itu lama. Jarinya bergerak di atas layar.
Bisa.
Transfer dilakukan.
Beberapa menit kemudian pesan masuk lagi.
Makasih, Kak.
Erza membalas singkat.
Iya.
Ia tidak mengatakan bahwa uang itu sebenarnya berasal dari dana yang seharusnya ia simpan. Ia tidak mengatakan bahwa bulan itu ia harus mengurangi tabungan pernikahan. Ia juga tidak mengatakan bahwa sejak beberapa bulan terakhir dana daruratnya semakin tipis.
Untuk apa?
Masalah sudah selesai. Itu yang penting.
Begitu pikirnya.
Setelah itu, kejadian-kejadian kecil mulai datang satu per satu. Kendaraan bermasalah, ada kebutuhan rumah, ada tagihan yang harus dibayar, lalu ada sesuatu yang lain. Tidak pernah ada satu kejadian besar yang menghancurkan keuangan Erza. Tidak ada satu malam ketika seluruh tabungannya lenyap.
Yang ada hanyalah pengeluaran-pengeluaran kecil. Seratus ribu, tiga ratus ribu, lima ratus ribu, satu juta. Selalu ada alasan, dan hampir selalu alasan itu masuk akal.
Itulah yang membuat semuanya sulit. Erza tidak pernah merasa sedang melakukan sesuatu yang salah. Setiap kali mengambil uang, ia selalu punya alasan yang benar.
“Cuma kali ini.”
“Nanti gue balikin.”
“Bulan depan lebih longgar.”
“Yang penting sekarang beres.”
Kalimat-kalimat itu lama-lama menjadi kebiasaan. Erza bahkan tidak lagi perlu memikirkannya ketika memindahkan uang dari satu rekening ke rekening lain.
Sampai suatu malam ia membuka rekening dana darurat.
Ia berkedip.
Membuka lagi untuk memastikan tidak salah melihat.
Saldo: Rp0.
Erza bersandar lagi di ujung tempat tidur, kemudian tertawa pelan. Bukan karena lucu. Ia hanya tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Dana daruratnya nol.
Ia teringat ketika pertama kali membuat rekening tersebut. Waktu itu ia merasa cukup aman. Ada uang untuk menghadapi sesuatu yang tidak direncanakan.
Sekarang ia baru menyadari bahwa mungkin masalahnya bukan dana daruratnya yang terlalu kecil. Ia hanya terlalu sering menganggap hidup sebagai keadaan darurat.
Erza membuka rekening lain dan melihat tabungan pernikahan. Masih ada, tetapi jauh lebih sedikit daripada yang ia bayangkan.
Ia membuka kalender di ponselnya. Tanggal 9 September 2029 masih ada di sana.
Erza menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya mematikan layar.
Malam itu ia tidak takut pada pernikahannya. Ia hanya mulai sadar bahwa jalannya mungkin akan lebih panjang dari rencana.
Beberapa hari kemudian, Erza bertemu Tayana di sebuah Caffee yang sudah cukup sering mereka datangi. Tayana memperhatikan Erza yang sejak tadi banyak diam dan melamun. Ia selalu tau yang Erza pikirkan.
Tayana tersenyum. “Berat?”
Erza sempat ingin menjawab tidak. Namun kali ini ia memilih jujur.
“Lumayan.”
Tayana tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya menyeruput minumannya dan membiarkan Erza sendiri yang memulai cerita. Beberapa saat kemudian Erza menceritakan semuanya: dana darurat yang habis, beberapa kebutuhan keluarga, tabungan pernikahan yang ikut terdampak, sampai target yang mulai terasa jauh.
Tayana mendengarkan tanpa memotong. Setelah Erza selesai, ia hanya bertanya, “Terus rencana kamu gimana?”
“Aku mau bangun dana darurat lagi.”
“Bagus.”
“Terus tabungan nikah tetap jalan, walaupun mungkin lebih kecil.”
Tayana mengangguk. “Ya udah. Pelan-pelan.”
Erza menatapnya. “Kamu nggak kecewa?”
“Kecewa kenapa?”
“Karena tabungan kita jadi terkumpul lebih lambat.”
Tayana mengangkat bahu. “Ya nanti diatur lagi.”
Erza tersenyum. “Sesimpel itu?”
“Emang harus serumit apa?”
Erza tertawa kecil.
Tayana meletakkan gelasnya. “Kalau memang sekarang kamu perlu bantu keluarga, ya bantu sebisanya. Tapi jangan sampai kamu sendiri nggak punya pegangan.”
Erza mengangguk.
