Apakah kamu akan memberikan Novel ke ?
Berikan Novel ini kepada temanmu
Masukan nama pengguna
Novel ini masih diperiksa oleh kurator
Blurb
Hana mengalihkan pandangannya ke arah Gedung Menara Kaca di seberang jalan. Itu adalah markas besar firma arsitektur ternama, tempat yang menjadi mimpi buruk sekaligus cita-cita setiap mahasiswa di jurusannya. Di lantai dua belas, ada sebuah jendela besar dengan bingkai perak yang selalu menarik perhatiannya.
Di balik jendela itu, selalu ada siluet seorang pria.
Pria itu jarang bergerak. Ia biasanya berdiri atau duduk di depan meja gambar yang diterangi lampu arsitek berwarna putih dingin. Di saat semua orang sudah mematikan komputer dan bersiap pulang, pria itu tetap di sana, menjadi satu-satunya titik kehidupan di gedung yang mulai menggelap.
Hana sering bertanya-tanya, siapa pria itu? Apakah dia seorang jenius yang tenggelam dalam karyanya, atau hanya jiwa kesepian lainnya yang tidak memiliki alasan untuk pulang?
Tiba-tiba, jantung Hana berdegup sedikit lebih kencang saat melihat siluet itu bergerak. Pria itu mendekat ke arah jendela, seolah-olah sedang memandang ke bawah, ke arah taman. Secara refleks, Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam ke buku sketsanya, berpura-pura sangat sibuk menggambar meski tangannya sedikit gemetar.
Jangan menoleh, Hana. Dia tidak mungkin melihatmu dari jarak sejauh itu, batinnya menenangkan diri sendiri.
Di balik jendela itu, selalu ada siluet seorang pria.
Pria itu jarang bergerak. Ia biasanya berdiri atau duduk di depan meja gambar yang diterangi lampu arsitek berwarna putih dingin. Di saat semua orang sudah mematikan komputer dan bersiap pulang, pria itu tetap di sana, menjadi satu-satunya titik kehidupan di gedung yang mulai menggelap.
Hana sering bertanya-tanya, siapa pria itu? Apakah dia seorang jenius yang tenggelam dalam karyanya, atau hanya jiwa kesepian lainnya yang tidak memiliki alasan untuk pulang?
Tiba-tiba, jantung Hana berdegup sedikit lebih kencang saat melihat siluet itu bergerak. Pria itu mendekat ke arah jendela, seolah-olah sedang memandang ke bawah, ke arah taman. Secara refleks, Hana menundukkan kepalanya dalam-dalam ke buku sketsanya, berpura-pura sangat sibuk menggambar meski tangannya sedikit gemetar.
Jangan menoleh, Hana. Dia tidak mungkin melihatmu dari jarak sejauh itu, batinnya menenangkan diri sendiri.
Tokoh Utama
Hana
Rei takahashi
Ulasan kamu
Ulasan kamu akan ditampilkan untuk publik, sedangkan bintang hanya dapat dilihat oleh penulis
Apakah kamu akan menghapus ulasanmu?
Disukai
0
Dibaca
4
Tentang Penulis
lilla safira alhasanah
-
Bergabung sejak 2026-02-11
Telah diikuti oleh 224 pengguna
Sudah memublikasikan 6 karya
Menulis lebih dari 2,075 kata pada novel
Rekomendasi dari Thriller
Novel
Yugure no Kisu (ciuman senja)
lilla safira alhasanah
Novel
Anggara 1998
Okhie vellino erianto
Flash
MAMA
Art Fadilah
Flash
Akhir Sebuah Penantian
Suci Asdhan
Skrip Film
Loveless Dad
Martha Z. ElKutuby
Cerpen
Empat Air Mata yang Jatuh Bersama Gerimis
Fazil Abdullah
Novel
ENIGMA: Aku Tak Sendirian
Benny Rhamdani
Skrip Film
Bloody Money
Eunike Hanny
Novel
Semestinya Pulang Meredam Kecemasan
Aksan Taqwin Embe
Skrip Film
YouTuber
Onet Adithia Rizlan
Novel
SENOPATI (Trah Bayu)
Hermawan
Novel
Ada Kisah dari 98'
Awal Try Surya
Cerpen
MILIKKU
Tulisan Tinta16
Novel
Dua Dini Hari
Noura Publishing
Flash
Aging
aoillies
Rekomendasi
Novel
Yugure no Kisu (ciuman senja)
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Remedi Matematika Bonus Cinta
lilla safira alhasanah
Flash
Warna pipimu Saat itu
lilla safira alhasanah
Cerpen
Bronze
Goresan Takdir Di Kanvas Usang (Part 1)
lilla safira alhasanah
Cerpen
KAMU, AKU DAN KENANGAN
lilla safira alhasanah
Cerpen
Facial Pengikat Jiwa
lilla safira alhasanah