Living Inside A Cloud
Penulis: Arini Putri
Romantis
Kategori
3,862
Dilihat
3
Suka
Blurb
Karena trauma yang dialaminya, Claudine menarik diri dari orang-orang di sekitarnya dan menghabiskan hari-harinya dalam kontrakan sempit yang dia sewa di kota Jogja. Impian Claudine sederhana, dia hanya ingin hidup dengan tenang dan aman bersama hal-hal yang dia sukai di kontrakan sempitnya, tanpa gangguan orang lain. Hingga suatu hari, seseorang pindah tepat di sebelah kontrakannya. Dia adalah Mahesa, cinta pertama Claudine saat SMA.

Kedatangan Mahesa mengubah segalanya, mengusik ketenangan hidupnya serta memaksa Claudine menghadapi kembali masa lalu yang selama ini menghantuinya. Dapatkah Claudine kembali mendapatkan ketenangan yang diimpikannya?
Premis
Seorang ilustrator yang mengidap social anxiety disorder menarik diri dari lingkungan sosial dan menghabiskan hari-harinya di sebuah kontrakan sempit karena menginginkan hidup yang aman dan tenang. Suatu hari, cinta pertamanya saat SMA pindah tepat di sebelah kontrakannya, mengusik ketenangan hidupnya dan memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang menjadi sumber ketakutan terbesarnya.
Pengenalan Tokoh
Claudine Aludita (24)
Claudine adalah anak pertama dari 2 bersaudara dengan adik perempuan yang hanya terpaut dua tahun darinya. Claudine lahir dan besar di Solo sejak kecil dari pasangan suami istri asli Jawa. Bapaknya PNS, sementara mamanya adalah ibu rumah tangga yang sempat bekerja menjadi guru di sekolah swasta sebelum menikah. Claudine dididik menjadi anak yang penurut dan kakak yang selalu mengalah pada adiknya. Hal itu membuat Claudine sejak kecil tak terbiasa mengungkapkan pikirannya. Ditambah sifatnya yang pendiam dan orangtuanya yang lebih memperhatikan adiknya, Claudine lebih sering memendam semuanya sendiri. Satu-satunya pelarian baginya adalah menggambar. Perundungan yang dialaminya saat SMA meninggalkan luka yang dalam bagi Claudine. Sejak awal kuliah, Claudine sudah merasakan rasa takut dan gugup yang berlebihan setiap harus berada di depan banyak orang. Dia juga selalu merasa cemas setiap berinteraksi dengan temannya dan takut bertemu dengan orang baru. Claudine selalu merasa takut orang akan menilainya buruk dan membencinya. Orangtunya selalu menganggap semua itu hanya karena Claudine terlalu pemalu. Padahal bagi Claudine semua itu terasa begitu menyiksa. Begitu lulus dan mendapat pekerjaan lepas sebagai ilustrator di Skyline Books, Claudine berbohong kepada orangtuanya—berkata bahwa dia diterima sebagai pekerja tetap—dan pindah ke Jogja. Claudine menyewa sebuah kontrakan sempit dan menyulapnya menjadi ruangan yang nyaman untuknya berlindung. Selain menggambar, Claudine suka menghabiskan harinya dengan memasak, membaca, sampai menonton travel vlog di YouTube saat dia merindukan dunia luar. Claudine hanya keluar rumah saat benar-benar perlu, contohnya berbelanja ke supermarket atau membeli sesuatu minimarket. Claudine juga menyalurkan emosinya lewat ilustrasi-ilustrasi berupa karakter gadis yang tinggal di atas awan. Karakter itu adalah perwujudan dari mimpi dan kecemasan Claudine sendiri. Pertemuannya dengan Mahesa memporak-porandakan semua ketenangan yang dibangunnya itu.

