Belum Beranjak

Dalam satu tahun, selalu ada minimalnya satu hari di mana aku merasa telah salah ambil keputusan. Keputusan yang sama, yang nggak pernah kamu tahu kalau aku menyesalinya, yaitu menyudahi hubungan 'kita'. Aku masih ingat waktu pertama kali kita telponan sebelum tidur, jaman masih sekolah dulu, di mana waktu itu bahkan kamu masih pinjam handphone mama buat telpon aku. Haha, lucu, ya. Jaman-jaman bocah cinta monyet. Jaman cinta-cintaan yang masih pakai modal orang tua.

Padahal percakapan kita waktu itu juga nggak serius-serius banget. Kamu yang sederhananya bertanya "udah makan belum?", "makan sama apa?", "udah ngerjain pr belum?". Lalu aku yang dengan senyum-senyum di balik telepon menjawab, "udah", "makan sama nasi, dong. pake ayam sama sayur sop", "ini lagi sambil ngerjain pr". Terus pas kamu tahu aku lagi telponan sambil ngerjain pr, kamu bakal ambil sikap diam. Nggak mau ganggu aku, tapi juga nggak mau mematikan telpon. Kamu menemaniku walau kita cuma tersambung jarak lewat jaringan.

Di beberapa malam selanjutnya, malah kita pernah telponan sampai tertidur. Terus besok paginya telpon masih tersambung karena pulsa paket telpon masih ada, atau justru handphonenya udah mati karena baterai habis.

Kamu masih ingat nggak, ya? Belasan tahun berlalu, yang aku ingat dari kamu masih kenangan lucunya aja. Bahkan aku lupa kenapa kita putus. Hal yang aku sesali sampai sekarang. "Kenapa ya dulu putus? Padahal dulu kayaknya asik-asik aja pacaran sama dia". Pertanyaan yang masih selalu berputar ulang di kepalaku. Bahkan hatiku juga masih mempertanyakannya karena tiap kali liat kamu berlalu-lalang di media sosial, aku jadi salah tingkah sendiri. Jantungku degupnya aneh, berantakan, kayak beneran ketemu kamu padahal cuma sebatas liat di layar handphone.

Kamu tahu, yang lebih lucu lagi apa? Undangan reunian sekolah kita yang aku terima kemarin, bikin jantungku lagi-lagi berdetak aneh. Ada sayup-sayup harapan bisa ketemu kamu di reuni itu. Ada berbagai macam pertimbangan padahal tanggal reuninya masih puluhan hari lagi. Aku udah susun rencana mau pakai baju apa, mau berdandan seperti apa, mau datang jam berapa, bahkan aku berencana untuk gabung di rombongan teman-teman dekatmu, biar kalau kamu datang dan menyapa mereka, aku juga bisa ikut kamu sapa. Aku jadi sibuk. Sibuk menyiapkan baju terbaik, sibuk mencari kontak teman-teman dekatmu. Sibuk menyusun rencana sampai hari reuni akhirnya tiba.

Suasana satu tempat makan yang sudah disewa panitia masih kosong sore itu. Aku datang tepat lima menit sebelum waktu yang ditentukan di undangan, sesuai rencanaku. Gaun putih selutut, sepatu hak 7 cm warna hitam, riasan natural, dan tas tangan hitam yang aku gunakan sudah sesuai rencana. Tinggal satu rencana paling penting yang tidak boleh terlewat; bertemu rombongan teman-temanmu.

Tapi 20 menit sudah lewat, mereka tidak juga kulihat. Padahal janji sudah dibuat, mereka sudah bersedia menyapaku agar kemudian disapa kamu. Tapi tahu, lucunya apa? Ternyata aku ditipu mereka.

Di luar rencanaku, kamu datang lebih dulu menepuk bahuku dari belakang, yang spontan membuatku berbalik padamu.

"Hai. Long time no see." Sapamu dengan senyum khas yang semakin membuatku ingat kenangan kita. Aku, lagi-lagi terpikat.

11 disukai 3 komentar 5.8K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Hati ikutan jedug-jedug bacanya
jadi inget adegan film Fall in Love at First Kiss hehehe. Mbaknya ditipu ada acara, taunya cuma dia aja yang dikasih tau
wah saya ikut hanyut
Saran Flash Fiction