Lycoris Radiata

Di hadapan aliran sungai dangkal dengan bunga lycoris radiata yang menghampar di kedua sisi, aku duduk memeluk kedua lutut, membenamkan tangis yang tak lagi dapat kubendung. Meratapi kotak bekal bergambar bunga lycoris radiata, yang seharusnya sejak awal kusadari bahwa ini semua adalah perbuatanmu. Harusnya aku tahu itu kau, karena kita sudah bersahabat sejak kecil. Bunga yang kita temui di perkenalan pertama, bunga yang tumbuh di tempat kita menghabiskan waktu bersama, di tempat ini.

 “Namaku Ethan, namamu Julia kan, tetangga baru yang tinggal di sebelah?” itu adalah kalimat pertama yang kau ucapkan saat kita berusia tujuh tahun, sejak saat itu kita tidak pernah terpisahkan. Hingga kebodohanku sendiri yang memisahkan kita. Seharusnya aku tidak pernah mengklaim dalam hatiku bahwa kau hanyalah milikku, dan menjadi murka ketika gadis-gadis lain mendekatimu.

Aku membenci Prita, gadis cantik yang selalu berusaha mengambil perhatianmu, atau Jesslyn yang sangat mudah disukai setiap pria. Sedangkan aku hanya dapat duduk di sisimu, menemanimu sebagai sahabat yang memendam perasaan cinta. Lalu dengan bodohnya setiap hari selalu menyingkirkan kotak bekal makan siang yang kupikir berasal dari para gadis penggemarmu.

Mulai kelas dua SMU, aku benar-benar menjauhimu, dan kini aku menyesalinya setelah tahu bahwa kau akan pergi jauh, meninggalkanku. Meneruskan pendidikan di tempat yang jauh dariku, bahkan keluargamu pun akan pindah rumah, menjauh dari kota ini.

Penyesalan memang selalu datang terlambat, saat ibuku memberikan kotak bekal bergambar bunga lycoris yang kau titipkan untukku, aku tahu bahwa selama ini yang kulakukan salah.

Saat aku menyadarinya, di hari ini kau benar-benar pindah. Aku sudah mencarimu di rumahmu, bahkan aku berlari ke setiap tempat dimana kau mungkin berada. Tapi semua sudah terlambat, tidak ada jejakmu sedikitpun. Kau telah pergi, dan aku menyadari bahwa kalah sebelum berjuang terasa sangat menyakitkan.

“Hei, rambut naga bodoh!” sebuah suara familiar mengejutkanku. Akupun mendongak. Kau berdiri di seberang sungai dengan topi birumu. Aku mengedipkan kedua mataku, berharap yang kulihat nyata. Tapi kau memang nyata. Aku berdiri hendak menghampirimu ke sisi lain sungai.

“Tunggu, biar aku yang ke sana!” teriakmu.

“Ethan, bukankah kau sudah pindah?”

“Dasar bodoh, aku pindah sementara ke block sebelah, rumah lamaku mau diperbaiki!” teriakmu sambil melompati satu batu pijakan menyeberangi sungai mendekatiku.

“Katanya kau melanjutkan sekolah di luar kota?” tanyaku kembali.

“Aku memilih universitas yang sama denganmu, tentu setelah lulus kita berdua akan keluar kota!” kau melompati satu batu pijakan lagi.

“Selama ini, bekal makan siang ini untukku?” tanyaku kembali sambil mengusap air mata.

“Lagi-lagi sangat bodoh! tentu saja aku yang buat dan hanya untukmu!” kali ini kau melompat melewati dua batu pijakan, tubuhmu bergoyang hampir terjatuh. Begitu kau menguasai keseimbangan, kau berkata, “sekarang giliranku yang bertanya, kau menangis, mencariku, apa kau menyukaiku?”

Aku tergagap.

Lompatan terakhir tadi membawamu mendarat di hadapanku. Airmataku terus mengalir, kau kembali berbicara. “Benar-benar bodoh, jadi kau menyukaiku ya! Kau tahu arti lycoris radiata tidak hanya kematian, tapi juga awal yang baru, seperti kita. Kalau tahu begini seharusnya sejak lama aku menyatakan perasaanku, aku menyukaimu sejak dulu!” Kau mengacak-acak rambutku, aku menangis sejadinya sambil terus mengatakan bahwa aku pun menyukaimu, berulang-ulang.

4 disukai 408 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction