GI : TELEPORTASI

Tampaknya aku berhasil kali ini. "Yess!!!" Aku melompat girang. Ujian teleportasi esok hari kupastikan tidak akan gagal. Aku sudah berhasil pindah jauh sekali hingga ke Antartika, atau mungkin Artik? Salju putih di mana-mana, tidak ada apa-apa kecuali warna putih yang menebar dingin.

Sudah cukup. Aku harus pulang sekarang atau aku akan mati kedinginan.

Namun, ketika hendak melakukan teleport untuk kembali ke rumah, terdengar suara di belakangku. Aku menoleh.

Dan, apa yang kulihat segera membuat tubuhku membeku―bukan karena kedinginan, melainkan ketakutan.

Entah siapa mereka.

Tapi, mereka tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai penghuni Kutub Utara atau Selatan. Mereka satu-persatu muncul dari balik udara. Menunggangi kuda putih bertanduk, mengenakan jirah baja mengilat dan di tangan masing-masing mengangkat senjata mesin yang diarahkan kepadaku.

Aku tersadar, ini bukan Kutub Utara atau Selatan! Ini bahkan tidak mungkin di Bumi, sebab langit di Bumi tidak memiliki bulan berwarna merah berjumlah empat di langit yang keunguan.

Aku telah melakukan lompatan sangat jauh dari rumah!

Dan, sekarang berondongan peluru melesat menghujaniku!

Tidak mau tahu siapa mereka dan di mana aku saat ini, aku hanya ingin melakukan satu lompatan untuk kembali pulang. Namun, tubuhku terlalu berat untuk digerakkan. Peluru-peluru tajam itu telah melesat menembus kulitku. Kecepatan lesatan peluru-peluru itu mengalahkan kecepatan gerakku.

Aku tumbang bersamaan dengan seruan-seruan asing yang perlahan padam. 

***

Tersentak.

Aku terbangun oleh suara angin yang memukul dedaunan. Kudapati tanah lembab di bawah pipiku.

Rasanya aku baru saja mendapatkan mimpi buruk. Ketika sedang belajar melakukan teleport aku tersesat di tempat asing dan tertembak.

Kautahu, itu bukan mimpi.

Aku bangkit duduk sambil terbatuk. Napasku sesak dan tubuhku terasa berat. Aku tahu, aku belum mati, karena masih dapat kurasakan sakit di telapak tangan kananku yang mengeluarkan cairan merah. Jari kelingkingku putus, itu sebabnya.

Kutahan napas ketika mendapati seluruh pakaianku berlubang dan warna darah membasahinya.

Kuperiksa tubuhku. Tidak ada luka, kecuali kelingkingku yang putus dan kini tumbuh kembali.

Aku menghela. Nilai pelajaran Rapid Cellular Regeneration atau 'kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri' milikku adalah yang tertinggi di kelas. Begitulah.

Kutatap sekeliling. Sepertinya aku kini berada di hutan. Aku melakukan lompatan ke sini saat tertembak tadi.

Gelap. Cahaya bulan yang menembus celah ranting dan daun adalah satu-satunya penerangan. Di mana-mana hanya ada pohon, beberapa ada yang berdaun dan tidak.

Aku beranjak berdiri dan melangkah dari tempatku semula. Mungkin ini hutan di dekat rumah. Aku hanya harus berjalan keluar hutan dan pulang kali ini. Aku tak mau ambil risiko melakukan teleport dan terlempar entah ke mana lagi.

Dan, tiba-tiba suara itu terdengar di telingaku. Geraman liar yang berat dan mengancam. Ramai. Apa jumlah mereka banyak?

Aku segera mendapat jawaban ketika kulihat mereka keluar dari bayang pepohonan. Tampak sosok mereka yang tinggi dan sedikit bungkuk, berbulu di seluruh tubuh, bermata keemasan dengan moncong yang menyeringaikan deretan gigi tajam. Mereka banyak! Dan mereka sepertinya kelaparan, karena kemudian mereka melompat ke arahku sembari memamerkan cakar-cakar yang menyatakan mereka siap untuk makan!

GLEKH! Hutan apa yang didiami begitu banyak manusia serigala? Ah, sial! Aku harus melakukan lompatan lagi untuk kembali ke rumah. Kali ini tidak boleh salah.[]

5 disukai 5.3K dilihat
Suka
Favorit
Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Saran Flash Fiction