Flash Fiction
Disukai
5
Dilihat
7,562
As Long As I Dreaming
Thriller

Sebelum tidur ritual seperti biasa sedang aku lakukan yaitu melihat instastory orang-orang. Handphone yang sudah panas kubiarkan tetap dalam genggamanku walaupun sedang mengisi daya baterai. Ah betapa bahagianya Nahda dengan kawan-kawan barunya, berpose ceria didepan kampusnya. Ku geser ke kiri ternyata instastory Hana juga muncul, betapa bahagia juga ekspresi wajahnya bersanding dengan suaminya.

Sedangkan aku? Aku makhluk yang seolah tak punya kehidupan tanpa mereka bersamaku lagi. Persahabatan faktanya terbatas waktu, semakin melaju waktu semakin aku kehilangan orang yang biasa kusebut sahabat itu. Persetan! Lebih baik aku tidur saja dengan semua sepi ini daripada memikirkan hal yang selalu membuatku pilu.

Ku ambil handphone yang terus berdering. Hana! Betapa bahagianya aku ketika Hana menyuruhku untuk menemuinya. Segera aku bersiap lalu akan aku temui juga Nahda agar kita bisa bersama-sama menuju rumah Hana.

Aku dan Nahda begitu bersemangat untuk berkumpul kembali. Setelah ku tekan tombol bel rumah Hana, Hana pun muncul dengan wajah yang pucat pasi dan sembab dibagian mata. Meskipun senang karena kita bertiga bisa berkumpul kembali tetapi melihat keadaan Hana yang begitu mengkhawatirkan perasaan senang itu tiba-tiba berubah menjadi cemas.

Hana menceritakan semua yang telah terjadi pada kami. Betapa terkejutnya aku mendengar kabar perceraiannya, baru saja aku mengagumi kebahagiaannya kemarin. Ternyata waktu memang bisa merubah segala situasi, ku peluk Hana dengan lembut membiarkan seluruh air matanya tumpah pada bajuku. Begitu juga Nahda ia juga memeluk kami.

Semenjak itu, Hana terus meminta kami untuk menemaninya. Dan tingkahnya menjadi sedikit berubah, dingin dan sering marah. Hingga pada satu waktu aku mendengar Hana menyeret Nahda ke dapur. Ku intip mereka dibalik pintu kamar yang langsung mengarah ke dapur. Aku begitu terkejut karena Hana yang telah sedikit menggoreskan pisau di leher Nahda.

Melihat kejadian itu aku segera menghampiri mereka berdua, ku tarik Nahda agar segera menjauh dari Hana. Hana begitu menakutkan dengan pisau di lengannya, tatapannya begitu tajam seperti melihat mangsa.

Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan rumah sahabat kami itu. Setelah ku korek informasi dari Nahda apa yang telah terjadi. Nahda menjelaskan jika Hana itu memintanya untuk membantunya balas dendam pada mantan suaminya. Tetapi Nahda menolak, karena ia tak sanggup untuk melakukan pembunuhan terhadap siapapun.

Aku terkejut setengah mati, apa yang telah menyerang otak dan nurani sahabatku itu. Sehingga ia menjadi begitu kejam hanya karena ia telah bercerai. Ku obati luka Nahda dan kami memutuskan untuk kembali ke rumah Hana untuk membantu menyadarkannya. Setelah kembali Hana tengah tersedu sambil terduduk, lalu ia menatap kami dan menghampiriku. Ia ucapkan kata maaf di telingaku, tetapi aku merasakan ada sesuatu menembus perutku saat ku raba cairan merah segar membalut tanganku.

Tiba-tiba kepalaku membentur tembok dan membuka mata. Ku raba perutku ternyata tidak ada cairan itu, dan aku masih berada dalam kamarku sendiri. Ah sial! Ternyata itu hanya mimpi? Mimpi buruk yang sedikit mengobati rasa rinduku, yang sedikit mengusir kesepian yang selama ini membalutku.

Ku lihat kembali layar handphone ku ternyata instastory mereka masih dengan kebahagiannya yang tadi. Ah aku rindu mereka sungguh! Tiba-tiba handphoneku berdering tertulis kontak bernama Hana, "Halo? Retta ada waktu? Ayo ketemu!"

Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
serem, endingnya kayak mimpi buruk jadi nyata. 😨 🌟🌟🌟/🌟🌟🌟🌟🌟