Mahesa Putra Syailendra (24)
Mahesa adalah anak tunggal dari keluarga yang berkecukupan. Ibunya adalah pegawai bank dengan posisi tinggi dan Ayahnya dulu adalah pelatih timnas sepak bola. Saat Mahesa SD, ibunya dipindah tugaskan ke Solo dan Mahesa sempat hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ketika ayahnya diberhentikan dari pekerjaannya, mereka berdua ikut menyusul ke Solo dan menetap di sana. Ayahnya menjadi pelatih di sebuah tempat kursus sepak bola. Sejak kecil, Mahesa sering bermain sepak bola dengan ayahnya. Awalnya hanya untuk kesenangan, tetapi saat ayahnya menyadari bakat Mahesa, ayahnya mulai melatih Mahesa dengan keras. Ayahnya bertekad akan mendidik Mahesa menjadi atlet sepak bola hebat. Sejak SD kelas 5, Mahesa harus berlatih bola setiap pulang sekolah dan akhir minggu. Walaupun sibuk, Mahesa yang periang dan supel selalu dengan mudah mendapatkan teman baru di mana pun. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang tinggi membuatnya dengan mudah menarik perhatian siapa saja. Mahesa juga tak pernah pilih-pilih dalam berteman. Dia selalu bersikap baik kepada semua orang yang kadang juga membuat beberapa gadis salah paham. Sejak kecil, Mahesa terlalu terbiasa mendengarkan pendapat orang lain dan mendahulukan orang lain sampai terkadang dia tak paham pada kata hatinya sendiri. Seperti saat Ayahnya menyuruhnya menjadi atlet bola atau saat teman-temannya mendorong Mahesa untuk mendekati Laras. Sampai suatu ketika, Mahesa mengalami cedera saat berlatih dan membuatnya harus berhenti bermain bola. Mahesa mulai kehilangan arah dan mempertanyakan tujuan hidupnya. Mahesa pun mulai berusaha berhenti mendengarkan orang lain. Dia meninggalkan Laras, mengambil jurusan Ilmu Komputer di UI yang tak sejalan dengan pendapat ayahnya, sampai menolak bekerja di perusahaan pamannya lalu memilih mendirikan start-up bersama sahabatnya di kampus, Luki. Demi hidup mandiri tanpa campur tangan ayahnya, Mahesa juga memutuskan untuk pindah ke Jogja dan menyewa sebuah kontrakan murah dengan tabungannya sendiri. Pertemuannya kembali dengan Claudine membuatnya menyadari kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya di masa lalu tanpa sadar. Mahesa ingin memperbaiki semua itu.

Benjamin Praja (26)
Ben lahir di Chicago saat ibunya sedang kuliah S3 di sana. Ibunya adalah dosen Ilmu Politik, sementara ayahnya adalah dosen Sastra Indonesia. Sejak kecil, ayahnya sudah menularkan kebiasaan membaca dan menulisnya kepada Ben. Tempat favoritnya di rumah adalah perpustakaan kecil milik orangtuanya. Saat teman-teman seumurannya bermain di lapangan, Ben menghabiskan waktunya dengan melahap buku-buku. Rasa cintanya pada sastra membuat Ben memutuskan untuk kuliah Sastra Indonesia di UGM, mengikuti jejak ayahnya. Pertemuannya dengan Melia Bintang, penulis sekaligus pendiri Skyline Books, membuat Ben terinspirasi untuk terjun ke dunia penerbitan. Saat Ben memutuskan untuk bekerja di Skyline Books dan tak meneruskan jejak orangtuanya menjadi akademisi, banyak keluarga besar yang menyayangkannya karena prestasi Ben yang selalu di atas rata-rata. Namun, kedua orangtuanya mendukung penuh apa pun cita-cita Ben. Ben punya seorang adik perempuan yang terpaut 6 tahun darinya. Bertolak belakang dari Ben, adiknya kesulitan belajar sejak kecil karena mengidap disleksia. Karena itu pula adik Ben kesulitan bergaul dengan teman-temannya dan beberapa kali dikucilkan di sekolah. Ben sangat menyayangi adiknya itu. Sikap Claudine yang begitu tertutup mengingatkan Ben pada adiknya, membuat Ben tanpa sadar selalu berusaha menjaga Claudine.
Sinopsis
Karena trauma di masa SMA-nya, Claudine (24) menarik diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan waktunya dalam sebuah kontrakan sempit yang dia sewa di kota Jogja. Selain bekerja sebagai ilustrator lepas, Claudine menghabiskan hari-harinya dengan mengerjakan hal yang dia suka. Memasak, membaca buku, menjahit, menonton travel vlog di Youtube—bagi Claudine, hari-harinya terasa tenang dan tak pernah membosankan. Suatu hari, ketenangan hari Claudine terusik saat Mahesa (24) pindah tepat di sebelah kontrakannya. Mahesa sendiri bukan orang asing untuk Claudine. Mahesa adalah teman SMA Claudine sekaligus cinta pertamanya. Sayangnya, Mahesa juga merupakan salah satu penyebab trauma yang dialami Claudine. Karena itu, sebagai pertahanan diri, Claudine bersikap dingin kepada Mahesa. Mahesa yang tak tahu apa-apa, kebingungan sekaligus penasaran melihat sikap Claudine kepadanya.

Karena suatu insiden saat mengejar tikus—kontrakan murah Claudine dan Mahesa yang hanya dibatasi dinding triplek seadanya itu—dindingnya terlepas dan membuat lubang besar yang menghubungkan kontrakan Claudine dan Mahesa. Claudine yang tak ingin berinteraksi dengan Mahesa, langsung menutup lubang itu dengan rak buku besar miliknya. Namun, bahu dingin Claudine tak membuat Mahesa menyerah untuk terus bersikap baik dan ramah kepada Claudine, berharap suatu hari Claudine mau membuka diri untuknya dan kembali berhubungan baik seperti saat SMA dulu.

