Novel
Genre → Sejarah
KAMANDAKA : Pemilik Ketampanan Abadi
Mulai membaca
Telah selesai
Gratis untuk dibaca
Blurb
"Demi ketampanan yang abadi, sedalam apa kau berani menggali lubang kutukanmu sendiri?"

Kamandaka adalah pemuda tujuh belas tahun dengan ketampanan yang mampu menyirep seantero Kerajaan Galuh. Pesona fisiknya yang sempurna berhasil memikat hati Ratu Penguasa hingga ia diangkat menjadi Raja Pendamping. Namun, takhta belum memuaskan ambisinya yang sedalam jurang; Kamandaka mendambakan pemujaan yang abadi.

Di malam sebelum penobatan, ia nekat melakukan perjanjian darah dengan kekuatan gaib melalui perantara sebutir buah maja berdenyut. Kamandaka mendapatkan wajah yang menolak menua meski ratusan tahun berlalu dan kerajaannya telah runtuh menjadi puing dongeng. Namun, ia terlambat menyadari konsekuensi mengerikan di balik hadiah gratis sang iblis.

Keabadian itu ternyata berwujud kutukan panggung teater misterius di zaman modern. Setiap malam, Kamandaka dipaksa menjadi tontonan mengerikan. Tubuhnya dimutilasi, dicincang, dan isi perutnya terburai di hadapan penonton yang bersorak histeris, mengira itu hanyalah trik sulap belaka. Ia merasakan perihnya kematian sejati, lalu disembuhkan kembali secara gaib hanya untuk disiksa pada pertunjukan esok hari. Bersama Suarsih, pelayan setianya yang terus merawat luka berdarah tersebut, ia dipaksa menerima kenyataan tragis bahwa panggung jagal adalah rumahnya kini.

***
"Novel ini tidak sekadar menceritakan kejatuhan sebuah dinasti, melainkan sebuah alegori mendalam tentang esensi "rumah". Fiksi sejarah ini ingin menyampaikan pesan moral yang tajam: keangkuhan manusia akan selalu menemukan cara untuk menghancurkan tempat bernaungnya sendiri. Pergeseran makna rumah bagi Kamandaka—dari rumah panggung lereng kopi yang ia hina, istana Galuh yang runtuh, hingga berakhir tragis menetap di atas lantai semen rumah jagal Pak Malik—membuat novel ini memiliki kedalaman filosofis yang sangat kuat dan relevan melintasi zaman."
(Langit Berawan)
Tokoh Utama
Kamandaka
#1
BAB 1: Riuh Teater Maut
#2
BAB 2: Paras yang Melintasi Batas Nalar
#3
BAB 3: Perlindungan Khusus dari Orangtua
#4
BAB 4: Aroma Mawar yang Menyihir Desa
#5
BAB 5: Sandiwara di Kebun Kopi
#6
BAB 6: Kecemburuan Para Jejaka Sindang Kasih
#7
BAB 7: Ambisi Menembus Batas Kerajaan
#8
BAB 8: Sumpah Darah Nyi Euis
#9
BAB 9: Teror Mistis di Rumah Panggung
#10
BAB 10: Ritual Ketampanan di Telaga Gaib
#11
BAB 11: Ramalan Pertama Tentang Takdir Masa Depan
#12
BAB 12: Datangnya Surat Maklumat Sayembara
#13
BAB 13: Persiapan Keberangkatan Sang Pesolek
#14
BAB 14: Perjalanan Menuju Ibu Kota Kerajaan
#15
BAB 15: Memasuki Gerbang Megah Kota Raja
#16
BAB 16: Kehebohan di Arena Sayembara
#17
BAB 17: Munculnya Rasa Cemburu Para Pesaing
#18
BAB 18: Kesempurnaan Tubuh Tanpa Keringat
#19
BAB 19: Bidikan Tepat Sasaran Sang Arjuna
#20
BAB 20: Sergapan Lelaki Bertopeng di Balik Tirai
#21
BAB 21: Kemenangan Mutlak
#22
BAB 22: Tatapan Mata Sang Ratu Penguasa
#23
BAB 23: Memasuki Kamar Mewah Keraton
#24
BAB 24: Intrik Politik Patih Bimaraksa
#25
BAB 25: Hadiah Senjata Keris Pusaka Emas
#26
BAB 26: Kamandaka yang Mulai Mengendalikan Ratu
#27
BAB 27: Firasat Tajam Sang Ksatria
#28
BAB 28: Maklumat Penobatan Raja Pendamping
#29
BAB 29: Kemegahan Hari Pernikahan Agung
#30
BAB 30: Ketakutan di Balik Kemegahan
#31
BAB 31: Kegelisahan yang Menular
#32
BAB 32: Ikatan Sukma yang Sempurna
#33
BAB 33: Lenyapnya Sang Bayangan Kegelapan
#34
BAB 34: Pagi Pertama Sebagai Makhluk Abadi
#35
BAB 35: Kamar Rahasia Bawah Tanah
#36
BAB 36: Memberi Makan Sang Buah Terkutuk
#37
BAB 37: Sang Ratu yang Mulai Jatuh Sakit
#38
BAB 38: Penobatan Kamandaka Sebagai Penguasa Tunggal
#39
BAB 39: Isolasi Batin di Atas Singgasana Emas
#40
BAB 40: Munculnya Ancaman dari Kerajaan Tetangga
#41
BAB 41: Malam Sebelum Malapetaka Datang
#42
BAB 42: Terjebak di Ambang Kehancuran
#43
BAB 43: Kamandaka yang Tidak Bisa Mati
#44
BAB 44: Melarikan Diri Menuju Kamar Rahasia
#45
BAB 45: Bersama Kotak Cendana Terkutuk
#46
BAB 46: Kerusakan Fisik yang Menolak Mati
#47
BAB 47: Runtuhnya Kerajaan Galuh Menjadi Dongeng
#48
BAB 48: Impian Tentang Cahaya Matahari
#49
BAB 49: Raungan Monster Besi Zaman Baru
#50
BAB 50: Rumah Jagal Sang Prabu Anom
Kamu harus masuk terlebih dahulu untuk mengirimkan ulasan, Masuk
Belum ada Ulasan
Disukai
4
Dibaca
1.4k
Tentang Penulis
Langit Berawan
Penulis fiksi
Bergabung sejak 2026-07-20
Telah diikuti oleh 31 pengguna
Sudah memublikasikan 5 karya
Menulis lebih dari 204,873 kata pada novel
Rekomendasi dari Sejarah
Rekomendasi