“Kalau targetnya mundur sedikit ataupun maju sedikit, ya kita lihat lagi,” lanjut Tayana. “Yang penting kita tahu kenapa.”
Tidak ada ceramah, tidak ada tuntutan, dan tidak ada drama. Tayana tidak mencoba menyelesaikan masalah Erza. Ia hanya membuat Erza merasa bahwa masalah itu tidak harus ia hadapi sendirian.
Selama ini Erza mengira untuk menikah, ia harus datang kepada Tayana dalam keadaan sudah selesai dengan semua masalah. Ternyata Tayana tidak pernah meminta itu. Yang ia butuhkan hanya satu: Erza jujur.
Beberapa bulan berlalu. Erza mulai menabung lagi, sedikit demi sedikit. Dana darurat ia bangun dari awal, sementara amplop 09-09-2029 tetap mendapat bagiannya setiap kali gajian.
Namun kali ini Erza lebih hati-hati. Ia mulai memperhatikan ke mana uang pergi, menunda beberapa keinginan, dan berpikir dua kali sebelum mengambil uang dari satu pos untuk menutup pos lain.
Tayana juga tidak pernah mempersoalkan ketika Erza mengajaknya makan di tempat sederhana. Kadang Tayana yang membawakan nasi dan Erza yang membeli lauk seadanya, terkadang hanya duduk di rumah Tayana sambil ngobrol sampai malam.
Suatu sore Erza berkata, “Maaf ya, sekarang kita jadi lebih jarang main dan jajan.”
Tayana menoleh. “Emang harus pergi terus?”
“Nggak, sih.”
“Ya sudah, toh kita juga punya tujuan.”
Erza tersenyum pelan.
“Kenapa?”
“Kayak semuanya gampang.”
Tayana tersenyum. “Bukan gampang. Cuma nggak semua hal harus dibikin susah.”
Erza tidak menjawab. Tapi ia mengingat kalimat itu.
Namun hidup belum selesai mengujinya.
Suatu malam, ayahnya kembali memanggil.
“Za.”
Erza keluar kamar dan melihat ayah kembali duduk di sofa itu. Kali ini wajahnya lebih serius daripada biasanya. Ada kebutuhan besar, jauh lebih besar daripada yang pernah diminta sebelumnya.
Erza mendengarkan sampai selesai tanpa langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, ia tidak mengatakan, “Berapa?”
Ia justru bertanya, “Bisa dicari cara lain?”
Ayah terdiam. “Maksud kamu?”
Erza menelan ludah. “Kalau uangnya segitu, kalau aku kasih semuanya, tabungan aku habis.”
Ayah menatapnya.
“Aku bantu,” lanjut Erza, “tapi nggak bisa semuanya.”
Kalimat itu terdengar asing di telinganya sendiri. Bahkan setelah mengucapkannya, Erza merasa bersalah.
Ia masuk kamar dan berdiri di depan lemari. Pintu lemari dibuka. Tiga amplop ada di sana: DARURAT, KELUARGA, dan 09-09-2029.
Tangannya berhenti di amplop terakhir.
Ia bisa mengambilnya. Sangat mudah.
Masalah selesai. Besok semuanya akan lebih tenang. Pernikahan bisa dipikirkan nanti. Dana darurat bisa dibangun lagi.
Bukankah selama ini begitu?
Erza menarik amplop itu keluar dan menatap tulisan di depannya. 09-09-2029. Tulisannya sudah mulai pudar.
Ia membuka ujung amplop.
Kemudian berhenti.
Bukan karena jumlah uang di dalamnya terlalu besar. Justru karena ia tahu betapa sulitnya mengumpulkannya kembali.
Erza menutup amplop tersebut.
Ia mengambil ponsel, mencari nama Tayana, lalu mengirimkan pesan singkat.
“Sayang, ada yang mau diceritain boleh?”
“Boleh, Lanjut.”
“Aku lagi bingung.” Lalu Erza menceritakan semuanya.
“Kalau menurut kamu gimana?” tanya Erza.
“Kalau kamu kasih semua, terus kamu kesulitan setelahnya, siapa yang bantu kamu?”
Erza diam.
“Bantu keluarga boleh,” lanjut Tayana. “Tapi kamu juga bagian dari keluarga.”
Erza melihat amplop di tangannya.
“Terus cara bantunya gimana?”
“Jangan langsung.”
“Jadi?”
“Cari jalan lain dulu.”
Erza mengangguk pelan walaupun Tayana tidak bisa melihat itu.
“Kalau tetap kurang?”
