Daftar isi
#1
Mereka yang Bersua Kembali di Titik Nol
#2
Mencari Sampai Ujung Bumi
#3
Parade Luka yang Tidak Bisa Dihapus dengan Air Mata
#4
di Antara Mantra dan Umpatan Sia-Sia
#5
Sori, Semua yang Melihat Harus Lenyap
#6
Api Neraka untuk Seisi Dunia
#7
Laki-laki yang Menghilang di Tengah Parade
#8
Marche Funèbre
#9
Sori Mas, Punya Mancis atau Rek Jres?
#10
Gerimis Juni yang Tiada Pernah Berhenti
#11
Titik Hidup Paling Paripurna
#12
Seorang Bocah di Pemakaman, Seorang Istri yang Lupa Punya Suami
#13
Mancis Terlezat Aroma Mint
#14
Tuhan, Aku Ingin Melihat Senja Sekali Lagi
#15
yang Namanya Abadi dalam Merah Senja
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#7
Laki-laki yang Menghilang di Tengah Parade
Bagikan Chapter
[1] Lho Mas, kamu nggak melihat di depan itu? Setan! Iblis! (bahasa Jawa)
[2] Pergi! Pergi sana! Gemetar kakiku! Aduh Tuhan, mohon ampun! Jika selamat dari setan ini, saya bakal rajin membaca Al-Qur'an! (bahasa Jawa)
[3] Matilah setan iblis! Setan tidak mungkin menang lawan manusia (bahasa Jawa).
[4] Ayo, Mas, Mbak! Masuklah! Mbret, jangan melamun! Jika kamu mati, yang berteriak-teriak setiap hari di depan pintu bisku lantas siapa? Aku sudah tua, Mbret! (bahasa Jawa).
[5] Tancap gas sekuatnya Pak Rian (bahasa Jawa)
[6] Tapi, aku tidak akan mengumpat lagi. Sudah kapok! Maaf, saya tidak bodoh, kan? Anda-anda ini, yang berani melawan aturan, akan kuhabisi semuanya (bahasa Jawa).
[7] Percaya sekaligus tidak percaya sih, Mas. Tapi, pokoknya aku tidak mau mati malam ini. Besok anak-anakku sekolah. Uang sakunya masih di sakuku" (bahasa Jawa).
[8] Wa ha ha ha, Mbret! Kamu jadi ustad dong? Katamu, membaca Al-Qur'an setiap hari Mbak? Wong sekarang saja dia tidak bisa iqro kok (bahasa Jawa).
[9] Ustad Dulrohman, wa ha ha ha. Pantas itu Mbret, masa' (dipanggil) Ustad Dombret. (bahasa Jawa).
[10] Sialan benar Pak Rian, ini. Aku lebih tidak terima jika akhirnya menjadi kernet Trans Jogja. Coba, bayangkan. Yang menghabisi bus kota kan Trans Jogja? Semua jalur dimakan. Kok bisa, aku malah memilih kerja di sana? Benar-benar, tidak masuk akal. Eh, Mbak, terus akhirnya Arum nikah dengan Jaya? (bahasa Jawa)
[11] Wa ha ha ha, hancur benar kamu ini, Mbret. Masih saja mengurusi Arum. Lha wong lima belas tahun lagi kita berdua bakal mati.
[12] Kamu enak, mati bersama mbak penjaga halte. Lantas, aku? (bahasa Jawa)
[13] Wa ha ha ha, mendingan kamu kan Mbret? Mati setelah membaca Al-Qur"an. Aku mati gepeng digeprek. Tapi, sudah aman kan ini? Anda-anda ini saya antar ke rumah, lalu saya balik ke kendang (bus) ya. (bahasa Jawa).
[14] Cepat, Pak. Buruan ngebut lagi (bahasa Jawa)
[2] Pergi! Pergi sana! Gemetar kakiku! Aduh Tuhan, mohon ampun! Jika selamat dari setan ini, saya bakal rajin membaca Al-Qur'an! (bahasa Jawa)
[3] Matilah setan iblis! Setan tidak mungkin menang lawan manusia (bahasa Jawa).
[4] Ayo, Mas, Mbak! Masuklah! Mbret, jangan melamun! Jika kamu mati, yang berteriak-teriak setiap hari di depan pintu bisku lantas siapa? Aku sudah tua, Mbret! (bahasa Jawa).
[5] Tancap gas sekuatnya Pak Rian (bahasa Jawa)
[6] Tapi, aku tidak akan mengumpat lagi. Sudah kapok! Maaf, saya tidak bodoh, kan? Anda-anda ini, yang berani melawan aturan, akan kuhabisi semuanya (bahasa Jawa).
[7] Percaya sekaligus tidak percaya sih, Mas. Tapi, pokoknya aku tidak mau mati malam ini. Besok anak-anakku sekolah. Uang sakunya masih di sakuku" (bahasa Jawa).
[8] Wa ha ha ha, Mbret! Kamu jadi ustad dong? Katamu, membaca Al-Qur'an setiap hari Mbak? Wong sekarang saja dia tidak bisa iqro kok (bahasa Jawa).
[9] Ustad Dulrohman, wa ha ha ha. Pantas itu Mbret, masa' (dipanggil) Ustad Dombret. (bahasa Jawa).
[10] Sialan benar Pak Rian, ini. Aku lebih tidak terima jika akhirnya menjadi kernet Trans Jogja. Coba, bayangkan. Yang menghabisi bus kota kan Trans Jogja? Semua jalur dimakan. Kok bisa, aku malah memilih kerja di sana? Benar-benar, tidak masuk akal. Eh, Mbak, terus akhirnya Arum nikah dengan Jaya? (bahasa Jawa)
[11] Wa ha ha ha, hancur benar kamu ini, Mbret. Masih saja mengurusi Arum. Lha wong lima belas tahun lagi kita berdua bakal mati.
[12] Kamu enak, mati bersama mbak penjaga halte. Lantas, aku? (bahasa Jawa)
[13] Wa ha ha ha, mendingan kamu kan Mbret? Mati setelah membaca Al-Qur"an. Aku mati gepeng digeprek. Tapi, sudah aman kan ini? Anda-anda ini saya antar ke rumah, lalu saya balik ke kendang (bus) ya. (bahasa Jawa).
[14] Cepat, Pak. Buruan ngebut lagi (bahasa Jawa)
Chapter Sebelumnya
Chapter 6
Api Neraka untuk Seisi Dunia
Chapter Selanjutnya
Chapter 8
Marche Funèbre
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
Milea
Novel
Lembar Kesekian Untuk Anda Baca
Flash
Kamu dan rooftop itu
Novel
Naraya And The Dream Who Save Her Life
Novel
Ketika Tidak Berjalan Dengan Semestinya
Novel
Obsidian
Cerpen
Lelakiku
Novel
Eternal Shangri-La
Flash
Perempuan Berkacamata Kuda
Flash
Ratu ghosting
Cerpen
Luca Matthijs van der Zee
Flash
Jangan Khianati Aku
Flash
Keputusan yang Datang Terlambat
Novel
Obsesi
Novel
PBC Journey In Japan
Novel
Keenan & Bella
Flash
In My New World
Flash
gak tau aturan
Cerpen
Sebatas Bercanda
Cerpen
ketika harapan ayah tumbang dihadapan anak