Daftar isi
#1
Chapter I: Pergi Setelah Kembali
#2
Chapter II: Kembali Pada Keputusan Sesaat
#3
Chapter III: Sesaat Tanpa Arah
#4
Chapter IV: Arah Yang Benar
#5
Chapter V: Benar-benar Sulit
#6
Chapter VI: Sulit Menemukan Solusi
#7
Chapter VII: Solusi Tanpa Opsi
#8
Chapter VIII: Opsi Paling Akhir
#9
Chapter IX: Akhir Dari Perjalanan
#10
Chapter X: Perjalanan Sebelum Ke Rumah
#11
Chapter XI: Rumah Lama
#12
Chapter XII: Lama-lama Begitu Khawatir
#13
Chapter XIII: Khawatir Akan Kenyataan
#14
Chapter XIV: Kenyataan Dalam Keluarga
#15
Chapter XV: Keluargamu Bukan Kami
#16
Chapter XVI: Kami, Ibu dan Bapakmu
#17
Chapter XVII: Bapakmu Meninggal
#18
Chapter XVIII: Meninggalkan Misteri
#19
Chapter XIX: Misteri Yang Tersimpan
#20
Chapter XX: Tersimpan Di Memori
#21
Chapter XXI: Memori Yang Diungkap
#22
Chapter XXII: Ungkapan Hati
#23
Chapter XXIII: Hati Yang Terluka
#24
Chapter XXIV: Terluka Sedalam Samudra
#25
Chapter XXV: Samudra Kehidupan
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#18
Chapter XVIII: Meninggalkan Misteri
Bagikan Chapter
1. "Bu, sekali lagi saya mengucapkan belasungkawa untuk Pak Permadi. Semoga almarhum diterima iman islamnya, diterangkan di alam kuburnya, serta diampuni semua kesalah dan dosa-dosanya. Aamiin!"
2. "Aamiin. Terima kasih banyak atas doanya, Pak."
3. "Kalau ada keperluan, bisa telepon saya, ya. Assalamualaikum."
4. "Yi, saya lagi mengumpulkan keberanian dan kesiapan,"
5. "Siap, untuk apa?"
6. "Saya mau membongkar semua soal si Dipta. Siapa ibunya, dari mana asalnya, bagaimana awalnya,"
7. "Udah bulat keputusan itu?"
8. "Sekarang ... boro-boro. Baru juga tujuh hari bapaknya. Jangan bahas soal itu, warung aja tutup udah lama!"
9. "Yang dibicarakan ke Pak Toni. Udah yakin?"
10. "Kalo itu kembali lagi ke si Dipta, Yi."
11. "Jang, belum sanggup saya kalo harus kehilangan kamu. Anakku."
12. "Setan ... setan!"
13. "Jang, ini Ibu!"
14. "Ibu ... tengah malam pake mukena kirain Dipta pocong!"
15. "Hus, ah. Ke mana aja kalo ngomong."
16. "Ibu sayang banget sama Dipta, Jang!"
2. "Aamiin. Terima kasih banyak atas doanya, Pak."
3. "Kalau ada keperluan, bisa telepon saya, ya. Assalamualaikum."
4. "Yi, saya lagi mengumpulkan keberanian dan kesiapan,"
5. "Siap, untuk apa?"
6. "Saya mau membongkar semua soal si Dipta. Siapa ibunya, dari mana asalnya, bagaimana awalnya,"
7. "Udah bulat keputusan itu?"
8. "Sekarang ... boro-boro. Baru juga tujuh hari bapaknya. Jangan bahas soal itu, warung aja tutup udah lama!"
9. "Yang dibicarakan ke Pak Toni. Udah yakin?"
10. "Kalo itu kembali lagi ke si Dipta, Yi."
11. "Jang, belum sanggup saya kalo harus kehilangan kamu. Anakku."
12. "Setan ... setan!"
13. "Jang, ini Ibu!"
14. "Ibu ... tengah malam pake mukena kirain Dipta pocong!"
15. "Hus, ah. Ke mana aja kalo ngomong."
16. "Ibu sayang banget sama Dipta, Jang!"
Chapter Sebelumnya
Chapter 17
Chapter XVII: Bapakmu Meninggal
Chapter Selanjutnya
Chapter 19
Chapter XIX: Misteri Yang Tersimpan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Novel
Hikayat Renjana
Novel
MVP (Most Valuable Partner)
Novel
Sampai Jumpa, Cinta Pertama
Flash
Jangan Menimpali!
Flash
TAKJIL
Cerpen
Untuk Hati Yang Mencari Arah
Novel
Dream Or Love
Novel
Marwah
Novel
Don't Call Me Angel
Novel
Cagak Cemani
Novel
Can't Stop
Flash
Lihat Dengar , Rasakan ( Sepucuk Kisah Untuk Bunda )
Novel
Jangan lucu-lucu, nanti aku sayang
Novel
The Writer and The Detective (L.A. The Detective 2)
Flash
Teruntuk Jika
Cerpen
Arti Dari Ketulusan
Cerpen
Sepotong Senja untuk Dina
Novel
Rain (Painful)
Novel
Rahasia Perpustakaan Magenta
Novel
Pernikahan Aisyah