“Ya berarti memang nggak bisa semuanya. Bantu yang bisa dibantu.”
Erza tersenyum.
“Kamu nggak takut rencana kita berantakan?”
"Rencana kita dari awal juga nggak pernah dijamin bakal mulus.”
Erza tertawa.
“Bener juga.”
“Yang penting jangan kamu yang berantakan.”
Erza terdiam sebentar.
“Ya.”
“Udah?”
“Udah.”
“Ya sudah. Tidur. Besok kita kerja.”
Pesan WhatApp itu berakhir.
Erza masih memegang amplop itu beberapa saat sebelum akhirnya memasukkannya kembali ke dalam lemari.
Percakapan dengan keluarga malam itu tetap tidak mudah. Ada diam, ada salah paham, dan ada beberapa kalimat yang terasa berat. Namun akhirnya Erza mengatakan apa yang selama ini tidak pernah ia katakan.
“Aku nggak punya uang sebanyak yang mungkin kalian kira.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
“Aku bantu sebisa aku. Tapi aku nggak bisa selalu jadi orang yang beresin semuanya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Kemudian ayah berkata, “Kamu dari dulu memang nggak pernah cerita.”
Erza menatap lantai.
“Karena aku kira aku harus bisa.”
Ayah diam sebentar.
Lalu berkata, “Nggak ada yang pernah bilang kamu harus bisa sendirian.”
Erza mengangguk kecil.
Kalimat itu sederhana, tetapi entah kenapa baru malam itu ia merasa benar-benar mendengarnya.
Sejak malam itu, tidak semua masalah menghilang. Justru tidak. Kebutuhan tetap datang, uang tetap terbatas, dan pernikahan tetap membutuhkan biaya. Erza masih harus bekerja setiap pagi, masih membuka aplikasi bank setiap tanggal gajian, masih mencatat pengeluaran, masih menghitung tabungan, dan masih memindahkan uang.
Bedanya, sekarang ia juga membicarakannya.
Dengan ayah, ibu, adiknya, dan Tayana. Mereka mulai membicarakan apa yang bisa dibantu, apa yang harus ditunda, apa yang memang darurat, dan apa yang sebenarnya hanya belum direncanakan.
Erza masih membantu keluarganya. Hanya saja sekarang ia tidak selalu mengambil dari masa depannya untuk menyelesaikan hari ini.
Beberapa waktu kemudian, Erza kembali membuka dashboard manajemen keuangannya. Ia menatap lama pada halaman pertama: angka yang diganti, target yang belum tercapai, serta catatan pengeluaran yang menumpuk.
Kemudian ia sampai pada bagian yang berisi dua tanggal itu.
18 Maret 2029 — Lamaran.
9 September 2029 — Pernikahan.
Erza tersenyum.
Ia tidak tahu apakah semua yang tertulis di sana akan berjalan persis seperti rencana. Tapi sekarang ia tidak lagi merasa harus memaksa semuanya berjalan sesuai angka.
Erza mematikan laptopnya dan memasukkannya kembali ke dalam lemari.
Di sana masih ada satu amplop putih.
09-09-2029.
Ia mengambilnya dan menimbangnya sebentar. Dulu amplop itu terasa seperti target. Kemudian terasa seperti beban. Sekarang tidak lagi.
Ia hanya sebuah amplop.
Isinya belum cukup. Mungkin masih akan berkurang. Mungkin suatu hari nanti akan penuh.
Erza tidak tahu.
Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa harus memastikannya malam itu juga.
Ia mengembalikan amplop tersebut ke dalam laci, kemudian mematikan lampu.
Besok pagi ia tetap harus bekerja. Gaji berikutnya belum tentu cukup. Masalah berikutnya pasti datang. Hidup tetap akan meminta banyak hal darinya.
Namun setidaknya sekarang Erza tahu satu hal: tidak semua masalah harus ia selesaikan sendirian, dan tidak setiap kali seseorang membutuhkan bantuan, ia harus mengambilnya dari masa depan.
Di luar kamar terdengar suara ibunya.
“Za, sudah tidur?”
Erza tersenyum.
“Belum, Bu.”
“Besok jangan lupa bangun pagi.”
“Iya.”
Pintu kamar ditutup. Rumah kembali sunyi.
Erza berbaring. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak membuka kalkulator. Tidak menghitung saldo, tidak menghitung kekurangan, dan tidak menghitung berapa bulan lagi menuju tanggal yang sudah ia lingkari sejak lama.
Malam itu ia hanya tidur.
Besok masih ada.
Dan untuk sekarang, itu cukup.