Suatu hari, Claudine pingsan karena demam tinggi. Mahesalah yang menolong dan merawatnya sampai sembuh. Melihat itu, hati Claudine mulai luluh. Interaksi kecil mereka selanjutnya—mulai dari Mahesa yang membelikan cemilan untuk Claudine setiap pulang kerja, sampai Claudine yang terpaksa membantu Mahesa memasak—membuat mereka berdua tanpa sadar semakin dekat. Claudine yang tak percaya kepada siapa pun—termasuk keluarganya—perlahan membuka dirinya kepada Mahesa.

Mahesa yang penasaran, terus mencoba mencari tahu alasan di balik perubahan Claudine. Dia pun menemukan bahwa setelah kepindahan Mahesa dari SMA, Claudine mengalami perundungan di sekolah. Masalahnya berawal dari sebuah foto yang diambil diam-diam saat Mahesa mengantarkan Claudine pulang. Mahesa yang saat itu sedang dekat dengan murid populer bernama Laras, membuat banyak orang salah paham—termasuk Laras sendiri. Murid-murid yang mengagumi Laras merundung dan memusuhi Claudine karena menganggapnya orang ketiga dalam hubungan Mahesa dan Laras. Kepindahan Mahesa ke Singapura yang tiba-tiba juga memperparah keadaan. Dihantui rasa bersalah, Mahesa bertekad membantu Claudine untuk melawan ketakutannya. Mahesa pun mengajak Claudine sesekali keluar dari kontrakannya, menemani Claudine mengunjungi berbagai tempat di Jogja dan mendorongnya berinteraksi dengan orang lain.

Di sisi lain, fobia Claudine terhadap hubungan sosial menarik perhatian Melia—pemilik Skyline Book—tempat Claudine bekerja sebagai ilustrator lepas. Melia menawarkan Claudine kesempatan untuk menerbitkan buku ilustrasi dan—tanpa sepengetahuan Claudine—memanfaatkan kondisi psikologis Claudine sebagai alat marketing. Popularitas Claudine naik drastis setelah Skyline Books membuat akun media sosial dan mempromosikan Claudine sebagai ilustrator yang menderita social phobia. Banyak dukungan dan simpati dari netizen yang datang untuk Claudine. Bersamaan dengan pengumuman terbitnya buku ilustrasi milik Claudine, sebuah artikel muncul dari majalah FAME. Artikel tersebut membahas penyalahgunaan gangguan psikologis sebagai alat marketing. Akun media sosial Claudine ikut disebut sebagai contohnya. Dukungan dan simpati untuk Claudine langsung berubah menjadi kebencian dalam sekejap. Media sosial Claudine dihujani oleh ujaran kebencian. Kini bersembunyi di dalam kontrakan pun tak lagi bisa menyelamatkan Claudine.

Semua komentar jahat itu membuat Claudine depresi. Dia kembali menarik diri dari hubungan sosial, bahkan kini kehilangan niat untuk makan dan bekerja. Dia juga susah tidur dan sering sakit kepala hingga terus mengkonsumsi penghilang rasa sakit. Mahesa berusaha menghiburnya, tetapi gagal. Suatu hari, Mahesa menemukan Claudine tergeletak pingsan karena overdosis obat. Dengan panik, Mahesa menggendongnya keluar kontrakan. Di luar, orangtua Claudine yang datang untuk menjemput Claudine pulang langsung mengambil alih dan membawa Claudine ke rumah sakit. Mahesa yang khawatir berusaha mengejar mobil orangtua Claudine dengan motor Papang. Sayangnya, di tengah jalan, Mahesa jatuh dari motor dan diselamatkan orang-orang.
Saat Claudine pulih, dia sadar masih banyak orang yang peduli dan menginginkan dia sembuh. Kehadiran orang-orang itu memberi kekuatan baru untuk Claudine. Namun, Mahesa justru tak kunjung muncul, membuatnya bertanya-tanya. Beberapa hari kemudian, Ayah Mahesa muncul dan menceritakan kondisi Mahesa setelah kecelakaan motor. Mahesa juga memutuskan keluar dari perusahaan startup-nya dengan Luki. Mahesa mendapatkan tawaran untuk bekerja kontrak selama tiga tahun di perusahaan Singapore. Ayah Mahesa meminta Claudine membujuk Mahesa karena Mahesa tak mau pergi meninggalkan Claudine sendiri. Claudine pun akhirnya membujuk Mahesa. Dia meyakinkan Mahesa bahwa dia sudah cukup kuat dan sanggup menghadapi semuanya sendiri. Mahesa pun dengan berat hati pergi, tetapi dia berjanji akan segera kembali agar bisa menjaga Claudine lagi.

Satu tahun berlalu, Claudine tak lagi mengurung diri di kontrakan. Dia berkonsultasi rutin ke psikolog dengan dukungan dari keluarganya. Walaupun masih dalam masa penyembuhan, Claudine sudah menunjukkan banyak perkembangan dan niat besar untuk sembuh. Suatu hari, saat berkunjung ke taman yang direkomendasikan Mahesa, Mahesa muncul kembali. Claudine dan Mahesa pun tersenyum bahagia.
Rekomendasi