Coffee

Dari semua teman kantorku, hanya satu orang yang kusuka.

Namanya Coffee. Pria dari negara tetangga yang bahkan Bahasa Indonesianya saja berantakan.

Akan ku ceritakan sedikit tentang pria itu.

Asumsiku, Coffee sudah kerja di kantor ini sebelum aku diterima di sini. Bahkan mungkin sebelum aku lulus.

Ia aneh. Tapi tampan.

Ia mirip dengan aktor Korea yang menjadi dokter itu. Namun sayang, sudah ada yang mendekatinya. Jinny, Brand ambassador produk perusahaan.

Sesuai namanya, Coffee selalu menggunakan parfum beraroma kopi. Ia adalah satu-satunya pria di kantorku yang memakai parfum kopi.

Ia memiliki selera fashion yang terbilang aneh jika dibandingkan dengan pria-pria seusianya. Ia setiap hari menggunakan pakaian ala tahun 1960 an. Memang pakaian jadul sedang trend, namun tidak dengan menggunakan celana cutbray dan kemeja lengan Panjang leopard di kantor. Itu hal pertama yang membuat aku ilfeel (tapi tetap mengaguminya)

Kedua, selama lima tahun aku bekerja disini, dia tampak tak pernah sakit sekalipun. Ia juga tampak awet muda. Tak tampak perbedaan apapun di wajahnya. Tak ada jerawat maupun luka ditubuhnya. Bahkan ketika kakinya tersenggol knalpot motorku, ia sama sekali tak terluka.

Awalnya, aku penasaran dengan siapa dirinya. Jadi aku berusaha mendekatinya. Namun, sialnya aku malah jatuh cinta padanya.

Sore ini, aku lihat Coffee beranjak dari tempat duduknya, hendak pulang.

“Leona, kamu mau pulang?” Ucapnya dengan nada terbata-bata setelah aku meliriknya.

“Mmmm… Aku lembur malam ini. Kamu duluan saja,”

Teman seangkatanku, Porsche meliriknya sinis. Coffee pergi saja, melengos tanpa menatapku lagi.

Setelah Coffee pergi, Porsche menghampiriku dan mengajakku bicara, “Kamu curiga sama Coffee?”

Aku mengangguk. Aku dan Porsche malam itu berencana untuk mengikuti Coffee.

Namun, tebak apa yang kami dapatkan.

Kita mendapati kerumunan warga di pinggir sungai. Mereka menemukan sesosok mayat seorang model cantik. TKP-pun sudah dikelilingi garis polisi.

Aku dan Porsche menerobos kerumunan, betapa kagetnya ketika kami mendapati wanita itu adalah Jinny. Tampak taburan bunga kenanga di sekitarnya. Serta disampingnya, terletak sebuah sesajen dan kopi hitam yang masih mengepul.

“Tunggu, aku mencium sesuatu,”

“Bau kopi,” Ujarku pada Porsche.

Mataku menyapu sekitar. Kudapati seorang pria tinggi berpakaian dan bertopi hitam itu berjalan kr utara setelah diam mematung dalam kerumunan tanpa ada yang menggubris.

Aku mengejar pria yang berjalan sangat cepat itu.

“Coffee, dengarkan aku,” Ucapku menepuk pundaknya. Dia hanya tersenyum manis.

“Kenapa kau melakukan ini? Serahkan dirimu ke polisi!”

“Sederhana saja, Leona, cinta sejatiku dari tahun 1000 sebelum masehi,”

“Aku melakukan ini karena kamu, sayang. Aku menyesap jiwa indah dan muda mereka yang mendekatiku seperti kopi. Karena aku ingin muda dan tampan saat kita bertemu,” Lanjutnya.

“Dan booo, kau jatuh cinta denganku,”

Aku pusing. Muncul sebuah memori yang tak pernah ku alami. Aku terhubung dengan wajah Coffee dalam wujud seorang pemuda dengan pakaian kerajaan.

“Tapi, sayangnya Porsche menggangguku dengan kecurigaannya,”

Lalu gelap. Aku tak ingat apa-apa.

**

Karyawan baru itu memperkenalkan dirinya sebagai Chen. Ia terlihat sangat ingin mendekatiku dengan berbagai metode.

Namun Porsche berusaha menghancurkan proses pendekatan itu.

Aku mendengar ia berbisik, “Jangan dekati dia, Coffee. Dia milikku. 

Aku marah dengan Porsche, siapa itu Coffee.

Hingga aku menyadari, Chen beraroma kopi. 

8 disukai 623 dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction