Daftar isi
#1
Mereka yang Bersua Kembali di Titik Nol
#2
Mencari Sampai Ujung Bumi
#3
Parade Luka yang Tidak Bisa Dihapus dengan Air Mata
#4
di Antara Mantra dan Umpatan Sia-Sia
#5
Sori, Semua yang Melihat Harus Lenyap
#6
Api Neraka untuk Seisi Dunia
#7
Laki-laki yang Menghilang di Tengah Parade
#8
Marche Funèbre
#9
Sori Mas, Punya Mancis atau Rek Jres?
#10
Gerimis April yang Tiada Pernah Berhenti
#11
Titik Hidup Paling Paripurna
#12
Seorang Bocah di Pemakaman, Seorang Istri yang Lupa Punya Suami
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#12
Seorang Bocah di Pemakaman, Seorang Istri yang Lupa Punya Suami
Bagikan Chapter
Chapter ini masih diperiksa oleh kurator
[1] Wah, Mbak Arum senang ini, dijemput suami (bahasa Jawa)
[2] Iya ini Pak. Mencoba jualan dawet, siapa tahu laris (bahasa Jawa)
[3] Pak Jay, digandeng dong, istrinya, biar terlihat romantis (bahasa Jawa)
[4] Romantisnya waktu di rumah saja, Pak. Sekarang, siang-siang begini waktunya bekerja (bahasa Jawa).
[5] Bu, aku takziah dulu ya. Entah ini jadinya Dulrohman dimakamkan jam berapa. Mungkin jam dua (siang) atau jam empat (sore). Katanya, menunggu saudaranya yang dari Jakarta. (bahasa Jawa)
[6] Diam-diam begitu, anak itu punya kenalan yang banyak juga ya? Apakah kenalan zaman dahulu ketika namanya masih Dombret (bahasa Jawa)
[7] Bukaaan, anaknya sudah lulus SD semua, ya. Anak tetangganya mungkin (bahasa Jawa)
[8] Jay, marahin dia Jay! Tarik ke sini! Sungguh, bocah ini benar-benar aneh sekali (bahasa Jawa)
[9] Ini pemakaman partnerku lho, Mbak. Dia dulu memang pecicilan, sih. Tapi, sekarang kan setiap hari membaca Al-Qur'an. Masa' jadi seperti ini? (bahasa Jawa)
[10] Bocah ini setan? Atau iblis? Bacakan ayat kursi saja, Jay! (bahasa Jawa)
[11] Bicara apa bocah ini? Berputar-putar nggak jelas (bahasa Jawa)
[12] Lha, kok bisa mati? (bahasa Jawa)
[13] Yang namanya iblis memang seperti itu. Dari zaman dahulu sampai sekarang, hobinya tidak pernah berubah (bahasa Jawa)
[14] Sudah, Mbak. Jangan bicara lagi. Nanti aku jadi ikut menangis. Wua ha ha ha, sungguh jika dipikir, bodoh sekali ya, Mbak kita berdua ini? Orang lain takut mati, sedangkan kita malah berlari mengejar mati. Sungguh, hidup memang sungguh nelangsa (bahasa Jawa).
[15] Oh, santai saja. Anda cukup duduk saja, Tuanku. Walaupun biasanya saya pelan saat jadi sopir, saya ini aslinya mantan sopir jalur 15 yang sehari-hari ngebut, lho (bahasa Jawa).
Chapter Sebelumnya
Chapter 11
Titik Hidup Paling Paripurna
Chapter Selanjutnya
Bersambung
Terakhir diperbarui: 1 minggu 1 hari lalu
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Flash
Sayap
Cerpen
CINTA SAJA SEHARUSNYA CUKUP
Novel
Aku yang lain
Cerpen
Standar Kenyang Indonesia
Novel
Bukan Pacaran Biasa
Cerpen
Ratu di Tengah Kota
Novel
The Ex
Cerpen
Ruang Temu
Novel
Do Rio Com Amor
Novel
Dear Nathan
Flash
Tukang Kebun
Novel
Dua surat cahaya
Cerpen
Pencuri Kerdil
Flash
Kemalangan si Bungsu
Novel
Sisik Emas
Novel
HALU
Novel
Cinta Halal Arina
Novel
RENGKUH
Flash
Cinta Sebatas Ombak
Cerpen
Arina, Sang Pembalas