Sore itu Mbah Darmo duduk di teras seperti biasa. Kursi rotannya sudah reyot, tiap digoyang bunyinya kriet-kriet. Anak-anaknya sudah berkali-kali minta mengganti, tapi dia tidak mau. Katanya, bunyi itu sudah seperti teman ngobrol.
Teh di cangkirnya sudah dingin sejak tadi dan dia lupa meminumnya. Matanya menatap ke barat, ke garis tipis tempat sawah ketemu langit. Matahari turun pelan di sana, merahnya mirip gula jawa yang meleleh di wajan.
Dadanya sesak sejak pagi. Dia tahu itu pertanda apa, dan anehnya dia tidak takut.
"Sebentar lagi ya," katanya pelan, entah ke siapa.
Dia memejamkan mata. Yang pertama muncul justru sandal jepit yang putus sebelah.
Umurnya dua puluh dua waktu itu. Dia kepleset di pematang dan tercebur ke lumpur sampai sebatas lutut. Dari seberang petak, seorang gadis yang membawa rantang untuk bapaknya malah tertawa terbahak-bahak sampai rantangnya hampir jatuh.
"Mas ini mau melamar anak orang kok malah mandi lumpur," katanya.
Padahal Darmo belum bilang apa-apa. Tapi ya, memang itu niatnya. Gadis itu namanya Sekar.
Lalu ingatannya loncat-loncat, tidak urut.
Sepeda ontel yang bannya bocor jam delapan malam. Mereka mendorongnya berdua, Sekar jalan di sebelahnya sambil makan kacang rebus, sampai rumah hampir jam sepuluh. Bapak Sekar menunggu di pintu dengan muka masam. Darmo dimarahi habis-habisan. Anehnya dia malah senyum-senyum sendiri sepanjang jalan pulang.
Malam anak pertama lahir. Bidan menyodorkan bayi merah itu, dan tangan Darmo gemetar sampai tidak berani menerimanya.
"Kok kayak mau pegang bom," bisik Sekar dari ranjang, lemas tapi masih sempat meledek.
Malam listrik padam, mereka makan nasi pakai kerupuk dan sambal terasi di bawah lampu teplok. Anak-anak berebut kerupuk. Sekar menyuapi si bungsu sambil melirik Darmo.
"Mas, aku bahagia lho, begini saja."
Darmo waktu itu cuma mengangguk, mulutnya penuh nasi. Dia menyesal sekarang kenapa tidak menjawab yang lebih bagus.
Setahun sebelum semuanya berakhir, Sekar sering batuk malam-malam. Dibilang masuk angin, dikerok, diminumi jahe, beres. Diajak ke dokter dia selalu menolak. "Buang-buang duit, Mas. Mending buat sekolah cucu." Darmo menurut, karena soal keras kepala, Sekar memang tidak pernah kalah.
Lalu suatu subuh Sekar tidak bangun-bangun. Dokter puskesmas bilang jantungnya sudah lama lemah. Darmo cuma mengangguk, padahal kepalanya sibuk menghitung malam-malam berbatuk yang dulu dia anggap sepele.
Sejak itu rumah jadi terlalu sepi. Jam empat sore tidak ada lagi yang membuatkan teh. Dia sempat mencoba membuatnya sendiri, tapi rasanya selalu keliru. Entah kurang gula, entah kurang apa, dia sendiri tidak tahu.
Akhirnya dia punya kebiasaan baru, yaitu duduk di teras tiap sore, menghadap barat.
"Bapak lihat apa sih?" tanya anak sulungnya suatu kali.
"Nunggu jemputan," jawabnya.
Anaknya mengira bapaknya mulai pikun, jadi tidak bertanya lagi. Darmo juga tidak menjelaskan. Dua puluh dua tahun dia menunggu, dan selama itu dia belajar bahwa ada rindu yang memang cukup disimpan sendiri.
Sekarang napasnya makin pendek. Tapi dadanya terasa ringan, seperti karung beras yang akhirnya diturunkan dari pundak setelah dipikul seharian.
Langit di ujung sana berubah. Oranyenya memudar jadi kuning, lalu putih yang hangat. Di tengah putih itu ada orang berjalan pelan di atas pematang yang rasanya tidak ada habisnya. Kebaya sederhana. Tangan kirinya menenteng rantang. Tangan kanannya menutup mulut, menahan tawa.
Mata Darmo panas.
Perempuan itu berhenti beberapa langkah di depannya, lalu menggeleng sambil tersenyum.
"Mas ini lama sekali. Tehnya keburu dingin."
Darmo tertawa. Tawa pertamanya yang betul-betul lepas setelah sekian lama. Dia meletakkan cangkirnya, berdiri, dan baru sadar lututnya tidak sakit lagi. Punggungnya juga bisa tegak.
"Maaf," katanya. "Tadi nyari sandal. Sama... harusnya dulu aku maksa kamu ke dokter."
Sekar tertawa lagi, lalu menggeleng pelan. Dia mengulurkan tangannya, tanpa menjawab apa-apa. Seolah itu sudah dimaafkan sejak lama.
Menjelang magrib, Rini, cucunya, keluar membawa sarung. "Mbah, masuk yuk, sudah gelap, nanti masuk angin."
Kursi rotan itu masih bergoyang pelan, kriet, kriet, kriet. Mbah Darmo duduk dengan mata terpejam dan senyum yang belum pernah dilihat Rini sebelumnya.
Cangkir tehnya masih dingin di atas meja.