Kuping

"Kamu suka apanya sih dari orang yang katanya kamu temui di tempat audisi kemarin?" Tanya Indah, temanku yang sudah satu kelas denganku sejak naik ke kelas 2.

"Telinganya." Jawabku serius.

Indah mengernyit tidak mengerti dengan apa yang baru saja kukatakan.

Tidak ada yang pernah mengerti karena aku sendiri pun tidak bisa memahami kenapa orang bisa jatuh cinta hanya karena melihat telinganya.

Sudah dua hari sejak aku dieliminasi dari audisi pemain drum band di sekolah karena tinggiku kurang 2 senti. Dan selain itu, aku mengakui memang buta nada dan sama sekali tidak memiliki kemampuan dalam membedakan nada do dan re.

Tapi dieliminasi dari audisi itu adalah hal yang sangat membuatku bahagia karena ternyata ada orang lain yang juga bernasib sama denganku padahal dia adalah salah satu siswa yang berpengalaman dalam bidang musik di sekolah ini.

"Tingginya kurang." Ujarnya saat duduk di sampingku dengan keringat bercucuran di dahi.

Perhatianku tidak bisa lepas dari telinga kakak kelas yang sebenarnya sudah lama aku kenal itu.

"Sakit hati rasanya dieliminasi padahal aku salah satu pemain band di sekolah ini." Katanya kembali mengeluh.

Suaranya tidak lagi ada di kepalaku saat ini, karena yang aku ingat tentang dia hanyalah telinganya yang entah mengapa tampak berbeda dari semua telinga yang pernah aku lihat selama hidupku.

Dan saat ini, aku tersenyum sendiri diiringi dengan pandangan heran dari Indah, teman dekatku itu.

"Terus siapa dong orangnya? Kamu terus-terusan bilang ada orang yang kamu suka tapi nggak bilang dia siapa." Kata Indah mengeluh.

Aku kembali tersenyum, tidak menceritakan pada Indah bahwa pria dengan telinga yang aku suka itu adalah kekasihnya.

4 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction