Rencana Karto

Kemarin dulu.

"Uang tinggal 80 ribu." Istrinya menatap Karto dengan memelas.

Karto tercenung.

"Semoga cukup untuk beras dan lauk dua hari. Dan jajan Agha."

Karto menarik napas. Padahal gajian baru lewat dua minggu. Apa daya uang kontrakan dan cicilan bekas biaya rumah sakit ibunya sudah menghabiskan hampir semua angka gajinya.

***

Kemarin.

"Sisa uang, 20 ribu." Karto mengusap wajah istrinya. Di wajah perempuan itu masih ia temukan kesabaran, meski cobaan hidup berkali-kali menamparnya, membuatnya terus bertahan dan bertahan. Karto tahu ada malam-malam ketika istrinya menangis lirih tanpa suara, sambil tidur membelakanginya. Karto tahu.

"Sabar ya ...."

***

Tuan dan Nyonya sudah berangkat. Rumah hanya diisi Karto dan Mbok Nah, pembantu di dapur.

Karto merasa gelisah, ia sudah memikirkan ini sejak semalam. Tak ada cara lain, memang harus begini.

Karto bolak-balik mengawasi kamar Tuan dan Nyonya. Ada banyak perhiasan dan uang tunai di sana. Mbok Nah itu urusan gampang, perempuan tua itu mudah dilumpuhkan.

Karto meraba pisau lipat di saku celana. Ia menyiapkannya untuk persiapan saja. Untuk membuka brankas majikannya sendiri, ia sudah menyiapkan perkakas sejak kemarin. Ia selundupkan masuk dan ia sembunyikan di balik rak di garasi.

Karto merasa amat gugup. Ia berjalan mendekati kamar majikannya.

Bugh!

Sesuatu menghantam kepalanya keras, membuat Karto limbung. Hal terakhir yang ia ingat adalah rengekan Agha si Bungsu, yang ingin dibelikan buku gambar dan pinsil warna lengkap.

***

Mbok Nah menyeret tubuh Karto. Hampir saja si tukang kebun mengacaukan rencananya.

Akhirnya, ia akan punya uang untuk menebus biaya persalinan cucunya.

4 disukai 1.1K dilihat
Suka
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Saran Flash Fiction