I.D.Pran Menulis artikel
@ipranastiti

Mengenal Kodokushi: Tren Kematian Baru yang Bikin Miris di Jepang

Mengenal Kodokushi Tren Kematian Baru yang Bikin Miris di Jepang
Siapa yang ingin mati dalam kesendirian? Tidak ada. Namun, cara kematian yang menyedihkan ini dialami banyak orang Jepang, dan bahkan menjadi tren.
Cocok buatmu
Ada 1001 keunikan ketika kita membicarakan budaya dari Negeri Sakura, Jepang. Mulai dari budaya yang lucu, menyenangkan, mengerikan dan juga menyedihkan. Seperti salah satu budaya baru tentang kematian yang akan kita bicarakan kali ini.

Kodokushi, yang diartikan sebagai Kematian dalam Kesendirian, menjadi hal yang mengkhawatirkan bagi pemerintahan Jepang. Namun, sebelum membahas lebih lanjut, mari ulik sedikit sejarah Kodokushi ini.


1. Sejarah awal adanya Kodokushi

Kwikku, Sejarah awal adanya Kodokushi
Sumber: indianexpress.com
Sebenarnya, Kodokushi ini bukanlah hal yang baru-baru ini saja terjadi. Di masa lampau, Jepang juga pernah dihadapkan pada fenomena mati dalam kesendiran ini.

Awal mulanya yaitu pada tahun 1995, ketika sebuah gempa besar menimpa Jepang di bagian Hanshin. Kemudian evakuai lansia pun dilakukan besar-besaran, dan akhirnya para lansia ini tinggal di tempat yang disediakan sendirian. Mereka diisolasi dari keluarga sendiri, dan menghabiskan masa tua sendiri, hingga mati pun sendiri. Budaya ini pun sebenarnya sempat meredup, tapi akhir-akhir ini kembali terjadi dengan kejadian yang cukup tinggi angkanya.


2. Kodokushi yang kembali menjadi tren

Kwikku, Kodokushi yang kembali menjadi tren
Sumber: indosurflife.com
Kasus Kodokushi yang terbaru dialami oleh seorang pria berusia 50 tahun di dalam kamarnya. Mayat pria yang tinggal sendirian tersebut diperkirakan sudah beberapa hari, karena aromanya sudah busuk dan menyengat. Mayat tersebut pun ditemukan berkat aroma busuknya yang tercium oleh seorang petugas kebersihan.

Bahkan kasus lain yang tidak kalah miris juga pernah terjadi sebelumnya. Pernah seorang mayat lelaki berusia sekitar 111 tahun baru ditemukan setelah 30 tahun meninggal. Bukankah hal ini terdengar menyeramkan sekaligus menyedihkan?


3. Alasan tren Kodokoshi terjadi pada masyarakat Jepang

Kwikku, Alasan tren Kodokoshi terjadi pada masyarakat Jepang
Sumber: media.licdn.com
Faktor ekonomi, budaya, demografi dan sosial adalah beberapa alasan yang dianggap mempengarungi kodokushi.

Bayangkan saja, negara yang populasinya semakin sedikit seperti Jepang ini, ternyata memiliki pertumbuhan lansia paling banyak. Hal ini karena dipengaruhi oleh banyaknya kelahiran usai perang yang dulu terjadi. Namun, di masa kini, kelahiran di Jepang menurun drastis. Sebabnya karena jumlah pernikahan yang juga menurun, biasanya karena banyak lelaki yang khawatir menikah sedangkan para wanita sudah bisa mencari pendapatan sendiri sehingga tidak terlalu ingin menikah. Belum lagi, faktor orang-orang yang anti sosial seperti NEET dan hikikomori pun meningkat drastis.

Meskipun kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Jepang, tapi memang di negara para Samurai inilah yang tampak sangat mengkhawatirkan.

Menurut Kwikkers sendiri bagaimana? Apakah kodokushi ini terasa menyeramkan buatmu?


2
2 none
Komentar