Daftar isi
#1
Bab 1. Petuah Bijak Sang Nelayan
#2
Bab 2. Uluran Tangan Sang Bangsawan
#3
Bab 3. Jatuh Cinta
#4
Bab 4. Hasut
#5
Bab 5. Kala Hati telah terpaut
#6
Bab 6. Merantau ke Negeri Belanda - a
#7
Bab 6. Merantau ke Negeri Belanda - b
#8
Bab 7. Perang Dunia II
#9
Bab 7. Singgah di Negeri Malaya
#10
Bab 8. Singgah di Sumatera Barat
#11
Bab 9. Pulang
#12
Bab 10. Siasat
#13
Bab 11. (Bekas) Kapal Minyak Langkat
#14
Bab 12. Bersandar di Jakarta
#15
Bab 13. Aksi di Tanah Betawi
#16
Bab 14. Penantian
#17
Bab 15. Angkasa Merona Berhias Bintang
#18
Bab 16. Bumi Merana Berselimut Hitam
#19
Bab 17. Sunyi
#20
Bab 18. Kembalinya Sang Pejuang
#21
Bab 19. Menuntut Keadilan
#22
Bab 20. Maaf
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
Apakah Anda akan menghapus komentar ini?
#12
Bab 10. Siasat
Bagikan Chapter
140. "Bang Irwan, senjata laras ini rusak, tidak bisa digunakan untuk menembak."
141. "Tidak bisa kepalamu! Senjata laras ini masih terkunci! Oalah, Budi, biasa pegang arit, disuruh nembak bingung, hahaha!
142. "Bisa, tidak?" tanya Mbarep pada Budi. "Kalau tidak bisa, lebih baik kamu menggembala kambing saja, hahaha!"
143. "Ah, Bang Irwan saja belum tentu bisa."
144. "Wah sembarangan mulutmu! Belum tahu dia, tunjukkan, Bang Irwan."
145. "Abang sendiri masih belajar. Ya, sudah saya coba, tapi kalo gagal jangan diejek, ya."
146. "Bang Irwan. Sebentar lagi mau nikah, kok masih mengurus kita?"
147. "Abang tidak mengadakan acara besar. Cuma mengumpulkan keluarga terdekat dan tetangga. Ijab kabul, makan-makan seadanya, sudah, selesai."
148. "Tidak mengundang Sultan dan bangsawan?"
149. "Bahaya. Kamu kan tahu, Abang lagi punya banyak musuh,"
150. "Terima kasih Tuan Kenichi, aku ada di mana?"
151. "Kamu ada di tengah hutan,"
152. "Di mana Syam?"
153. "Ada apa ini?"
154. "Sejak kamu datang, Shinichi mengandalkanmu. Aku merasa pangkatku jadi tidak berguna, dan tidak bisa mendapatkan upeti lagi dari Syam,"
155. "Oh, begitu. Kenapa tadi kau tak membunuhku saja?"
156. "Membunuhmu akan membuat aku terlibat masalah besar. Aku punya ide lebih pintar. Seharusnya, Syam yang bodoh itu bertanya padaku, tapi dia malah lari dan bertindak sendiri."
141. "Tidak bisa kepalamu! Senjata laras ini masih terkunci! Oalah, Budi, biasa pegang arit, disuruh nembak bingung, hahaha!
142. "Bisa, tidak?" tanya Mbarep pada Budi. "Kalau tidak bisa, lebih baik kamu menggembala kambing saja, hahaha!"
143. "Ah, Bang Irwan saja belum tentu bisa."
144. "Wah sembarangan mulutmu! Belum tahu dia, tunjukkan, Bang Irwan."
145. "Abang sendiri masih belajar. Ya, sudah saya coba, tapi kalo gagal jangan diejek, ya."
146. "Bang Irwan. Sebentar lagi mau nikah, kok masih mengurus kita?"
147. "Abang tidak mengadakan acara besar. Cuma mengumpulkan keluarga terdekat dan tetangga. Ijab kabul, makan-makan seadanya, sudah, selesai."
148. "Tidak mengundang Sultan dan bangsawan?"
149. "Bahaya. Kamu kan tahu, Abang lagi punya banyak musuh,"
150. "Terima kasih Tuan Kenichi, aku ada di mana?"
151. "Kamu ada di tengah hutan,"
152. "Di mana Syam?"
153. "Ada apa ini?"
154. "Sejak kamu datang, Shinichi mengandalkanmu. Aku merasa pangkatku jadi tidak berguna, dan tidak bisa mendapatkan upeti lagi dari Syam,"
155. "Oh, begitu. Kenapa tadi kau tak membunuhku saja?"
156. "Membunuhmu akan membuat aku terlibat masalah besar. Aku punya ide lebih pintar. Seharusnya, Syam yang bodoh itu bertanya padaku, tapi dia malah lari dan bertindak sendiri."
Chapter Sebelumnya
Chapter 11
Bab 9. Pulang
Chapter Selanjutnya
Chapter 13
Bab 11. (Bekas) Kapal Minyak Langkat
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi
Cerpen
Beranak Dalam Kaos Kaki
Flash
AKU MENCINTAI PEREMPUAN ITU dengan NYAWAKU
Cerpen
Bajumu Bau Kopi
Novel
Aegis of Us
Novel
Dia Sekala
Novel
Me?? Beautiful
Cerpen
World From Your Memories
Cerpen
Aku Banyak Belajar Dari Ibuku
Novel
Teman Tapi Setan
Cerpen
Perihal Datang Ke Undangan
Flash
Tak Bisa Memilih
Cerpen
Sang Asisten
Cerpen
Cinta Buta
Flash
Kisah-Kisah Di Tanah Suci
Cerpen
REINKARNASI
Cerpen
Arah Kompas
Novel
When would it be
Novel
Cinta Hanya Dia
Novel
Sekar
Cerpen
SUNDENIRA