Daftar isi
#1
Chapter I: Pergi Setelah Kembali
#2
Chapter II: Kembali Pada Keputusan Sesaat
#3
Chapter III: Sesaat Tanpa Arah
#4
Chapter IV: Arah Yang Benar
#5
Chapter V: Benar-benar Sulit
#6
Chapter VI: Sulit Menemukan Solusi
#7
Chapter VII: Solusi Tanpa Opsi
#8
Chapter VIII: Opsi Paling Akhir
#9
Chapter IX: Akhir Dari Perjalanan
#10
Chapter X: Perjalanan Sebelum Ke Rumah
#11
Chapter XI: Rumah Lama
#12
Chapter XII: Lama-lama Begitu Khawatir
#13
Chapter XIII: Khawatir Akan Kenyataan
#14
Chapter XIV: Kenyataan Dalam Keluarga
#15
Chapter XV: Keluargamu Bukan Kami
#16
Chapter XVI: Kami, Ibu dan Bapakmu
#17
Chapter XVII: Bapakmu Meninggal
#18
Chapter XVIII: Meninggalkan Misteri
#19
Chapter XIX: Misteri Yang Tersimpan
#20
Chapter XX: Tersimpan Di Memori
#21
Chapter XXI: Memori Yang Diungkap
#22
Chapter XXII: Ungkapan Hati
#23
Chapter XXIII: Hati Yang Terluka
#24
Chapter XXIV: Terluka Sedalam Samudra
#25
Chapter XXV: Samudra Kehidupan
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#21
Chapter XXI: Memori Yang Diungkap
Bagikan Chapter
1. "Bu, bener nggak akan ikut?"
2. "Kalo lihat ibu kandung kamu, ibu suka merasa kesal. Pengen ... gimana gitu kalo bisa mah. Ibu percaya sama Dipta, Jang."
3. "Dipta berangkat. Mang Asep mau anterin ke terminal katanya."
4. "Ingat, jangan sampai emosi. Kontrol diri?"
5. "Ayo, Mang!"
6. "Kenapa nggak bawa koper?"
7. "Udah berangkat. Hati-hati di jalannya!"
8. "Astagfirullah, Nur. Pake baju yang bener!"
9. "Yang penting itu intinya ketutup jangan nggak pake baju sama sekali!"
10. "Ada apa?"
11. "Di mana rokok si A Bayu. Malam perasaan di meja?"
12. "Itu di depan TV!"
13. "Umi, anak-anak Teh Dwi nggak ada yang bener satu pun. Hancur lebur semuanya. Udah nggak betah Abi jujur aja, Mi,"
14. "Nggak semuanya, Abi,"
15. "Nggak semuanya gimana? Coba itu lihat kelima-limanya nggak ada yang mendingan."
16. "Ada, Bi. Satu anak yang belum hancur karena diporak-porandakan oleh angin puting beliung bernama Dwi Larasati,"
17. "Siapa memangnya, Mi?"
18. "Nanti juga Abi tahu. Kasih Umi waktu untuk di sini. Takut datang kasihan."
19. "Bu, beli kopi!"
20. "Apa kamu lihat- lihat!"
21. "Karena saya punya mata!"
22. "Besar nyali kamu. Orang mana kamu?!"
23. "Heh ... heh ... heh. Jangan ribut di depan warung saya. Pergi kamu Irpan!"
24. "Awas kamu!"
25. "Permisi. Tahu alamat ini, Pak?"
26. "Ohh, ini rumah saya. Ada keperluan apa?"
27. "Umi, siapa ini?"
28. "Ini yang Umi maksud satu anak yang belum hancur. Ini tujuan Umi nggak mau ke mana-mana, Bi. Nunggu keponakan datang kemari. Ya Allah, Pradipta. Bibi tahu dari tanda lahir ini. Makanya nggak segan-segan untuk mengenalkan diri!"
29. "Jadi benar ini rumah ...?"
30. "Ya, Mama Dwi tinggal di sini. Mau ketemu?"
31. "Kalo bisa."
2. "Kalo lihat ibu kandung kamu, ibu suka merasa kesal. Pengen ... gimana gitu kalo bisa mah. Ibu percaya sama Dipta, Jang."
3. "Dipta berangkat. Mang Asep mau anterin ke terminal katanya."
4. "Ingat, jangan sampai emosi. Kontrol diri?"
5. "Ayo, Mang!"
6. "Kenapa nggak bawa koper?"
7. "Udah berangkat. Hati-hati di jalannya!"
8. "Astagfirullah, Nur. Pake baju yang bener!"
9. "Yang penting itu intinya ketutup jangan nggak pake baju sama sekali!"
10. "Ada apa?"
11. "Di mana rokok si A Bayu. Malam perasaan di meja?"
12. "Itu di depan TV!"
13. "Umi, anak-anak Teh Dwi nggak ada yang bener satu pun. Hancur lebur semuanya. Udah nggak betah Abi jujur aja, Mi,"
14. "Nggak semuanya, Abi,"
15. "Nggak semuanya gimana? Coba itu lihat kelima-limanya nggak ada yang mendingan."
16. "Ada, Bi. Satu anak yang belum hancur karena diporak-porandakan oleh angin puting beliung bernama Dwi Larasati,"
17. "Siapa memangnya, Mi?"
18. "Nanti juga Abi tahu. Kasih Umi waktu untuk di sini. Takut datang kasihan."
19. "Bu, beli kopi!"
20. "Apa kamu lihat- lihat!"
21. "Karena saya punya mata!"
22. "Besar nyali kamu. Orang mana kamu?!"
23. "Heh ... heh ... heh. Jangan ribut di depan warung saya. Pergi kamu Irpan!"
24. "Awas kamu!"
25. "Permisi. Tahu alamat ini, Pak?"
26. "Ohh, ini rumah saya. Ada keperluan apa?"
27. "Umi, siapa ini?"
28. "Ini yang Umi maksud satu anak yang belum hancur. Ini tujuan Umi nggak mau ke mana-mana, Bi. Nunggu keponakan datang kemari. Ya Allah, Pradipta. Bibi tahu dari tanda lahir ini. Makanya nggak segan-segan untuk mengenalkan diri!"
29. "Jadi benar ini rumah ...?"
30. "Ya, Mama Dwi tinggal di sini. Mau ketemu?"
31. "Kalo bisa."
Chapter Sebelumnya
Chapter 20
Chapter XX: Tersimpan Di Memori
Chapter Selanjutnya
Chapter 22
Chapter XXII: Ungkapan Hati
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
Hikayat Renjana
Novel
MVP (Most Valuable Partner)
Novel
Sampai Jumpa, Cinta Pertama
Flash
Jangan Menimpali!
Flash
TAKJIL
Cerpen
Untuk Hati Yang Mencari Arah
Novel
Dream Or Love
Novel
Marwah
Novel
Don't Call Me Angel
Novel
Cagak Cemani
Novel
Can't Stop
Flash
Lihat Dengar , Rasakan ( Sepucuk Kisah Untuk Bunda )
Novel
Jangan lucu-lucu, nanti aku sayang
Novel
The Writer and The Detective (L.A. The Detective 2)
Flash
Teruntuk Jika
Cerpen
Arti Dari Ketulusan
Cerpen
Sepotong Senja untuk Dina
Novel
Rain (Painful)
Novel
Rahasia Perpustakaan Magenta
Novel
Pernikahan Aisyah