Rudi terus berlari, meski larinya pelan. Lomba maraton yang ia ikuti tinggal berjarak sekitar 30 menit.
Tujuan Rudi cuma satu, juara. Tapi bila disebut sebagai atlet maraton itu masih sangat jauh.
Rudi pun tidak bodoh, ia tidak terus berlari. Terkadang ia berjalan cepat diiringi berjalan normal. Rudi sendiri sudah mempersiapkan diri sejak 5 bulan sebelumnya. Tujuannya jelas, memenangkan ajang tahunan tersebut.
Alasan Rudi ingin memenangkan lomba sangat klise. Ekonomi. Juga ibunya, Sarah, yang butuh biaya untuk cuci darah. Dimana jadwal pertama tinggal menyisakan beberapa minggu.
Negara tidak bisa mengcover, sebab Sarah sudah menunggak selama beberapa tahun. Membuat penyakit ginjalnya jadi kronis, karena lebih mengandalkan pengobatan alternatif dan tak dicuci dalam jangka panjang.
Rudi terus berlari, ia tahu ada sekitar dua belas orang di depannya. Rudi orang sederhana yang tak tahu kalkulasi. Dirinya berlari hanya murni berdasarkan petunjuk yang ia tonton.
Mendadak Rudi lupa instruksi. Mau buka YouTube atau TikTok, handphone ditaruh di bagasi motor. Awalnya pemuda 22 tahun tersibuk kebingungan. Apalagi ada lima orang yang melewatinya.
Dengan refleks, Rudi berlari sekencang mungkin. Peserta lain yang berjalan cepat atau santai sampai merasa heran. Tak sedikit yang mempertanyakan.
Ada yang berteriak bahwa durasi masih tersisa 25 menit. Rudi pun jadi bahan gurauan. Bahkan ada yang berkata ia nafsuan, miskin dan mengincar hadiah utama, juga tak bisa hidup tanpa jadi juara pertama.
Semua tertawa tanpa ada yang tahu, seseorang berharap di rumah demi kesehatan dirinya. Rudi yang berlari kesetanan pun akhirnya tak punya tenaga lagi. Ia kelelahan dan hampir rubuh.
Kemudian ada yang memanggil. Seorang supir gojek menawari untuk curang. Ia mau mengantarkan Rudi ke dekat garis finis lewat jalur sepi, agar tidak terlihat orang.
Awalnya Rudi menolak, tapi pria itu sadar ia tak mungkin mengejar dengan kelelahannya sekarang. Ia pun setuju.
Pada akhirnya tukang gojek menurunkan Rudi di sebuah gang, Rudi turun. Saat ditanya berapa biayanya, supir bernama Santo itu meminta bayaran tiga ratus ribu.
Rudi terkejut, menanyakan kenapa begitu mahal. Santo menjawab santai, bahwa bayarannya sangat sedikit bila dibandingkan dengan hadiah utama.
Rudi pun keluar gang, lalu berakting seolah berlomba dengan jujur. Garis finis sudah terlihat dan dalam tempo waktu puluhan detik, Rudi berhasil menjadi yang pertama melewati garis finish.
Rudi begitu bahagia, akhirnya uang yang ia dambakan dalam beberapa bulan terakhir akan ia genggam.
Dan waktu yang ditunggu pun tiba. Rudi naik podium, diberi tepuk tangan oleh ribuan penonton juga ratusan peserta. Rudi disalami oleh para juri.
Beberapa artis yang menyemarakkan acara ikut menyalami. Pun penggagas acara, yang sering dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia ikut menyalami, bahkan memeluk Rudi.
Rudi pulang dengan mengendarai sepeda motornya, sepanjang perjalanan ia begitu bahagia. Tapi sejak tadi sebenarnya ia menyadari, hati kecilnya menyatakan bahwa dirinya bersalah. Rudi berusaha memendam itu sebisa mungkin.
Sesampainya di rumah, ia disambut Sarah, keluarga besarnya, juga para tetangga yang tadi menonton lewat televisi. Semua memuja, semua mengelu, semua menyanjung. Pak Lurah juga para perangkat, serta warga tumpah ruah.
Detak jantung Rudi mendadak kencang berdetak. Bukannya merasa bahagia dan bangga mendapat uang dan harapan ibu tercapai, Rudi malah merasa lelah mental.
Rudi sadar semua hadiah bukan haknya. Kecurangannya tak bisa dibenarkan. Hanya berpikir sepersekian detik, Rudi memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya, juga mengembalikan uang hadiah.
Tapi baru beberapa langkah, ia mendengar pembicaraan Sarah serta sang paman, Ciptadi. Terdengar mereka bersyukur karena pada akhirnya ada uang untuk cuci darah.
Ciptadi mengatakan itu rezeki dari Allah SWT, dan selain untuk cuci darah, lebih baik diputar dengan cara dijadikan modal usaha, untuk biaya Said yang masih sekolah. Juga pelunasan biaya kesehatan. Karena tidak mungkin lagi keluarga mendapat uang sebesar itu.
Sarah membalas, kenapa ia tidak kepikiran untuk melunasi Kartu Indonesia Sehatnya saja, ketimbang harus membayar cuci darah. Ia pun berterima kasih pada adik kandungnya tersebut, lalu mengucap alhamdulilah.
Rudi hanya bisa terdiam. Kini dirinya sudah tidak bisa mengatakan sejujurnya. Perkataan pamannya benar. Pun Rudi bukan membenarkan tindakan dirinya, bukan pula takut keluarganya kecewa.
Yang Rudi takutkan cuma satu, ibunya tidak bisa dicuci darah. Rudi sangat menyayangi Sarah, sehingga ia lebih memilih menutupi kebohongan, agar sang ibu memiliki peluang untuk lebih lama berada di dunia.